Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 1


__ADS_3

Cerita ini hanya sebuah khayalan saja ya gaes, tidak ada dalam dunia nyata. Mung halu tok dari emak si tukang halu🤭.


****


Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa, awalnya desa tersebut bernama Desa Papakan. Namun, nggak tahu mulai sejak kapan tiba-tiba desa itu di kenal dengan sebutan Desa Garong, kenapa desa itu di sebut Desa Garong? Karena hampir semua penduduknya bekerja sebagai seorang pencuri, menjarah, merampok atau orang biasa menyebutnya sebagai garong. Hanya beberapa orang saja yang tidak mau melakukan pekerjaan itu, tetapi, lebih memilih untuk menjadi seorang pengemis. Walah biyung, begitulah warga Desa Garong. tidak menjarah atau merampok tetapi mengemis atau meminta-minta. Wes ora ono sing bener 🤦🤦🤦


Pada suatu hari, istri dari ketua mereka melahirkan seorang anak berjenis kelamin perempuan berwajah cantik. Anak perempuan itu terpaksa di asuh dan di besarkan oleh bapaknya karena sang ibu telah meninggal dunia saat melahirkan, dengan dibantu para anak buahnya yang sama-sama seorang perampok atau garong, mereka merawat dan mendidik anak perempuan yang telah diberi nama Marissa oleh sang emak sebelum akhirnya beliau meninggal dunia. Namun, para garong anak buah dari sang bapak suka memanggilnya Enyong. Enyong tumbuh menjadi seorang wanita yang tomboi, mereka mengajari Enyong ilmu bela diri serta ilmu kekebalan tubuh yang tidak mempan terhadap senjata.


Pak Rohman, bapak kandung Enyong sengaja mendidik putri satu-satunya itu seperti seorang laki-laki karena Pak Rohman tidak mau memiliki anak yang lemah agar kelak bisa menggantikan dirinya menjadi ketua para garong di desanya. Memimpin para warga garong dengan baik. Pak Rohman adalah ketua atau pemimpin yang kejam, ia tak segan-segan membunuh korbannya tanpa perasaan, ia di takuti oleh seluruh warga Garong. Mereka semua tunduk kepadanya. Maaf ya gaes, ceritanya kok jadi kayak dongeng anak-anak yak.🤭 Semoga nggak ngebosenin lah yak. Langsung baelah yok ke percakapan 😁🙏


***


17 tahun kemudian.


"Pak ... Bapak, Enyong berangkat dulu yak." teriak seorang gadis remaja sambil berlari keluar rumah.


"Nyong! clurit bapak lo taruh mana?" teriak Pak Rohman.


"Ealah Bapake priben toh Pak, ntuh di meja Bapake apa kalau bukan clurit." Enyong menunjukkan meja yang ada di belakang Pak Rohman.


"Eladalah, yo wes sono pergi cari duwit yang banyak!" perintah Pak Rohman sambil berjalan mengambil celuritnya yang ada di atas meja. "Eh, Nyong! Nanti kalau pulang jangan lupa beliin batagor ya Nyong, Bapak lagi pingin makan batagor."


"Ih Bapake kayak lagi ngidam aja lho!" potong Enyong.


"Enyong!" bentak Pak Rohman sambil mendelik ke arah Enyong.

__ADS_1


"Siap Bapake!" Enyong langsung ngacir berlari menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu di depan rumah.


"Abah, kita pamit yak Bah, jangan lupa doakan kita supaya hari ini ketemu orang tajir melintir lagi bawa duit sekoper, bisa langsung kita gasak deh!" Terdengar teriakan dari pemuda-pemuda tanggung dari luar rumah.


"Ya sudah sono cepetan berangkat, jangan ngompleh terus keburu tuh orang tajir kabur." jawab Pak Rohman dengan suara keras dari dalam rumah. Tidak lama terdengar suara motor pergi menjauh dari halaman rumah Pak Rohman yang lumayan luas.


