Dua Istri

Dua Istri
Part 29


__ADS_3

"Relax, jangan terlalu tegang." Damian menenagkanku yang mungkin mengetahui kegugupanku.


Peluh telah berjatuhan di sekitar dahiku. Aku gugup. Bagaimana tidak? Ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama!


"Ck, apa kau masih lama? Kakiku sudah keram." Pria dengan Jochia dalam gendongannya, mulai mengeluh.


Rasa frustasi mulai menyerangku. Aku bingung, di sisi lain aku masih belum siap untuk bertemu dengan seseorang itu, tetapi di sisi lain juga aku mulai merasa kasihan pada Damian dan Jochia yang sedari tadi berdiri di depan pintu yang megah seperti orang kurang kerjaan.


Menarik napas dalam, aku berusaha tegar. "Hah, aku siap!" seruku tegas menatap Damian.


Pria dengan balutan baju santai itu terkekeh geli menatapku dan mencium gadis kecil yang sedari tadi diam. "Yasudah, sekarang kita masuk." Damian mulai membuka pintu dan masuk, diikuti aku dari belakang.


Dasar tidak sopan.


Baru satu langkah melewati pintu masuk, Damian berhenti. "Sebaiknya kau berhati-hati, setau aku, dia itu galak," katanya kemudian berlalu.


"Sialan! Tambah buat gugup aja! Tenang, Aurora, tenang. Lakukan seperti biasa yang kamu lakuin. Tarik nafas ... hem—"


"Josi?"


Deg!


Suara berat itu terdengar bergemuruh di dada. Membuatku sadar dari pikiran yang berusaha menenangkan diri.


Adrenalin berpacu cepat, saat mataku bertubrukan dengan sorot mata tajam seorang pria paru bayah, yang masih mempunyai badan kekar, terlihat dari otot-otot tangannya yang menyembul di balik kaos putih polos.


Seketika nafasku tercekat, oleh aura kekuasaan sang pria paru bayah yang begitu kental. Namun, dibanding itu semua, rasa haru dan kecewa menjadi campur aduk yang saat ini kurasakan.


Pandanganku mengabur. Air mata dengan tiba-tiba jatuh begitu saja, dengan mata yang masih menatap pria di atas anak tangga itu. Yang tadinya hanya setetes air mata perlahan menjadi puluhan ribu air mata.


"Aurora Josephine Langdord."


Pertahananku luntur seketika saat mendengar sebutan itu diikuti sorot mata yang melembut. Tubuhku luruh ke lantai. Isakanku mulai terdengar keras dan menjadi saat tangan kekar dan hangat mendekapku.


"Sorry."


"Dad ...," lirihku dalam pelukannya.


"Aku tidak pantas disebut sebagai seorang ayah, Josephine. I am a freaking bad fa—"


Dadaku nyeri saat mendengar kata-katanya itu. Aku tidak ingin mendengarnya lebih jelas lagi. "Nggak, Pa ... " Aku segera memotongnya.


Tangannya merambat ke atas kepalaku, dan mengusap lembut di sana. "Im sorry."

__ADS_1


"K–kenapa ba–baru, sekarang?" Suaraku serak.


"Aku minta maaf, Josi ... aku memang tidak pantas disebut sebagai seorang ayah—"


"Engg—"


"Sttt, biarkan aku yang bicara."


Aku hanya pasrah saat ia melanjutkan kata-katanya.


"Aku memang ayah yang buruk, bahkan suami yang buruk. Suami macam apa, yang tidur dengan wanita lain saat istrinya baru saja melahirkan? Walaupun memang aku hanya khilaf, tapi tetap saja."


Deg!


Jadi ini, alasan mama tidak memberitahuku lebih jelas tentang Papa? Kau wanita yang kuat ma ....


Masih dengan berderai air mata, aku mendengarkan penjelasan papa.


"Ibumu meninggalkanku saat itu juga, dan membawamu. Aku membiarkan saja dia pergi, karena aku pikir, ibumu membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran dan perasaan. Tapi, setelah dua bulan berlalu saat aku akan menjemput ibumu, surat perceraian lebih dulu sampai di atas meja kerjaku. Aku kalap saat itu, bahkan kantor kuhiraukan berbulan-bulan. Hidupku hancur tanpa ibumu. Semua orang mengucilkanku, tapi tidak sedikit juga yang menyemangatiku. Hingga hari ini, akhirnya aku bisa sukses. Namun, itu semua tidak membuatku bahagia, dibandingkan melihatmu secara langsung, tanpa memantau dari monitor lagi."


