Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 17. Enyong nggak mau jadi pemimpin.


__ADS_3

"Marisa, maap Sa, paman baru sempat datang. Ada masalah di perusahaan paman sehingga paman tidak bisa datang saat bapakmu meninggal." ucap seorang laki-laki paruh baya dengan wajah sendu penuh penyesalan. Laki-laki itu adalah Jeffri yang baru datang dari kota.


"Nggak apa-apa Paman, perusahaan paman ada masalah apa?"


"Ada seseorang yang sudah mencuri data-data penting perusahaan, perbuatan orang itu telah membuat perusahaan yang sudah susah payah paman bangun dari nol hingga menjadi perusahaan besar seperti sekarang, dalam sekejap semuanya telah hancur, perusahaan paman mengalami kebangkrutan dalam jumlah yang cukup besar gara-gara ulah si penghianat yang nggak tahu siapa orangnya, sampai sekarang paman belum menemukan penghianat itu."


"Hah ... kurang ajar, siapa kira-kira orang yang sudah membuat perusahaan Paman jadi bangkrut? Apa Paman mencurigai seseorang? Tenang saja paman, Enyong bakal bantu Paman menyelesaikan kasus ini. Besok Enyong ikut Paman ke kota untuk mencari tahu siapa yang sudah menghianati Paman. Lihat saja Man, Enyong bakal bikin rujak tuh orang!" kata Enyong penuh percaya diri sambil mengepalkan tangannya.


"Jangan Sa, kamu nggak usah ikut campur dengan masalah ini. Biar paman dan para polisi yang menyelidiki kasus ini. Kalau kamu mau ikut Paman ke kota, ayok! Tapi nggak usah ikut menyelidiki kasus perusahaan paman. Paman nggak mau terjadi sesuatu dengan diri kamu Sa!"


"Oalah ternyata ada Jeffri toh!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengagetkan kedua orang yang sedang berbincang-bincang.


"Eh, Lek Tulus!" panggil Jeffri langsung bangun dan mengulurkan tangannya menyambut kedatangan laki-laki yang seumuran dengannya.


"Kapan kamu datang Jef?" tanya Pak De Tulus.


"Tadi pagi Lek." jawab Jeffri singkat kembali duduk di tempat semula diikuti oleh Pak De Tulus duduk di samping Jeffri.


"Pak De, nanti sore Enyong ikut Paman Jeffri ke kota ya De." Enyong langsung mengatakan niatnya untuk ikut pamannya ke kota membuat laki-laki paruh baya yang seumuran dengan almarhum Bapake juga pamannya membelalakkan mata menoleh kearah Enyong.


"Apa Nyong? Nggak boleh, mulai besok kamu harus mulai melatih ilmu kekebalan tubuh. Minggu depan kamu harus siap menjadi pemimpin menggantikan bapakmu Nyong. Tempat ini butuh pemimpin baru secepatnya," Pak De Tulus melarang Enyong ikut ke kota bersama Jeffri.


"Lek, maap bukannya aku mau ikut campur, tapi, apa itu nggak terlalu cepat Lek? Marisa masih sangat muda Lek, aku sebagai pamannya merasa keberatan jika dia harus menjadi pemimpin untuk melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu Lek!"


"Nggak bisa Jef, ini sudah menjadi kewajibannya, sesuai dengan perjanjian dan kesepakatan bersama, dia memang harus menjadi pemimpin menggantikan Rohman, kami harus melatihnya untuk bisa seperti almarhum Rohman. Itu pesan terakhir dari Rohman sebelum akhirnya ia pergi untuk selamanya Jef. Dia sampai kapanpun tidak akan pernah siap kalau tidak mau berlatih."

__ADS_1


"Tapi Marisa ...."


"Keputusan kami sudah mutlak tidak bisa dirubah lagi, dia tetap harus menjadi pemimpin menggantikan Rohman." ucap Pak De Tulus dengan suara tegas memotong ucapan Jeffri yang belum selesai berbicara.


