
Ayahku adalah seekor naga? Bagaimana ini bisa terjadi?
Semua kejadian membuat aku terkejut, dari sang ratu memanggil "suamiku' sampai ayahku Berubah menjadi seekor naga.
"Apa yang kau mau?" Tanya ayahku kepada sang ratu.
Kemudian ibu keluar dari pelindung yang ayah buat, serta berkata "apabila kau ingin marah, luapkan amarahmu kepadaku, aku lah salah atas hal ini, aku yang tidak bisa mendidik anak ku sampai dia bertindak seperti itu, tapi aku mohon, bebaskanlah anak-anak ku, biarkanlah ayah mereka yang mendidiknya"
Mendengar itu sang ratu tersenyum meminta pelayannya memanggil anak-anaknya.
Sekelompok anak naga berjumlah 50ekor datang berkumpul, inilah anak sang ratu dengan ayahku.
Ya, bisa dibilang mereka adalah saudaraku juga.
"Apabila kau berkata demikian, rawat lah anak-anak ku seperti kau merawat anak-anak mu, dengan demikian amarah ku akan berkurang" seru sang ratu kepada ibuku.
Ini memang sangat tidak adil, bagaimana mungkin ibu ku yang seekor burung elang merawat anak naga? Bagaimana mungkin ibuku bisa menghadapi lima puluh ekor anak naga sekaligus?
"Baiklah aku terima dengan catatan kau tidak mengusik anak-anak ku lagi." Jawab ibuku.
"Baiklah, tapi apabila ada satu anak dari anakku mengusikku, aku tidak akan memaafkannya, dan kamu tidak akan bisa menghindari kematian" ujar sang ratu.
Tetapi ayahku tidak terima akan hal ini, karena ini adalah kesempatan yang merugikan di pihak ibuku.
Tapi ibuku meyakinkan ayahku, bahwa hanya ini yang bisa dia perbuat untuk melindungi anak-anak nya.
Sebenarnya aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan, ibu yang selama ini aku tau dia selalu bersikap egois, kini dia malah merelakan kebebasannya demi melindungi anak-anak nya.
Ya besar-besarnya ego seorang ibu, dia pasti selalu memikirkan hal yang terbaik untuk anak-anak nya.
Kemudian ayahku bertanya kepada sang ratu "apabila kau menyuruhnya mengurus anak-anakmu, lalu siapa yang akan mengurus anak-anaknya?"
"Baiklah, aku akan memberikan perintah kepada Dita agar dia menjaga anak-anaknya" jawab sang ratu.
"Dita! Apa kau bersedia menerima perintahku ini?" Tanya sang ratu kepada Dita.
"Hamba tidak berani menolak, yang mulia" jawab Dita.
__ADS_1
"Ini tidak seperti kau mengasuh nya, tapi kau hanya menjaga anak burung itu" tegas sang ratu.
Akhirnya kesepakatan pun tercapai dengan keuntungan di pihak sang ratu.
Kemudian sang ratu pun pergi dengan diikuti pada bawahan nya.
Kemudian ibuku memeluk aku dan berkata saudara saudariku, "jaga diri kalian!'
Saat ini, aku melihat wajah ibuku di raut wajahnya terlihat kesedihan yang mendalam, ibuku langsung memalingkan wajahnya.
Kemudian dia mengibaskan sayap ya dan terbang mengikuti iring iringan Sang ratu duyung.
Dari belakang aku melihat air mata ibu ku tebang bersama angin, walaupun ibu ku sangat sedih, dia tidak ingin menunjukan kesedihan kepada kami.
Disinilah awal penderita dari ibuku, di dalam hati aku berjanji, aku pasti akan membebaskannya dari ratu mermaid itu, aku akan menjadi lebih kuat agar aku bisa menyelamatkan orang-orang yang aku cintai.
Kemudian ayahku datang dan berkata kepada aku dan saudara saudariku "Maaf telah melibatkan kalian semua, mulai sekarang aku akan memberi nama pada kalian!"
Dia memberikan ku nama EKA, kemudian DWI kepada adik perempuan ku, dan TRI kepada adik laki laki ku.
