
"Aurora, semua udah siap?"
Aku hanya menganggukan kepala saat Christian bertanya. Ya, saat ini kami sedang berada di kamar memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Kami harus buru-buru ke bandara, akibat kelalaian Christian. Aku tidak akan menjelaskan lebih detail. Intinya, Christian salah membeli jadwal penerbangan.
Jika kalian pikir Christian mempunyai jet pribadi, tentu saja kalian salah. Walaupun ia Direktur Eksekutif di perusahaan, namun ia belum sekaya itu, ia masih belajar.
Perusahaan tempat bekerjanya Chrisrtian saja, masih atas nama papanya, belum diwariskan padanya. Perusahaan itu akan diwariskan, jika Christian sudah berumur tiga puluh tahun.
Hari ini, adalah hari ke lima setelah aku keluar dari rumah sakit. Semuanya berjalan begitu lancar. Sohena menginap di kediaman orang tua Christian. Jadi tidak ada pengganggu.
Sohena dan orang tua Christian, tau kami akan ke Belanda. Awalnya, ibu mertua menyarankan untuk membawa Sohena, tetapi Christian langsung menolaknya dengan tegas.
Well, di situ tentu saja aku sangat senang. Christian mulai kembali seperti dulu, saat ia meminta maaf padaku. Ia menjadi Christian yang kukenal lagi.
***
Setelah empat belas jam perjalanan, tibalah kami di Amsterdam Airport Schiphol, jam enam sore waktu Indonesia, atau jam satu siang waktu Amsterdam, Belanda.
Kami akan menuju ke TwentySeven hotel. Sekitar tiga puluh menit, akhirnya kami sampai di hotel tersebut.
Kesan pertama deskripsi hotel ini adalah mewah. Hotel ini disiapkan oleh Mr. James, untuk tamu di luar Belanda.
Jadi kami hanya perlu menyebut nama, dan resepsionis akan mengecek nama kami di dalam list yang telah diberikan Mr. James.
"Please Sir, Ma'am, follow me," ujar resepsionis, menuntun kami ke ruangan yang telah disediakan.
Aku dan Christian pun, mengikutinya dari belakang. Kami naik ke lantai empat. Dari awal kami masuk ke dalam hotel ini, aku tidak berhenti mengagumi desain hotel ini.
Sampailah kami di lantai empat. Ia menuntun kami ke pintu nomor seribu lima ratus lima.
"If you need something, please press one on the telephone available in the room. excuse me."
Resepsionis itu berlalu setelah menjelaskan cara memanggil mereka jika kami menginginkan sesuatu.
Christian pun membuka pintu memakai kartu yang telah diberikan resepsionis tadi.
Ceklek!
Aku terdiam beberapa saat. R-ruangan ini s-sangat mewah ....
"Aurora? Kamu mau diam di situ terus?"
Suara Christian menyadarkanku. Akupun segera masuk ke dalam, dan melihat-lihat setiap sudut ruangan ini.
Damn! Kamarnya pun sangat mewah!
Mr. James memang yang terbaik!
"Chris? Kapan pestanya dimulai?" tanyaku sembari membereskan barang-barang yang kami bawa.
Christian yang sedang ganti baju, berkata,"Nanti malam. Jam tujuh. Kita nanti dijemput sama supir yang Mr. James sediakan."
Dijemput juga? Wah, Mr. James benar-benar memanjakan para tamunya. Berarti tinggal enam jam lagi pestanya.
"Aurora, sini, tidur dulu. Beres-beresnya nanti aja."
__ADS_1
Christian mengajakku untuk berbaring bersama. Aku langsung menuju ke tempat tidur lalu berbaring bersamanya, bahkan memeluknya.
Kami memutuskan untuk langsung tidur, tanpa berbasa-basi lagi.
Aku harus memanfaatkan empat jam ini dengan full beristirahat. Karena aku masih mengalami jet lag, dan lagi badanku rasanya akan remuk kalau nggak tidur.
***
"Aurora, tolong pakaikan dasiku."
Aku yang baru keluar dari kamar mandi, segera membantu Christian memakai dasi. Dia sangat tampan, di dalam balutan black suite itu.
"Kenapa lihat aku seperti itu? Aku ganteng kan?" tanya Christian saat aku mengaguminya.
"Dasar tuan sombong," kekehku.
"Sudah, ngaku aja." Christian terus saja menggodaku sambil mencolek-colek daguku.
"Oke, kamu sangat tampan Christian," ujarku. Kalau tidak begitu, dia tidak akan berhenti.
"Kamu pintar sekali Aurora. Tapi, kamu harus segera berpakaian dengan cepat, karena waktu kita satu jam lagi. Oh, ingat, jangan make up lama-lama! Aku tunggu kamu di depan."
