
Setelah melewati perjalanan yang penuh dengan bentakkan Christian, kami telah sampai di rumah sakit terdekat.
Saat ini, aku dan Christian, masih menunggu Sohena diperiksa. Sohena sempat pingsan, saat di perjalanan tadi.
Dengan baju yang basah akibat keringat, aku duduk tepat di depan ruang Sohena diperiksa.
Christian entah ada di mana, ia hanya bilang akan mengabari mama dan papa. Jadi ... ia mulai menerima Sohena? Padahal mereka belum sebulan menikah.
Oh ya, aku belum memberitau usiaku. Aku, Aurora Josephine Langford. Usiaku dua puluh enam tahun. Christian dua tahun lebih tua dariku.
Tetapi, walaupun umurku dua puluh enam tahun, tetap saja orang-orang bilang wajahku awet muda. Atau kata lain, baby face. Ada-ada saja mereka.
Kata mama, aku anak blasteran. Ayahku, berasal dari Australia. Ya, hanya itu yang aku tau tentang ayahku.
Mama tidak menceritakannya secara detail. Karena sedari kecil aku belum pernah melihat ayah.
Tetapi, aku di suruh mama, untuk merahasiakan marga Langford itu. Aku sudah bertanya pada mama, kenapa harus merahasiakan. Tetapi mama hanya bilang, aku pasti akan tau, suatu saat nanti. Entah, kapan itu.
Christian dan keluarganya pun, hanya mengetahui namaku sebagai Aurora Josephine.
***
Aku yang tengah duduk sendirian menunggu Sohena, tiba-tiba di kejutkan dengan tarikan di rambutku.
"Dasar, tidak becus!"
Ya, dia adalah mama mertuaku.
"Arghh, lepas Bu! sakit ...," lirihku, menahan pedih. Bayangkan, aku sampai berlutut di kakinya. Itu sangat sakit sekali ....
"Diam! Ini pantas untuk orang tidak becus sepertimu. Menyebut namamu saja, saya tidak sudi!" bentak ibu mertua.
"Tapi, aku tidak melakukan sesuatu yang mencelakai Sohena bu ... ia terpeleset sendiri .... " Aku berusaha membela.
"Diam! Berani kau menjawabku, haa?! Tetap saja itu salahmu!" Kepalaku semakin pusing, diombang-ambingkan.
Orang berlalu lalang, hanya menatap prihatin, tanpa mau membantuku.
Aku menangkap siluet Christian yang baru datang. Aku memanggilnya, pasti ia akan membantuku.
"Chris ...," lirihku. Ia awalnya terlihat kaget, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Apa-apaan ini?
"Kamu, liat? Christian saja, tidak sudi membantumu!" ujar ibu mertua kemenangan.
Tidak! Ia pasti membantuku!
__ADS_1
"Lepaskan tangan kotormu, dari rambutku Ibu!" Dengan penuh keberanian, aku membentak ibu Christian, dan melepaskan cekalan tangannya dari rambutku.
Plak!
"Beraninya, kamu membentak ibuku!"
setetes air mata mengalir dari mataku. Christian menamparku? Ti-tidak, a-aku tidak salah! Ia tau itu ....
"C-Chris ... kamu tampar aku? k-kamu taukan, a-aku nggak salah? K-kamu hanya refleks k-kan?" tanyaku berusaha tersenyum walau sudut bibirku pecah dan kepalaku teramat pusing.
Rasa sakit fisik yang kurasakan, tidak sesakit, rasa sakit di hatiku. T-tidak, pasti dia hanya refleks.
Christian hanya terlihat membatu sembari menarik tangannya kaku. Ia hanya terdiam.
Tidakkah, ada kata maaf yang terucap dari bibirnya?
Perlahan pandanganku mengabur. Hal terakhir yang kulihat, Christian dihajar oleh seseorang laki-laki, wajahnya tidak terlalu jelas. Satu hal yang pasti, aku mendengar ...
Beraninya kau menampar perempuan! Di mana hati nuranimu sialan!
Dan semuanya gelap.
