
"Ma, Ara pamit dulu, ya?"
Dengan berat hati aku harus meniggalkan mama. Aku harus segera berangkat ke Jakarta.
Karena setelah mertuaku tau kalau Christian kecelakaan, ia langsung menyuruhku untuk membawa Christian berobat ke Jakarta.
"Ia Nak, kamu hati-hati, ya. Jaga kesehatan, mama lihat akhir-akhir ini, wajahmu pucat," kata Mama seraya mengelus-elus wajahku.
Akupun merasa begitu, berat badanku mulai menurun. Dan akhir-akhir ini badanku terasa lemah dan tidak enak.
"Iya, Ma. Mama juga harus jaga kesehatan lho! Mama belum sepenuhnya sehat, kan? Jangan kerja yang berat-berat dulu, utamakan kesehatan." Aku berkata demikian sambil sedikit meremas bahu mama.
"Iya, sudah sana pergi! Nanti susah lagi buat mama, lepasin kamu," ungkap mama. Kulihat ia tengah menghapus jejak-jejak air mata yang ada di pipinya.
Ya, Tuhan! Aku sangat menyayangi mama! Hanya dia satu-satunya keluarga yang ku-punya!
Berusaha tersenyum, aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Aku harus menggunakan waktu yang singkat ini sebaik mungkin.
Sekitar lima menit aku berpamitan, akhirnya di sinilah aku, duduk termenung di kursi pesawat. Christian sudah sampai kemarin, karena Mama mertua, ingin putranya segera sampai.
Oh! Aku tidak tau apa yang akan terjadi, setelah aku sampai di sana.
***
Akhirnya, setelah tiga jam lebih di pesawat, aku tiba dengan selamat di Jakarta.
Pak Dani, Pria paru baya yang mengabdi padaku dan Christian sejak kami menikah, terlihat sedang menunggu di depan pintu keluar bandara.
Aku meneleponnya untuk menjemput-ku. Aku pun berjalan ke arahnya.
"Selamat siang, Bu!" sapa Pak Dani saat aku tiba di hadapannya.
"Iya, siang Pak!" balasku tersenyum.
Pak Dani, segera mengambil alih koperku dengan sopan. "Biar saya aja, Bu!"
"Eh, iya Pak!"
"Tunggu sebentar, ya, Bu! Saya mau ambil mobil dulu," kata Pak Dani, yangku balas dengan anggukan.
Ah, sepertinya aku butuh istirahat! Kepalaku pening, dan badanku serasa akan patah!
Kulihat Pak Dani telah turun dari mobil dan membuka bagasi, akupun mengangkat koper berniat untuk memasukannya ke dalam bagasi. Namun, Pak Dani segera menghentikanku.
Dengan bingung, aku bertanya, "Kenapa, Pak?"
"Biar saya aja Bu, Ibu masuk aja ke mobil. Ehm itu, Ibu kelihatan pucat," jelas Pak Dani. Ia terlihat tidak enak.
Bahkan Pak Dani menyadari itu? Apa sangat kentara wajahku pucat?
Segera aku mengukir senyumanku, lalu berkata, "Oh iya Pak, makasih. Mohon bantuannya, ya!"
__ADS_1
"Siap!" seru Pak Dani, kemudian hormat.
Sikapnya itu membuatku mengulas senyuman kecil. Pak Dani memang seperti ini, sopan namun sangat humoris.
Hari mulai siang. Matahari mulai mengeluarkan sinar panasnya. Bunyi klakson terdengar bersahut-sahutan. Cuaca yang panas ditambah padatnya kendaraan, menjadi deskripsi kota Jakarta saat ini.
Mungkin sedikit tidur, akan mengurangi pening di kepalaku.
"Bu, Bu? Bangun Bu, udah sampai."
Mengerjap-ngerjapkan mata, aku berusaha mengumpulkan nyawa, kemudian menatap Pak Dani di luar yang sedang berdiri di samping pintu penumpang. Ternyata sudah sampai.
"Ehm, iya Pak. Maaf merepotkan," ujarku setelah keluar dari mobil.
"Pak, tolong bantu masukin koper ke dalam, ya? Saya mau ke kamar duluan, mau istirahat sebentar."
Pening di kepalaku memang sudah sedikit hilang. Tapi kurasa, badanku perlu beristirahat.
"Iya, Bu. Sudah menjadi tugas saya," balas Pak Dani seraya tersenyum. "Ibu masuk aja dulu, nanti barang-barangnya biar saya bawain, soalnya mau parkir mobil, dulu."
