Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 14.


__ADS_3

Tepat pukul dua belas malam, rombongan yang entah dari desa mana sudah memasuki pintu masuk Desa Garong. "Sepi sekali desa ini, benar-benar seperti desa mati yang tidak ada penghuninya." bisik seorang laki-laki jadi merinding saat memasuki Desa Garong. Mereka sama sekali tidak mengira kalau seluruh warga dari Desa Garong sedang bersembunyi mengintai mereka yang tampak yakin bakal menaklukkan desa tersebut.


"Berhenti!" teriak laki-laki paruh baya berwajah sangar memerintah seluruh anak buahnya untuk menghentikan langkah mereka.


"Ada apa Bos?" tanya salah satu dari anak buah laki-laki paruh baya itu.


"Sepertinya kedatangan kita telah disambut. Dugaan kita keliru, mereka sama sekali tidak tertidur." ucap laki-laki paruh baya itu setengah berbisik.


"Hah ... darimana Daddy tahu jika mereka tidak tidur? Desa ini tampak sepi, mereka saat ini pasti sedang tertidur dengan begitu pulas." balas seorang pemuda remaja yang seumuran dengan Enyong. Pemuda itu adalah anak dari laki-laki paruh baya berwajah sangar.


"Hai Rohman ... keluar lo! Gue tahu jika saat ini lo sedang bersembunyi bersama anak buah lo!" teriak laki-laki paruh baya berwajah sangar itu dengan suara keras.


"Hahaha ...." Terdengar suara tawa menggelar namun tidak terlihat orangnya membuat para anak buah dari laki-laki berwajah sangar itu jadi bergidik ngeri.


"Hah ...." Mereka berjingkrak karena kaget saat melihat beberapa laki-laki paruh baya tiba-tiba nongol di depan mereka dengan memakai baju serba hitam.


"Hahaha ... aku akui, kamu memang hebat Marwoto. Namun, sayang ... kamu sungguh licik dan pengecut, cuih." ucap Pak Rohman memuji juga mengejek sambil tersenyum sinis.


"Sombong lo Rohman." balasnya laki-laki paruh baya berwajah sangar yang ternyata bernama Marwoto.


Blus ...

__ADS_1


Terlihat cahaya merah keluar dari tangan Marwoto. Serangan mendadak dari Marwoto, langsung kearah Pak Rohman membuat Pak Rohman yang belum siap, hampir saja terkena cahaya merah itu. Untung saja Pak De Tulus langsung menepis serangan mendadak dari Marwoto sehingga tidak mengenai tubuh Pak Rohman.


"Dasar bedebah, sungguh licik!" teriak Pak Rohman merasa geram dengan sikap Marwoto yang selalu menggunakan cara licik. "Kamu dari dulu tidak pernah berubah Woto, selalu saja menggunakan cara memalukan seperti itu, menyerang lawan dari belakang. Bertarung 'lah secara jantan Woto, jangan jadi orang pengecut!"


"Haaa ... perse**tan dengan semua itu." Marwoto yang sudah dikuasai dengan amarah langsung menyerang Pak Rohman dengan membabi buta diikuti oleh seluruh anak buahnya yang juga ikut menyerang anak buah Pak Rohman yang baru datang semenit yang lalu ketika mendengar suara menggelegar dari kilatan cahaya warna merah milik Marwoto yang berhasil ditepis oleh Pak De Tulus, suaranya sangat keras seperti sebuah petasan menghantam sebuah pohon hingga ambruk membuat seluruh anak buah Pak Rohman yang sedang bersembunyi langsung keluar dari persembunyiannya.


"Lo lebih baik tetap disini saja Nyong, kakimu belum sembuh betul Nyong!" perintah Sony tidak Enyong kenapa-kenapa.


"Awas minggir, gue harus bantu Bapake." Enyong mendorong tubuh Sony dengan kasar, lalu dengan sekuat tenaga ia berlari ikut menghajar para gerombolan yang ternyata musuh bebuyutan dari Pak Rohman.


Pertarungan sengit antara dua kelompok yang sama-sama memiliki ilmu tenaga dalam dan ilmu dunia gaib. Pak Rohman maupun Marwoto yang sama-sama memiliki ilmu itu saling beradu kesakitan. "Lo harus membayar semuanya Rohman, gue bakal balas sakit hati Mbak Sarinah malam ini juga. Lo harus mati malam ini juga!" teriak Marwoto sambil mengeluarkan semua ilmunya untuk melumpuhkan Pak Rohman.


