
"Tidak ... Bapake ...!" terdengar teriakan Enyong disertai tangisan yang terdengar begitu menyayat hati. Setelah melakukan pertarungan sengit antara warga Desa Garong dan rombongan dari Desa Mayat yang menyerang secara membabi buta tanpa belas kasihan menghabisi sebagian dari warga Desa Garong menimbulkan kerusakan parah di Desa itu. Lebih dari 20 warga desa yang harus kehilangan nyawa demi mempertahankan desa, termasuk Pak Rohman, ketua mereka yang terkena pukulan mematikan dari lawan. Demi melindungi putri satu-satunya yang hampir celaka terkena kilatan cahaya merah yang dikeluarkan oleh Marwoto malam itu, membuat keadaan Pak Rohman semakin parah. Beliau menggunakan tubuhnya untuk melindungi Enyong dari cahaya merah itu, sehingga tubuh Pak Rohman ' lah yang akhirnya terkena cahaya merah milik Marwoto. Laki-laki paruh baya bernama Marwoto terkenal dengan kesaktiannya, ilmunya yang mematikan,dia memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi yang sulit ditandingi oleh siapapun termasuk Pak Rohman yang juga memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi.
"Hiks ... Bapake, hua ... jangan tinggalin Enyong Pak!" teriak Enyong sambil memeluk erat tubuh Pak Rohman yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Sudah Nyong, lo harus kuat, kasihan Bapak Lo kalau lo seperti ini terus!" seorang laki-laki dewasa mencoba menenangkan Enyong yang terlihat begitu terpukul atas kepergian bapaknya.
"Jo, Bapake Jo, hiks." Berlahan Enyong melepas pelukannya sambil terisak, ditatapnya wajah sang bapak yang terlihat pucat.
"Sekarang gue sudah tidak punya siapa-siapa lagi Jo, kenapa Tuhan jahat sama gue Jo? Tuhan tidak sayang sama gue," ucap Enyong sambil memandangi wajah bapaknya.
"Siapa bilang Tuhan tidak sayang sama lo Nyong, Tuhan sayang sama lo, termasuk kami semua disini sayang sama lo!"
"Kalau Tuhan sayang sama gue, kenapa Tuhan ambil Bapak sama Emak gue Jo, hiks." Paijo hanya bisa diam menatap sendu gadis remaja yang terlihat begitu sedih atas kepergian
"Nyong! Lo nggak sendirian, ada gue, Paijo, dan Pak De Tulus, ada Marwati yang akan selalu ada buat lo." ucap seorang pemuda bernama Sony sambil mengusap lembut punggung Enyong.
"Marwati? Apakah dia sudah kembali?" tanya Enyong merasa terkejut saat mendengar nama Marwati disebut dengan kedua mata masih setia menatap wajah sang bapak. Marwati adalah teman wanita Enyong satu-satunya di Desa Garong. Namun, gadis remaja itu lebih memilih untuk ikut ke kota bersama kedua orang tuanya karena ia ingin melanjutkan sekolahnya di sana.
"Enyong!" panggil seorang wanita membuat Enyong yang sedang menunduk menatap wajah Pak Rohman langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang.
"Marwati!" panggil Enyong langsung bangkit dan berlari menghampiri seorang gadis remaja berwajah cantik dengan rambut panjang terurai dengan indah yang baru datang berdiri di depan pintu. " Wati, hua ...." Enyong mendekap erat tubuh Marwati sambil menangis sejadi-jadinya menumpahkan semua kesedihannya di pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya Nyong, kami semua bakal selalu ada buat lo, lo nggak sendirian, masih ada kami yang akan selalu setia temani lo!" kata Marwati, seorang gadis remaja yang seumuran dengan Enyong.
***
***
"Bagaimana Pak Arif, apa sudah ada laporan tentang gerombolan perampok yang sering meresahkan di kota ini? Menurut laporan dari Pak Herman, beberapa hari ini tampak tidak ada pergerakan dari mereka, apa betul itu Pak Arif?"
