Dua Istri

Dua Istri
Part 10


__ADS_3

Ditemani kopi hangat, aku duduk di kursi yang ada di teras rumah. Aku mengenakan kaos putih polos dan celana training. Hari mulai menjelang malam. Udara pun semakin dingin.


Aku telah sampai di rumah mama.


Ternyata, ia hanya kelelahan dan kurang gizi. Namun, aku masih harus menjaganya sampai ia benar-benar sembuh.


Padahal, sebelum ikut Christian, aku menawarkan mama untuk memakai pembantu, tapi mama menolaknya.


Hah, telah satu minggu aku di sini. Semuanya baik-baik saja, kecuali Christian yang mulai susah dihubungi.


Hari pertama, kami teleponan bisa empat sampai lima kali. Tapi sekarang, jangankan satu hari sekali, dua hari sekali saja ia susah dihubungi, syukur-syukur kalau ia angkat.


Kring kring!


Ahh, ada yang menelpon. Kira-kira siapa, ya? Segeraku ambil handphone yang tergeletak di atas meja sampingku.


Nama yang tertera di layar, membuatku kaget bukan main.


My frog Prince is calling


Dengen penuh semangat aku langsung mengangkat teleponnya.


"Halo, Chris? Tumben kamu telepon." Berbasa-basi menjadi awal pembuka ucapanku.


"Halo, Sayang. Emangnya gak bisa ya, telepon istri sendiri?" kata Christian di sebrang sana.


"Maksud aku bukan gitu, tapikan kamu akhir-akhir ini udah jarang dihubungi, kenapa? Udah lupa punya istri, huh?"


Aku berpura-pura marah dengan membuat nada ketus. Padahal dalam hati, sudah guling-guling. Abaikan.


"Bukan gitu, sayang ... di kantor lagi banyak masalah. Mana si Anton ambil cuti dua bulan lagi, karena istrinya lahiran. Makanya semua aku yang kerjain, sambil menunggu sekertaris baru," jelas pria yang saat ini kurindukan.


Ya Tuhan, maafkan aku yang sempat berpikiran buruk terhadapnya.


"Anton si sekertaris ganteng, kamu itu?" tanyaku. Mari kita lihat reaksinya, hihi.


Terdengar geraman, dari sebrang sana. Bisaku tebak, pasti matanya berubah menjadi tajam dan mengepalkan tangan. Biarkan saja, memang dia pikir enak, kalau lihat dia sama Sohena.


"Ayolah Sayang, dia sudah punya istri dan sebentar lagi mau punya anak, kamu juga udah punya suami."


Ahh, betapa senangnya aku saat dia cemburu begini.


"Emangnya kalau dia belum punya istri aku boleh deketin dia? Kan kamu punya dua istri, berarti aku boleh dong, punya dua suami?" tanyaku, berpura-pura polos.


Astaga, pasti ia akan meledak! Haha.


"Boleh saja," jawabnya enteng.


Ha?! Ini tidak sesuai ekspetasiku!


"Kamu, izinin? Oke." Akupun membalasnya, dengan santai. Padahal dalam hati, mewek.


"Silahkan saja, sebelum aku mengurungmu di kamar."


Ahh, Christian! Akanku laporkan kamu pada polisi! Karena telah membuat jantung anak orang berdetak kencang!


"A-haha, cuma di k-kamar 'kan? Hah, itumah gampang! Kan ada jendela, tinggal lompat aja. Dan, boom! Aku bebas!" jawabku masih tidak mau kalah.


"Oh, begitu? Aku yakin kamu nggak bisa lompat— emm, berjalan pun nggak bisa setelah kita bermain tempur-tempuran di ranjang."


Ahh, Mama! Tolong anakmu ini yang sudah jantungan stadium akhir!

__ADS_1


"A-apasih kamu! Tau, ah!" rajukku dengan wajah merah padam.


"Ciee, si macan galak ngambek, ciee ... aku tebak pasti kamu sekarang mukanya merah?" Christian, terus saja meledekku.


