Dua Istri

Dua Istri
Part 18


__ADS_3

Enjoy!


Pencet love-nya dulu baru baca 🖤


Karena nyatanya, tidak akan ada kebahagiaan tanpa menghadapi kejamnya kehidupan


~ Lia🥀


_________


"Kamu hamil?"


"Cih!" Refleks aku berdecih saat ia mengeluarkan pertanyaan yang mustahil terjadi padaku.


"Jadi dari tadi kamu susah-susah ngomong, cuma buat bilang candaan sampah ini?" Tidak ada lagi air mata yang keluar, yang ada hanya nada sinis yang aku sajikan.


Christian terlihat terlonjak kaget, saat aku menyelesaikan ucapan sinisku. Namun, aku tidak menanggapi seperti biasanya, suasana hatiku sudah terlanjur rusak.


Aku mencoba duduk, tapi tidak bisa, badanku terlalu lemah. Mencoba berkali-kali, dan hasilnya tetap sama, gagal.


Kulihat Christian turun dari kursi rodanya. Ia berjalan ke arahku tanpa mengeluarkan satu patah kata. Saat ia akan mengambil bantal yang aku tiduri, aku menahannya. "Mau apa?"


Christian terhenti, ia menatapku seakan-akan untuk menyuruhku diam saja. Kondisi tubuh tidak mendukung, akhirnya aku hanya bisa diam.


Aku memperhatikan setiap detik apa yang dilakukan Christian. Hal-hal yang kecil pun, tidak aku lewati.


Apa yang dibuat Christian saat ini, menimbulkan kehangatan di wajahku. Jadi ternyata, ini. Ia menumpukkan bantal, lalu membantuku untuk menyender di situ.


Masih dikuasai rasa gengsi, aku berkata dengan enggan. "Makasih."


"Hei, coba lihat sini." Christian memegang kedua bahuku, membuat tatapan kami beradu.


"Kenapa?" tanyaku lemas.


"Kamu percaya sama yang di-Atas, 'kan?"


"Hmm." Terlalu malas untuk menanggapinya– Christian, ditambah badan masih sangat lemas membuatku malas untuk menjawabnya panjang lebar.


"Kamu hamil, Sayang ...."


Sontak aku mendorong dadanya lemah, air mataku turun begitu saja. "Kamu sengaja bikin aku nangis buat kamu ejek-ejek, 'kan? Padahal kamu tau, aku paling nggak bisa disinggung tentang itu ... aku tau kok, gak lama lagi kamu bakalan nimang bayi, tapi apa harus singgung aku soal itu? Kamu mau ngejek aku gak bisa hamil?!"


"Nggak, Chris ... enggak, tolong jangan ejek aku, aku sakit Chris ... sakit." Suaraku serak. Aku lemah jika pembahasaan seperti ini.


"Bukan gitu, Sayang ... astaga, sini-sini." Kata-kata Christian, malah membuatku semakin terisak-isak. Entah kenapa, aku menjadi sangat manja di dekatnya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama-lama lagi, aku masuk ke dalam pelukannya meski tubuhku masih terasa sangat lemah. Christian pun, menyambutku dengan pelukan hangat.


"Masih gak percaya, hm?"


"Tapikan, gak mungkin Chris ... aku nggak mau berharap lebih ... misalkan aku udah berharap lebih, tapi ternyata enggak, gimana?" Aku masih menolak untuk percaya, karena itu semua mustahil ....


"Gini deh, kalau dokter yang kasih tau langsung, gimana?"


Dengan pedenya, aku menjawab, "Silahkan. Tapi kalau ternyata enggak, jangan salahin aku."


"Hah, dasar batu. Oke, tunggu." Tanpa melepaskan pelukan, Christian menekan tombol yang terletak di tembok dekatnya guna memanggil para medis.


Ceklek!


Dua orang wanita berpakaian putih, terlihat masuk ke dalam. Wanita paru baya berjas putih yang aku duga seorang dokter, dan satu lagi wanita mudah berpakaian suster.


Saat mereka masuk, aku masih berada di pelukan Christian. Terkejut menjadi ekspresi wanita muda yang aku duga sebagai seorang Suster. Dibandingkan dengannya, Dokter— yang masih aku prediksi, hanya tersenyum maklum.


Perlahan, aku melepaskan tubuhku dari Christian. Dan bersandar lagi di tumpukan bantal. Sedangkan Christian, posisinya tetap duduk di brankar, tapi agak bergeser dariku.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paru baya itu, sopan.


"Jadi gini, Dok. Istri saya gak percaya kalau dia lagi hamil, Dokter boleh tolong kasih tau, gak? Soalnya kalau saya yang kasih tau, dianya batu." Ucapan Christian, membuatku melototkan mata.


