Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 10.


__ADS_3

"Ealah Man, anak cantik gitu jangan dipanggil monyong napa Man! Nanti anak lo monyong beneran baru tahu rasa deh lo!" protes Jeffri tidak terima ponakannya dipanggil dengan panggilan enyong.


"Iya, gara-gara Bapak, semua orang manggil gue dengan panggilan Enyong." sungut Enyong sambil cemberut, memonyongkan bibirnya. "Kapan Paman balik ke kota?"


"Besok." jawab Jeffri singkat.


"Ikut boleh nggak?"


"Hah ... Nyong, nggak boleh!" bentak Rohman sambil membelalakkan matanya merasa terkejut. Ia melarang Enyong ikut Jeffri ke kota. "Keadaan kamu aja masih seperti itu mau ke kota, mau bikin pamanmu susah!"


"Nggak apa-apa sih, kalau Marisa mau ikut ya sudah biarkan saja Rohman. Aku nggak apa-apa Man, di rumah ada Mbok Ijah ini nanti yang bakal bantuin dia. Sudah biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau, mumpung masih muda. Biarkan dia mengenal dunia luar biar nggak katrok tinggal di tempat terpencil seperti ini terus." nasehat Jeffri.


"Hah ... orang tua itu masih kerja di rumah Paman? Wah ... ternyata awet juga Mbah Ijah itu, kirain sudah almarhum, hihihi." potong Enyong sambil terkekeh.


"Hus, sembarangan kamu Sa, nggak boleh ngomong seperti itu. Siapa yang bakal bantuin Paman nanti kalau dia pergi."


"Iya Paman, maap." jawab Enyong memasang wajah penuh penyesalan. Enyong beralih menatap kearah bapaknya yang sudah terlihat tua. "Kenapa Bapake ngelarang Enyong ikut Paman Jeffri? Enyong pingin tahu keadaan di kota seperti apa lho Pak, boleh ya Pak, boleh ya ... please!"


"Ya karena kamu masih sakit Nyong! Pokoknya kamu nggak boleh pergi, titik."


"Ih ... pelit!" gerutu Enyong kecewa sambil cemberut. Ia memalingkan wajahnya tidak mau menatap sang bapak.


"Kamu tega mau ninggalin Bapake sendiri, ya sudah sana kalau kamu sudah tidak sayang sama Bapake lagi!" Pak Rohman juga ikut membalikkan badannya.


"Hahaha ... kalian sungguh lucu, sudah seperti anak kecil saja." Jeffri malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah bapak dan anak di depannya yang terlihat seperti anak kecil sedang merajuk.


Enyong menoleh kearah bapaknya. "Ih Bapake ternyata imut juga ya Man, kalau sedang ngambek, hehehe." Enyong malah menggoda Pak Rohman. Ditariknya tangan Pak Rohman. " Enyong nggak jadi ikut Paman Jeffri 'lah, Enyong nggak mau ninggalin Bapake. Enyong sayang Bapake!" Pak Rohman yang saat ini sedang berdiri membelakangi anak gadisnya, tersenyum merasa senang mendengar ucapan dari Enyong. Ia kembali membalikkan badan menghadap Enyong.

__ADS_1


"Maap ya Pak, tasnya ...." tiba-tiba wajah Enyong berubah sendu saat teringat kejadian dimana ia akhirnya tidak bisa mengambil tas milik juragan kopi yang berisi uang ratusan juta. ( Sebenarnya emak dari kemarin berpikir, jaman modern kok nggak mentransfer uang hasil penjualan kopi ke rekening saja ya biar aman, 🤔apalagi banyak kasus pembegalan dan perampokan, ah ... nggak tahulah, itu urusan si kepala plontos.🤭)


"Weh ... kamu tenang saja Nak, tasnya aman sama Sony." jelas Pak Rohman memberitahu.


"Hah ... maksud Bapake?" tanya Enyong penasaran campur bingung.


"Jadi seperti ini ceritanya, saat juragan kopi hendak pergi sambil menenteng tasnya setelah sebelumnya sudah berani melukai kamu hingga pingsan, Sony datang dan menghajar tua bangka sombong itu hingga babak belur, ia berhasil mengambil tas milik juragan kopi sombong itu."


"Benarkah itu Pak? Ternyata Sony keren, gue mesti ucapin terima kasih sama Sony kalau begitu. Asiiik ... berarti kita berhasil Bapake!" teriak Enyong dengan wajah berseri.


***


Keesokan paginya Jeffri pamit untuk kembali ke kota. " Man, aku pamit pulang dulu ya. Kamu jangan terlalu keras sama Marisa Man, ingat, dia itu anak gadis. Walaupun tingkahnya seperti anak cowok, tetapi tetap saja kalau dia itu wanita. Kamu masih berniat menjadikan dia sebagai seorang pemimpin menggantikan kamu?"


"Sebenarnya aku juga bingung Jef, tapi siapa lagi penerus aku kalau bukan tuh bocah. Dia bakal aku gembleng agar lebih kuat dan memiliki ilmu kekebalan tubuh agar tidak mempan dengan senjata apapun." ucap Pak Rohman mantap.