"Ingatlah, kalian adalah memiliki keturunan naga, suatu saat kalian bisa menjadi seekor naga yang kuat, melebihi lima puluh ekor naga, mulai sekarang aku akan melatih kalian menjadi lebih kuat!" Jelas ayahku.
Pantas saja Grifon dengan mudah bisa terbang tanpa kesulitan, itu karena di kehidupan sebelumnya dia adalah singa bersayap.
1 bulan lagi sudah berlalu, dengan metode yang di ajarkan ayah kami pun berkembang dengan pesat.
Di bawah air melihat Dita selalu mengawasi kami, dia enggan berbicara denganku lagi, mungkin ini karena perselisihan antara ibuku dan ratu duyung yang merupakan ibunya.
Karena kita bertiga sudah bisa terbang, sarang kami di hancurkan oleh ayahku, dia melakukannya agar kami tidak terlalu nyaman dengan satu tempat saja.
Hari demi hari kita lalui, Kita sekarang hidup bebas dari tempat dan menjelajahi lautan lepas.
Sambil ayahku mengajarkan kami teknik, berburu ikan.
Pada saat ini kami tidak di beri makan lagi oleh ayah, kalau kami tidak bisa menangkap 1 ikan pun, ya kami tidak makan.
Karena Dwi tidak pandai dalam berburu, dialah yang paling kurus diantara kami, aku bersama dengan tri kadang berbagi sisa makanan kami kepada Dwi.
__ADS_1
Apabila ayah mengetahui bahwa kami berbagi makanan dengan Dwi, ayah kami pasti marah, dan menghukum kami dengan sabetan oleh ekor naganya.
Ayahku ingin mengajarkan cara bertarung, tapi menurut dia kami belum memahami cara bertahan hidup.
Menurutnya apabila kami di tanggalkan olehnya, dalam kurang dari seminggu, kami akan mati.
Di bawah laut, aku masih melihat Dita, dia masih setia menjaga dan mengawasi kami.
Kami terbang mengarungi lautan, hujan, panas, badai, kami lewati bersama.
Kemudian Tibalah kami di satu pulau kami pun menepi dan beristirahat sambil berburu.
Aku melihat Dita juga ikut menepi, sisiknya perlahan hilang menjadi kaki seperti manusia dan berjalan layaknya manusia.
Di tepi pantai dia duduk, ombak laut menghampiri kakinya kemudian pergi dan kembali.
Dia seperti kesepian, kemudian Aku menghampirinya hanya sekedar menyapa.
"Hai, sudahkan kamu makan?" Tanyaku sekedar basa basi.
Dia hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Aku penasaran, apa yang ras duyung makan di laut?" Tanyaku kembali.
Dia pun masih diam, tak menjawab sepatah kata pun.
"Apakah kau memakan kepiting? Rumput laut? Atau mungkin amuba seperti ikan paus?" Aku pun terus berbicara sampai dia berbicara padaku.
"Ataukah kau memakan ikan juga? Kalau kau memakan ikan juga bukannya itu berarti kanibal yang memakan sesamamu? Mengingat kau begitu khawatir ketika ikan kecil berwarna hijau ingin dimakan oleh saudaraku" akan tidak akan berhenti berbicara sampai Dita ingin berbicara padaku.
Kemudian Dita menoleh kepadaku dan berkata dengan wajah yang menyeramkan "ya! Aku memakan ikan, kalau kau tidak bisa berhenti bicara juga, aku juga bisa memakan burung kecil dan lemah seperti mu"
Mendengar itu aku mulai jaga jarak dengan dia, kemudian ayah datang dan berkata "Dita hentikan, kau sungguh menakuti nya"
Setelah itu Dita tertawa dengan sama kencang " tenyata aku tidak hanya menakuti burung ini, aku juga bisa menakuti ayah yang menyeramkan... kau ternyata bisa khawatir juga dengan anakmu." Kata Dita kepada ayah.
Fuih, ternyata dia hanya menakuti ku, aku lega mendengarnya dan ternyata dia juga bisa tertawa seperti itu.
__ADS_1
"Tapi aku benar soal memakan ikan" kata dita sambil tersenyum.