***
"Bunda ... Bunda Lola ...." Di tengah aku menikmati kenyamanan ini, tiba-tiba ada gadis mungil nan imut memanggilku. Ya, Tuhan ... ia sangat mirip Christian.
Segeraku berlutut, menyamakan tinggiku dengan gadis kecil ini.
"Nama kamu siapa, Sayang?" tanyaku, seraya mengelus pipi gembulnya.
"Lahasia hihi," balasnya, sambil tersenyum manis.
"Kok rahasia, hmm?" tanyaku lagi. Rasanya ingin kumakan pipinya itu.
Gadis kecil ini tidak menjawab, ia hanya meletakkan kedua tangan mungilnya di pipiku, dan membulatkan matanya. Seperti, kagum mungkin?
"Bunda Lola cantik ...," gumamnya
Kenapa aku merasa ingin menangis? Mungkin terharu, karena ada yang memanggilku bunda? Aku tidak tau ... aku hanya nyaman dengan perasaan ini.
"Kamu juga cantik. Orang tua kamu, di mana Sayang?" tanyaku, seraya celingak-celinguk mencari keberadaan orang tuanya.
Kulihat, gadis ini hanya menunduk, menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kenapa?
"Kita main, yuk?" ajakku, berusaha mencairkan suasana. Sepertinya ia tidak mau membicarakan itu.
__ADS_1
"Tidak, Bunda ... aku halus pelgi." Ia menolak ajakan ku. Pergi? Kemana ia akan pergi, di taman yang luas ini. Aku tidak rela.
"P-pergi ke mana?" tanyaku, seraya mengernyitkan dahi.
Cup
"Aku sayang Bunda Lola." Ia mengecup pipiku, dan melepaskan tanganku yang bertengker di pundak nya. Ia segera berlari meninggalkanku.
"Dada, Bunda Lolaa ..." Suaranya mulai menjauh.
"Tidak, tidak, heii ... Nak? Kamu di mana? Sayang? Jangan tinggalin bunda ...." Aku berteriak memanggil-manggil namanya, seraya berkeliling taman.
Kenapa aku rasanya, tidak rela ia meninggalkanku?
"Bu, Bu... bangun Bu."
Aku langsung membuka mataku. Menatap sekelilingku. Ternyata hanya mimpi ... aku berusaha untuk duduk. Namun kepalaku pusing sekali.
"Udah bu, jangan dipaksain. Ibu tiduran aja dulu," saran suster itu.
"Jam berapa ini?" tanyaku, setelah berbaring.
"Jam setengah satu pagi, bu."
Apa? Jam setengah satu pagi?
"Ada yang datang nggak, sus?" aku bertanya lagi. Karena di sini aku hanya sendirian.
"Ada Bu, mas-mas ganteng tadi ada. Suaminya Ibu, ya?" ujar suster muda ini dengan genit. Mas-mas ganteng? Siapa? Christian kah?
"Pasti rambut masnya cokelat, ya?" tanyaku lagi. Karena, rambut Christian warna cokelat.
"Enggak Bu, rambutnya warna hitam pekat. Ganteng banget deh bu, masnya," terang suster itu dengan mengebu-ngebu.
Rambut berwarna hitam pekat? Siapa jika bukan Christian? Setau aku, aku tidak memiliki teman lelaki. Karena Christian sangat posesif. Ya, mungkin itu dulu ...
"Selain, mas-mas itu ... ada yang lain nggak?" Aku bertanya lagi.
"Nggak, Bu. Yasudah, kalau Ibu butuh apa-apa lagi, Ibu tinggal pencet tombol yang menempel tepat di atas Ibu. Saya permisi," jelas suster itu, kemudian ia berlalu pergi.
Tinggalah aku berbaring, di tempat yang dingin dan bau obat-obatan. Di brangkar ini. Sendirian. Sungguh miris, jika kamu sakit tanpa ditemani, siapa pun. Bahkan suamimu sendiri.
πππ
Jangan lupa tinggalkan kata-kata untuk Auroraπ₯
__ADS_1