Dua Istri

Dua Istri
Part 13


__ADS_3

Eungh ... rasanya aku tidak ingin bangun. Ranjangnya begitu empuk dan nyaman.


Tunggu ... ranjang empuk dan nyaman? Bukannya aku ada di rumah sakit? Dan terduduk menyedihkan di lantai, itu? Lalu sekarang aku ada dimana?


Tanpa menunggu lama-lama, aku langsung membuka mata tanpa bangun cantik seperti biasa yang aku lakukan. Kamar mewah yang didominasi warna putih serta abu-abu? Dimana ini?!


Dengan perasaan yang was-was, aku bangun duduk untuk menetralkan pening di kepalaku. Sial, jambakkan Sohena kemarin, masih sangat terasa, hingga ke ubun-ubun.


Aku harus keluar dari sini!


Aku menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhku, menghiraukan pening yang semakin menjadi.


Baru akan menurunkan kaki ke lantai, tiba-tiba terdengar suara pintu yang akan dibuka. Cepat-cepat, aku berbaring lagi, kemudian berpura-pura untuk tidur.


Degupan jantungku semakin menggila, saat suara langkahan kaki terdengar semakin mendekat.


"Buka matamu. Aku tau kau sudah bangun."


Deg!


Suara itu terdengar familiar. Bagaimana dia bisa tau, aku hanya berpura-pura? Masih menutup mata, aku bertanya, "Siapa, kau?!"


"Ck, hanya satu bulan tidak bertemu, kau sudah melupakanku, really?"


Satu bulan tidak bertemu? 


"Damian?" tanyaku masih belum yakin.


"Kau bisa membuka matamu untuk memastikannya."


Astaga, sangking takutnya, sampai aku lupa untuk membuka mata. Perlahan, kubuka mataku. Ternyata memang Dia.


Menyadari jarak kami terlalu dekat, aku bangun duduk, lalu beringsut ke belakang. Aku masih belum mengerti, bagaimana bisa aku sampai di sini.


"K-kenapa, aku bisa ada di sini?" Aku menatapnya takut-takut. Walaupun kami sudah kenal, tapi hanya sebatas teman dansa saja.


Hening

__ADS_1


Kenapa Ia, diam saja dan terus menatapku? Semakin membuatku takut saja.


"Kau, kenapa?" Aku berusaha mengembalikan kesadarannya.


Damian tersentak kemudian tersenyum. "Ah, nanti saja aku jelaskan. Sekarang, Kau mandi saja dulu. Di walk incloset, ada pakaian yang bisa Kau pakai. Aku menunggumu di bawa. By the way, anggap rumah ini rumahmu sendiri. Yeah, walaupun ini tidak cukup luas untuk menyebutnya rumah. See you!"


Akhirnya Dia pergi dan aku bisa bernafas lega. Karena saat Damian bicara, aku menahan nafasku.


Bagaimana Dia bisa begitu sexy saat mulutnya bergerak menerangkan? Ditambah Ia mengenakan kemeja tanpa Jas yang membuat otot-ototnya tercetak jelas-- oh, my God!


Jika tak ingat Christian, pasti aku sudah jatuh cinta padanya. Argh, Aurora! Hilangkan pikiran buruk dari otakmu, itu!


Huh, lebih baik aku mandi saja untuk menyegarkan pikiranku.


Ceklek!


A-aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagaimana Ia bisa bilang tempat ini tidak cukup luas untuk disebut rumah? Ini sangat luas ... dan juga, mewah.


Apa orang-orang kaya kebanyakan hanya menghamburkan uang untuk hal yang tidak berguna? Namun, hasilnya memang tidak bisa diragukan. Sepertinya, aku akan lama berendam di sini, haha!


Satu jam kemudian


Langsung saja aku membalut tubuhku dengan bathrobe putih yang ada di gantungan sampingku.


ps! Perutku sepertinya minta diisi. Maklum saja, terakhir makan, saat aku sampai ke Jakarta. Dan ini sudah besoknya. Berarti aku satu hari tidak makan. Pantas saja badanku rada tidak enak.


