
Malam semakin larut, aku mendengar suara bunyi berdesis, merasakan adanya bahaya, aku berteriak membangunkan orang tua dan ketiga saudara saudariku.
Karena suara ku, ada ular yang ingin menyerangku, aku berlari ke belakang ibu.
Seketika ibuku bangun dari tidurnya dan langsung menyerang ular itu.
Dia mencengkram badan ular dan membawanya terbang, tetapi kaki ku tergigit oleh ular itu, karena itu aku ikut dibawa terbang oleh ibuku.
Aku tidak mengira ibuku tidak mempedulikan aku dan tetap membawanya terbang menjauh.
Apakah aku akan di jadikan tumbal oleh ibuku agar ketiga saudara saudariku bisa hidup?
Uh, apakah ibu elang memang sejahat ini kepada anak kandungnya?
Aku melihat kebawah, lautan sejauh mata memandang, dan hanya ada 1 tebing menjulang.
Paling atas adalah tempat ayah dan ibuku membuat sarang.
Seharusnya itu adalah tempat yang aman untuk membuat sarang, tapi kenapa bisa ada luar di sana?
Darimana asal ular itu?
Aku melihat ke arah sarang ku, ketiga saudara saudariku berteriak membangunkan ayahku.
Aku berpikir, apakah aku akan mati lagi setelah dihidupkan kembali ke dunia ini?
Walaupun aku berhasil melepaskan diri dari gigitan ular ini. Aku akan terjatuh kedalam lautan.
Bagaimana ini? Bulu-bulu ku sebagai elang belum ada. Apakah elang bisa terbang tanpa bulu?
Daripada aku tidak berusaha apa-apa, aku mengepakan sayap ku, ya itu lumayan efektif, gigitannya melemah.
Aku terus berusaha melepaskan gigitannya, seketika elang jantan yang tidak lain adalah ayahku langsung mencabik-cabik tubuh elang di udara.
Aku pun jatuh kelaut, dan melihat keatas, pertarungan sangat hebat ayah dan ibuku.
Dua elang melawan satu ular di atas udara. Memang pertarungan yang sangat tidak adil.
Oh tidak! Ini bukan waktunya menikmati pertarungan orang tuaku, ini waktunya aku berpikir bagaimana caraku bisa selamat?
Aku berusaha lagi mengibaskan sayap ku, tapi percuma saja. Aku tidak bisa terbang, itu hanya membuat aku terhempas-hempas oleh angin di udara.
Aku tidak ada pilihan lain, aku memposisikan kepala dan paruh ku kebawah air, dan aku siap berenang.
__ADS_1
Aku tidak tau, apa aku akan bisa mengambang atau tidak, seenggaknya aku berusaha untuk selamat.
Aku pun terjatuh kedalam lautan, ketika aku membuka mata, aku melihat sekelompok ular berlarian di atas air bersiap memangsaku.
Tidak!!! Ini mah namanya selamat dari tanduk banteng masuk ke kandang buaya.
Tetapi seperti ditangkap oleh sesuatu, tubuhku di tarik, aku menundukkan kepalaku kebawah tubuhku, aku melihat seperti tangan katak.
Bukan, bukan tangan katak, itu adalah tangan manusia yang berselaput, layaknya tangan katak.
Tangan itu menarik ku menjauhi ular-ular tersebut.
Aku dibawa kebawah tebing dimana sarang ku yang terdapat di atasnya.
Setelah aku melihat wujud jadi kata itu. Ternyata aku melihat cantik dengan rambut tergerai panjang, tubuh yang seksi dan mulus.
Tetapi di bagian pinggang dia memiliki tubuh seperti ikan dengan sisik berwarna hijau berkilauan.
Wow! Aku bertemu dengan putri duyung atau bisa di bilang mermaid dalam dunia Ku sebelumnya.
Dia duduk di samping ku menemani ku, ini sangat nyaman, seandainya wanita ini yang menjadi ibuku. tidak lama ibu datang menghampiri kami.
Ibuku mengucapkan rasa terima kasihnya kepada putri duyung itu, apabila putri duyung itu ingin meminta bantuan, dia bisa langsung menghampiri kami dan memintanya.
Kami akan senang hati membantunya sebagai balas Budi.
