Dua Istri

Dua Istri
Part 22


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu. Usia kandunganku telah berjalan enam bulan. Semuanya lumayan berjalan lancar. Perlu digaris bawahi, lumayan berjalan lancar, bukan sepenuhnya berjalan lancar.


Selama lima bulan ini, aku menjalani kehidupan dengan cukup banyak rintangan-rintangan yang biasanya terjadi dalam sebuah rumah tangga.


Rintangan-rintangan yang kuhadapi cukup berat. Masalah mulai berdatangan, pada saat usia kandunganku berjalan menuju ke tiga bulan.


Dimulai dari mama. Tentunya mama bahagia kala mendengarku sedang mengandung. Namun, pada saat usia kandunganku sehari sebelum genap tiga bulan, mama menghubungiku.


Dan, apa yang disampaikan mama lewat telepon, membuatku menghabiskan satu minggu dengan merenung dan– dalam seminggu itu, aku seperti tidak ada semangat hidup lagi, semua yang aku pikirkan, hanya tentang percakapanku dan mama.


Ternyata, mama telah mengetahui jika Christian menikah lagi. Mama marah besar saat mengetahui itu, terbukti hingga ia memintaku untuk menceraikan Christian.


Ketika mendengar untuk menceraikan Christian, di situ aku hancur. Aku tidak mungkin menceraikannya disaat kami telah melalui banyak percobaan.


Hatiku hancur kala mendengar mama menangis di sebrang sana. Mama sangat jarang menangis. Aku sayang mama, tapi ... aku juga mencintai Christian. Makanya, aku menolak untuk bercerai. Mama juga menolak balik keputusanku.


Namun, aku dan Christian tetap berusaha untuk meyakinkan mama. Memang pada awalnya mama menolak, tapi mungkin, setelah melihat betapa besar perjuangan kami dan tak kunjung mundur, akhirnya mama menerimanya meski masih dengan setengah hati.


Masalah selanjutnya datang dari mertuaku. Kupikir, setelah hadirnya buah cinta di antara aku dan Christian, ibu mertua akan mulai menerimaku, tapi ternyata tidak. Sepertinya ia memang sangat mengidolakan menantu kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Sohena.


Ngomong-ngomong soal Sohena, ia semakin menjadi-jadi saja. Semakin berani menantangku. Tidak pernah sehari pun, ia absen untuk berulah. Bahkan, aku hampir keguguran akibat ulahnya.


Kronologi, waktu lalu hari sangat panas, aku minta dibuatkan jus segar, oleh Bi Inem. Setelah meminumnya, aku malah ketagihan. Namun, saat menjelang sore, perutku keram dan seperti ada yang menarik paksa isi perutku.


Bi Inem yang melihatku, langsung pucat pasi dan segera mengantarku ke rumah sakit. Aku tidak menaruh curiga terhadap Bi Inem yang pucat pasi, tapi aku yakin ada sesuatu yang salah.


Christian yang entah mendapat kabar dari mana aku berada di rumah sakit, segera menyusulku pada saat itu juga. Padahal, hari ini ia ada meeting penting.


Diperiksa lah aku oleh dokter wanita yang masih muda. Aku tidak tau kenapa bukan dokter Raga lagi yang menjadi dokter kandungan. Tapi itu kuabaikan.


Setelah beberapa proses pemeriksaan, akhirnya aku diputuskan untuk menjalani beberapa perawatan di rumah sakit selama tiga hari, yang artinya aku harus menginap lagi di ruangan berbau obat-obatan itu.


Dan sialnya, aku masih belum tau penyebab perutku sakit.


Sehabis dipindahkan, Christian datang ke ruanganku dengan wajah datar dan sorot akan kemarahan. Belum sempat aku bertanya perihal kenapa raut wajahnya datar dan marah, ia terlebih dahulu mengeluarkan suara beratnya.


Intinya, ternyata aku hampir keguguran akibat meminum jus nanas yang banyak. Ini kehamilan pertamaku, jadi aku tidak tau jika meminum atau memakan nanas akan berakibat fatal.


Dan juga, bukannya aku lebay atau apa, tapi kandunganku sedari awal memang lemah, salah makan minum sedikit pun, akan langsung berakibat pada kandungan.


Mengetahui aku minum jus nanas buatan Bi Inem, Christian segera memarahinya habis-habisan. Bi Inem tidak ada perlawanan, ia hanya bersujud meminta maaf sembari menangis-nangis.


Christian ingin memecatnya, namun aku bersikeras menolaknya. Tapi aku tidak menyerah begitu saja, aku mengeluarkan sikap manja sialanku, yang ia memang tidak bisa menolaknya. Akhirnya ia menyetujuiku.


Saat Christian kerja dan Sohena keluar, aku memanfaatkan itu untuk berbicara empat mata bersama Bi Inem. Bi Inem terlihat ketakutan kala aku menyuruhnya untuk berkata jujur, tapi aku terus menenangkannya. Hingga ia menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


Ternyata oh ternyata, ada udang di balik batu. Siapa lagi kalau bukan wanita cantik tapi tidak dengan hatinya? Sohena. Ya, sedari awal yang memang aku curigai.


Ia berkata pada Bi Inem, kalau aku memang ingin meminum jus nanas. Bi Inem ragu untuk membuatnya, tapi Sohena terus meyakinkannya.


Sial, memang wanita gila! Namun, aku tidak ingin membongkar kedoknya dulu, aku hanya mempunyai saksi tidak dengan barang bukti.


Karena aku yakin, jika aku menuduhnya tanpa bukti, ada dua hal kemungkinan yang akan terjadi.

