Dua Istri

Dua Istri
Part 12


__ADS_3

Aw! Sepertinya tanganku lecet.


"Wah, wah ... mari kita lihat siapa di sini. Oh, wanita penyakitan?"


Ejekan itu, membuatku mendongkakkan kepalaku ke atas. Sohena?


Mencoba untuk tenang, walaupun sebenarnya dalam dada ini sakit. Aku tidak meladeninya, karena aku tau, jika meladeninya, aku yang akan tersakiti lagi.


Wajahnya tampak kesal. Mungkin karena aku mengabaikannya?


"Cih, apa selain mandul, kamu bisu?!"


Sabar. Tahan Aurora.


Dengan senyuman mengembang, aku menjawabnya, "Sepertinya tidak. Apa maumu, Sohena?"


"Simpel saja," ujarnya. Kemudian ia mendekatiku lalu berbisik, "Jauhi, Christian!"


Plak!


Oh, tidak. Aku refleks menamparnya.


"Sohena, maafin aku, kamu gak apa-ala 'kan?" tanyaku sembari mendekatinya.


Astaga, ia mulai menangis ...


Aku berusaha menjauhkan tangan dari wajahnya yang menghalangi aku untuk melihat separah apa, tamparan-ku hingga ia menangis.


"Hei hei ... jawab aku, Sohena. Aku benar-benar minta maaf," tuntutku panik. Kenapa ia tidak menjawab?!


Ah, akhirnya Sohena mengangkat wajahnya. "Mama ...."


Apa? Mama?


"Apa yang kamu lakukan pada menantuku?!"


Deg!


Suara itu, terdengar bergemuruh di dadaku. Dengan penuh kehati-hatian, aku mulai membalikkan tubuhku.


"Ibu?" panggilku pada wanita paru baya yang menatapku seakan ingin melahap-ku hidup-hidup.


Bersusah paya, aku meneguk air liurku saat ia melangkah kemari. Aku menutup mata dan meremas kuat tas yang ada di genggamanku. Aku siap menerima tamparannya.


Lima detik


Sepuluh detik


Ehm, Ibu tidak menamparku? Aku menetralkan pernafasanku, kemudian membuka mata perlahan.


Di mana mereka? Itu tidak penting!


Astaga! Ibu tidak menamparku?! Mimpi apa aku semalam. Dengan senyuman mengembang, aku membalikkan tubuhku.

__ADS_1


Plak!


Hah, ternyata aku salah ....


"Kenapa, Bu? Kok Ibu nampar aku?" Senyuman manis, terbit di wajahku.


"Cih, jangan panggil saya Ibu! Saya nggak sudi punya menantu seperti kamu!"


Ucapan dari wanita paru baya yang sedang memeluk menantu tersayangnya, semakin membuatku ingin mengeluarkan air mata.


"Haha, Ibu ngomong apa, sih? Bukannya dulu Ibu pengen aku jadi menantu, Ibu?"


Jika mengingat waktu masih pacaran sama Christian, Ibu mertua sangat sayang padaku. Hingga setiap kali aku berkunjung, Ia selalu menyajikan cake cokelat kesukaanku.


Ya, tapi itu dulu ....


"Dasar naif! Iya, dulu aku sangat ingin jadiin kamu mantu! Tapi sekarang, saya nggak sudi punya menantu penyakitan yang nggak bisa kasih saya cucu! Saya heran kenapa Christian nggak mau cerain kamu! Huh, saya sudah salah mendidiknya!"


Masih pada pendirianku untuk tidak menangis.


"Kami saling mencintai ... Christian juga nggak keberatan belum punya anak. Kalau ibu pengen cucu, kenapa waktu aku sama Christian mau adopsi anak Ibu nggak setuju?"


Semua yang kukatakan tidak sepenuhnya kebohongan. Semua benar, kecuali Christian tidak keberatan belum punya keturunan.


Aku dan Christian sudah pernah berniat mengadopsi bayi, tapi Ibu mertua menolaknya. Katanya, ia menginginkan anak dari benih Christian.


Sorot mata Ibu mertua padaku, begitu sinis. "Hah, dasar menyedihkan! Apa kamu kira Christian akan bertahan dengan kamu tanpa anak? Dengar, Aurora! Dalam sebuah rumah tangga, nggak akan cukup kalau nggak ada anak di dalamnya! Dan, Kamu berharap Christian akan mencintai kamu sampai maut memisahkan? Haha, mungkin awalnya begitu, tapi lama-kelamaan ia akan jengah! Ingat, rumah tangga hanya dengan cinta tanpa anak, itu hanya bualan! Hanya bualan semata, Aurora!"


Pecah sudah tangisanku. Aku, aku hanya ingin hidup seperti wanita normal lainnya! Aku tidak pernah menginginkan ini ....


"I-Ibu?"


"Nak, apa Kamu nggak kasihan sama Christian? Kamu sering lihat 'kan? Christian kalau ketemu anak kecil, Dia selalu anggap anak itu, anaknya. Keinginan Christian buat punya anak, sangat besar. Apa kamu tega, merusak kebahagian baru Christian? Kamu pengen lihat Christian bahagia 'kan?"