"Oke, makasih, ya Pak sebelumnya."
Setelah mengucapkan terimakasih pada Pak Dani, segera aku masuk ke dalam lalu naik ke kamarku yang terletak di lantai dua.
Ah, aku sangat merindukan kamar ini. Hm, kasurnya wangi Christian! Haha, aku merindukannya ..., tanpa sadar, aku terlelap saat asik-asiknya mencium aroma Christian di kasur.
Kring Kring!
Badanku terasa membaik, pening di kepalaku juga, sudah menghilang. Rasanya tubuhku sangat ringan! Aku harus mandi, lalu bersiap!
Bersenandung sambil mandi itu menyenangkan! Faktanya suaraku menjadi lebih bagus, haha!
Baiklah Aurora, kau harus tampil cantik di depan Christian! Ya, walaupun mungkin dia belum sadar ....
Atasan krem, dan celana kulot berwarna cokelat ehm mungkin? Aku tidak tau, menjadi pilihan untukku pakai.
Kira-kira seperti ini
Hem, cukup cantik untukku! Baiklah Aurora, pergunakan waktumu sebaik mungkin! Aku mulai memoles bedak tipis di wajahku, dan menggunakan sedikit lip matte berwarna peace di bibirku.
Tinggal memakai parfum. Dan semua siap!
Sepertinya aku akan mengendarai mobil sendiri.
***
Sekarang telah jam setengah empat. Cuaca tidak panas lagi. Tapi aku harus buru-buru sebelum macet, karena jam empat ke atas, adalah waktu orang-orang pulang kerja.
Jadi terlambat sedikit saja, aku akan terkurung kemacetan. Huft, kapan kemacetan di Jakarta mereda?
Ah, akhirnya sampai. Boleh juga aku, hanya membutuhkan setengah jam sudah sampai. Karena biasanya bisa sampai sejam untukku tiba di rumah sakit ini.
__ADS_1
Oh, ya! Aku sering ke rumah sakit di sini, entah itu mengecek kesehatan, atau berkonsultasi pada dokter kandungan ....
Hah! Lupakan!
Bau obat-obatan mulai masuk ke dalam indra penciumanku, saat tiba di loby. Aku harus ke resepsionis dulu, untuk menanyakan ruang rawat Christian.
"Aurora?"
Seseorang memanggilku, akupun segera membalikkan tubuhku.
"Ah, Dokter Raga?"
Dia Dokter Raga. Dokter yang selama ini menjadi tempatku berkonsultasi, dia sangat ramah, dan selalu memberi semangat saat aku sedang jatuh.
Dokter Raga juga sebenarnya telah melarangku untuk berbicara formal, tapi rasanya tidak sopan kalau hanya memanggil nama, jadi aku terbiasa memanggilnya Dokter Raga.
"Hem, iya. Apa kabar?" tanya Dokter Raga.
"Ya, baik. Bagaimana dengan Dokter?" tanyaku pada Pria bertubuh kurus namun menjulang tinggi ini, dan mengunakan kacamata.
"Seperti yang kamu lihat, saya baik-baik saja," balasnya, "ngomong-ngomong, pasti kamu ke sini mau menjenguk suami kamu?"
Aku mengernyitkan dahi. "Dari mana, Dokter tau?"
"Oh, i-itu. Ehm, Ibu Christian memberitahuku," jawabnya ehm sedikit gugup? Ah, aku harus positif thinking. Mungkin dia sedang lelah.
"Oh, oke!" balasku, "btw Dokter Raga tau, nggak? Christian di rawat, di ruangan mana?"
"Christian, ya?" Dia terlihat sedang berpikir. "Lantai tiga! Ya, dilantai tiga, no. 1969. Aku juga akan ke lantai tiga, mau bersama?" tambahnya.
"Boleh!" jawabku lalu tersenyum.
Suasana di lift sangat canggung, kadang saat mataku dan Dokter Raga bertemu, akan langsung tertawa canggung.
Ting!
Hah, syukurlah.
"Ehm, Dokter Raga, saya permisi," pamitku seraya berlalu dari lift.
Astaga! Tadi itu benar-benar canggung!
Baiklah, mari kita cari kamar no. 1969.
Bruk!
Akh, seseorang menabraku!
🍁🍁🍁
Makasih udah baca☺️ jangan lupa tinggalkan jejak😚
__ADS_1