"Penjahat mana mau mengakui kejahatannya, lo nggak usah membela diri, karena sampai kapanpun gue nggak akan percaya dengan ucapan mu itu Rohman!" bentak Marwoto sambil melayangkan pukulan keras ke dada Rohman hingga membuat tubuh Pak Rohman terpental cukup jauh.


"Uhuk ...." Darah segar keluar dari mulut Pak Rohman akibat pukulan yang begitu keras dari Marwoto.


"Bapake!" teriak Enyong langsung berlari menghajar Marwoto saat melihat laki-laki paruh baya berwajah sangar itu hendak melayangkan pukulan lagi kearah Pak Rohman yang sudah tidak berdaya.


Bug ... bug ... Dengan sekuat tenaga, Enyong memukul dada Marwoto, namun, laki-laki paruh baya itu terlihat biasa saja sambil tersenyum sinis menatap Enyong. "Hahaha ... pukulan mu membuatku geli," Marwoto yang memiliki badan besar dan kekar langsung mencengkeram erat tangan Enyong dan melintir tangan gadis remaja itu ke belakang hingga menempel punggung.


"Aaaa ...." teriak Enyong kesakitan tangannya di pelintir dan ditekuk dibelakang punggungnya oleh laki-laki paruh baya berwajah sangar.

__ADS_1


"Huhuhu ... ternyata anak gadismu cantik juga Rohman, kayaknya enak nih buat makan malam, lumayan, gue jadi pingin merasakan hangatnya tubuh bocah ini, hem ... pasti menyenangkan." ucap Marwoto menyeringai lebar sambil mendekap erat tubuh Enyong yang sudah tidak berdaya.


"Hey ... Marwoto! Lepasin dia!" teriak Pak Rohman dengan wajah berubah merah. Amarahnya langsung keluar saat melihat anak kesayangan disakiti. Pak Rohman yang saat ini sudah kembali berdiri terus berpikir untuk menemukan cara agar Enyong bisa terlepas dari tangan Marwoto.


"Hay, bandot tua! Lepasin gue, dasar bandot tua!" teriak Enyong berusaha melepaskan diri dari dekapan Marwoto. "Ah ...." Enyong meringis kesakitan karena Marwoto semakin mengeratkan pelukannya.


"Diam, bocah! Semakin lo memberontak, maka akan semakin lo kesakitan, karena gue akan semakin mengeratkan pelukan gue!" bentak Marwoto.


Bug ...


Sebuah tendangan cukup keras mengenai punggung Marwoto saat mereka sedang berdebat membuat tubuh Marwoto oleng. Enyong langsung mengambil kesempatan, dengan sekuat tenaga ia melepas tangan Marwoto dan berganti melintir tangan laki-laki berbadan besar dan kekar itu.


"Sit ... sialan, dasar bocah ingusan!" gerutu Marwoto, sementara Enyong yang sudah terlepas dari cengkeraman tangan laki-laki itu langsung lari menghampiri Bapaknya yang saat ini terlihat tidak baik-baik saja.


"Bapake, Bapake tidak apa-apa? Apanya yang sakit Pak?" tanya Enyong sangat mengkhawatirkan keadaan Pak Rohman. Enyong menoleh kearah Marwoto, ternyata sedang berkelahi dengan Pak De Tulus. Ternyata Pak De Tulus 'lah yang tadi menendang punggung Marwoto dari belakang hingga tubuh Marwoto yang besar itu oleng.


"Nyong, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini Nak, lawan kita bukan orang sembarangan. Dia memiliki ilmu melebihi Bapak dan Pak De Tulus juga yang lainnya." Pak Rohman mendorong tubuh Enyong agar segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Nggak, Enyong nggak mau ninggalin Bapake, Enyong tidak takut dengan bandot tua itu!" tolak Enyong.


"Nyong! bentak Pak Rohman. " Son ... cepat bawa Enyong pergi dari sini!" teriak Pak Rohman memanggil pemuda yang sedang bertarung melawan anak buah Marwoto yang begitu bengis.

__ADS_1


__ADS_2