"Lapor letnan, para pasukan Garong dari desa Garong beberapa hari ini memang tidak ada pergerakan, mereka seperti hilang ditelan bumi. Akan tetapi, dua hari yang lalu muncul kelompok perampok yang lain, menurut warga setempat mereka berasal dari Desa Mayat, sebelah selatan Desa Garong. Aksi mereka lebih sadis dari orang-orang dari Desa Garong."
"Hah ... ada lagi?"
"Iya Letnan, aksi mereka terekam kamera cctv."
"Tidak Letnan, jaket yang mereka pakai berbeda dengan jaket kelompok perampok dari Desa Garong."
"Berarti tugas kita bertambah, selain harus menangkap orang-orang dari Desa Garong, kita juga harus menangkap orang-orang dari Desa Mayat."
"Iya Letnan."
"Tolong beri saya laporan tentang Desa Mayat, saya ingin tahu seberapa tangguh orang-orang dari Desa Mayat itu!"
__ADS_1
"Siap Letnan."
***
***
Cuaca siang hari tampak mendung, seolah ikut merasakan kesedihan yang sedang dirasakan oleh warga Desa Garong. Disebuah area pemakaman, terlihat orang-orang memakai baju serba hitam berkumpul untuk mengantarkan ketua mereka ke tempat peristirahatan terakhir, kesedihan tampak jelas di wajah mereka. "Kita harus kembali Nyong, sepertinya mau turun hujan." Sony merangkul pundak Enyong, mengajaknya untuk meninggalkan pemakaman. Satu-persatu orang-orang mulai meninggalkan pemakaman karena cuaca semakin gelap, menandakan akan segera turun hujan. Benar saja, tiba-tiba hujan turun dengan deras, membuat mereka semua yang masih berada di pemakaman langsung berlarian mencari tempat untuk berteduh. Namun, gadis remaja dengan rambut pirang dan sedikit ikal, terlihat tidak perduli meskipun bajunya sudah basah kuyup terkena air hujan.
"Ayok Nyong, kita mesti pulang sekarang, nanti lo sakit!" ajak Sony yang masih setia menemani gadis remaja itu dengan bajunya yang juga sudah basah kuyup.
"Pergilah Son, gue mau temenin Bapake. Kasihan Bapake, dia pasti kedinginan." ucap Enyong lirih masih duduk di atas tanah dengan kaki disilangkan tepat di samping gundukan tanah yang sudah terlihat basah dengan guyuran air hujan.
"Nyong, lo jangan bandel napa! Abah pasti sedih lihat lo seperti ini, ayok bangun Nyong! Kita harus pulang sekarang, gue nggak mau lo kenapa-kenapa!" Sony menarik tangan Enyong agar ia berdiri.
"Pergilah Son! Lo nggak denger gue mau tetap disini temenin Bapake!" teriak Enyong mendorong dengan kasar tubuh Sony hingga membuat pemuda itu terhuyung ke belakang. "Hua ...." Enyong kembali menangis, ia menjatuhkan tubuhnya di samping batu nisan yang terdapat tulisan nama sang bapak.
"Nyong!" panggil Sony lagi, ia mencoba mendekati Enyong yang saat ini sedang memeluk batu nisan milik almarhum Pak Rohman dengan tubuh bergetar, Enyong tampak menggigil terkena guyuran air hujan.
"Bapake, kenapa Bapake ninggalin Enyong! Sekarang Enyong tidak punya siapa-siapa lagi, hua ...."
"Nyong!" Sony langsung mengangkat dengan kasar tubuh Enyong, dipanggulnya tubuh gadis remaja itu di atas pundak seperti membawa karung beras. Bagi seorang Sony yang memiliki badan kuat dan berotot, tubuh Enyong sangatlah ringan sehingga dengan mudah ia memanggulnya.
__ADS_1
"Sony ... turunin gue, lo mau mati! Sony!" teriak Enyong terus memberontak sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya minta diturunkan. Bukan hanya itu saja, ia juga memukul punggung Sony dengan kedua tangannya. Namun, tidak digubris oleh Sony yang sudah tidak tahan melihat keadaan Enyong yang terlihat sangat menyedihkan. Sesungguhnya hatinya terasa sakit melihat keadaan Enyong saat ini.