
"Waduh Pak De, kita dalam masalah, lihatlah di sana," ucap Yuliet memelankan laju mobilnya karena di depannya terlihat segerombolan pemuda sedang berjalan tanpa rasa takut mendekati mobil pick up yang ia bawa.
"Mau apa mereka?" tanya Juragan kopi merasa geram dengan gerombolan pemuda yang menghadang laju mobilnya. Juragan kopi langsung menyembunyikan tas kecil miliknya yang berisi uang hasil penjualan kopinya di bawah kursi yang ia duduki bersama sang istri.
"Let, mundur Let! Kita putar balik, sepertinya mereka anak-anak berandalan hendak bersikap tidak baik. Jangan-jangan mereka para begal."
"Waduh ... nggak bisa Pak De, lihatlah di belakang!" Yuliet menyuruh juragan kopi melihat ke belakang.
"Hah ... Siapa lagi mereka? Kurang ajar! Mati lah kita," ucap Juragan kopi nampak marah sambil memukul kursi yang ia duduki saat melihat di belakangnya juga ada segerombolan laki-laki memakai baju serba hitam, mereka terlihat lebih tua berbeda dengan orang-orang yang ada di depannya yang terlihat masih ABG.
"Waduh Pak, piye iki Pak? Cepat telpon polisi Pak!" perintah Istri tuan tanah dengan suara bergetar karena takut.
"Oh iya Bu, Bapak hampir lupa," Juragan kopi itu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya yang ia simpan di dalam kantong celananya itu. Cepat-cepat beliau menelpon nomor sahabatnya, yaitu seorang polisi di daerah itu. Baru selesai menelpon sahabatnya untuk meminta bantuan, terdengar suara gebrakan dari luar.
Brak ... brak ...
"Keluar woy!" bentak seorang gadis remaja dengan rambut di ikat satu, berpenampilan acak-acakan memakai celana jeans panjang sobek-sobek bagian lututnya sambil memukul bagian depan mobil menggunakan telapak tangannya. Wanita itu adalah Enyong, ia di tugaskan oleh Pak Rohman, sang bapak dari Enyong sendiri untuk memimpin teman-temannya yang juga masih seumuran dengan Enyong, sedangkan di belakang mobil ada Sony dan teman-temannya, para garong senior dari Desa Garong . Pak Rohman sengaja membagi anak buahnya menjadi dua kelompok. Kelompok Enyong terdiri dari para pemuda tanggung sedangkan kelompok Sony terdiri dari para senior yang sudah berpengalaman.
Suara Enyong yang begitu lantang di sertai suara keras dari depan mobil karena Enyong tadi menggebrak nya dengan sangat kuat membuat ketiga orang yang ada di dalam mobil tersentak kaget, juragan kopi itu sampai kencing di celananya. Tidak banyak bicara, kawan-kawan Enyong langsung membuka pintu mobil pick up milik juragan kopi itu dengan paksa dan menarik tubuh juragan kopi agar keluar dari dalam mobil, dari pintu samping terlihat seorang pemuda tanggung juga menarik tangan Yuliet dan mendorongnya dengan kasar agar menyingkir dari dalam mobil.
__ADS_1
"Kamu Emak ... keluar sendiri atau kami paksa keluar seperti mereka berdua!" bentak seorang pemuda tanggung menatap tajam kearah istri juragan kopi.
"I ... iya Nak, jangan sakiti Ibu," Kata Istri juragan kopi dengan suara putus-putus, tubuhnya bergetar dengan hebat karena takut. Beliau keluar dari dalam mobil dengan jantung berdegup kencang, badannya bergetar hebat. Saat baru melangkah keluar tiba-tiba ...."
Brug ...
Perempuan paruh baya itu langsung jatuh ke tanah. Beliau pingsan sangking takutnya.
"Bu!" teriak Juragan kopi langsung menghampiri istrinya diikuti oleh Yuliet. Mereka mengangkat tubuh perempuan paruh baya itu.
Para pemuda-pemudi tadi terlihat cuek tidak memperdulikan perempuan paruh baya, istri dari juragan kopi itu. Mereka mengacak-acak apa yang ada di dalam mobil.
