
"Aurora?"
Aku menggeliat lalu duduk untuk mengumpulkan nyawa. Dengan rambut acak-acakan dan mata sembab, aku turun dari tempat tidur untuk membuka pintu.
"Good morning, Sweety!"
Sapaan itu membuatku yang sedang menguap mata, mengalihkan pandangan ke arah pria yang sedang menatapku dengan sorot mata yang teduh.
"Y-ya, good morning D-Damian," balasku sembari menggaruk tenguk yang tidak gatal. Aku bingung harus memanggilnya apa setelah semuanya.
Ia melihat alroji yang ada di tangannya dengan dahi mengerut. "Ehm, bisakah Kau sarapan sendiri? Aku ada pertemuan penting pagi ini."
"Ya, tidak usah memikirkanku," jawabku berusaha mengalihkan pandangan darinya. Sebenarnya, aku tidak ingin Ia melihat mata bengkakku. Pasti jelek sekali.
"Oke. Ingat Sweety, kau tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah atau sesuatu yang berat, aku tidak ingin kau lecet. See you!" pamit Damian tersenyum manis.
Saat akan membalikan tubuh untuk ke kamar mandi, Damian berkata lagi. "Oh ya, aku sampai lupa."
"Apa?" tanyaku pada pria bersetelan formal itu.
"Jam sepuluh, Emily akan datang ke sini. Ia yang akan menjaga dan menyiapkan keperluanmu selagi aku tidak ada di sini. So, jika Kau membutuhkan sesuatu, bilang padanya, Ia akan mengabulkannya. Emily, salah satu orang kepercayaanku, jadi jangan coba-coba untuk berbohong," jelas Damian yang diakhiri seringaian.
Penjelasan Damian dari awal sudah membuatku melongo. Apa-apaan Ia menyuruh orang lain untuk menjagaku. Memangnya aku anak kecil?!
"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" protesku kesal.
"Ck, bisa menjaga diri sendiri? Lalu, ini apa?" Tunjukknya pada lenganku yang ada bekas goresan semalam. Dengan cepat aku menarik dan menyembunyikan tanganku.
"I-itu, 'kan tidak sengaja!" seruku terbata-bata. "Aku juga melakukan itu cuma kalau lagi frustasi ...," lirihku sambil menunduk.
Damian memegang pipiku, lalu mengangkat hingga aku bisa melihat wajahnya. "Hei, listen. Aku mengirim Emily kemari, bukan hanya semata-mata aku tidak ingin melihatmu kelelahan karena kondisimu belum stabil atau menyiapkan segala keperluanmu, tidak. Aku tau, Kau membutuhkan seseorang untuk mencurahkan isi hatimu, dan aku pikir Emily adalah orang yang tepat. Ayolah, Aurora ... ini demi kebaikanmu, ya?"
Dengan isakkan tertahan, aku langsung menerjangnya dengan pelukan. "Damian ...."
"Yes Sweet." Damian membalas pelukanku tak kalah erat.
"Makasih ...," lirihku dengan suara serak. Aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini, aku lebih gampang menangis. Mungkin karena aku sudah lelah dengan masalah yang terus menimpa rumah tanggaku.
"Anything for you." Damian mengecup dahiku.
Pengaruhnya ternyata berakibat besar pada wajahku yang kurasa telah bersemu. Aku belum terbiasa.
__ADS_1
"Ehmm." Aku berhendam untuk menetralkan wajahku.
"Aurora?!" panggil Damian, yang telah meletakkan tangannya di bahuku.
"Kenapa?" tanyaku bingung melihat raut wajahnya yang sedikit panik.
"Wajahmu! Ada sesuatu di wajahmu!"
Dengan panik, aku menangkup wajahku. "Ada apa, Damian?!" Tidak mendapatkan jawaban dari Damian, aku segera berlari ke arah kaca.
Ha? Tidak ada apapun.
Damian muncul di belakangku, kemudian Ia menunjuk pipiku. "Ini, Aurora. Pipimu memerah. Apa jangan-jangan Kau sakit?!" serunya mencolek-colek pipiku.
Ia menipuku! Dengan buru-buru, aku mendorongnya keluar dari kamar. Jika Ia di sini terus, mungkin wajahku akan meledak karena kepanasan.
"Keluar, kau Damian!" Argh, kenapa badannya besar sekali? Namun itu tidak melunturkan keinginanku untuk mengusirnya.
