Dua Istri

Dua Istri
Part 21


__ADS_3

"Sayang! Berhenti!" seruku saat melihat tenda kecil di pinggir jalan. Sepertinya, itu bubur ayam.


"Oh, God! Aurora! Untung aku nggak punya riwayat sakit jantung! Kalau ada, bisa-bisa kamu jadi janda muda ...."


Walaupun ia mengecilkan volume suaranya pada akhir kalimat, telingaku tetap saja dapat menangkap itu! "Kamu bilang apa, Sayang?" Aku mengelus-elus kaki pria yang sedang menatapku cemas, bersiap-siap untuk mencabut salah satu bulunya.


"Hehe, kamu nggak cantik, kok."


"Apa?! Aku nggak cantik?!" tanyaku diiringi tarikan pada satu bulu kakinya.


"A–aw! Maksud aku, tadi aku nggak bilang apa-apa, habis itu aku bilang kamu cantik, i–ya cantik! Udah, ya Sayang."


"Hah? Kamu kok ngejelasinnya ribet gitu?! Kamu mau nipu aku, ya?! Mau aku cabut lagi, semua bulu kaki, kamu?!" Enak, saja! Ia pikir bisa menipuku!


"Jangan, Sayang. Mending kita turun, yuk? Katanya kamu pengen bubur ayam? Ntar keburu habis, kalau kita di sini terus."


Bener juga, apa yang dibilang Christian. "Oke! Tapi ...."


"Apa?" Wajah Christian terlihat tidak yakin.


"Gendong!" pintaku melebarkan tangan minta dipeluk.


"Tuhkan."


"Apa, Chris?" tanyaku saat mendengar ucapnnya yang tidak terlalu jelas.


Ia gelegapan kala mendengar pertanyaanku. Tapi, kenapa? "Ah, i–itu, tadi aku bilang–"


"Udahlah, ayo, aku udah laper," potongku, "sekarang gendong!"


"Iya Sayang, iya, mau ambil payung dulu." Christian memarkirkan mobil sedikit menepi, kemudian turun untuk menjemputku.


"Manja, ya sekarang. Padahal sebelum hamil, mandiri banget," ungkapnya sembari menarikku dengan hati-hati ke dalam pelukannya, karena takut basah kena hujan.


"Biarin. Sama suami sendiri juga, bukan sama yang lain," ujarku saat lebih dalam menempelkan kepala pada ceruk lehernya.


"Gini aja terus, ya? Jangan galak-galak!"


"Emang aku galak?!"


"Nggak, Aurora. Perasaan dari tadi salah mulu."


"A-aw! Jangan digigit, Sayang!" Ya, aku menggigit lehernya. "Agresif banget, sih! Di rumah aja, kalau kamu mau 'itu', tapi kalau kamu udah nggak sabar, di dalem mobil juga bi—"


"Dasar mesum!" Persetan jika ada yang mendengar.


"Siapa–"


"Udah, Chris! Gimana aku mau makan, kalau dari tadi kamu nggak jalan-jalan?!" Mungkin karena tadi aku cabut bulu kakinya, dia jadi sedikit gila, ya?


"Astaga! Aku lupa! Yaudah, ayo!" Kami mulai berjalan di tengah rintikan hujan yang deras.

__ADS_1


"Mana masih muda, udah pikun," gumamku.


"Apa? Aku pikun?" Ternyata ia mendengarku. Ya, sudah pasti ia dapat mendengar ucapanku, karena aku bicara tepat di samping telinganya.


"Iya, aku bilang kamu pikun! Kenapa? Mau marah?!"


"Enggak, Sayang. Aku nggak marah, kamu bener aku emang pikun, haha iya pikun." Ck, tertawa saja tidak sepenuh hati!


"Anak pintar!" Walaupun ia tertawa dengan tidak sepenuh hati, aku tetap menghargai usahanya.


Setelah melalui drama kecil, akhirnya kami tiba di tenda kecil yang ternyata memang menjual bubur ayam. Di tenda itu pun, hanya ada aku, Christian, dan Abang penjual yang berkepala botak.


"Mau berapa, Den?" tanya abang penjual itu.


"Dua aja, Bang." Christian yang menjawab. Aku hanya membuka menatap sang penjual bubur ayam.


"Oke! Ditunggu, ya Den." Abang penjual itu pun berlalu.


"Ra? Aurora? Sayang?!"


"H—hah?" Seketika aku tersadar dari lamunanku.


"Kok, kamu bengong? Kenapa?" Christian mengusap-usap pipiku dengan ibu jarinya.


"E—enggak, kok! Cuma lagi laper aja hehe, i—iya aku laper," ungkapku tersenyum canggung.


Pria dengan alis tebal itu, mengerutkan dahinya. Namun, tak ayal akhirnya ia mengangguk mengiyakan, walaupun masih dengan raut bingung.