Pria paru bayah itu, atau ayahku, mengusap lembut air mata yang masih berjatuhan, walaupun sudah tidak banyak.


Masih sesegukkan, aku bertanya. "Layar m–monitor?"


"Seharusnya Papa temui Josi ... walaupun dulu Papa salah besar, tapi setidaknya Papa tetep orang tua Josi, dan semua itu udah lewat, udah jadi masa lalu ... sekarang tinggal diperbaiki aja, untuk ke depannya," jelasku. Aku masih belum terlalu biasa berinteraksi dengannya. Ini pertamakalinya aku bisa berbicara dengan seorang ayah.


Setetes air mata, jatuh pada wajah berumurnya. "Dia memang berhasil membesarkanmu, Josi." Papa tersenyum bangga. Setidaknya, itulah yang kulihat.


***


"Jadi ini cucuku, hm?"


Papa terlihat senang dengan Jochia. Mereka juga cepat akrab. Saat ini kami tengah berada di ruang tamu berinterior klasik, namun tidak meninggalkan kesan mewah.


"Iya, Genpa! Ini Jochia!" Gadis mungil itu terlihat sangat antusias, bersama Grandpa-nya.


"Mirip nama mommy-mu," ujar papa pada Jochia yang berada dalam pangkuannya. Kemudian ia menatapku. "Berapa usianya, Josi?"


"Berapa, Cia?" tanyaku pada Jochia. Aku ingin mereka lebih banyak interaksi.


"Dua, Genpa!"


"Dua tahun, ya? Udah besar ternyata. Cia mau apa dari, grandpa?"

__ADS_1


Aku dan Damian diam melihat interaksi mereka berdua. Papa, walaupun ia terlihat hangat, tapi tidak meninggalkan kesan tegas yang kelihatannya sudah melekat erat, dengannya.


"Eum, Cia mau cokat!"


"Cokelat?" Gadis itu mengangguk. "Hanya cokelat saja? Cia tidak mau, kapal? Pesawat? Pulau—"


"Tidak, Pa, jangan dibiasakan dengan barang-barang mewah, Josi nggak mau nanti Cia, jadi manja," ungkapku sembari menatap pengertian Papa.


"Kau memang Ibu yang baik, Josi." Papa menatapku terkesan bangga, hingga membuat pipiku memanas.


"Ck, jangan pernah puji, dia. Dia akan terbang. Lihat saja pipinya yang sudah seperti tomat busuk."


Perkataan itu seakan meruntuhkan rasa banggaku. Sialan kau Damian!


"Bilang aja, kalau iri." Aku menjulurkan lidah.


"Hah, iri padamu? Sorry, kau bukan levelku—"


"Apa kamu bilang?! Jadi maksud kamu, aku rendahan gitu?! Hah! Setan bener lo, ngajak gelud!" Kata-kata yang biasa aku gunakan saat remaja keluar begitu saja, dan mencubit pinggang pria tak tau diri ini. Sial! Dagingnya mana?! Kenapa ini keras semua?!


"Kenapa, Sweety, hm? Keras? Tidak berhasil? Sudahku bilang, kau bukan tandinganku," sindirnya yang semakin membuatku naik darah.


"Dasar gi—"


"Diam! Apa kalian tidak malu, berkelahi di depan anak kecil? Apa kalian ingin melecehkan otak cucuku dengan kata-kata kasar?!"


Hening. Bahkan suara tegukan saliv terdengar, entah itu aku ataupun Damian.


"Sorry."


Seketika aku menatap Damian yang tertunduk, dan terlihat sedikit takut, walaupun wajahnya datar-datar saja.


"Apa? Nggak salah denger? Seorang Damian bisa takut juga? Bisa nunduk ju—"


"Aurora ...." Suara tegas nan berat itu menghentikan perkataanku. Suasana menjadi lebih tegang. Berusaha mencairkan suasana, aku cengar-cengir seperti kuda, kalau kata orang. "Hehe, sorry, Pa."


🍁🍁🍁


Hai? Semua! Maaf, ya, lama update, otak lagi blank:v


Kemungkinan update dua hari sekali. Jangan bosen-bosen, ya hehe.


Stay safe!

__ADS_1


__ADS_2