
"Hahaha ... ternyata ilmu sirep yang kita kirimkan ke desa itu bekerja dengan baik, selamat mimpi indah wahai warga desa Garong." kata seorang laki-laki paruh baya terlihat sangat bahagia ketika mendapat laporan dari anak buahnya tentang keadaan desa Garong yang terlihat sepi, tidak ada satu orangpun terlihat diluar rumah atau di jalanan.
"Hahaha ...." Mereka kembali tertawa.
"Apakah kita sudah boleh bergerak sekarang Bos?" ucap salah satu anak buah dari laki-laki paruh baya berwajah sangar yang merupakan pimpinannya.
"Ya, segera meluncur ke TKP, gasak semua harta benda mereka tanpa ada yang tersisa. Mumpung mereka semua sedang menikmati mimpi indah mereka, bila perlu culik ketua mereka yang juga sedang bermimpi indah, kita buat mimpi indah mereka berubah menjadi mimpi buruk!" perintah laki-laki paruh baya dengan kedua mata penuh dendam. "Hah ... Rohman, lo sudah tidak bisa sombong lagi sekarang. Heh, gue sudah tidak sabar pingin buat lo jadi bergedel, tetapi sebelum itu, gue pingin lihat lo hidup menderita dulu. Anak gadis lo bakal gue rusak agar lo merasakan bagaimana rasanya melihat orang yang lo sayang menderita, seperti lo yang sudah membuat mbak gue hidup menderita, gara-gara lo gue harus kehilangan Mbak Sarinah, wanita yang sudah merawat dan membesarkan gue. Kini saatnya lo harus membayar semuanya. Mbak Sarinah, sebentar lagi gue bakal balas si baji**ngan Rohman." Gumam laki-laki paruh baya itu dengan kedua mata berkaca-kaca mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. ( Kira-kira ada dendam apa ya? Laki-laki paruh baya itu dengan Pak Rohman?)
***
"Bagaimana Nyong? Kamu sudah beritahu Pak De Tulus?"
"Sudah Bapake, Pak De Tulus dan bapak-bapak yang lain saat ini sedang siaga berkumpul di rumahnya Paijo, Sony beserta kawan-kawannya sudah berada di pintu masuk desa Garong." jelas Enyong.
"Bagus, hem ... Bapake punya firasat, kalau mereka saat ini sedang bergerak menuju ke desa ini. Nyong!" Tiba-tiba wajah Pak Rohman terlihat sendu.
"Ada apa Bapake?"
"Seandainya terjadi sesuatu dengan Bapake nanti, kamu harus tetap kuat ya Nyong, jangan terlalu lama bersedih, kamu harus tetap tegar, tidak boleh cengeng. Pak De Tulus dan Paijo nanti yang akan mengajarimu untuk menyempurnakan ilmu kekebalan tubuh yang belum kamu kuasai semuanya. Bapake sudah bicara kemarin ke mereka berdua."
"Buat apa Enyong belajar ilmu itu Pak? Enyong nggak sanggup dengan pantangan dan syarat-syaratnya. Enyong rasa nggak perlu ilmu kekebalan tubuh selama ada Bapake."
__ADS_1
"Nyong! Dasar bocah keras kepala, kamu harus belajar ilmu itu, karena Bapake nggak selamanya bisa melindungi kamu! Kamu harus bisa melindungi diri kamu sendiri, jangan mengandalkan orang lain, termasuk Bapake yang bisa pergi kapan saja." bentak Pak Rohman mulai emosi. "
"Bapake ngomong apa sih!" teriak Enyong tidak suka dengan ucapan bapaknya yang seakan-akan mau pergi jauh meninggalkan dirinya.
"Bapake nggak bisa terus melindungi kamu Nyong, Usia Bapake sudah semakin tua."
"Ah ... jangan ngomong kayak gitu napa Pak, omongan Bapake kayak orang mau mati saja," Enyong membalikkan badannya tidak terlalu menggubris perkataan dari sang bapak yang menurut Enyong tidak penting.
"Nyong." panggil Pak Rohman lirih, tetapi tidak di dengar oleh Enyong yang sudah ngacir masuk ke dalam kamar untuk mandi dan mengganti pakaiannya, karena dari sore tadi Enyong belum mandi setelah seharian bepergian bersama Sony.
