Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 2.


__ADS_3

"Nduk, genduk mau kemana? Ealah kok malah ngacir toh bocah!" teriak perempuan paruh baya itu saat tiba-tiba Enyong malah lari meninggalkan dirinya yang masih bengong berdiri di samping mobil polisi yang baru berhenti di depan bangunan Bank swasta itu.


"Walah biyung untung tuh polisi nggak lihat gue, bisa kacau balau kalau sampai mereka lihat gue." gumam Enyong sambil berlari menghampiri teman-temannya di tempat yang tadi. Namun, saat ia sudah sampai di sana ternyata teman-temannya malah sudah nggak ada, tinggal si rambut gondrong masih setia menunggu Enyong datang.


"Lha, pada kemana yang lain Son?" tanya Enyong saat sudah berada di depan motor si pemuda gondrong bernama Sony.


"Kabur," jawab Sony singkat sambil melempar helm ke arah Enyong. "Cepetan pakai, kita harus segera cabut sebelum tuh polisi lihat kita, kenapa lo lama banget? Mana tas tuh Emak? Kok gak lo ambil tasnya?" Enyong di serbu banyak pertanyaan oleh Sony.


"Uang apaan, tuh Emak habis bayar utang katanya Son, ya nggak bawa uang 'lah!" jawab Enyong sambil memakai helm, ia segera naik di atas motor yang dikendarai Sony.


"Mak dobrak! Yaelah tahu gitu ngapain kita capek-capek tadi. Ah, buang-buang waktu saja," ucap Sony kesal.


"Lha 'kan tadi udah gue bilang kalau perempuan ntuh mau bayar utang, tapi kalian nggak percaya. Bener 'kan tebakan gue. Ah sudahlah, berarti kita belum beruntung, ayok cepetan kita kabur." Enyong memotong ucapan Sony.


"Huh ... hari ini kita mengerjakan pekerjaan sia-sia," gerutu Sony. "Masa kita pulang dengan tangan kosong, nggak seru 'lah. Kita bahkan belum bekerja sama sekali hari ini. Otot-otot gue terasa pegal pingin beraksi."


"Ah siapa bilang kita pulang dengan tangan kosong, lihat Son, ternyata Dewi keberuntungan masih bersama kita," ucap Enyong menunjuk ke arah seorang perempuan muda sedang berjalan ke mesin ATM, sepertinya perempuan itu hendak mengambil uang melalui kartu ATM.


Cepat-cepat Enyong turun dari atas sepeda motor, ia berjalan santai ke arah perempuan muda yang saat ini sudah berada di dalam ruangan, yang di dalamnya terdapat mesin ATM untuk pengambilan uang melalui kartu ATM. Enyong berpura-pura mengantri hendak mengambil uang juga. Setelah beberapa menit menunggu di luar, Enyong dapat melihat dari luar perempuan itu memasukkan lembaran uang berwarna merah dalam jumlah yang lumayan banyak ke dalam tas tenteng. Pintu di buka dari dalam, terlihat perempuan itu keluar. Baru melangkah beberapa langkah, Enyong yang sedang berdiri sambil memakai topi dan memakai masker untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali. Ia langsung menyambar tas perempuan itu dan berlari dengan gerakan cepat ke arah Sony yang sedang menunggu di atas sepeda motornya.

__ADS_1


Brug.


Karena terburu-buru Enyong bertabrakan dengan seorang pemuda tampan yang memiliki badan tegap memakai jaket kulit berwarna hitam. "Hah, ini 'kan polisi yang waktu itu," gumam Enyong dalam hati saat melihat wajah pemuda yang ditabraknya. "Maaf," ucap Enyong singkat sambil menundukkan kepalanya, ia pun bergegas pergi .


"Hai tunggu!" teriak pemuda tadi mengambil sesuatu di atas tanah. "Hai anak muda, ini gelang kamu jatuh." teriaknya lagi, berusaha memanggil seseorang yang tadi menabraknya, ternyata gelang milik Enyong terjatuh saat ia menabrak pemuda tadi. Namum, sepertinya Enyong tidak mendengar teriakkan dari pemuda itu. Ia langsung ngacir dengan naik motor bersama Sony yang sudah menunggunya.


