Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 9.


__ADS_3

" Siapa yang sudah melakukan ini sama adik gue? Ayok katakan Jef?" Rohman Menatap tajam ke arah adik iparnya itu.


"Nggak tahu gue Man, mereka memakai baju serba hitam. Badannya gede-gede Man." Jelas Jeffri yang memang tidak mengenal siapa mereka yang sudah membuat istri tercintanya jadi seperti itu.


"Pasti mereka orang suruhan dari PT XX itu, gue yakin." gumam Rohman sambil meremas telapak tangan menahan amarahnya.


Sebenarnya aku tidak mau pulang ke kampung, aku ingin Yana melahirkan di kota saja, tapi Emak terus menelpon suruh Yana lahiran di kampung saja. Begini 'kan jadinya!" gerutu Jeffri.


"Lo nyalahin Emak gue?" balas Rohman sambil menatap tajam ke arah Jeffri.


"Bukan begitu Man," jawab Jeffri jadi merasa tidak enak.


Saat mereka sedang berdebat di ruang tunggu, tiba-tiba pintu ruang operasi di buka dari dalam. Mereka semua bangkit dari tempat duduknya dan bergegas berlari menghampiri seorang laki-laki paruh baya yang baru keluar dari dalam ruangan itu. Wajah laki-laki itu terlihat murung membuat dua pemuda itu jadi semakin khawatir.


"bagaimana dengan istri saya Dok?" tanya Jeffri dengan sopan meskipun ia begitu takut dan sangat mencemaskan keadaan sang istri dan bayinya.


"Maaf Pak, kami sudah melakukan segala cara, tetapi istri dan dua anak kembar Bapak ... tidak bisa kami selamatkan, maaf." kata laki-laki paruh baya atau dokter yang menangani Yana dengan suara pelan.


"Hah ... nggak mungkin Dok, tidak!" teriak Rohman histeris, sedangkan Jeffri hanya diam mematung sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia terlihat begitu syok, kedua matanya berkaca-kaca, ia pun menjatuhkan badannya ke lantai dengan posisi kedua kakinya ditekuk dan kedua lututnya menempel di atas lantai.

__ADS_1


"Yana ... tidak!" ucap Jeffri lirih sambil meneteskan air mata. Tidak lama terlihat sebuah brankar dorong keluar dari dalam ruangan, di susul dengan brankar dorong bayi tempat bayi kembar Tama yang juga tidak bisa di selamatkan. Mereka langsung menghampiri brankar dorong yang sedang didorong oleh dua orang perawat wanita. Rohman menyingkirkan kain yang menutupi wajah Tama, ia dapat melihat adik satu-satunya yang sudah tidak bernyawa lagi. Wajahnya terlihat begitu pucat. Jeffri pun langsung bangun, ia langsung memeluk tubuh sang istri yang sedang berbaring di atas brankar dorong itu dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi.


"Tama ... bangun sayang, jangan tinggalkan Abang Ma! Hua ... Tama, kita sudah janji bakal bersama terus sampai menua. Kamu jahat tidak menepati janji kamu!" teriak Jeffri sambil memeluk tubuh sang istri dengan begitu erat, tidak mau membiarkan istri tercintanya itu pergi meninggalkan dirinya seorang diri.


"Maaf Pak, kami harus membawa pasien dulu." kata seorang perawat wanita berusaha menyingkirkan tubuh Jeffri yang malah memeluk pasien dengan sangat erat.


"Tidak!" teriak Jeffri masih belum mau melepas pelukannya.


"Maaf Pak, almarhum harus segera di mandikan terlebih dahulu, aku tahu bagaimana perasaan Bapak, tapi kasihan almarhum akan lebih menderita kalau bapak bersikap seperti ini. Bapak yang sabar ya!" Dokter laki-laki itu berusaha membujuk Jeffri untuk melepas pelukannya.


"Jef, bener kata Dokter Jef, gue ngerti perasaan lo, tapi Yana harus segera di mandikan. Biarkan mereka melakukan tugas mereka terlebih dahulu Jef." Rohman ikut membantu menenangkan Jeffri yang terlihat begitu syok atas kepergian istrinya secara mendadak. Akhirnya Jeffri melepas pelukannya, ia berganti menatap dua bayi mungil, wajah mereka terlihat begitu pucat tampak sedang tertidur dengan pulas, tidur yang sangat panjang.


"Sayang, hiks ... ini Bapak, kenapa kalian juga meninggalkan Bapak, hua ...." Jeffri tidak sanggup lagi menatap dua bayi kembarnya yang juga sudah tidak bernyawa, ia langsung membalikkan badan, dan menangis sejadi-jadinya.


***


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, merasa apa yang para warga desa kerjakan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, mereka memilih jalan lain. Mereka mulai mencuri, dan menjarah di desa-desa lain. Ada yang nekat ke kota untuk merampok. Pembegalan, pencurian, ada di mana-mana. Pekerjaan yang tadinya hanya sampingan untuk menambah sumber penghasilan demi menyambung hidup, akhirnya pekerjaan ini menjadi pekerjaan pokok bagi warga Desa Papakan. Orang-orang mulai takut jika melewati Desa itu, mereka mulai menamai desa yang tadinya penuh kedamaian, menjadi Desa Garong. Sesekali Jeffri pulang ke Desa Garong hanya untuk mengunjungi makam sang istri tercinta dan juga dua buah hatinya yang di makamkan berdampingan dengan sang bunda.


***

__ADS_1


"Meskipun kejadian itu sudah berapa puluh tahun lamanya, tetapi bagiku kejadian itu baru kemarin Jeff." ucap Rohman yang sekarang sudah berusia hampir lima puluh tahun.


"Bapake ...." Saat mereka sedang mengenang masa lalu yang penuh kesedihan, tiba-tiba terdengar suara lirih dari Enyong membuat Pak Rohman dan Jeffri langsung menoleh kearah Enyong.


"Nyong! Kamu sudah sadar Nak? Hahaha ... akhirnya kamu sadar juga Nyong!" ucap Pak Rohman dengan tawa khas Pak Rohman menyembunyikan kesedihannya di depan anak gadisnya itu sambil menggenggam tangannya.


"Bapake nangis ya?" tanya Enyong menatap wajah Pak Rohman. Kedua mata laki-laki paruh baya itu terlihat merah menandakan kalau dirinya habis menangis.


"Mana ada Bapake nangis Nyong, gaco kamu!" Pak Rohman berbohong.


"Syukurlah Sa, kamu akhirnya sadar juga," kata Jeffri yang suka memanggil Enyong dengan nama Enyong yang sebenarnya yaitu Marisa.


"Paman, kaman paman datang?" tanya Enyong dengan suara lemah sambil menatap Jeffri.


"Kemarin sore Sa. Untung lo cepet sadar Sa, tuh lihat bapak lo, matanya ampe bengkak gitu gara-gara lo nggak sadar-sadar Sa!"


"Tuh kan bener, Bapake habis nangis, Bapake ternyata bisa nangis juga toh! Hehehe ...." Enyong malah menertawakan bapaknya sendiri.


"Eh ... bocah, Bapake takut kamu kenapa-kenapa monyong!" bentak Pak Rohman pura-pura marah.

__ADS_1


"Aduh!"


"Kenapa Nyong? apa yang sakit Nak? tanya Pak Rohman penuh kekhawatiran saat mendengar Enyong mengaduh kesakitan.


__ADS_2