Dua Istri

Dua Istri
Part 23


__ADS_3

"Sayang? Kangen ih! Gak usah beli pempeknya, kamu pulang aja, ya." Rasa ingin bermanja-manja padanya, mengalahkan rasa ingin memakan pempek.


"Selamat malam, maaf Bu, saya suster dari rumah sakit ***** ingin mengabarkan, bahwa pemilik dari handphone ini kecelakaan. Apa Ibu kerabatnya? Karena panggilan terakhir dari handphone ini, nomor Ibu."


Deg!


Christian kecelakaan? Ini pasti hanya bercanda 'kan? Ya, pasti ini hanya bualan Christian. Tenang dulu Aurora, jangan langsung percaya begitu saja.


"Halo? Halo, Bu?"


"Sus, saya tau kalau ini cuma candaan suami saya. Tolong mengaku saja, karena saya tidak percaya," ujarku berusaha membongkar kedok Christian.


"Maaf, Bu, situasi seperti ini saya tidak mungkin berbohong. Begini saja, apa Ibu mempunyai nomor telepon keluarga pasien? Jika ada, tolong sampaikan perihal ini. Saya tutup, terima kasih."


Tut!


"Nggak, ini nggak bener! Nggak! Argh!" Aku berteriak seperti orang kesetanan dan membongkar seluruh isi kamar tanpa memikirkan kandunganku.


Dengan uring-uringan, aku mengambil kunci mobil dan segera melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Aku tidak perduli dengan orang-orang yang mengumpat akibat mobilku yang hampir menabrak mobil mereka.


Aku tetap menerobos di bawa langit malam yang mengeluarkan hujan deras. Yang dipikiranku saat ini, hanya Christian dan Christian.


Memarkirkan mobil dengan asal, aku menerobos masuk ke dalam rumah sakit menghiraukan pakaianku yang sedikit basah.


"Sus? Suster! Dimana suamiku?!" seruku pada wanita berseragam rumah sakit yang ada di balik meja resepsionis. Aku tidak perduli dia suster atau resepsionis.


"Maaf, Bu, nama suami Ibu siapa, ya? Biar saya cek dulu."


"Christian, Sus!" Entah kenapa aku tidak bisa untuk tidak berteriak.


"Sebentar ya, Bu."


Aku mondar-mandir menunggu Suster mengecek nama Christian. Semoga ia baik-baik saja. Ya, ia harus baik-baik saja.


"Permisi Bu, di sini ada dua pasian yang bernama Christian. Kristian Wijaya dan Christian Sanjay—"


"Christian Sanjaya! Ya, dia. Suami saya baik-baik aja 'kan, Sus?" tanyaku cemas.


"Ehm, maaf Bu, pasien atas nama Christian Sanjaya telah meninggal sebelum di bawa ke rumah sakit. Atau bisa dibilang, meninggal di tempat."


Deg!


"Jangan bohong, Sus! Suami saya masih hidup! Mana suami saya?! Mana!"


"Bu, mohon tenang dulu, Bu." Suster itu mencoba untuk menahanku yang sedang menghamburkan barang-barang yang ada di meja resepsionis.


"Pak! Pak sekuriti!"


"Nggak! Jangan dekatin saya!" Aku mengancam mereka dengan mengancungkan pecahan dari vas kaca ke arah mereka.


"Astaga, Bu! Lepas dulu, Ibu nggak kasihan sama kandungan Ibu?" Sekuriti angkat bicara menasehatiku.


"Diam! Dimana suami saya? Dimana?!" Aku tidak menangis, saat ini hanya dikuasi amarah entah apa.

__ADS_1


"Iya, Ibu lepas beling itu dan tenang dulu, entar saya antarkan ke suami Ibu, kalau Ibu sudah tenang."


Aku melepaskan pecahan penuh darah yang ada di tanganku. Benda itu ternyata menancap pada telapak tanganku. Namun aku tidak perduli.


"Sudah, mana suami saya?" tanyaku berusaha menahan agar tidak mengamuk lagi.


"Mari—"


"Sweety, kita pulang, hm?" Suara seseorang yang kukenal, menghentikan ajakkan suster padaku.


"Nggak, Damian! Aku mau ketemu Christian!" Tidak lagi bicara formal padanya.


"Tidak Sweety, Christian—"


"Apa! Kamu mau bilang Christian udah nggak ada juga?!" Kubentak Damian.


"Tapi itu kenyataan."


"Nggak! Diam Damian!" Aku menatap tajam Damian. Kualihkan pandanganku ke arah suster di sampingku. "Antar saya pada suami saya."


"Baik Bu, mari."


Aku mengikuti suster muda itu dari belakang dengan jantung yang berdebar-debar. Damian juga mengikuti kami.


Kamar Jenazah


Dengan perasaan yang tak menentu, aku bertanya pada suster itu. "Sus? Kok kita kesini? Ngapain? Kita 'kan mau ketemu sama suami saya?"


Suster itu menunduk. "Maaf Bu, seperti yang saya bilang dari awal, kalau suami Ibu telah tiada."


"Hei, look at me. Dia tidak sedang menipumu Aurora, tolong jangan bohongi dirimu sendiri, terimalah kenyataan–"


"Jangan bilang gitu, Damian! Jangan ... itu nggak bener, Christian masih ada ...." Suaraku terendam saat Damian menarikku ke dalam dekapannya.