Pada saat di sarang aku melihat ayah dan ketiga saudara saudariku sedang memakan ular.
Aku tidak habis pikir, ular yang ingin memakan ku sekarang di makan oleh keluarga ku, jadi aku mengerti hidup sebagai binatang, makan atau dimakan.
Ayah dan Saudara saudariku menyambut ku pulang, sepertinya mereka sangat khawatir dengan ku, termasuk saudara pertamaku, dia menghawatirkan ku tapi tidak ingin terlihat bahwa dia menghawatirkan ku.
Sewaktu aku hidup sebagai manusia, aku memelihara 2 ekor elang, jadi aku mengerti perasaan mereka.
Karena aku kedinginan ibuku mengerami ku. Ya sangat nyaman di bawah bulu dan sayap ibuku.
Terasa hangat walaupun sifatnya membawaku kedalam bahaya membuatku jengkel.
Sambil menghangat tubuh, ibuku juga menyuapi aku daging ulang yang ingin memakan ku Tadi.
Memakan daging ular yang ingin memakan ku tidaklah buruk. Aku menikmatinya sampai ke tulang tulangnya.
Ketika aku ingin memakan kepala burung itu, ayah dan ibuku melarangnya, dan memindahkan mayat ular itu ke bawa tebing.
__ADS_1
Mungkin jasad ular itu di taro untuk menakuti ular lainnya.
Dunia ini sangat unik, banyak hal yang aneh yang terjadi, putri duyung atau mermaid, dan ular yang bisa hidup di laut.
Hari demi hari kami lewati, berbagai binatang laut yang di bawa ayahku untuk makananku membuat aku semakin kuat.
Bulu-bulu di tubuh dan sayap ku semakin lebat, ibuku sedikit demi sedikit menghancurkan sarang yang di buatnya, hal ini bertujuan agar kami berempat tidak betah berlama-lama di sarang ini.
Ibu kita memaksa kita supaya kita bisa terbang dengan cepat.
Mungkin dia sudah mulai jenuh untuk mengurus kita, dan mengusir kita dari tempatnya.
Ya mungkin ini demi kebaikan kita, atau mungkin demi kebaikan ibuku, mengingat ibuku selalu bersikap kasar kepada kita.
2 bulan bulan sudah berlalu, kamu bersiap untuk penerbangan pertama kami.
Saudara pertama ku langsung meloncat kearah laut, apakah dia berhasil? Aku langsung menengok ke bawah, dan melihat dia meluncur kedalam lautan, dengan merentangkan kedua sayapnya.
Ketika sampai kakinya menyentuh air laut, dia mengkibas kan sayapnya dan terbang menuju angkasa.
Luar biasa, dia berhasil pada penerbangan yang pertama tanpa Gagal sedikit pun.
Mungkin dia adalah yang termasuk burung jenius dikalangan burung elang.
Kemudian dia kembali dengan membawa seekor ikan kecil berwarna hijau.
Aku bertanya apa yang ia ingin lakukan terhadap ikan kecil itu?
Dia menjawab bahwa dia ingin memakan ikan itu.
Aku pun melarangnya, "bagaimana bisa kau memakannya? Ikan ini masih sangat muda. Setidaknya tunggu dia besar kau akan bisa lebih menikmatinya, biarkan ikan itu hidup lebih lama!"
"Mau sekarang ataupun nanti ikan ini akan menjadi makanan kita, pokoknya aku akan menikmati buruan pertamaku!" Bantahnya.
Aku langsung mengambil ikan itu dan membawanya terbang bersamaku, walaupun aku belum bisa terbang aku hanya berniat mengembalikan ikan itu.
Aku melompat dan merentang kan sayap ku, saudara pertama ku yang tidak terima langsung loncat mengejar ku.
Aku pun menambah kan kecepatan ku dengan mengebelakangkan sayap ku. Agar tidak ada angin yang memperlambat laju ku.
Sesaat sebelum aku menabrak air laut, aku merentangkan sayap ku agar kecepatan nya berkurang.
Sesampainya nya di air aku melepaskan dan membebaskan ikan itu.
__ADS_1
Kemudian aku ingin naik keatas, dan aku mengepakan sayap ku. tapi sangat ini sangat berat, berbeda ketika aku tidak di udara.
Akupun terjatuh kembali ke dalam lautan.