Dua Istri

Dua Istri
Part 5


__ADS_3

Sinar matahari pagi mulai menembus pandanganku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, sembari mengumpul nyawa.


Menuruni brankar, aku melepas paksa infus yang ada di tanganku. Lagian aku sudah merasa sehat. Dan sepertinya, sudah tidak ada lagi yang perduli padaku.


Ahh, sepertinya aku harus buang air kecil. Segera aku bergegas ke toilet yang ada di ruang ini.


Aku menyempatkan untuk membasuh wajah dengan air tanpa sabun. Ingin gosok gigi juga, tapi nggak ada sikat dan pasta gigi.


Maklum lah, tidak ada persiapan apa-apa untuk datang kesini. Aku juga tidak menyangka bakalan pingsan.


Saat akan keluar dari toilet, kulihat ada Sohena yang tengah duduk di kursi roda samping brankarku. Sedang apa dia?


"Sohena?" panggilku seraya duduk di brankar.


Ia yang menyadari keberadaanku tersenyum. Tersenyum ... sinis mungkin? Kenapa?


"Gimana rasanya ditampar suami sendiri?" masih dengan senyum sinis, ia bertanya padaku.


Jadi, ia mulai menunjukkan sifat aslinya?


"Kenapa kamu tanya begitu?" Aku pura-pura tidak tau. Karena sedari awal ia mengaku hamil anak Christian, aku sudah curiga padanya.


"Cih, dasar penyakitan! Kamu lihat 'kan, Christian mulai menerimaku? Ia mulai sadar, kalau kamu cuma wanita menjijikan yang nggak bisa kasih dia anak! Lihat, sedangkan aku? Aku sehat dan sedang mengandung benihnya!" seru wanita dengan pakaian rumah sakit, sembari menunjuk-nunjuk wajahku.


Ini sangat sakit untuk ukuran penghinaan. Namun, aku tidak boleh menangis, penghinaan telah menjadi makananku sehari-hari.


"Terus?" tanyaku santai.


Sepertinya ia terkejut. Namun, tidak lama dari itu, ia kembali memasang raut sinis. "Well, sepertinya Cinderella kita mulai berani," ujarnya sembari berdiri dari kursi roda dan berjalan ke arah jendela sisi kiriku.


Aku hanya diam menunggu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


Ia menyibak hordeng putih polos itu, lalu menatapku. "Kamu harus cerain Christian!"

__ADS_1


Menceraikan Christian? Apa-apaan dia, mentang-mentang telah menjadi istri Christian, ia sudah berani memerintahku. Harusnya ia sadar diri, ia hanya yang kedua.


"Apa-apaan kamu? Nggak! Selamanya aku nggak akan pernah menceraikannya!" ketusku tidak terima.


Gadis itu– ahh tidak. Perempuan itu, ia hanya memutar bola matanya malas.


"Hell, kuakui kamu cantik, walaupun nggak lebih cantik dari aku. Tapi, seharusnya kamu sadar diri. Dengan fisik penyakitmu itu, mana mungkin Christian bisa bertahan sama kamu! Lihat aku Aurora! Aku lebih menjanjikan dari pada kamu!" bentaknya dengan wajah padam.


Perkataan Sohena seperti kilat di siang bolong yang menghantam dadaku. Aku tidak berpikir sampai situ, apakah Christian akan meninggalkanku, dan memilih Sohena?


"Nggak! Lebih baik kamu keluar dari sini sekarang!" Aku berdiri membentaknya, lalu mengarahkan tanganku ke arah pintu.


Ia terlihat ingin membalasnya tapi terhenti. Ia menampar pipinya lalu menjatuhkan tubuhnya dan menangis. Bertepatan saat pintu dibuka.


"Auro--"


Aku yang menatap bingung Sohena, segera mengalihkan pandanganku ke arah pintu.


"Christian ...," gumamku.