Enyong menundukkan kepalanya, wajahnya berubah sendu saat mengingat sang bapak. "Hua ... Bapake! Enyong nggak mau jadi pemimpin, Bapake!" teriak Enyong sambil menangis. "Pak De, please De, izinkan Enyong ke kota dulu ikut Paman Jeffri, Enyong butuh waktu untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin kalian." ucap Enyong memohon. Laki-laki paruh baya yang bernama Tulus pun tidak tega melihat keadaan gadis remaja yang memang terlihat belum siap untuk menjadi pemimpin mereka, para perampok.


"Lek, biarkan Marisa ikut denganku ke kota untuk beberapa hari, benar kata Marisa Lek, dia memang butuh waktu untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin." Jeffri mencoba membujuk Pak De Tulus.


***


***


"Mas Halim, tunggu!" teriak Elyas sambil berlari mengejar laki-laki paruh baya yang hendak masuk ke dalam mobil.


"Ada apa Yas?" tanya Halim mengerutkan keningnya.


"Tumben kamu mau naik mobil, memangnya mobil kamu mana Yas?" Halim membuka pintu kemudi, ia pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Ada di bengkel." jawab Elyas singkat. "Aku nebeng sampai bengkel depan ya Mas," lanjut Elyas sambil membuka pintu samping. Ia duduk di kursi depan sebelah kiri Halim. Halim menyalakan mesin mobil, dengan hati-hati Halim menjalankan mobilnya keluar gerbang rumahnya.


"Mas Halim kemarin ngapain ke restoran seafood? Bukannya Mas Halim nggak suka makan makanan seafood?"


Deg.


"Hah ... a ... aku nggak ke sana. Kamu salah lihat paling 'lah Yas, he ...." jawab Halim gugup dengan senyum yang dipaksakan.

__ADS_1


"Ah ... masak iya aku salah lihat Mas," Elyas melirik kearah Halim.


"Mas Halim ... Mas Halim, kamu pikir bisa membohongiku. Aku tahu jika Mas Halim sedang menyembunyikan sesuatu, aku harus menyelidikinya. Sepertinya Mas Halim mempunyai rahasia." gumam Elyas dalam hati.


"Ada apa?" suara Halim mengagetkan Elyas.


"Eh ... nggak," jawab Elyas memalingkan wajahnya menghadap ke jalanan, pura-pura cuek. Halim kembali fokus mengendarai mobilnya tanpa memperdulikan Elyas. Mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.


Dert ...


Tiba-tiba ponsel Halim bergetar. "Aduh Yas, tolong ambilkan ponsel Mas dong Yas!" perintah Halim karena ia tidak mungkin mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam tas yang ia letakkan di samping kursi belakang kemudi karena ia sedang menyetir mobil.


"Ealah Mas ... mas, ponselnya kenapa ada di sana!" Elyas menoleh ke belakang, dengan membungkukkan badan, ia bangun dan melompat ke belakang untuk mengambil tas hitam milik Halim. Di rogoh nya tas hitam milik Halim, sebuah benda pipih berwarna biru berhasil ia keluarkan dari dalam tas hitam itu dan di serahkan kepada kakak kandungnya yang saat ini sedang menyetir mobil. Dengan tangan kiri Halim menerima ponselnya sedang tangan kanannya memegang setir mobil. Halim langsung mengangkat panggilan telepon dengan kedua mata menatap ke jalanan tanpa melihat layar ponsel terlebih dahulu.


"Halo!"


"📱"


"Hem ... kerja bagus, uangnya nanti siang aku transfer."


"📱"


"Ya sudah, sekarang aku sedang berada di jalan, nanti aku hubungi lagi setelah aku sampai kantor." Halim mematikan panggilan telepon dari seseorang dengan senyum mengembang.


"Ehem-ehem, sepertinya ada yang lagi seneng nih!" goda Elyas menatap Elyas yang terlihat senyum-senyum sendiri. "Mas Halim nggak selingkuh 'Kan dari Mbak Yuni? Awas kalau sampai Mas mengkhianati Mbak Yuni, aku tidak akan tinggal diam, nggak perduli meskipun Mas Halim kakak kandungku sendiri." ancam Elyas.

__ADS_1


"Astaghfirullah Yas, mana mungkin Mas selingkuh, kamu jangan ngaco, Mas sangat menyayangi Mbak Yuni. Kamu jangan sembarangan kalau ngomong."


"Yah ... siapa tahu aja, soalnya sikap Mas Halim tampak mencurigakan."


__ADS_2