
Aku pernah merasakan perasaan ini. Aku menghirup nafas dalam lalu menghembusnya. Hmm ... nyaman. Aku merasa bebas.
Perlahan aku mulai membuka mataku. Mataku langsung bertemu dengan pelangi yang terbentang indah menghiasi langit.
Aku mengukir senyumku. Perasaan ini sungguh menyenangkan. Rasanya, tidak ada lagi beban yang kutanggung. Tidak terasa lagi sakit di batinku.
Tapi tunggu, pelangi? Langit? Aku segera bangkit duduk lalu mengedarkan pandanganku. Sepertinya tempat ini tidak asing. Tapi ini dimana?
Pohon rindang, semilir angin, perasaan nyaman dan bebas. Aha! Aku tau tempat ini! Bukankah tempat ini adalah taman saat aku bertemu dengan gadis mungil itu? Ya, benar!
Aku mengedarkan pandangaku ke arah tubuhku. Wow! aku menggunakan gaun yang sangat cantik. Berwarna putih satin tanpa lengan dan panjangnya mencapai
mata kaki. Tapi, tanpa alas kaki?
Sudahlah.
Tapi, dimana gadis mungil itu? Kulangkakan kaki disekitar taman ini.
Saat sedang menikmati keindahannya, tiba-tiba aku mendengar langkah kaki disertai tawa anak kecil dari belakang.
Aku pun membalikan badanku untuk memastikan jika aku tidak salah dengar. Segera aku tersenyum setelah mengetahui pelaku tawa itu.
Ya, itu gadis mungil yang kutemui tempo hari. Ia terlihat menuju ke mari. Segera aku merentangkan tanganku ingin menyambutnya.
Aku tidak percaya ini. Ia menembusku?
Tapi, aku lebih tidak percayai pada yang satu ini. Sohena adalah alasan gadis mungil itu tertawa? A-apa ia ibu dari gadis mungil itu?
Aku tidak tau ....
"Sudah sayang. Mama capek."
"Hihi, mama payah. Ayo kejal aku."
Ternyata benar ia anak dari Sohena. Aku yakin mereka tidak bisa melihatku, jadi aku mengikuti mereka.
"Papa, tolong aku!" seru gadis mungil itu pada pria yang sedang duduk di batang pohon yang telah tumbang.
Aku tidak bisa melihat wajah dari pria itu. Karena pria itu duduk menghadap ke depan. Aku hanya bisa melihat punggungnya saja. Tapi aku sangat familiar dengan postur badan pria itu.
"Ahh, cemen pake lapor-laporan sama papa," ujar Sohena saat gadis mungil itu memeluk sang pria dari belakang.
"Oh, jadi anak papa lagi main ya sama mama, kok gak ngajak papa, hmm?"
Deg
Setetes air mata jatuh di pipiku. Bukankah itu Christian? J-jadi, pada akhirnya aku yang harus mengalah?
"Upsi." Gadis mungil itu menutup mulutnya seraya menatap Sohena.
"Nggak, mama gak mau bantuin kamu, blee," ujar Sohena dengan jahil.
Kenapa ia di sini terlihat sangat baik?
"Oh, jadi kamu nggak sayang papa lagi, ya? Terima hukuman ini sayang, Hahaha."
__ADS_1
Christian menggendong gadis mungil itu, lalu menggelitiknya.
"Ahh, papa stop. Mama tolongin aku, hahaha."
"Haha, mama nggak ikut campur sayang."
Gadis mungil itu merontah-rontah sambil meminta pertolongan Sohena.
Mereka terlihat keluarga yang sangat bahagia. Apakah aku harus pergi? Apakah aku harus merelahkan Christian? A-ku tidak mungkin merusak kebahagiaan mereka.
Jujur, ini terasa lebih menyakitkan dari pada bentakkan Christian. Seketika sakit yang selama ini kurasakan, hadir lagi.
Jantungku seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Aku tidak bisa menerima ini semua sekaligus. Aku hanya lah manusia yang memiliki keterbatasan.
Tubuhku merosot ke tanah. Aku menangis, berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan sakit hatiku.
Di sini tidak ada sesuatu yang tajam untuk menyayat tanganku.
Mungkinkah aku harus pergi?
***
Hah, di mana aku? Aku mengedarkan pandanganku. Ruangan putih dengan bau obat-obatan. Ternyata di ruangan tempat aku di rawat saat pingsan.
Jadi tadi semua hanya mimpi? Kenapa rasanya sangat nyata? Dan, apa ini, Air mata? Jadi aku benar-benar menangis? Rasa sakit di hatiku juga masih membekas.
Saat ingin menghapus air mata, ada sesuatu yang menahan tanganku. Tangan Christian? S-sedang apa dia di sini? A-apakah ia benar-benar Christian?