"Haha, stop! Aku akan keluar sendiri ... Daisyβ"
Brak!
Aku membanting pintu sebelum Ia berulah lagi. Argh!
"Dasar, bodoh!"
Plak!
Aw! Sepertinya, aku sudah gila juga karena menampar pipi yang tidak bersalah! Argh, whatever!
***
"Eum, kau bisa memanggilku, Aurora," kataku pada gadis berkulit sawo matang yang tengah menatapku dengan sorot menilai.
Err, kenapa gadis ini menatapku begitu? Apa ada yang salah? Semakin membuatku gugup saja.
"Ah, Aurora!" serunya. Mungkin jika aku mempunyai riwayat sakit jantung, aku sudah dilarikan ke rumah sakit.
"E-em, ya?" Inilah salah satu kelemahanku. Aku akan ketakutan jika bertemu dengan orang yang tidak menyukaiku. Mungkin, gadis ini, tidak?
Senyuman manis, tercetak di wajahnya. Semakin cantik dipadukan dengan mata berbinarnya.
__ADS_1
Aku sedikit menegang, saat Ia memegang bahuku. "Aku, Emily! Maafkan aku, atas sikapku tadi. Aku hanya tidak menyangka, apa yang diceritakan tuan Damian itu benar. Bahkan kau lebih berkali-kali lipat cantik, jika dilihat langsung," ujarnya dengan mata berbinar.
Damian, menceritakanku? Ihs, tambah membuatku malu saja!
"Damian, menceritakanku?" tanyaku dengan pipi yang kuyakin telah berulah lagi.
Emily mengangguk-anggukan kepalanya semangat. "Ya! Bahkan, tuan Damian berbinar-binar saat menceritakanmu. Sepertinya, Ia sangat menyayangimu," jelas Emily menaik turunkan alisnya.
"A-apasih! Sudahlah, itu tidak penting!" kesalku.
"Ah, tidak penting, ya? Tapi pipimu berkata lain! Hahaha." Emily terus saja menggodaku. Tidak, Tuan, tidak anak buahnya, sama saja!
Kurang dari dua jam, kami menjadi akrab. Menurutku, Emily adalah jenis orang yang kalau tidak kenal, pasti orang-orang akan mengatainya, jutek atau sombong. Namun, jika sudah kenal, akan terasa sudah seperti saudara kandung.
Hah, hari yang membosankan! Bagaimana tidak? Aku hanya berbaring berguling-guling di kasur berukuran king size ini!
Bukannya aku malas, saat aku mencari sesuatu yang perlu dibereskan, di penthouse ini, ternyata sudah bersih dan beres semua. Huh, memang perkataan Damian tidak main-main.
Mana cuma sendiri lagi. Emily, telah pamit pergi setengah jam yang lalu, katanya Ia ada perlu sebentar dan akan balik beberapa jam lagi.
Ngomong-ngomong, Aku rindu Christian. Walaupun beberapa hari ini, aku disibukkan dengan Damian, tapi aku tidak pernah meninggalkan Christian di pikiranku.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku. Apa, Dia sudah sadar? Apa, Dia mencariku? Apa, Dia sudah makan? Dan masih banyak lagi.
Aku ingin menjenguknya, tapi aku belum siap. Belum siap untuk meladeni, Ibu dan Sohena.
Flashback
"Aku mengizinkanmu, untuk menjenguk Christian. Tapi, Kau harus melawan ke dua medusa itu. Kau tidak boleh lagi lemah dan tunduk di hadapan keduanya. Ingat, Aurora, Kau milikku. Aku tidak suka jika milikku lemah dan mudah ditindas!"
Flashback off
Itu adalah salah satu peringatan, Damian, saat Ia menjelaskan semuanya dan mengklaim diriku sebagai miliknya.
A-aku, masih belum berani berhadapan dengan ke duanya. Karena aku tau, aku adalah wanita hati kecil yang gampang tersinggung. Tapi, aku sudah sangat teramat rindu, pada Christian ... bagaimana ini?
Argh! Persetan dengan Ibu dan Sohena! Rasa rinduku lebih besar dari pada rasa takutku!
πππ
Kira-kira, bagaimana Aurora menghadapi kedua medusa, itu?
__ADS_1
Dan, kenapa Damian mengklaim Aurora sebagai miliknya?
Jangan lupa vote dan komen