"Jambret ... jambret!" Terdengar teriakan perempuan yang tasnya diambil oleh Enyong. "Tolong ... jambret!"


"Ada apa Bu?" tanya seorang pemuda berbadan tinggi dan tegap memakai jaket warna hitam berlari menghampiri Ibu yang tasnya diambil Enyong.


"Hua ... tolong tasku diambil orang, mana itu uang mau buat bayar para karyawan yang bekerja di pabrik suami Ibu," ucap perempuan muda itu sambil menangis.


"Ah sial, jadi orang tadi adalah jambret." gumam pemuda itu lirih. Tanpa berpikir panjang dengan menggunakan motor miliknya, pemuda itu langsung mengejar motor yang dikendarai oleh kedua orang yang diduga sebagai penjambret setelah diberi tahu oleh korban. Namun, ia tidak berhasil mengejarnya karena motor si penjambret melesat dengan cepat menerobos jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan.


Sementara di tempat lain terlihat Enyong dan Sony sedang tertawa terbahak-bahak merayakan keberhasilan mereka. "Wow Son lihat, ada mangsa lagi tuh. Ayok kita sikat lagi Son." lanjut Enyong sambil tersenyum licik menatap seseorang sedang berjalan seorang diri di pinggir jalan.


"Mantap Pak Eko!" balas Sony setelah melihat seorang gadis remaja yang sedang berjalan sendirian di pinggir jalan sambil memainkan ponsel dengan sebuah tas digantung pada pundaknya. Gadis itu juga memakai perhiasan yang mencolok membuat Enyong dan Sony tersenyum menyeringai menatap gadis remaja yang sedang berjalan seorang diri.


Gueeeng.

__ADS_1


Sony mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan penuh, dan ....


Siiit!


Sony menghentikan motornya pas di samping gadis remaja itu yang terlihat kaget dengan munculnya dua orang pemuda memakai jaket secara tiba-tiba dengan sebuah masker menutupi mulut dan hidung, sehingga gadis remaja itu tidak dapat mengenali wajah mereka. "Serahkan ponsel dan perhiasan lo atau lo mati sekarang juga," ancam Enyong sambil menempelkan pisau kecil di depan dada gadis remaja yang sudah mulai ketakutan.


"I ... iya, tolong jangan sakiti aku," gadis remaja itupun melepas semua perhiasan yang ia pakai, lalu menyerahkan kepada seseorang yang tidak diketahui siapa. Entah perempuan atau laki-laki, karena Enyong menutupi wajahnya dengan sebuah masker, menggelung rambutnya dan menutupi kepalanya dengan topi seperti anak laki-laki.


"Ponsel lo!" perintah Enyong dengan suara yang dibuat agar terdengar seperti seorang laki-laki.


"Haduh, perhiasan itu saja yang diambil jangan ponselku Bang, bagaimana nanti aku bisa mengikuti pelajaran secara online kalau ponselku kalian ambil, hua ...." Si gadis menangis dengan kencang saat dipaksa untuk menyerahkan ponselnya yang harganya jutaan itu. Ia guling-guling di atas tanah bersikap seperti anak kecil sambil memeluk ponselnya.


"Haduh Bocah Kucluk malah nangis." gerutu Enyong dan Sony jadi panik, mereka pun langsung kabur meninggalkan gadis remaja yang sedang nangis sambil berguling-guling di atas tanah.


Ngoeeeng.


Sony menjalankan motornya dengan kecepatan penuh. "Sialan tuh bocah, bisa-bisanya dia nangis seperti itu." ucap Enyong merasa geli dengan sikap gadis remaja tadi.


Sementara di tempat kejadian. "Hahaha ... kena deh, kalian berhasil gue tipu. Makan tuh emas imitasi. Dasar jambret bo**doh, nggak bisa membedakan mana emas asli dan emas imitasi, hahaha." Gadis remaja itu menertawakan kedua pemuda yang tadi membawa kabur perhiasannya.

__ADS_1


Ternyata Enyong dan Sony berhasil ditipu oleh korbannya, emas yang mereka bawa tadi adalah emas imitasi.


Bersambung.


__ADS_2