"Duwit apaan?" Juragan kopi itu pura-pura tidak tahu sambil melirik ke arah kursi yang di duduknya tadi. Dalam hati ia merasa lega karena para begal itu tidak melihat tasnya yang ia sembunyikan di bawah kursi.
"Hem ...." Enyong tersenyum tipis sambil mengikuti arah kedua mata dari juragan kopi yang sempat tertangkap oleh Enyong sedang melirik ke bawah kursi yang ada di samping kursi kemudi. Enyong merogoh bawah kursi dan ...."
"Jangan ... jangan ambil tas itu, aku mohon," teriak Juragan kopi melepas tubuh istrinya dan berlari menghampiri Enyong. Ia tidak mengira kalau gadis remaja itu ternyata bisa menemukan tas miliknya yang sudah ia sembunyikan. Namun, sebelum juragan kopi itu sampai ke tempat Enyong, para pemuda tanggung teman-teman Enyong langsung menahannya.
"Lepaskan, dasar anak-anak nakal," teriak Juragan kopi itu lagi sambil berusaha melepas cengkraman tangan dari para pemuda tanggung yang penampilannya sudah seperti berandalan. Terlihat bibi dan hidung dari mereka di tindik memakai anting berbentuk seperti cincin. Sebagian ada yang memakai jaket, sebagian ada yang hanya memakai celana jeans panjang sobek-sobek dan kaos oblong saja dengan bagian lengan di kelinting sampai lengan atas.
__ADS_1
"Aduh Rif, kok kamu lama banget sih!" gumam Juragan kopi tampak gelisah menunggu kedatangan teman lamanya, yaitu seorang polisi yang sudah cukup lama bertugas di daerah itu.
Enyong dan kawan-kawan tertawa terbahak-bahak setelah melihat isi dari tas milik juragan kopi. " Bravo ... aje gile, kita bisa libur selama satu tahun gaes, hahahaha!" teriak Enyong sambil tertawa terbahak-bahak di ikuti oleh temannya yang lain.
"Ayok cepetan pergi dari sini, lihat ... sepertinya aksi kita di ketahui oleh polisi!" teriak Sony yang sudah berada di samping mereka bersama dengan kelompoknya, para garong senior yang sudah sangat handal sambil menunjuk ke arah beberapa orang berpakaian lengkap kepolisian dengan tangan mereka masing-masing memegang sebuah pistol. Tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah di kepung oleh beberapa polisi.
"HAI ... KALIAN SEBAIKNYA MENYERAH KARENA KALIAN SUDAH DI KEPUNG! Mereka dapat mendengar teriakkan dari seseorang tidak jauh dari keberadaan mereka saat ini.
"Sst ... sial, ini pasti kerjaan lo 'kan, dasar kepala plontos!" gerutu Enyong tidak ada sopan-sopannya sama sekali kepada orang yang lebih tua darinya sambil menarik kerah kemeja yang dipakai oleh juragan kopi itu. Para polisi itu sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat kejadian, mereka berlari dengan begitu hati-hati tanpa menimbulkan suara agar tidak di sadari keberadaannya oleh para garong.
"Hahaha kalian sungguh bodoh ternyata!" ejek Juragan kopi sambil tersenyum sinis menatap Enyong yang saat ini sedang mencengkeram erat kerah kemejanya.
"Dasar tua bangka kepala plontos." ucap Enyong sambil melepas kerah kemeja juragan kopi dengan kasar.
"Wes, nggak usah panik, itu urusan Abah dan bapak-bapak kalian, cepetan kalian pergi sono!" perintah Pak Rohman yang tahu-tahu ada di tengah-tengah mereka yang tampak panik. Terlihat para laki-laki seumuran dengan Pak Rohman yang juga memakai baju serba hitam berdiri dengan gagah, siap menghadapi para anggota polisi yang jumlahnya ternyata cukup banyak. Tidak ada rasa takut sama sekali di wajah mereka.
"Hah ... kamu laki-laki tadi 'kan?" Juragan kopi membelalakkan matanya merasa terkejut saat melihat seorang laki-laki berpakaian lusuh serba hitam yang tadi sempat menghadangnya untuk bertanya.
"Halo Pak, senang bertemu lagi," sapa Pak Rohman sambil menyeringai menatap juragan kopi dengan tatapan yang menakutkan.
__ADS_1