"Aku hanya ingin menjenguk Kak Aurora, tapi kenapa kakak tampar aku?" Gadis itu menangis tersedu-sedu.


Aku mengalihkan lagi pandanganku ke arah Sohena. Aku menamparnya? Kapan?


Christian menghampiri Sohena, dan menariknya ke dalam pelukkan.


"Shhht, sudah. Ada yang sakit?" tanya Christian seraya mengecek tubuh Sohena.


"Pipiku ...."


Christian mengelus-elus pipinya. Ia menatapku tajam.


Oh tidak, jangan lagi ....

__ADS_1


"Jelasin, Aurora!" geramnya.


"Jelasin apa? Aku nggak tampar dia! Dia sendiri yang jatuh terus nangis air mata buaya!" Aku tidak terima dituduh sembarangan.


"Apa nggak cukup Kakak tampar aku? Dan sekarang Kakak tuduh aku? Aku nggak mungkin ngelakuin itu, aku cukup tau diri."


"Cih, dasar munafik!" cibirku menatapnya tajam.


"Diam Aurora!" Christian menjeda ucapannya. "Tadinya aku kesini mau minta maaf sama kamu! Tapi aku bersyukur itu nggak terjadi! Orang kayak kamu nggak pantas mendapatkan maaf! Kamu bukan Aurora yang kukenal lagi, kamu berbeda! Ka--"


"Diam kamu Christian!" Aku memotong perkataannya. "Kamu yang berbeda!" Ia terlihat ingin memrotes. Namun tidak! kali ini aku yang bicara.


"Kenapa? Kamu ingin menyangkalnya? Nggak Christian, nggak! Nyatanya suamiku sendiri, Christian Sanjaya yang terhormat, lebih mempercayai wanita ini!" Aku menjeda ucapanku dan menatap tajam Sohena yang terdiam. "Wanita yang ngga jelas asal-usulnya! Dari pertama kali ia datang mengaku hamil anakmu, kamu Christian nggak menyangkalnya! Kenapa kalian bisa-bisanya percaya sama dia, yang datang cuma dengan modal bibir nggak dengan bukti?!"


Aku menarik napas dalam dan menatap menyelidik. "Atau jangan-jangan, kalian udah rencanain ini sejak awal untuk singkirin aku? Jawab Christian!"


Cukup sudah mereka membentak, menindasku. Aku menunggu apa yang akan Christian ucapkan. Namun, ia hanya mengerutkan dahinya, dan berkata sesuatu yang sangat inginku jahit mulutnya!


"Terserah Aurora. Sepertinya kamu butuh istirahat. Aku pamit." Langkahnya tejeda di depan pintu dan membalikkan badan. "Kita akan bicarain ini nanti. Aku harap kamu nggak berulah lagi."


"Apa nggak berulah lagi kamu bilang?! Harusnya kamu bilang begitu sama medusa itu, Christian! Hei ... jangan pergi! Dengarin aku dulu!"Aku memanggilnya, tapi terlambat. Ia sudah pergi. Aku menghempaskan semua barang yang ada di atas meja.


Mengambil pecahan gelas dan meremasnya hingga menancap di telapak tanganku.


Aku tidak peduli.


Argh! Kenapa semuanya menjadi seperti ini?! Aku mulai menintikan air mata dan menangis tersedu-sedu.


Aku berusaha tersenyum selama ini walaupun aku disakiti berkali-kali. Namun, kenapa aku masih tidak bahagia?! Apakah kurang pengorbananku?! Kenapa semua ini tidak begitu adil padaku?!


Aku duduk di lantai yang penuh dengan pecahan barang-barang tajam dan ceceran darahku. Lalu entah dorongan dari mana, aku mengambil pecahan gelas itu dan menggoresnya di pergelangan tanganku.


Aku terkejut saat darah mulai merembes di pergelanganku. Ini tidak sakit sama sekali. Aku ... aku merasa bebas.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Jangan lupa like dan komen🙏


__ADS_2