Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab. 4.


__ADS_3

"Sasaran kita kali ini adalah Juragan kopi dari desa Balongan, ( nama desa tidak ada di dunia nyata ya gaes, itu hanya khayalan si penulis. Kalaupun ada ya kebetulan saja.) Menurut informasi yang gue dapat dari si Tohar, pagi ini dia sedang dalam perjalanan menuju ke kota membawa satu ton kopi untuk dijual, dia cuma ditemani oleh istri dan satu pekerjanya saja. Diperkirakan sore harinya Juragan kopi itu baru balik. Sorenya saat kembali, kita hadang mereka di perbatasan. Bagaimana? Apa kalian siap?" Pak Rohman dengan tegas berbicara dengan semua anak buahnya.


"Siap Beh!" jawab mereka semua serempak. Pak Rohman berjalan mendekati anak buahnya.


"Bagus!" ucap Pak Rohman menepuk pundak mereka satu persatu.


"Enyong! Kamu dan teman-temanmu nanti menghadang dari arah barat, takutnya dia nanti lewat sana, dari arah selatan sudah ada si Tohar dan kawan-kawan, mereka sengaja Babe suruh ke sana duluan untuk mengawasi aktivitas di tempat itu. Babe nanti akan berpura-pura bertanya karena tersesat jalan, nah ... saat Juragan kopi itu menghentikan mobilnya, kalian harus segera beraksi. Ambil semua uang hasil penjualan kopi milik juragan itu!" Perintah Pak Rohman.


"Baik Beh!" Jawab mereka lagi tampak bersemangat.


"Ya sudah, kalian bersiap-siaplah. Bawa senjata kalian untuk berjaga-jaga karena kata si Tohar tempat itu sekarang dijaga ketat oleh para polisi dari kota.


"Siap Beh!"

__ADS_1


Mereka semua bubar setelah mendapat perintah dari Pak Rohman yang merupakan pimpinan mereka. Enyong dan kawan-kawannya yang semuanya adalah pemuda-pemuda tanggung penerus para garong di masa depan terlihat begitu semangat mengganti pakaian dan menyiapkan senjata yang mereka punya. Mereka berkumpul di rumah Pak Rohman kembali saat hari sudah mulai sore. Atas perintah Pak Rohman mereka di suruh berangkat terlebih dahulu untuk menghadang mobil pemilik juragan kopi.


"Bapake, Enyong berangkat dulu ya Pak!" pamit Enyong karena sudah ditunggu oleh teman-temannya di tempat biasa mereka mangkal.


"Ya sudah sono, ingat Nyong, jangan melakukan apapun sebelum ada perintah dari Bapak. Pokoknya tunggu Bapak datang!" perintah Pak Rohman.


"Iya Bapake, siip!" teriak Enyong sambil naik ke atas motor.


Mbrem ... mbrem ...


Enyong langsung menjalankan motornya dengan kecepatan penuh untuk bergabung dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di pangkalan.


***

__ADS_1


Sementara di tempat lain terlihat seorang laki-laki paruh baya berkepala plontos terlihat santai mengendarai mobil pick up nya setelah berhasil menjual semua kopinya sebanyak 1 ton kepada bos besar yang biasa menampung kopi para petani kopi.


"Let! tolong gantikan Pakde bawa mobil, sepertinya Pakde kamu sudah sangat kelelahan." kata seorang perempuan paruh baya yang duduk di samping kursi kemudi menemani sang suami yang sedang mengemudikan mobil, perempuan paruh baya itu adalah istri dari juragan kopi, beliau ikut suaminya itu ke kota.


"Sudah nggak apa-apa, aku belum lelah. Nanti kalau kita sudah masuk ke perbatasan baru Yuliet yang membawa mobil." kata Juragan kopi itu yang masih menyetir mobil belum mau beristirahat.


Juragan kopi itu dengan kecepatan sedang dan hati-hati menjalankan mobil pick up nya melewati jalan aspal. "Pak, kok lewat jalur ini?" tanya sang Istri terlihat panik.


"Memangnya kenapa Bu?" tanya balik Juragan kopi penasaran.


"Kata Ibu-ibu pengajian, tempat ini banyak terjadi perampokan. Ibu takut mereka bakal datang untuk merampok kita Pak!" jelas sang Istri yang sudah mulai ketakutan.


"Ah ibu, jangan terlalu mempercayai omongan ibu-ibu itu dong Bu, namanya juga ibu-ibu sukanya bergosip. Bapak sudah tiga kali lewat jalur ini aman-aman saja." kata Juragan kopi itu terlihat cuek.

__ADS_1


"Pak berhenti Pak, sepertinya ada orang butuh bantuan di depan," ucap Istri dari juragan kopi itu menepuk-nepuk punggung tangan suaminya yang sedang menyetir mobil pick up nya.


__ADS_2