"Sttt! Tenang dulu, hm."


"Lepas Damian, aku mau ketemu Christian! Aku mau buktiin kalau dia masih ada!" Kutatap suster itu setelah lepas dari Damian. "Sus, buka sekarang pintunya," pintaku penuh penekanan. Aku masih belum menjatuhkan air mata.


"Iya Bu, sebentar saya izin dulu sama penjaga kamar. Mari Pak, Bu." Suster itu berlalu.


"Tenang dulu, Sweety."


"Gimana mau tenang, kalau kalian nuduh-nuduh Christian udah gak ada?!"


"Iya, tapi—"


Aku mengankat tanganku tanda agar ia berhenti bicara. "Diem, Damian."


"Maaf Bu, lama. Soalnya tadi kami disidang, akibat ulah salah satu dokter kandungan kami." Suster itu datang dengan pria paruh baya, yang mungkin penjaga kamar mayat ini.


Bukannya Dokter Raga satu-satunya dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit ini? Entahlah, itu tidak terlalu penting.


Ceklek!

__ADS_1


Hawa dingin mulai menusuk hingga lapisan kulit terdalamku. Bulu kuduk berdiri semakin tegak, seiring semakin dalam kami masuk. Jejer-jejeran mayat yang ditutupi kain putih, tidak menghentikanku untuk membuktikan kalau Christian belum tiada.


Tepat pada brankar paling ujung, suster dan bapak penjaga kamar mayat berhenti. Air mataku menetes begitu melihat tag nama pada kaki yang penuh luka seorang mayat yang ditutupi kain putih.


Christian Sanjaya


"Nggak, ini nggak mungkinkan, Sus?" Aku menatap melas pada suster itu. Sang suster hanya menunduduk.


"Damian? Ini bohong, 'kan?" Suaraku serak. "Jawab! Kalian punya mulutkan? Jawab aku!"


Hening


"Kalian nggak mau jawab?! Oke, aku yang akan buktiin sendiri!" Suster itu langsung menepis tanganku, saat baru akan mulai membuka kain putih pada seseorang yang katanya Christian.


"Jangan!"


Aku tersentak saat suster melarangku dengan nada sedikit tinggi.


"Kenapa? Kalian takut kalau ini sebenarnya bukan suami saya?!" bentakku.


"B–bukan begitu Bu, ta–tapi, wajah pasien h-hancur. Maaf Bu."


"A-apa? Nggak, Sus! Sudah saya bilang kalau suami saya belum meninggal! Ini cuma alasan kalian 'kan, supaya kedok kalian nggak terbongkar? Jawab!" Aku menolak percaya dengan air mata mengalir walaupun tidak deras.


"Sweety ... suster itu tidak berbohong, ia hanya mencegah supaya kamu nggak takut."


"Kalau gitu, jangan larang aku buat lihat siapa yang ada dibalik kain itu!" Kutatap tajam ke tiga orang itu.


"Sweet—"


"Diam!" Dengan tangan bergetar, aku mulai membuka kain itu dengan perlahan. "Aaa!"


Aku berteriak kala melihat wajah mengerikan yang sangat mirip Christian. Aku segera berlari mendekap erat Damian.


"Enggak Damian! Nggak! Aku nggak mau ...." Hatiku hancur, aku baru saja akan merasakan kebahagiaan. Tapi, tapi apa ini?! Dosa apa yang kuperbuat hingga aku tidak bisa bahagia?! Apakah aku ditakdirkan untuk selalu menderita?!


"Sttt, relahkan dia Aurora."


Aku hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalaku di balik pelukkan Damian. Kilasan wajah yang hancur tadi, masih membekas di kepalaku. Rambut cokelat dengan bentuk wajah yang samar-samar, i–itu suamiku, Christian.


"Itu bukan Christian 'kan? Jawab aku Damian, aku nggak bisa ...," lirihku. Kepalaku pening.


"Benar Aurora, itu suamimu, Christian. Maafkan aku."


"Tapi aku nggak bisa Damian! Aku masih membutuhkannya! Anakku masih membutuhkannya! Aku baru saja bahagia, tapi– tapi apa yang kudapat? Apakah bahagia sesusah ini?!" Aku mengamuk, menhiraukan bahwa saat ini aku masih berada di kamar jenazah.


"Aku harus bagaimana Aurora?! Aku tidak bisa menghidupkannya! Aku bukan Tuhan, Aurora! Sadarlah! Dengan kau begini, Christian pasti tidak akan tenang! Kau hanya perlu merelahkannya! Aku tau kau tersiksa, tapi aku harus bagaimana?!"


Deg!


Bentakkan Damian, mampu membuatku membeku. Apa aku salah? Tapi aku hanya ingin bahagia seperti yang lainnya, aku tau kalau yang sudah tiada tidak bisa dibangkitkan lagi, tapi– apa pada akhirnya hidupku akan seperti ini?


Tubuhku lelah. Sejak hamil, aku selalu gampang lelah. Apalagi saat usia kandunganku memasukki bulan ke lima. Dengan kesadaran yang sudah di ambang batas, aku berkata pada Damian. "Aku lelah." Dan semuanya gelap.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Satu kata untuk part ini:)


__ADS_2