
Suara rintikan hujan, ranjang yang empuk ditambah dekapan yang hangat, hah! Benar-benar surga dunia! Namun, semua itu harus hancur kala ponsel yang sedari tadi tidak mau berhenti berdering.
Tunggu, dekapan hangat? Bukannya, aku tidur sendiri? Ah, aku lupa mengunci pintu. Pantas saja, pria nakal ini bisa masuk ke sini.
Wajahnya sangat damai, tampan. Mungkin, lebih tampan lagi jika dipakaikan make up, bukan? Sepertinya itu ide bagus!
Mengabaikkan penelpon yang mungkin sudah menyerah untuk menelpon lagi, aku menyingkirkan tangan Christian yang bertengker di pinggangku, kemudian berjalan pelan-pelan ke arah walk in closet.
Ceklek!
Semua masih sama. Sama seperti pertama kali aku menginjakkan kaki di sini. Di penthouses tempat semuanya terbongkar. Hah, sudahlah.
Sekarang bukan waktunya untuk mengingat sesuatu yang sudah lewat ... namun, waktunya mencari benda-benda yang diperlukan sebelum suami tampanku bangun, hihi!
Setelah membutuhkan semua benda yang dibutuhkan, saatnya kembali dan membuat sebuah karya.
Menaiki ranjang dengan sangat hati-hati, aku berhasil tiba di sampingnya tanpa ketahuan.
"Eumh ...."
Astaga! Kukira ia akan bangun, ternyata hanya menghadap dan memeluk pinggangku. Huft!
(Abaikan wajahnya)
Eum, apa yang harus aku buat? Ah, sepertinya membuat Christian cantik sama sepertiku, boleh juga. Ya, let's do it.
Tidak sia-sia perjuanganku selama satu jam. Akhirnya selesai juga, meskipun harus ekstra hati-hati karena Christian terus saja bergerak.
Terakhir, kita bereskan dulu ini semua, lalu berpura-pura terkejut saat melihatnya tidur di sini. Ah, kenapa kau pintar sekali Aurora ....
Saatnya kejutan dimulai, Sayang. "Akh! Siapa yang izinin kamu tidur di sini, Christian?!" pekiku sembari duduk.
Ups! Sepertinya ia terkejut. Maafkan aku, my beloved husband. Astaga, coba lihat wajahnya yang sedang panik itu ...
"S—sayang ... maafin aku, ya? Aku emang salah, tapi, tidur aku kurang nyenyak kalau nggak meluk kamu ... apa lagi di luar lagi hujan, enaknya tuh meluk yang anget-anget, hehe," jelasnya diakhiri cengiran.
Pffftt, dia sangat cantik! Hah, aku tidak sabar untuk melihat reaksinya, atas hasil karyaku.
"Lumayan masuk akal alasanmu. Oke, aku maafin!" ujarku gengsi.
"Kita pulang, ya? Aku mau lanjut tidur lagi, masih ngantuk." Sepertinya ia benar-benar mengantuk. Terbukti dari ia menyandarkan kepalanya pada bahuku. Tapi, oh shit! Make up-nya akan hancur!
Masih dengan wajah datar, aku melanjutkan aktingku. "Hm, ayo pulang."
***
"Shit! Aurora, ceraikan saja suamimu dan aku akan menikahimu."
"Apa katamu?!" tanya Christian saat mendengar ucapan sinis Damian.
"Lepaskan saja Aurora untukku, dude. Ia tak pantas mempunyai suami setengah wanita sepertimu."
__ADS_1
O–ow, sepertinya pertunjukkan akan di mulai. Aku hanya diam saja tidak melerai keduanya. Namun, jika mereka sudah pakai tangan, baru akan kulerai.
"Maksudmu?" Haha, cantik sekali suamiku setiap kali ia berganti ekspresi. Salah satunya, seperti saat ini, saat ia bingung.
"Ck! Coba saja kau berkaca!"
Tawaku langsung pecah, kala Christian pergi ke kamar mandi untuk berkaca. Kenapa ia bisa menjadi sangat cantik?! Bahkan, jika badannya tidak kekar dan berbentuk seperti wanita pada umumnya, mungkin ia bisa menjadi model Victoria Secret!
"Apa ini perbuatanmu, Sweety?" Aku bergidik geli, saat suara berat dan serak itu terdengar sangat dekat di telingaku.
"Haha, ya! Bukankah dia sangat cantik, Damian?" tanyaku sembari menatap ke arah depan, tempat Christian masuk. "Eh!"
"Jangan dilepas, Sweety ... biarkan saja seperti ini sebentar. Shit! Bisakah, aku membawamu kabur saja darinya?"
Aku mengukir senyuman manis, kemudian mengelus tangannya yang sedang bertengker di pinggangku. "Aku mencintainya, Damian ... aku tidak bisa."
Bahuku terasa berat, kala Damian menyandarkan kepalanya, lalu mengecup pipiku. "Apa kau tidak mencintaiku, hm?"
"Itu tidak perlu kau tanyakan ... tentu saja aku mencintaimu."
"Argh! Kenapa aku terlambat mengenalmu?!"
