Dua Istri

Dua Istri
Part 1


__ADS_3

Aku tidak tau, apakah aku harus bahagia atau sebaliknya. Di sisi lain, aku bahagia karena sebentar lagi akan menimang seorang bayi, walaupun bukan dari rahimku. Namun, di sisi lain juga ... aku haru bisa menerima kenyataan, bahwa suamiku akan menikah lagi. 


Yah, aku akan segera menimang bayi dari istri kedua suamiku. Singkat cerita, pada saat weekend, aku dan suamiku berkumpul di rumah mertuaku. Walaupun mertuaku tidak suka padaku, aku harus tetap berlaku sopan terhadapnya.


Sebenarnya, ia menyukaiku, tapi setelah hampir dua tahun menikah, kami belum di karuniai seorang anak. Aku dan suami pun, segera memeriksa diriku di rumah sakit. Dan, boom ... aku dinyatakan mandul. Sejak saat itulah orang tua suamiku, tidak menyukaiku.


Saat kami tengah berbincang di ruang keluarga, walaupun mertuaku sinis kepadaku, tiba-tiba ada yang memencet bel dengan tidak sabaran, dan menggedor-gedor pintu. 


Mertuaku langsung menyuruh Bi Inem, untuk membukakan pintunya. Tepat pada saat Bi Inem membukan pintunya, langsung saja seorang gadis cantik yang kira-kira berumur dua puluh empat tahun, menerobos masuk sembari menangis sesegukkan, lalu meneriakki suamiku.


"Christian!" teriaknya, lalu bersimpuh di lantai


Kami semua terheran-heran. Apa gerangan gadis ini meneriakki Christian suamiku sambil menangis. Suamiku juga terlihat kebingungan. 


Tiba-tiba, Pak Bambang sekuriti kediaman mertuaku datang dengan tergesa-gesa. "Maaf Bu, gadis ini sudah saya larang untuk masuk. Tapi, gadis ini tidak mau keluar dan mengancam saya untuk menusuk dirinya dengan besi tajam yang entah dari mana ia dapat," terang Pak Bambang.


"Udah, kamu boleh pergi," ujar ibu mertuaku


"Baik bu, permisi," balas Pak Bambang menunduk


Kemudian, Ibu mertuaku beralih menatap tajam pada gadis yang masih bersimpuh di lantai. 


"Siapa kamu?! Apa maksud kedatanganmu kemari? Dasar nggak sopan!" ketusnya.


Kami masih terdiam


Kemudian, gadis itu menunjuk Christian. "Dia, dia pria brengsek yang telah menghamiliku!" jerit sang gadis.


Aku terkejut. Bagaimana Christian bisa setega itu merusak gadis cantik ini? Tidak. Pasti ini hanya kesalah pahaman saja. Aku ingin berbicara tapi, aku masih menahannya. Jujur, perempuan mana yang rela suaminya menghamili perempuan lain. Aku harus berusaha positif thinking.


Papa mertua, Christian, belum ada yang terlihat ingin mengeluakan sepatah kata. Aku pikir, ibu mertuaku akan memarahi gadis itu, tapi ternyata dugaanku salah. 

__ADS_1


Ia mendatangi gadis itu, dan mengajaknya berdiri. 


"Udah-udah jangan nangis ya sayang, kasian lho bayi nya, nanti ikutan sedih kalau ibunya nangis," ujar sang Ibu mertua, yang membuat tubuhku kaku.


Tunggu, apa maksudnya? Kenapa ia tidak memarahi gadis itu? Apa mungkin, karena ia akan segera mendapat kan cucu? Atau ... argh! Aku sungguh tidak mengerti arah jalan pikiran Ibu mertuaku itu.


Aku menatap Christian dengan tatapan minta penjelasan. Namun, Christian hanya menatapku memelas, sembari menggeleng-gelenhkan kepalanya. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi kembali mengatupkan mulutnya. Terlihat, papa mertuaku juga, seperti santai-santai saja, tidak membela atau mendukung.


Kemudian aku, beralih menatap ibu mertuaku, yang sedang menenangkan gadis itu di sofa. Sementara aku duduk di single sofa. 


"Udah Nak? Jadi, kenapa kamu bisa hamil anaknya Christian?" Ibu mertua mengelus-elus rambut gadis itu.


