Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 5.


__ADS_3

"Berhenti Pak!" perintah Istri juragan kopi itu lagi karena suaminya itu masih belum mau menghentikan laju mobilnya.


"Ah biarkan saja, paling mau minta sedekah." jawab Juragan kopi cuek. Namun, akhirnya iapun menghentikan laju mobilnya karena sang istri terus menyuruhnya berhenti.


"Permisi Pak, maaf saya mau numpang tanya sebentar. jalan menuju desa Balongan sebelah mana ya Pak?" tanya laki-laki paruh baya memakai peci warna hitam dan stelan baju serba hitam setelah mobil pick up milik juragan kopi itu berhenti.


"Oalah ... Bapak mau pergi ke desa Balongan? Waduh Pak, Bapak salah jalan." kata Istri dari juragan kopi. "Desa Balongan ada di sebelah sana, kalau arah sini menuju desa Kali Urip. ( Nama desa, Othor cuma ngarang saja ya gaes, sekali lagi cuma halu dari Othor kalau nama desa itu ada di dunia nyata cuma kebetulan saja.)


"Oalah kalau begitu, saya nyasar ini!" kata laki-laki paruh baya itu nampak kebingungan. "Yo wes matursuwun Bu, Pak!" ucap laki-laki paruh baya itu dengan sopan sambil membungkukkan badan.

__ADS_1


"Maaf, lebih baik Bapak cepetan pergi dari sini karena tempat ini berbahaya untuk orang seperti bapak. Kami harus melanjutkan perjalanan takut kemalaman, soalnya tempat ini rawan sering terjadi pembegalan, Bapak hati-hati ya Pak, semoga para begal itu tidak datang ke sini." kata Istri juragan kopi berbicara dengan suara lembut.


" Ah sudahlah biarkan saja dia mau kemana, siapa juga mau membegal dia, punya apa dia emangnya, pakaiannya saja seperti itu, heh." kata Juragan kopi sambil tersenyum sinis ke arah laki-laki paruh baya itu.


"Pakne, jangan bicara seperti itu toh!" ucap Istri juragan kopi tidak suka dengan sikap suaminya yang terdengar sombong.


"Kenapa si Bu, ya nyatanya memang begitu 'kan? Ah sudahlah buang-buang waktu saja," balas Juragan kopi. "Let!" panggil Juragan kopi kepada seorang pemuda yang lebih memilih duduk di belakang mobil yang sangat luas daripada duduk didalam mobil yang sempit.


"Sini gantiin Pak De Let!" perintah Juragan kopi sambil membuka pintu kemudi, ia pun keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


"Oh inggih Pak De." Yuliet segera turun dari atas mobil pick up dan setengah berlari ke pintu kemudi untuk menggantikan Juragan kopi mengendarai mobil pick up nya, sedangkan juragan kopi itu sendiri berjalan memutar menuju pintu samping. Beliau langsung masuk ke dalam setelah membuka pintu mobil tanpa menoleh ke arah laki-laki paruh baya yang masih berdiri di samping mobil pick up nya.


"Huh ... dasar kepala plontos, sombong sekali kau! Kita lihat saja setelah ini apakah kamu masih bisa bersikap sombong seperti itu, heh." gumam laki-laki paruh baya itu sambil menyeringai sinis. Bibirnya sedikit melengkung ke atas dengan kedua mata berseri-seri bukan karena bahagia namun, penuh kebencian menatap ke arah juragan kopi yang terlihat begitu sombong dan angkuh melewati dirinya saat ini sedang berdiri.


" Maaf Pak, kita tinggal dulu ya Pak." ucap Istri dari juragan kopi sambil tersenyum ramah kepada laki-laki paruh baya itu.


"Inggih Bu mboten nopo-nopo." jawab laki-laki paruh baya itu sambil membungkukkan badan.


"Haduh Ibu ngapain sih bersikap baik ke orang itu. Let, cepat jalankan mobilnya!" perintah Juragan kopi kepada Yuliet yang sudah duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


"Siap Pak De!" Pemuda yang bernama Yuliet langsung menjalankan mobil pick up milik juragan kopi meninggalkan laki-laki paruh baya yang terlihat lusuh masih berada di tempat semula.


__ADS_2