Aku langsung menghentikan pelototanku, saat Dokter yang ternyata dugaanku benar, menatapku dengan senyuman sopan.


"Nggak, Dok. Terima kasih, atas penjelasannya."


Deg!


Bahkan percakapan Christian dan Dokter, kuhiraukan. Air mata mulai membentuk aliran di pipiku. Namun kali ini, aku tidak mempersalahkannya. Aku, aku bahagia, ya Tuhan ....


"Chris? i–ni bener 'kan?"


"Iya, Sayang ...." jawabnya dengan mata berkaca-kaca. Ya, Tuhan ... terima kasih.


Lagi-lagi, aku menerjangnya dengan pelukan. Kali ini aku mengabaikan tubuhku yang masih lemas. Saat ini yang kurasakan, hanya perasaan terharu dan membuncah bahagia.


"Thanks God ... thanks." Christian menyambutku dengan hangat.


"Chris ... akhirnya ...," lirihku di ceruk lehernya.


"Iya, Sayang ... iya. Yang di-Atas nggak pernah tutup mata saat hambanya tersandung dalam menghadapi rintangan menuju kebahagiaan. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses."


***

__ADS_1


Berita kehamilanku, telah tersebar hingga ke seluruh keluarga Christian. Bahkan Ibuku. Saat mama mertua tau, ia langsung datang menjengukku dengan wajah enggannya, meskipun tidak terlalu sinis. Sohena? Ia terus saja menatapku penuh kebencian sampai Ia dan Ibu, dan Papa mertua pamit.


Sedangkan Christian, terus menempeliku saat tau aku hamil. Christian sudah diperbolehkan pulang, beda denganku yang harus tinggal selama dua hari di rumah sakit. Padahal aku sudah merasa sehat. Meskipun rada-rada pusing, sih.


Damian? Ia sedang berperang dingin bersama Christian. Saat Christian bertanya siapa Damian, aku dibuat mati kutu olehnya, karena masih bingung kejelasan hubunganku dengan Damian.


Di satu sisi, saat Christian tidak ada, dia yang selalu ada untukku. Di satu sisi juga, aku hanya menganggapnya sebagai kakak saja. Harus kuanggap apalagi selain itu, pacar? Itu tidak mungkin. Jadi aku hanya menjawabnya sebagai temanku saja.


Anehnya, Christian hanya percaya begitu saja. Namun, saat Damian menjengukku dengan tatapan khawatirnya dan memanggilku 'Sweety', Christian langsung menjauhkanku dari Damian.


Ya, seperti saat ini, suasana di ruangan ini berubah menjadi sangat mencekam oleh ke duanya. Ingin mencoba mencairkan suasana, sudah di tatap seolah-olah akan menelanku hidup-hidup.


Kring! Kring!


Hah, terima kasih pada handphone Damian yang berbunyi. Damian memutuskan tatapan tajamnya pada Christian, lalu menatapku lembut sebelum bangkit keluar untuk menjawab telepon.


Sekitar lima menit, Damian kembali masuk untuk pamit. Katanya dia ada meeting mendadak. Saat Damian undur diri pun, suasana masih saja canggung. Christian kelihatan menghindariku.


Terpancing suasana, aku menutup wajahku dengan tangan, kemudian mulai terisak. God! Kenapa aku menangis lagi? Sepertinya ini akan menjadi hobiku untuk sementara waktu.


Brankar yang aku tempati bergerak. Hawa hangat mulai menjalar di sekujur tubuhku saat tubuh besar melingkupiku. Tangan besar mulai bergerak mengelus-elus rambutku.


Tau siapa sang pelaku, aku semakin mengubur diriku ke dalam tubuh hangat tersebut.


"Sttt, maafin aku, hm?"


"Ta—tapi ka—mu, cuekin a—aku, aku nggak


s—suka" ujarku sesegukan. Semakin Christian minta maaf, semakin deras air mataku.


"Iya, maafin aku, ya? Aku nggak bermaksud gitu, kok. Cuma lagi mikirin sesuatu, aja. Udah, Mommy diem ya? Nanti baby-nya sedih lho, kalau tau Mommy-nya nangis." Christian mengusap setiap air mata yang jatuh ke pipiku. Dengan bodohnya, aku menyetujui apa yang dikatakan Christian, dan berhenti menangis.


"Makasih, Aurora ... makasih udah bertahan."


End


🍁🍁🍁


Tapi bo'ong🙃


Hu'uh mommy Aurora🤞😻


Aurora, jadi manja, nih. Kayaknya lucu kalau bikin part khusus Aurora manja & ngidam. Setuju, gak?😅


Jangan benci Christian lagi 😭😭

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen!


Usahakan, jangan hanya next/lanjut:)


__ADS_2