Setelah tidak sampai sepuluh menit menunggu, dua porsi bubur ayam kami telah disajikan dan siap untuk dikonsumsi.


"Sini."


"Apa?" tanyaku bingung kala Christian menarik tanganku.


"Sini, Sayang." Masih dengan bingung, aku bergeser mendekat ke arahnya.


"Pipi sama hidung kamu merah. Dingin, ya?" Oh, jadi ini maksudnya. Ia memelukku dari samping, serta membungkus jari-jari tanganku dengan tangan besarnya, kemudian ia meniup-niup berusaha memberikan kehangatan.


"Hmm." Aku mengangguk dalam dekapannya.


"Pulang, yuk? Kasihan kamu sama dedeknya kedinginan," ujar Christian menatapku perhatian.


"Nggak, nggak mau pulang," jawabku sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Bingung. Itu yang kulihat tercetak di wajah pria yang sedang mendekapku. "Lho, kenapa?"


"Aku mau pegang kepala abang itu," cicitku yang langsung mendapat gelengan kepala Christian. "Nggak, Sayang, kalau abangnya marah gimana, hm?"


"Tapi ini bukan keinginan aku, ini keinginan anak kamu ... kamu mau anak kamu—"


"Iya Sayang, iya. Tapi kalau abangnya nggak bolehin, berarti nggak, ya?" putusnya dan dengan semangat aku mengangguk-angguk 'kan kepala.

__ADS_1


"Ehm, Bang?" Christian memanggil sang Abang penjual yang sedang bersenandung menatapi hujan.


"Iya, Den? Ada apa?" tanya Abang itu ramah.


"A–ah jadi itu—" Tak kunjung menyuarakan tujuan memanggil sang Abang, aku langsung menyenggol bahunya lalu tertawa dengan mata sedikit melotot. "Ehm, jadi gini Bang, istri saya 'kan lagi hamil, t–terus dia


pengen— aduh, gimana ya? Hehe."


"Bilang aja, Den, nggak apa-apa."


"Saya pengen pegang kepala, Abang!" Lama menunggu, dalam satu tarikan nafas aku menyuarahkan keinginanku.


"Oalah, Enengnya lagi ngidam, toh? Boleh-boleh, Neng, silahkan atuh."


Tanpa ragu, aku berdiri lalu memegang kepala botak sang Abang yang sedang menunduk.


Saat pertama kali tanganku bersentuhan dengan kulit yang sedikit bertekstur kasar, aku seperti tersengat sesuatu, ini ... ini sangat menyenangkan!


Sekitar lima menit, aku masih bersenang-senang dengan mengelus-eluskan tanganku, pada kepala sang Abang.


"Aurora, udah." Ucapan Christian kuabaikan.


"Kasihan Sayang, kepala Abangnya pegel kalau nunduk terus." Usapanku terhenti. Seketika aku menarik tanganku. Astaga! Sangking keenakan, aku sampai lupa!


"Maaf, Bang." Aku meringis saat mengucapkan maaf.


"Nggak apa-apa, atuh Neng. Kalau lihat Eneng, saya teh jadi keinget sama anak saya di kampung," terang sang Abang tersenyum ramah.


"Sekali lagi, maaf ya, Bang." Christian tersenyum canggung.


"Iya, Den."


"Yasudah, kalau gitu kita pamit dulu ya, Bang." Kami pun pamit. Langit semakin gelap dan udara semakin dingin, saat kami menuju mobil.


***


"Apa bayi yang di kandunganmu, anak Christian? Aku meragukanmu." Sontak aku melotot saat mendengarkan pertanyaan sampah dari wanita yang tersenyum angkuh di hadapanku.


"Hah! Yang bener aja! Sudah pasti ini anak Christian!" Kujeda sejenak. "Yang harus diragukan itu, anak yang ada di kandunganmu, Sohena," lanjutku menatapnya dengan senyuman miring.


"Kenapa? Nggak terima? Cih, kuakui kamu memang pintar dalam menilai orang. Tapi, saat kamu menilai sesorang ... kamu harus berkaca dulu, Sohena. Mau tau kenapa?" Aku memutari sekelilingnya dengan sorot menilai.


"Apa orang yang kamu nilai nggak lebih baik dari kamu? Kalau iya, setidaknya itu bisa membuat orang yang kamu nilai nggak punya alasan buat membantah. Nah, kalau sebaliknya ... itu sama saja kamu meludah ke atas langit, tapi ludahnya jatuh lagi kena muka kamu. Paham, Sohena?"


***


Jangan kasih kendor Aurora😎


Haii, Aurora kembali setelah dua hari nggak update😁


Sebenarnya, part ini belum selesai lagi, tapi nanti kepanjangan😝 Jadi mau dijadiin dua part aja☺️

__ADS_1


Jangan pelit-pelit komen-_-


Pokoknya jangan lupa vote dan komen!


__ADS_2