Argh! Aku mengakui apa yang dikatakan Ibu itu, semuanya benar! Christian jika sudah bertemu anak kecil, Ia akan menyayanginya sepenuh hati, benar! Keinginan besar Christian untuk punya anak, benar! Semuanya benar!


Namun, apakah aku harus menjauh dari Christian dan keluarga barunya? Apakah pada akhirnya aku yang harus mengalah? Jika Christian bahagia ... lantas aku bagaimana? Semuanya tidak adil bagiku!


Air mataku dengan beraninya, semakin banyak mengalir di pipiku. "Jadi, maksud Ibu aku harus berpisah dari, Christian?" tanyaku, sembari menatapnya sendu.


"Hah, saya sebenarnya nggak pengen bilang ini. Tapi, ya, kamu harus berpisah dari Christian."


Setiap kalimat yang Ibu ucapkan, seperti ada beribu-ribu pisau tak kasat mata yang menancap di dadaku.


"Aku pengen bahagia ... aku nggak mau ceraiin Christian ...," lirihku menunduk.


Akh!


Apakah aku harus selalu diinjak-injak? Dipermalukan di depan umum dengan memaki lalu mendorongku ke lantai? Sepertinya iya.


"Dasar ******! Sudah dibaikin, malah nggak tau diri!"


Ternyata tadi itu palsu? Haha, kau sangat bodoh Aurora!

__ADS_1


Bergeming menjadi pilihanku saat harga diriku diinjak-injak. Harga diri? Rasanya aku sudah tidak punya.


Wanita paru baya itu, berjongkok di depanku yang terduduk di lantai. Ia mengangkat daguku dengan jari tengahnya. "Kenapa? Kenapa nggak mau cerain Christian? Takut? Takut nggak ada pria yang nikahin kamu karena mandul? Hah, saya aja nggak sudi punya mantu mandul sepertimu. Jadi kamu, ceraiin Christian!"


Plak!


Bisakah aku mati saja? Semua ini tidak lagi bisa aku tanggung.


"Aw! Apa yang kamu lakukan, Sohena? Lepaskan!" Akh, tiba-tiba saja wanita dengan balutan dress merah itu, menjambak rambutku.


"Nggak! Nggak, Aurora! Sudah cukup semua ini!"


Ibu mertua terlihat sedang berusaha melepaskan tangan Sohena dari rambutku.


"Sohena, sayang. Ayo lepaskan, ya? Biar wanita penyakitan ini menjadi urusan ibu, hm?"


Huh, miris sekali aku. Kukira ia berusaha membelaku, tapi ternyata ....


Ah, apa aku semenjijikan itu, hingga orang-orang yang berlalu-lalang,  seakan-akan tuli dan buta untuk melihatku? Sudahlah, Aurora ... apa yang kau harapkan, lagi?


Rasa sakit fisik dan batin, menjadi paket komplit untuk mendeskripsikan diriku saat ini. Mati rasa. Jiwa melayang-layang ....


Prok! Prok!


"Beginikah, perlakuan Mrs. Sanjaya yang dikenal publik dermawan dan ehmm lemah lembut, itu?"


Seketika, tangan yang sedang menjambak rambutku, dan mulut pedas yang menghinaku, terhenti.


"Siapa, Kamu?!" Ibu mertua terlihat gugup saat mendapat pertanyaan dari seseorang itu. Entahlah siapa, mataku kabur, kepalaku juga sudah berkunang-kunang.


Saat aku akan meraih tas yang ada di samping Sohena, tanpa sengaja aku menatap ke arahnya. Pipinya memerah. Keras juga ternyata tamparanku. Namun, kenapa ia terlihat menegang?


"Oh! Ada kamu juga. Siapa? Sona? Hena? Ah, aku melupakan namamu. Tapi tidak dengan yang waktu itu tentunya. Kita bertemu lagi, gadis kacamata!" Seseorang itu mengenal, Sohena?


"N–nggak!" Apa aku tidak salah dengar?  Sohena mengenalnya juga?


"Dan, hei? Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Apa menurut kalian ini semua tontonan? Ah ... aku ingat, kalian semua bukan


manusia—"


"Hei, apa maksud anda menyebut kami, bukan manusia?!" sela seorang pria paru baya yang menontonku sejak tadi tanpa membantu.


"Ah, menurutmu, manusia macam apa yang hanya menonton disaat seseorang diperlakukan bagai binatang? Apa itu masih bisa disebut manusia?"


Terlihat, semua orang-orang yang ada di sini, bungkam. Termasuk Sohena dan Ibu. Sebenarnya siapa, pria ini?


Kepalaku pusing, aku tidak bisa lagi menahan bobot tubuhku. Semua terasa berputar dan gelap. Kurasakan ada yang mengangkatku. Dan satu hal yang pasti, aku mendengar,


'Rasanya aku ingin membeli rumah sakit tidak berguna ini dan menghancurkannya! Ck, dasar wanita bodoh!'


🍁🍁🍁


Siapa, tuh😲

__ADS_1


Gimana? Gregetnya udah dapet belum? Jawab dong, jangan cuma dibaca-_-


Jangan lupa divote!


__ADS_2