"Dih, enggak kok! Kamu telepon sebenarnya mau apa? Kalau cuma mau ledekkin aku, aku matiin nih, teleponnya!"


Lebih baik dimatikan saja dari pada aku jantungan beneran! Tapi aku masih kengen, huwaa gimana dong? Tapi, tapi— argh, aku pusing!


"E-eh Sayang, jangan dong, akukan cuma bercanda ... tujuan aku nelepon kamu, aku tuh kangen tau! Kangen cakaran kamu, desahan ka—"


"Nggak, Chris! Stop! Serius atau aku matiin?"  Otak mesumnya mulai mengambil alih kejiwaanya!


"Hehe, bercanda sayang ... aku memang kangen banget sama kamu! Pokoknya kangen semuanya! Aku sekarang ada di Manado, sebenarnya udah dari dua hari lalu, sih. Rencananya aku mau surprisein kamu, dateng diem-diem, ehh akunya gak tahan buat nelepon kamu, keburu kangen!"


Ungkapan Christian barusan, membuatku senang bukan main! Astaga Chris! Kita tiga kosong.


"Jadi sekarang kamu nginap di hotel, atau gimana?" tanyaku.


"Iya, aku nginap di hotel deket bandara," jawab Christian.


"Terus, kamu ke sininya pake apa?"


Aku bertanya lagi. Karena aku tau, Christian paling tidak suka naik angkutan umum.


"Kamu lupa, ya? Kalau suami kamu ini kaya? Walaupun aku nggak bisa beli jet, tapi coba aja kamu sebutin mau beli apa, pasti langsung aku beliin. Aku ke sana sewa mobil. Sebenarnya sih mau beli mobil baru, tapi gak sempet. Males aku kalau urusin ini itu," jelas Christian. Dasar, masih aja sombong!


"Yaudah, ini udah mau jam enam sore lho, eh tunggu aku lihat bentar," ujarku lalu melihat jam yang ada di handphonku. "Emm iya ini udah jam setengah enam lewat. Kamu datengnya jam berapa? Biar aku masakin. Tapi jangan datang ke maleman, bahaya nyetir sendiri," ujarku memperingatinya.


"Iya macan galaku sayang ... masak yang enak, ya! Aku mau mandi dulu baru otw. Titip salam buat mama."


"Iya-iya, udah sana mandi. Inget, jangan ngebut bawa mobilnya! Kalaupun kamu gak inget diri kamu, setidaknya inget kalau kamu ada aku, oke?" Pesanku setiap kali dia bepergian.


"Iya Sayang iya. Udah ya, aku mau mandi dulu, nanti kemaleman aku sampai ke sananya. Bye, aku cinta kamu!"


Memang sih, perjalanan dari bandara dengan kampung halamanku, membutuhkan satu setengah jam perjalanan jika tidak macet. Tapi jika macet, bisa sampai dua jam untuk sampai ke sini.


Kira-kira, jam setengah delapan untuk Christian sampai ke sini.


"Hmm, aku cinta kamu juga. Bye!" ujarku sebelum sambungan telepon kami terputus.


Dengan hati yang gembira, aku segera masuk ke dalam untuk menyiapkan makanan untuk menyambut Christian datang. Sebelum itu, aku akan mengabari mama dulu.


Kulihat mama sedang duduk di kursi goyang, yang telah sedikit usang, sambil menonton televisi. Keadaan mama telah membaik, jadi ia telah bisa beraktifitas kecil-kecilan.


Rumah kami sederhana. Hanya satu lantai dan sedikit lebih luas. Minimalis lah. Saat aku menikah sama Christian, aku sedikit merenovasi rumah mama. Walaupun itu dengan uang Christian.


Jelas bukan aku ingin memanfaatkan mempunyai suami kaya, tapi ia melarangku bekerja, jadi uang darimana lagi yang akan aku gunakan. Sudahlah, itu sudah berlalu.


"Ma?" panggilku saat telah berada di sampingnya.


Mama mengalihkan pandangannya ke arahku, lalu berkata, "Kenapa, Ra?"


"Emm, itu, Christian mau datang ke sini, jadi aku mau masakin buat dia," jawabku.