"Kamu berani lakukan itu, bakal aku bunuh kamu!" ancam Pak Rohman.


"Nggak Man, ya sudah, aku pamit."


"Kamu kenapa buru-buru banget sih Jef pulangnya?" tanya Pak Rohman sambil mengantarkan Jeffri menuju mobil milik Jefri yang terparkir di halaman rumahnya.


"Aku nanti malam mau ada acara." jawab Jeffri sambil membuka pintu kemudi. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Oh ... gitu, ya sudah salam buat Mbah Ijah yak!"


"Oke." Jeffri pun akhirnya pergi meninggalkan desa Garong dengan mengendarai mobilnya sendiri. 19 tahun hidup menduda karena di tinggal mati oleh istri dan anak-anaknya, Jeffri menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan bekerja tanpa ada niat atau keinginan untuk menikah lagi. Berkat kerja kerasnya, sekarang Jeffri sudah berhasil memiliki usaha sendiri. Ia tidak pernah merasa kesepian, karena Jeffri memiliki panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu. Jika hatinya sedang kosong, hidupnya merasa hampa, ia selalu datang ke panti, bercanda dengan para anak-anak panti.( Oh ... mulia sekali Jeffri.) Sama seperti Rohman yang sudah tidak ada keinginan untuk mencari pendamping atau ibu baru untuk Enyong. Mereka dulu pernah mengatakan, menikah hanya ada satu kali dalam hidup, jika sekali itu gagal, entah karena bercerai atau di tinggal mati, mereka tidak akan pernah menikah lagi. Hem ... ternyata, mereka laki-laki setia juga ya! Mereka telah membuktikannya.

__ADS_1


"Paman sudah pergi ya Pak, kok Enyong nggak dibangunin sih Pak, hah ... Bapake jahat dah!" gerutu Enyong yang baru bangun tidur jadi kesal saat mendengar suara mobil milik pamannya berjalan menjauh, sebenarnya Enyong tadi ingin berjalan keluar untuk melihat pamannya yang hendak pulang ke kota, namun, kakinya yang terkena timah panas masih terasa sakit untuk berjalan sehingga niatnya pun ia urungkan.


***


Sementara di tempat lain terlihat beberapa laki-laki sedang membahas sesuatu yang penting di suatu ruangan yang cukup luas. "Kita harus segera bertindak Bos, Rohman dan anak buahnya selalu saja lebih cepat lima langkah dari kita. Kalau seperti ini terus, bisa miskin mendadak kita Bos!"


"Tenanglah, gue sudah memiliki rencana jitu untuk Rohman dan semua warga di desa Garong, besok kita akan melakukan serangan mengejutkan untuk mereka. Mumpung anak gadis dari pemimpin mereka sedang terluka. Aku yakin, saat ini mereka sedang libur, tidak melakukan aksi mereka karena pimpinan mereka sedang berduka."


"Darimana Pak Bos tahu?"


"Yaelah, kalian lupa siapa gue!" Begitulah percakapan mereka para laki-laki yang sepertinya adalah musuh besar Rohman.


"Kita akan menyerang desa mereka di malam hari, saat mereka tengah asik bermimpi, oke!" perintah dari pimpinan mereka.


"Maap Bos, apa sebaiknya kita tunda dulu penyerangannya? Bose lupa, kalau nanti malam di undang sama Tuan Halim untuk menghadiri pesta pernikahan mereka." ucap seorang pemuda mencoba mengingatkan pemimpinnya itu.


"Oalah iya Res, gue lupa. Baiklah kalau begitu, kita tidak jadi melakukan serangan nanti malam.


Ada urusan yang lebih penting dari ini. Urusan dengan pemilik perusahaan Xx jauh lebih penting."


Tuan Halim adalah seorang pengusaha berlian, selain itu, beliau juga seorang bandar narkoba. Tuan Halim melakukan kerjasama dengan mereka untuk melancarkan bisnisnya menjual narkoba. Usahanya berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh keluarga ataupun adik kandungnya sendiri yang merupakan anggota polisi. Bahkan anak dan istrinya pun tidak mengetahui bisnisnya itu.


"Lo nanti malam temani gue ya Res, ingat ... kita datang dengan memakai pakaian formal, karena kita akan menyamar sebagai seorang pengusaha bukan sebagai penjahat. Semua yang hadir di pesta itu adalah pengusaha dan juga ada beberapa anggota kepolisian, karena adik dari Tuan Halim adalah seorang polisi, jadi kita harus tampil rapi dan sopan. Kita juga harus merubah cara bicara kita agar mereka percaya kalau kita adalah seorang pengusaha."


"Baik Bos. Em ... tapi Bos, gue heran, kenapa Tuan Halim mengundang kita ke acara ulang tahun pernikahannya ya Bos?"


"Tuan Halim sedang membuat rencana untuk menguasai perusahaan lawan dengan cara memasukkan kita ke dalam perusahaan lawannya itu. Nanti kita akan dikenalkan dengan pemilik perusahaan yang akan dihancurkan oleh Tuan Halim, paham."

__ADS_1


__ADS_2