Aku memutar bola mataku malas. Memang dia pikir, aku akan bermake-up tebal seperti kebanyakan perempuan di luar sana? Membuat alis aja, kadang masih bengkok.
"Ya, ya. Sana, keluar."
Christian mengedipkan mata dengan genit lalu segera keluar. Ihs, dasar.
Aku memilih dress berwarna putih dengan agak memperlihatkan bahuku.
Ternyata aku cantik juga, haha. Ayo Aurora, rias wajahmu senatural mungkin!
Oh, jangan lupa di tangan dan di gaun!
All clear! Tepat waktu.
Setelah mengambil tas kecil, hp dan juga dompet, aku segera menghampiri Christian yang ada di ruang tamu.
"Ehm, Chris?" Aku memanggilnya yang sedang menonton televisi. Christian mengalihkan pandangannya ka arahku, dan terdiam. Mengagumi, mungkin?
"Bagaimana? Apakah aku terlihat rapi dan c-cantik?" Aku terbata saat mengucapkan kata terakhir.
Kulihat Christian masih terdiam dan berjalan ke arahku.
"Damn, Aurora. You are so freaking beautiful tonight."
"Really?"
"Aku nggak bohong, sa--"
Ting tong!
Ucapan Christian terpotong oleh suara bel.
"Ayo, Aurora. Pasti itu orang yang akan menjemput kita," ajak Christian seraya menggandeng tanganku.
Aku menganggukan kepala, lalu melangkah bersamanya.
__ADS_1
"Excuse me, Sir, Ma'am. I am Benjamin, the person who will take you to Mr. James party," ujar pria bertubuh besar memakai seragam serba hitam saat kami membuka pintu.
"Oh, okay," balas Christian. Aku diam bukan berarti aku tidak mengerti.
"Please, follow me."
Kami pun mengikutinya turun ke bawa. Pekerja Mr. James sangat ramah.
Saat kami tiba di bawa, limounsine atau mobil yang panjang itu telah terpakir cantik di depan hotel.
"Please, Sir, Ma'am," ujar Benjamin seraya membukakan pintu untuk kami.
"Thank you." Kali ini aku yang menjawab. Benjamin tersenyum ramah membalasku.
***
Sampailah kami di mansion Mr. James. Sama seperti kesan pertama saat di hotel. Mewah.
Benamin membukakan pintu untuk kami tepat di depan tangga yang telah dilapisi red carpet.
Christian yang turun duluan, menawarkan lengan untuk membantuku keluar. Akupun menggandeng tangannya dan segera melangkah ke arah dalam.
"Excuse me, Sir, Ma'am. Please wear the mask, this is one part of the party."
Seorang pria berpakaian pelayan pesta, memberi kami topeng untuk dipakai.
Oh, aku tidak tau kalau ini pesta topeng. Aku yang tidak terlalu perduli pun segera memakainya.
Christian memakai topeng berwarna hitam sedikit ke emasan
Topengku juga berwarna hitam. Tapi beda model.
Kami un segera masuk ke dalam. Dan, ya. Seperti yang kuduga. Ballroom yang megah dan mewah.
"Ayo, Aurora. Kita menemui Mr. James dulu," ajak Christian
"Oke."
Kulihat Mr. James sedang berbincang dengan pria bertopeng mawar sepertiku? Tidak, hanya mirip. Namun, setelah melihat kami, pria itu segera pamit.
"Mr. James," sapa Christian.
"Mr dan Mrs Sanjaya, right?" tanya Mr. James.
"Ya, benar Mr. James. Ngomong-ngomong, selamat untuk usia pernikahan kalian yang ke empat puluh tahun," balas Christian. Aku hanya tersenyum segan pada Mr. James.
"Terima kasih. Bagaimana perjalanan kalian kemari? Apakah semua baik-baik saja?"
"Baik Mr. James. Pelayananmu juga sangat baik, terima kasih," jawab Christian.
"Ngomong-ngomong, dimana Mrs. James?" Kali ini aku yang bertanya
"Dia sedang berganti high heels. High heels awal yang dia pakai terlalu tinggi. Dia mengeluh karena membuat kakinya sakit, jadi dia ingin mengganti yang lebih rendah. Aku bingung padanya, lagian sudah tua masih masih ingin bergaya seperti anak muda, ck."
Curhatan Mr. James membuatku sedikit tertawa. Ternyata Mr. James adalah orang yang friendly, tidak kaku seperti orang kaya kebanyakan.
"Baiklah, silahkan nikmati pesta dan hidangan yang tersedia. Aku akan menemui tamu yang lain. Permisi," pamit Mr. James.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Jangan lupa like dan komen🖤