"Christian di sini? Kapan dia datang? Kok gak ngabarin?" Mama bertanya padaku dengan bingung.


"Ia, dia di sini. Udah dari dua hari lalu dia datang, tapi gak mau ngabarin, katanya biar surprise."


Mama tertawa setelah aku mengatakan itu.


"Yasudah, ayo kita masak buat menantu kesayangan mama," kata mama dengan semangat. Ia mulai berdiri tapi aku menahannya.

__ADS_1


"Enggak, ma. Mama duduk aja, biar Ara yang masak," ujarku lalu menduduki kembali mama.


Ngomong-ngomong, Ara adalah panggilan mama untukku. Eum, mama juga gak tau semua masalahku di Jakarta. Christian nikah lagi, tentu saja mama tidak tau.


"Nggak, nggak. Mama mau bantuin, kamu. Jangan bantah! Ntar mama kutuk kamu jadi malingkundang!"


***


Tepat jam tujuh, akhirnya masakanku telah selesai.


Bukan cuma aku sih yang masak, tapi sama mama juga. Walaupun membutuhkan sekitar lima menit untuk menahannya agar tidak ikut membantu. Namun, apalah dayaku yang tidak bisa melawannya.


Yasudah lah.


Masakan telah selesai. Kurang aku yang belum selesai. Baiklah, aku masih punya setengah jam untuk bersiap. Pasti Christian sebentar lagi akan sampai.


Akupun segera mandi, dan bersiap. Aku memustuskan untuk memakai atasan sabrina dan bawahan celana kulot.


Tinggal menunggu Christian. Sambil menunggunya, aku memberes-bereskan jika masih ada yang berantakan, dilanjutkan dengan bermain permainan cacing-cacing.


***


"Ra? Christian belum ada kabar, lagi?"


Entah sudah berapakali mama mengulangi pertanyaannya. Dan jawabannya masih sama.


"Belum, Ma."


Ini sudah hampir jam sepuluh malam, Christian belum mengabariku. Seharusnya dia telah sampai dua jam yang lalu, tapi sampai sekarang dia tidak sampai-sampai.


Kecewa? Tentu saja aku kecewa. Mama sampai sudah mengantuk, dan makanan telah dingin. Dan aku ... huh, aku sudah tidak tau lagi.


Tapi dibandingkan kecewa, rasa cemasku lebih mendominasi, semua pikiran buruk telah bersarang di otakku. Setidaknya, walaupun ia tidak datang kemari, minimal ia harus baik-baik—


Kring kring!


Di tengah pikiranku, ponsel yang ada di atas meja ruang tamu, mengembalikan kesadaranku.


"Siapa itu, Nak?" tanya ibu.


Saat aku membaca nama yang ada di layar, dengan cepat aku langsung mengangkatnya.


"Halo, Chris? Kamu jadi gak ke sini? Kalau masih di hotel, gak usah ke sini aja, udah malem, halo Chris? Chris?"


Ya, peneleponya adalah Christian. Namun, ia tidak menjawabnya.


"Selamat malam, apakah ini dengan, emm pacar atau istri, pemilik handpone ini?"


Ini bukan Christian, ini suara suara perempuan. Lalu, ini siapa?


"Selamat malam. Iya, saya istrinya, ini siapa ya? Dan, suami saya mana?" tanyaku berusaha menolak pikiran buruk.


"Mohon maaf sebelumnya, saya suster dari rumah sakit ***** mau mengabarkan, bahwa suami Ibu mengalami kecelakaan, sekarang suami Ibu telah dirawat di rumah sakit *****. Saya hanya akan mengabarkan itu, dan untuk Ibu, tolong datang kemari. Terima kasih."


Duk!


Aku membiarkan handphoneku jatuh. Aku terdiam. Air mata mulai mengalir di pipi. Tubuhku mati rasa, saraf-saraf di tubuhku seakan-akan tidak berfungsi lagi, aku ....


🍁🍁🍁


Ahh Christian😭😭

__ADS_1


Gimana tanggapan kalian?


__ADS_2