__ADS_1


Pertama, ia berpura-pura tidak tau apa-apa dan sok menerima apa yang dituduhkan padanya, atau ia akan mencari kesalahanku dalam menuduhnya, sekecil apa pun itu, lalu ia akan memutar balikkan fakta.


Menghadapinya hampir setengah tahun akhir-akhir ini, membuatku mengerti cara bermainnya.


***


"Anak ayah, udah nggak sabar keluar, hm?"


"Iya, ayah," balasku menirukan suara anak kecil.


Sudah menjadi rutinitas Christian, berkomunikasi dengan anak kami yang masih berada dalam kandungan, tiap pulang kerja.


"Nanti kalau udah gede, kita main bola bareng, ya?" tanya Christian yang dibalas tendangan dari dalam perutku.


"Chris apa-apaan, sih? Kan aku bilang anak kita cewek," ujarku menatapnya sebal.


"Cowok, Sayang."


"Cewek, Daddy," balasku tidak mau kalah.


"Iya deh, terserah. Kan tinggal buat lagi, iyakan, Bunda?" Pria yang tidur tengkurap dan mengusap-usap perutku, dengan gampangnya bicara begitu.


"Buatnya gampang! Hamilnya susah!" Aku menarik rambutnya yang tadinya pelan, menjadi kuat.


"A–aw! Kdrt terus mah, kamu!" Ia menatapku sebal.


"Sayang? Bulu kaki kamu udah dicukur belum? Kalau belum, aku bantu cabutin, ya?" tanyaku dengan raut wajah polos.


"E–eh, gak usah repot-repot yang, biar aku aja."


"Udah sayang, udah. Aku minta maaf," ujarnya memeluk pinggangku.


Kalai sudah begini, aku bisa apa?


"Iya, nggak apa-apa." Aku mengusap-usap rambutnya lembut.


Akhir-akhir ini, Christian terus menempeliku. Ia menjadi suami yang sangat perhatian. Ia memanjakanku, memberi kasih sayang tidak terbatas, memperhatikan kesehatan dan kenyamananku.


Intinya ia berubah. Maksudku, berubah menjadi lebih baik. Contohnya seperti saat ini.


"Sini, tiduran di sini. Nanti punggung kamu sakit kalau nyender di situ terus." Ia menepuk-nepuk bagian sampingnya yang masih kosong.


Dengan senang hati aku memposisikan tubuhku di sampingnya dan langsung ditarik ke dalam dekapannya.


"Chris?" panggilku.


"Hm?"


"Kayaknya, baby pengen pempek, deh." Ya, keinginan dedek bayi, bukan aku.


"Baby apa Mommy-nya, nih?" Yah, ketahuan deh, hihi!


"Dua-duanya, Daddy ...." Aku masih gengsi untuk mengakuinya.

__ADS_1


"Bilang aja kalau yang mau Mommy-nya." Christian terkekeh.


"Iya deh iya, keinginan Mommy-nya." Sudahlah, aku nyerah.


"Yaudah, aku ambil jaket dulu. Kamu di sini aj–"


"Kan aku ikut," potongku.


"Nggak usah, aku bawa motor bukan mobil. Kamu tunggu aku aja, hm?"


"Tapi—"


"Sayang?"


"Hah! Oke," ujarku pasrah. "Hati-hati, jalan licin habis hujan."


"Kalau aku kenapa-napa, berarti kamu harus siap jadi janda muda." Candaan pria yang sedang memakai jaket itu, membuatku melemparkan bantal pada kepalanya yang sudah kurang waras.


"Ngomong apaan, sih! Ntar kalau kamu nggak balik, aku mau cari suami baru aja!" seruku dengan kesal.


"Iya, cari yang beneran tulus sama kamu, ya? Kalau nggak, ntar aku gentayanganin dia– a–aw!"


"Ngaco ya, kamu! Udah sana!" Apa-apaan dia bicara begitu?!


"Iya Sayangku ... aku pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik," ujarnya kemudian mengecup dahi, pipi, hidung, dan diakhiri kecupan di bibir.


"Hmmm," balasku dengan deheman.


***


Hah! Baru beberapa menit Christian pergi, aku sudah merindukannya saja.


"Sepertinya ada yang sedang menikmati kebahagiannya."


Perkataan wanita yang kulewati, membuatku berhenti berpikir, dan mundur selangakah. Ternyata dia. "Kelihatan jelas banget, ya?"


"Banget malahan! Aku turut bahagia, ya. Semoga kebahagiaan kamu berlangsung lama," ujarnya dengan senyum tulus.


Aku mengernyitkan dahi, kala mendengar ucapan Sohena. Ya, wanita di depanku ini, Sohena. Namun, dengan kepribadian yang berbeda. Membingungkan.


Tidak ingin berprasangka buruk, aku mengangguk-angguk 'kan kepalaku. "Ya, makasih."


"Kalau gitu, aku mau pamit dulu ke rumah temen. Bye!" Ia tersenyum kemudian berlalu. Ada apa dengannya? Mungkin ia sudah berubah. Entahlah.


Kring! Kring!


Ah, pasti itu Christian! Tanpa melihat nama panggilannya pun, aku sudah tau siapa itu. Yah, karena aku membuat deringan khusus untuk panggilannya.


🍁🍁🍁


Hai semua! Apa kabar? Semoga baik-baik aja, ya:)


Gimana untuk part kali ini? Ayo dikomen, tapi jangan cuma next/lanjut/semangat doang, ya:(

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen!


__ADS_2