Air mataku mulai mengalir lagi. Apa sebenarnya yang ia inginkan? Apakah ia berkepribadian ganda? Di sisi lain, ia bisa terlihat sangat mencintai dan menyayangiku.
Namun, di sisi lain juga ia bisa menjadi seseorang yang tidakku kenal lagi. Ia sangat berbeda ....
Jika kami tidur di ranjang yang sama pun, ia memberi jarak padaku.
Walaupun ia tidak bilang secara langsung, tapi dengan tingkahnya seperti itu, aku sudah sangat mengerti apa yang ia maksud.
Tiba-tiba ia memegang tanganku. Aku yang tersentak segera menarik tanganku. Tapi ia menahannya.
"Jangan dilepas. Ada yang sakit? Jangan mengepalkan tanganmu seperti itu, nanti jaitannya putus."
Aku menghiraukan ucapannya. Aku semakin mengepalkan tanganku, dan menangis tersedu-sedu.
"Hei, hei. Sayang sudah, jangan menangis ... jangan kepalkan tanganmu seperti itu, maafkan aku hm?"
Christian berusaha melepaskan kepalan tanganku, dan menghapus air mata yang semakin deras mengalir di pipiku.
"Kenapa Chris? Kenapa? Apa maumu sebenarnya? Aku capek ...," tanyaku lirih.
"Aurora, maafkan aku ... aku berjanji setelah ini aku akan berubah. K-kau taukan aku tidak bisa melihat perempuan menangis? A-aku hanya khilaf, maafkan aku," jelas Christian sembari mengusap-usap pipiku.
"B-benarkah kamu tidak akan membentak dan mengacuiku?" tanyaku.
Kalian bisa menyebutku wanita bodoh. Tapi, rasa cintaku padanya telah mendarah daging, aku tidak bisa menghentikannya.
"Iya sayang, aku janji."
__ADS_1
"Tapi kamu udah sering janji ...," lirihku seraya menatap lekat wajahnya.
"Tidak untuk kali ini Aurora, aku mohon."
Ia terus memelas padaku. Jujur, aku tidak tega ... baiklah jika ia mengulangi kesalahannya, maaf tidak akan lagi kumaafkan.
"Baik, tapi jika kamu mengulanginya, aku tidak bisa memaafkanmu lagi."
Aku harus lebih tegas pada diriku sendiri. Mudah-mudahan ini terakhir kalinya ia berulah.
"Makasih sayang. Aku berjanji akan membahagiakanmu, aku berjanji hanya kamu satu-satunya wanita di hidupku," ujarnya seraya menarikku ke dalam pelukannya.
Semoga saja.
"Setelah kamu diperbolehkan pulang, aku ingin mengajakmu ke hari ulang tahun pernikahan Mr. James yang ke empat puluh tahun."
"Mr. James yang mempunyai pabrik minuman keras?" tanyaku.
Setau aku Mr. James ini sangat berpengaruh di Eropa karena kesuksesannya sejak remaja.
"Iya, jadi kamu mau?" tawarnya.
"Jangan bilang di Eropa?" Aku mengerutkan dahiku.
"Sudah pasti di Eropa, Aurora. Mr. James kan berasal dari sana," kekeh Christian.
"Benarkah? Itu sangat jauh ...," gumamku.
"Yasudah, jika kamu nggak mau ikut, aku ajak Sohena saja."
Sontak aku melototkan mataku. Apa dia bilang? Akan mengajak Sohena? Padahal kita baru berbaikkan.
Aku mencubit pinggangnya, lalu berkata, "Dasar, coba saja, aku nggak jadi maafin kamu."
"E-eh sayang, aku cuma bercanda kok, hehe," sanggahnya lalu mengecup pipiku.
Astagah, pasti pipiku blushing.
"A-apaan sih, kamu," protesku memasang raut pura-pura marah, dan mengalihkan pandang dari Christian.
"Cie, pipinya merah ..., coba sini mau liat, kok pake acara buang-buang muka gitu sih, nggak papa kok, suami sendiri juga," goda Christian yang semakin membuatku malu.
"Ih, apaan sih kamu, udah tua juga," ketusku. Padahal dalam hati sudah lompat-lompat.
"Tua darimana? kita baru berkepala dua sayang. Kalau pun udah tua, tapi jiwa kita harus mudah Auroraku."
Memang sih, kita belum tua-tua amat. Malahan bisa dibilang belum tua. Tapi ya begitu Christian, walaupun nanti umurnya sudah lima puluh tahun, ia akan menolak jika dibilang tua. Dasar.
🍁🍁🍁
Team mana nih?
Aurora×Christian
Sohena×Christian
__ADS_1
Aurora×pria misterius
Tunjukkan dirimu, jangan cuma jadi pembaca gelap😎😎