Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab. 3.


__ADS_3

"Walah si kutu kupret, kurang asem dia, ternyata kita ditipu Son!" Enyong tampak marah sambil menendang sebuah kaleng bekas minuman.


Tuing ... Enyong menendang kaleng bekas itu ke sembarang arah.


Klontang.


Terdengar suara kaleng bekas yang ditendang Enyong. "Woy, siapa yang berani nimpuk gue!"


"Waduh Son," Enyong langsung lari menghampiri Sony dan dengan gerakan cepat ia naik ke atas motor milik sahabatnya itu. "Cepetan Son, kita mesti kabur! Lihat, ntu 'kan orang yang kemarin," Enyong menunjuk ke arah seorang laki-laki berbadan besar dengan wajah sangar sedang memegangi kepalanya yang terkena kaleng bekas.


"Waduh iya, itu musuh bebuyutan Abah." Sony segera menyalakan mesin motor dan bergegas menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


"Woy ... dasar bocah songong lo!" teriak laki-laki tadi sambil mengepalkan tangannya. " Hem, ternyata anak gadisnya Rohman toh, gue yakin itu Anak gadisnya Rohman. Awas saja lo, sekarang lo bisa lolos dari gue, tapi suatu saat nanti gue pastikan lo nggak bakal lolos dari cengkeraman tangan gue, gue bakal paksa lo jadi bini gue, hahahaha ... " gumam laki-laki itu yang sudah sangat mengenal Enyong hanya melihat dari punggungnya saja.


Ngoeeeng ...


Motor yang di kendarai Sony melesat dengan cepat menerobos jalanan kota yang tampak sepi dengan kendaraan, sehingga ia dapat dengan leluasa mengendarai motornya. " Son, berhenti dulu." ucap Enyong sambil menepuk pundak Sony.


Siiiit.


"Duh Gusti, Sony monyong lo! Hampir saja gue jatuh," omel Enyong langsung turun dari atas motor.


"Hehehe ... 'kan lo yang suruh berhenti, ya gue berhenti 'lah!" jawab Sony sambil terkekeh.

__ADS_1


"Gue lapar Son, tadi belum sempat sarapan. Cari makan dulu yok!" ajak Enyong sambil mengusap perutnya yang sudah keroncongan dari tadi.


***


Pada hari yang sama di tempat lain.


"Maaf Pak, identitas dari para gerombolan perampok waktu itu sudah kami dapatkan, Pak Rudi meminta kita untuk datang ke kantor sekarang." ucap seorang laki-laki paruh baya memakai seragam kepolisian kepada seorang laki-laki yang terlihat lebih muda darinya.


"Oke, ayok kita ke sana sekarang!" Mereka pun pergi meninggalkan tempat kejadian di mana satu jam yang lalu terjadi kasus penjambretan terhadap seorang perempuan muda yang kehilangan uang dalam jumlah yang cukup banyak, perempuan itu pun di ajak ke kantor untuk dimintai keterangan tentang kejadian yang menimpanya.


Sesampainya di kantor polisi, mereka langsung membahas soal kelompok perampok yang sudah sangat meresahkan. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ternyata kelompok perampok itu berasal dari sebuah desa terpencil di daerah pegunungan yang sangat terkenal dengan kehebatan para warganya yang tidak mempan terhadap senjata. Selain itu mereka juga memiliki ilmu yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak saat para polisi sudah berhasil mengepungnya, membuat para polisi itu dibikin heran.

__ADS_1


"Jika kalian sudah tahu tempatnya, kenapa kita tidak langsung datang ke tempat persembunyian mereka saja? Apa yang membuat kalian tidak mau melakukan itu?" tanya laki-laki tadi yang ternyata adalah pimpinan mereka yang baru di datangkan dari kota untuk menangani kasus perampokan yang sering terjadi di daerah itu. Seorang polisi yang usianya masih sangat muda. Namum, beliau sudah menjadi seorang polisi dengan pangkat letnan.


__ADS_2