"Eh bocah, mau ngerampok kok nggak bawa senjata. La piye iki bedile malah ditinggal.( Bedile itu pistole ya gaes🤭). "Oalah bocah ceroboh amat yak, bagaimana menjadi pemimpin menggantikan bapake, kalau sifatnya seperti itu, wes payah-payah!"


***


"Wih ... ternyata sang Dewi keberuntungan sedang berpihak sama kita Nyong, lihat!" ucap seorang pemuda berambut gondrong menunjuk ke arah perempuan paruh baya baru keluar dari bank.


"Hohoho, iya benar Son, sepertinya perempuan itu habis menarik uang dalam jumlah yang banyak," lanjut pemuda yang satunya lagi.


"Alah sok tahu lo berdua. Dari mana kalian tahu kalau perempuan itu habis menarik uang dalam jumlah yang banyak? Jangan-jangan malah habis bayar utang, hihihi." Enyong malah terkekeh sendiri.


"Ya elah Paijo, bentar napa baru lagi enak-enak ngupil." protes Enyong.


" Enyong!" bentak pemuda itu lagi.


"Iye iye ... buju busyet dah cerewet amat sih," Enyong langsung pergi menghampiri perempuan paruh baya yang sedang berjalan seorang diri sambil menenteng tas wanita berukuran sedang. Enyong menoleh ke kiri dan ke kanan memeriksa keadaan.


"Hem ... aman," gumam Enyong lirih sambil berjalan santai mendekati perempuan itu yang sepertinya sedang kebingungan. Enyong sengaja menabrakkan tubuhnya, pura-pura tidak melihat perempuan paruh baya yang sedang berjalan.


"Ealah Genduk, hati-hati kalau jalan napa," perempuan paruh baya itu terlihat kesal dengan sikap Enyong.

__ADS_1


"Aduh, maaf Mpok sengaja. Eh, maksudnya nggak sengaja, he ...." Enyong malah cengengesan.


"Memangnya kamu mau ke mana anak muda?" tanya perempuan itu.


"Mau ...." Enyong berfikir sejenak. "Mau ke Bank lah Mpok, mau ambil duwit," jawab Enyong asal sambil menggaruk pipinya yang sabenarnya tidak gatal.


"Mpok habis ambil duwit juga ya Mpok?" tanya balik Enyong sambil menatap tas yang sedang di pegang perempuan itu.


"Boro-boro ambil duwit, habis bayar utang nduk!" jelas perempuan itu.


"Alamak, bayar utang? Nah lo, ape gue kate tadi," gumam Enyong lirih sambil memalingkan wajahnya.


"Ada apa nduk?" tanya perempuan itu seperti mendengar sesuatu.


"Nggak ade ape-ape Mpok, hehehe." jawab Enyong sambil cengengesan.


Di tempat lain.


"Buju buneng, ntuh bocah ngapa yak, lha malah ngobrol sama ntuh emak bukannya langsung disamber aja tasnya." ucap pemuda gondrong tadi dari kejauhan melihat ke arah enyong dan perempuan paruh baya. "Jo, sepertinya Enyong butuh bantuan, gue ke sana ya Jo."


"Ya udeh sono, bantuin tuh Enyong!" perintah pemuda yang usianya lebih tua dari mereka yang bernama Paijo. pemuda tanggung tadi langsung pergi menghampiri dua perempuan yang malah sedang asyik ngobrol. Pemuda tadi menghentikan langkahnya saat melihat ada mobil polisi lewat.


"Gaswat, gue belum mau masuk penjara, kabur ajalah. Ah, tapi bagaimana dengan Enyong." pemuda itu diam, ia berfikir sejenak. Akhirnya pemuda itupun memutuskan untuk kembali bergabung dengan tiga temannya yang tadi, saat melihat mobil polisi itu malah berjalan menuju ke Bank dan berhenti pas di samping Enyong saat ini sedang berdiri.


"Kenapa lo malah balik ke sini?" kata Paijo saat pemuda gondrong sudah kembali.

__ADS_1


"Gue belum mau masuk penjara, emangnya nggak lihat ada mobil polisi." protes pemuda gondrong sambil naik di atas motornya.


__ADS_2