Lalu aku pakai baju, apa? Sepertinya Damian bilang sesuatu, tapi apa?


Sembari keluar dari kamar mandi, aku berpikir keras, berusaha mengingat-ingat apa yang Damian sampaikan padaku. Untung saja, kamar mandinya ada di dalam kamar tempat aku tidur.


Pintu apa itu? Aku tidak tau, kalau ada pintu di samping pintu kamar mandi. Dengan rasa penasaran yang kuat, aku memegang engsel pintu, lalu membukanya. Wow!


Wlk in closet yang cantik! Walk in closet? Eum, ya! Damian mengatakan jika aku bisa menggunakan pakaian yang ada di sini. Namun, pakaian siapa ini semua? Pacarnya, mungkin? Tapi ini semua baru ..., masih ada tag-nya.


Masa bodoh lah! Aku sudah kedinginan!


Pilihanku jatuh pada jumpsuit simpel berwarna putih gading? Krem? Aku tidak tau, yang penting nyaman di pakai.

__ADS_1


Sangat pas! Sepertinya aku tidak bisa lebih lama lagi bersiap, cacing-cacing di perutku sudah meronta-ronta meminta makanan.


Aku menyisir rambutku yang masih basah, kemudian memakai sedikit bedak dan lipbalm. Tanpa lama-lama lagi, aku keluar dari walk in closet dan kamar. Wah, di luar pun sangat mewah.


Kata Damian, aku harus ke bawa untuk bisa menemuinya. Sembari menuruni tangga, aku berdecak kagum menatap interior rumah ini. Rumah seluas ini, apa hanya dihuni Damian? Dimana keluarganya?


Baiklah, nanti saja dipikirkan. Sekarang, aku harus makan lalu keluar dari sini.


***


"Ah, akhirnya Tuan Putri telah sampai, setelah sekian abadnya." Sindiran Damian membuatku tak enak hati sekaligus malu. Jadi, Ia menungguku untuk makan?


"Eum, maafkan aku hehe. Bathtubmu sangat nyaman, hingga membuatku ingin berlama-lama," jelasku, "lagian, kau tidak bilang kalau ingin menungguku."


Aku tau aku salah, tapi ... ya gitu, hehe.


Kulihat, Damian menghembuskan napasnya kasar. Semakin membuatku tidak enak saja.


"Fine, tidak apa-apa. Kau makan saja dulu, setelah ini aku akan menjelaskan semuanya." Damian terlihat sendu? Dan menatapku dalam, kenapa? Ah, abaikan. Yang penting aku sekarang harus makan.


***


Angin malam menerpaku, saat sedang menatap kosong bulan yang bersinar terang di atas sana. Penjelasan Damian tentang semuanya tadi siang, masih membuatku uring-uringan hingga malam ini.


Aku belum siap menerima semua ini sekaligus. Ternyata selama ini ... ah, aku masih belum percaya. Kenapa aku baru mengetahui semuanya sekarang?


Awalnya aku tidak percaya. Bukan tidak percaya, tapi ... aku tidak mau percaya. Namun, dengan adanya penjelasan langsung dan semua bukti-bukti yang tertera langsung di depanku, membuatku mau tidak mau harus percaya ....


Jujur, saat Damian menjelaskan dan menunjukan semua bukti yang ada. Air mataku langsung meluncur begitu saja, aku menggila. Aku menghamburkan semua barang yang ada di depanku.


Damian memelukku menenangkan, sembari mengucapkan maaf, tanpa kata lain.


Yang ada di pikiranku sekarang ini, sudah bercampur aduk semuanya. Rasa pening dan mata bengkak karena menangis terlalu lama, kuhirau 'kan untuk saat ini.


Aku harus belajar menerima untuk semua ini. Dan sepertinya, aku akan menetap di sini sampai pikiranku fresh. Inilah kehidupan baruku.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak🖤


__ADS_2