"W-waktu it-u, hiks hiks Chris-Christian—" 


"Berhenti dulu, kamu minum dulu ya," potong mertua ku. "Bi ... Bi Inem?" panggil Ibu mertuaku, dengan setengah berteriak.


Bi Inem datang dengan tergopo-gopo. "Iya bu?" 


"Tolong ambilkan menantuku air minum." 


"Bu? Maksud Ibu apa? Menantu?" tanyaku sambil berdiri.


"Iya, dia menantu saya. Kenapa, tidak suka?!"


"Tapikan, aku menantu Ibu? Siapa dia yang Ibu bilang, menantu Ibu? Asal-usulnya aja nggak jelas! Dan, apa ada bukti, kalau bayi yang ia kandung, anak Christian?! Nggak kan!" bentaku.


Gadis itu terlihat ketakutan, dan langsung bersembunyi di tangan mertuaku. Ibu mertua yang melihat gadis itu ketakutan, langsung menatapku tajam.


"Hee! Apa maksud kamu bilang menantuku tidak jelas?! Bukannya kamu yang nggak jelas?! Sudah hampir dua tahun menikah, tidak ada tanda -tanda hamil juga?!" 


Kata-kata Ibu mertuaku, seperti menampar kenyataan di wajahku. Sangat sakit sekali. Apa aku mandul itu salah ku? Apa aku yang meminta nya? Tidak! Aku tidak pernah meminta itu! 

__ADS_1


Aku ingin berbicara ... tapi, seperti ada sesuatu di tenggorokanku yang menahannya.


"Sudah? SUDAH SADAR DIRI?! Masih mending gadis ini mau memberikan saya cucu! Dari pada kamu." Ibu mertua menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Cih, tidak berguna. Christian, lebih baik kamu ceraikan perempuan penyakitan ini dan menikahi gadis ini! Tau - tau iya sudah mengandung anak mu! Tidak sepertia dia! Pokoknya kalian harus menikah! Tidak ada penolak kan!"


Sudah, runtuh lah pertahananku. Apakah aku sehina itu? Apakah semua perempuan mandul, harus di pandang sebelah mata seperti itu?! TIDAK CUKUP KAH MEREKA MENYIKSA BATIN KU, DENGAN TIDAK MENGANGGAP KU ADA, SETIAP KALI AKU BERKUNJUNG KE RUMAH MEREKA? APA KAH ITU BELUM CUKUP?! Aku hanya ingin bahagia ... seperti yang lain ... bukan kah ini tidak adil untukku? 


"Mah, sudah cukup!" bentak Christian


Christian berjalan ke arahku, dan memelukku. "Sudah, jangan dengarkan perkataan mama, kamu tidak sehina itu, aku tetap sayang kepada mu. Kamu tetap lah ibu dari anak - anak ku dikemudian hari," bisik Christian sambil mengusap - usap punggungku.


Ya, benar. Kenapa aku meragukan suamiku, dengan terhasut perkataan mertuaku? Kamu bodoh Aurora, kamu bodoh! Baiklah, aku harus berani terhadap mertuaku itu! Aku, harus mempercayai suamiku. Bagaimana pun juga, aku dan dia telah bersusah paya, mempertahan kan rumah tangga kami. Kami tidak boleh goyah, hanya karena kedatangan gadis tidak jelas ini!


Aku pun mengangguk, dan melepaskan pelukan Christian


"Baiklah, kalian boleh menikah sampai bayi itu lahir. Tetapi, jika terbukti bayi itu bukan anak Christian, kalian harus cerai!" ujarku dengan berusaha menguatkan hati


"Apa - apaan ka--" 


"Iya atau tidak sama sekali. Bagaimana pun, aku masih istri sah Christian!" potongku tegas


Ibu mertua menatapku jengkel, sebelum berkata, "baiklah, jika terbukti bayi ini anak Christian, silahkan tanda tangan surat perceraian." 


Aku tersentak tentu saja. Sebelum aku bicara, ibu mertua memotong niatku.


"Iya atau tidak sama sekali." 


Sial, ia membalikan perkataanku. Aku menarik nafas dan berkata, "Baiklah, aku terima."


Aku tidak tau, di kemudian hari, aku akan menyesali perkataan ku ini. Tapi tidak. Aku sudah berjanji pada diri ku sendiri untuk mempertahan kan rumah tangga ku ini. Semoga saja.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Part pancingan.


Jika ingin di lanjutkan, silahkan tinggalkan jejak🌷


__ADS_2