Mendengar bentakannya yang terdengar frustasi, segera aku membalikkan badan, dan menangkup wajahnya. "Hei, semua telah diatur oleh yang di-Atas. Kita hanya perlu menerimanya, right?"
"Tapi ... sudahlah. Kemari Aurora, aku ingin memelukmu." Tanpa menunggu lama, aku masuk ke dalam pelukan sang pria yang tegas dan penuh wibawa ini. Namun, ia juga hanyalah seorang manusia, yang bisa terlihat rapuh seperti saat ini.
Sekitar lima menit kami berpelukan dalam diam, akhirnya aku melepaskan diri. "Sudah, Damian. Aku tidak ingin dilihat Christian." Saat melepakan diri, sorot mata Damian terlihat sendu, itu sangat ingin membuatku menangis.
"What?! Ia sesensitif, itu?! Aku jadi ingin mencobanya." Seringai tercetak di wajahnya. Syukurlah, aku berhasil mengalihkannya.
"Ja—"
"Aurora ...."
O–ow, sepertinya aku dalam masalah.
***
Segala cara telah kucoba untuk membuatnya bicara. Namun, ia terus saja mengabaikkanku. Sepertinya, aku menyesali perbuatanku.
Entah kenapa, mataku mulai memanas. Aku tidak suka ia mengabaikkanku. Mengabaikkan fakta jika Christian sedang mengemudi, aku melepas sabuk pegamanku, dan langsung duduk di pangkuannya.
"Astaga! Kamu kenapa, Aurora?! Hampir aja kita nabrak!"
Pecah sudah air mata yang sedari tadi kutahan. Aku tau, ia refleks membentak karena hampir menabrak sesuatu di depan dan semua karena kesalahanku.
"Maaf, Chris ... aku nggak mau dicuekin kamu ...," lirihku sembari mengalungkan tanganku pada lehernya.
"Turun, Aurora."
Refleks aku menggelengkan kepalaku. "Nggak! Nggak mau, sebelum kamu nggak cuekin aku!"
__ADS_1
Ia menatapku sebentar dengan pandangan datar. "Yaudah, terserah." Kemudian ia melanjutkan lagi, perjalanan yang sempat tertunda.
Tidak ada air mata lagi, yang keluar. Yang ada, saat ini di pikiranku, hanya untuk membuatnya tidak mengabaikkanku lagi.
"Sayang ... maafin aku, ya?" ujarku manja.
Tidak berhenti sampai situ, perlahan-lahan, aku mengeluarkan jurus andalanku. "Sayang ... sayangnya Ara ... maafin, heum?" Aku mengedip-ngedipkan kedua mata. Kulihat, ia tengah berusaha menyembunyikan senyumannya.
Kulancarkan lagi usahaku, dengan menempelkan pipi dan menggambar-gambar abstrak pada dada bidangnya.
"Ara nggak bisa kalau diginiin, Chris. Yaudah deh, kalau Chris nggak mau baikan sama Ara, Ara mau sama Damian aj—"
"Coba aja, kalau berani."
Senyuman kemenangan, terlukis di wajahku. Namun, jawabannya itu masih belum cukup untukku. "Yaudah, nggak. Berarti, kamu udah nggak marah 'kan?"
"Hmm."
Jawabannya itu, sangat ingin membuatku menghajarnya. Tidak, tidak! Aku belum menyerah!
Mengecup seluruh permukaan wajahnya. Tidak direspon. Satu kecupan di bibir, tidak direspon. Dua kecupan, masih sama. Tiga kecupan, belum juga direspon. Empat kecup– ia merespon.
Pria dengan sedikit eyeliner yang menghitam di matanya, menangkup pipiku untuk memperdalam ciuman. Menggigit, mencecap, itulah yang ia lakukan. Sementara aku, hanya bisa membeku, saat ia selesai dan menempelkan dahi kami.
Hening
Kami sama-sama larut dalam keheningan menikmati deru nafas yang terdengar bersahutan, dan suara rintikan hujan yang membuat kepala menjadi rileks.
"Maaf," kataku saat tengah menetralkan pernafasan.
"Hmm, aku juga minta maaf."
Mendengar perkataannya, membuatku menarik diri dan bertanya, "Maaf? Kenapa?"
"Ehem. Sebenarnya aku nggak marah beneran, aku cuma bales kamu aja, jadi kita satu sama hehe," ujarnya dengan sangat-sangat santai, ditambah wajahnya yang penuh kemenangan itu, sangat ingin membuatku menghajarnya tanpa ragu lagi!
Apa ia tidak tau? Kepalaku hampir pecah karena memikirkan cara agar ia tidak mengabaikanku lagi?! Dan apa katanya? Ia tengah membalasku? Satu sama? Dasar jahanam!
Dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu, aku mencabut bulu-bulu kakinya, dengan tidak berperasaan! Biarkan saja! Aku tidak peduli
"Akh! Sakit, Sayang!"
"Apa? Sayang? Sayangnya aku nggak bisa denger kamu!"
🍁🍁🍁
Jangan lupa vote dan komen!
Typo bertebaran! Jika ada kesalahan, silahkan dikoreksi:)
Crazy update? Spam komen dong;)
__ADS_1