"Huh ... Marisa, maapin Bapake Nak. Sebenarnya bapak nggak mau kamu jadi seperti Bapak, bapak ingin kamu hidup normal layaknya seperti anak-anak yang lain, tetapi mau bagaimana lagi, inilah hidup kita. Disini, siapa yang kuat, dia yang menang. Kamu harus menjadi wanita kuat agar tidak di lecehkan dan ditindas oleh orang lain." gumam Pak Rohman lirih sambil menatap punggung Enyong yang sudah menjauh darinya.
Sedangkan ditempat lain terlihat Sony dan kawan-kawan bersembunyi sambil mengawasi tempat itu dari atas pohon. "Hah ... lihat Son, sepertinya ada sekelompok orang sedang menuju kesini." bisik salah satu teman Sony yang juga sedang berada di atas pohon bersamanya. Dari atas pohon mereka dapat melihat cahaya terang dan suara berisik motor sedang berjalan kearah desa.
"Nyong, cepat kamu kumpulkan teman-teman kamu, kalian jangan bergerak sebelum ada perintah dari bapake atau Pak De Tulus."
"Siap Bapake!"
"Nyong!" panggil Pak Rohman saat Enyong hendak pergi.
Enyong membalikkan badannya menatap sang bapak. "Apa Pak?"
__ADS_1
Pak Rohman berjalan menghampiri Enyong, melepas gelang terbuat dari benang wol berwarna hitam, merah dari pergelangan tangannya dan memakaikan ke tangan Enyong. "Pakailah ini, jangan pernah kamu lepas di manapun kamu berada Nyong." pesan Pak Rohman sambil memakaikan gelang miliknya ke tangan Enyong, putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi.
"Ini bukannya gelang keberuntungan Bapake? Kenapa Bapake lepas, kok malah dikasih ke Enyong Pak?"
"Nyong, kamu adalah penerus Bapake, Bapake ingin kamu kelak menjadi wanita tangguh, kuat, tidak takut dengan siapapun, jadilah pemimpin para Garong yang sangat di hormati dan ditakuti oleh semua orang."
"Bapake mulai lagi deh, ngomongnya ngelantur kemana-mana. Ah ... sudahlah Enyong cabut, nggak ada yang boleh ambil Bapake, pokoknya Bapake nggak boleh pergi ninggalin Enyong. Kita bakal terus barengan, kalau misalnya harus mati, mati bareng." ucap Enyong dengan tegas setelah itu dia langsung berlari keluar rumah meninggalkan Pak Rohman yang masih diam menatap kepergiannya.
"Enyong." panggil Pak Rohman, wajahnya terlihat sendu. "Para bedebah itu harus dikasih pelajaran, beraninya mereka mengusik ketentraman desa Garong. Mereka harus membayar semua ini." gumam Pak Rohman lirih dengan wajah yang sudah berubah merah penuh amarah.
Brem ... brem ... ngoeeeng ....( bunyi motor) Hanya membutuhkan beberapa menit saja, Enyong sudah sampai ditempat kawan-kawannya tengah berkumpul. "Sorry bro, gue agak lama! Apa semuanya sudah kumpul?"
"Sudah Nyong, kita nunggu perintah dari ketua. Dimana ketua Nyong?" tanya seorang laki-laki terlihat lebih dewasa dari Enyong menghampiri Enyong yang baru sampai.
"Bapake tadi lagi siap-siap, bentar lagi juga sampai sini." jelas Enyong turun dari motornya. Ia berjalan menghampiri laki-laki dewasa yang sedang berdiri bersama pemuda-pemuda yang lain.
"Jo, Bapake kemarin emangnya pesan apa sama lo Jo?" bisik Enyong lirih setelah berada disampingnya. Sudah menjadi kebiasaan Enyong memanggil nama Paijo dengan namanya saja, padahal usia mereka berbeda jauh. Usia Paijo 13 tahun lebih tua dari Enyong.
"Pesan?" Paijo mengerutkan keningnya merasa bingung.
"Bapake dari tadi tampak aneh, seperti menyembunyikan sesuatu dari gue, gue sebel sama Bapake."
__ADS_1
"Hem ...." Paijo menatap lekat Enyong yang tampak gelisah. "Sudahlah Nyong, lo harus percaya sama Bapak lo," ucap Paijo sambil tersenyum manis menepuk pundak Enyong. Berusaha menghilangkan kegelisahan gadis remaja yang masih labil itu.