Enyong Dari Desa Garong

Enyong Dari Desa Garong
Bab 16. Polisi galak.


__ADS_3

"Nggak Pak De, Enyong nggak mau jadi ketua."


"Mau tidak mau, siap tidak siap, kamu harus menjadi ketua menggantikan almarhum bapak kamu Nyong! Mulai besok kamu harus belajar ilmu kanuragan. Kamu juga harus menyempurnakan ilmu kekebalan tubuh, almarhum bapakmu menyuruh Pak De untuk mengajarkan kamu ilmu itu agar kamu menjadi pemimpin yang kuat dan tangguh. Besok pagi kamu datanglah ke tempat latihan."


"Tapi Pak De, Nyong belum siap jadi ketua! Kenapa nggak Pak De saja yang jadi ketua, pokoknya Enyong nggak mau jadi ketua." protes Enyong.


"Enyong!" bentak Pak De Tulus mendelik kearah Enyong.


Satu minggu telah berlalu semenjak kepergian sang ketua untuk selamanya. Para warga Desa Garong berkumpul untuk membahas soal ketua baru mereka. Terjadi perdebatan para tetua desa, ada yang setuju memilih Enyong menggantikan almarhum Pak Rohman, seperti yang sudah diamanatkan oleh Pak Rohman sebelum ia meninggal dunia, Tetapi banyak juga yang meragukan Enyong karena usia Enyong yang masih sangat muda membuat mereka ragu.


"Mending gue cabut aja 'lah, malas dengerin mereka." gumam Enyong dalam hati. Ia pun pergi meninggalkan para tetua itu yang tampak serius membahas soal ketua baru menggantikan almarhum Pak Rohman.


"Lho ... mana Enyong?" tanya Pak De Tulus yang baru menyadari kalau ternyata Enyong sudah tidak ada bersama mereka. Diam-diam Enyong pergi tanpa diketahui oleh mereka.


Sementara di tempat lain.


Terdengar suara tawa dari beberapa laki-laki di sebuah restoran seafood, mereka terlihat begitu bahagia berbincang-bincang sambil menikmati makanan dari restoran seafood yang terkenal akan kelezatan masakannya itu. "Gila kamu yas, masak cewek secantik Hilda kamu tolak!"


"Bukan begitu Zam, gue lagi fokus dengan kerjaan gue dulu. Belum mau di bebani urusan percintaan yang malah bikin ribet nantinya."


"Alah Yas, kerjaan aja yang lo pikirin. Betah amat sih lo hidup menjomblo, ingat umur woy! cuma lo yang masih sendiri. Memangnya lo nggak mau nikah, hidup berumah tangga, terus punya anak."


"Urusan nikah itu gampang, nanti kalau udah waktunya juga nikah," jawab pemuda tampan dengan tubuh sixpack. Dia adalah Elyas, seorang polisi yang bertugas untuk menangani kasus perampokan yang sering terjadi di daerah itu.

__ADS_1


"Jangan lama-lama Yas, keburu karatan tuh burung Kakak tua lo!" goda salah satu teman Elyas.


"Hahaha ...." Terdengar tawa dari para pemuda yang sedang berkumpul itu menertawakan ucapan dari temannya.


"Ah, parah banget lo pada!" gerutu Elyas pura-pura kesal menatap tajam kearah teman-temannya sambil melipat kedua tangan didepan dada. Semasa masih sekolah dulu, Elyas terkenal dengan anak yang galak, tegas, ia ditakuti oleh teman-temannya karena sikapnya itu. Ia bahkan selalu di tunjuk sebagai ketua kelas oleh teman-teman dan gurunya karena kepandaiannya dalam mengatur anak-anak yang lain agar disiplin.


"Sorry bro, bercanda!" ucap salah satu teman Elyas tiba-tiba merasa ngeri dengan tatapan tajam dari seorang Elyas.


"Aduh Yas, santai aja bro. Hidup cuma sekali jangan dibikin serius terus napa bro!"


"Huh ... gue mau kebelakang dulu, jadi kebelet nih gara-gara omongan kalian!" lanjut Elyas langsung bangun untuk pergi ke toilet.


"Ehem-ehem ... ciye-ciye ... kebelet apa tuh ...! Cikiwir-kiwir. Hahaha" mereka kembali menertawakan Elyas.


"Lo!" Elyas kembali menatap tajam ke arah teman-temannya.


"Ah mboh 'lah!" Dengan langkah tegap, Elyas langsung ngacir meninggalkan teman-temannya yang masih terus menertawakan dirinya.


"Mas Halim! Apa gue nggak salah lihat?" gumam Elyas dalam hati sambil melihat ke arah tiga laki-laki agak jauh darinya saat dirinya hendak mencari toilet. "Hah ... iya benar, itu Mas Halim, sedang apa dia di sini? Bukannya dia seharusnya berada di Bandung bersama Mbak Yuni?" Elyas tidak jadi mencari toilet, dengan setengah berlari ia mencoba mengejar laki-laki yang diduga bernama Halim, seorang pengusaha berlian, Kakak pertama Elyas yang sedang berjalan bersama dua laki-laki misterius dengan penampilan seperti seorang preman.


Brug ...


Karena terlalu fokus dengan ke tiga laki-laki yang sedang berjalan keluar restoran, Elyas tidak terlalu memperhatikan di depannya ada orang atau tidak. "Aduh maap Mbak, aku nggak sengaja!" ucap Elyas sambil membantu perempuan yang terjatuh kelantai karena Elyas yang tadi sedang berlari tiba-tiba menabraknya membuat perempuan yang sedang berjalan santai kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh kelantai.

__ADS_1


"Hah ... lo!" Elyas membelalakkan matanya saat melihat wajah perempuan yang ia tabrak.


"Waduh ... sepertinya dia mengenali gue!" gumam perempuan itu langsung mendorong tubuh Elyas dengan kuat, perempuan itu langsung berlari meninggalkan Elyas.


"Woy ... tunggu!" teriak Elyas mengejar perempuan yang tadi ditabraknya. Ia menarik tangan perempuan itu dan mencengkeramnya erat membuat perempuan itu meringis kesakitan.


"Alamak, gue harus lakuin sesuatu, gue nggak mau ditangkap." gumam perempuan itu dalam hati sambil memikirkan sesuatu. Dengan gerakan cepat perempuan itu langsung memutar tubuhnya dan berganti melintir tangan Elyas yang sempat merenggangkan cengkeramannya dikira perempuan yang berhasil ia tangkap sudah tidak berdaya lagi. Namun, ternyata dugaannya salah. Perempuan itu ternyata pura-pura tidak berdaya hanya untuk mengelabuhi dirinya saja, dengan sekuat tenaga, ia mendorong lagi tubuh Elyas hingga membuat Elyas oleng ke belakang.


"Weeek!" ejek perempuan yang ternyata adalah Enyong. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Elyas.


"Dasar, awas lo!" ancam Elyas sambil melotot ke arah Enyong.


"Hem ... hahaha." Enyong berlari sambil tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.


"Set dah, sial! Kenapa gue tadi nggak langsung tangkap aja tuh bocah!" gerutu Elyas merasa geram.


"Sit ... Mas Halim!" Elyas membalikkan badannya saat teringat dengan kakak kandungnya sendiri yang tadi sedang berjalan bersama dua laki-laki misterius. Elyas berlari ke luar restoran untuk mencari keberadaan kakak kandungnya, tetapi tidak ia temukan keberadaan sang kakak yang ternyata sudah tidak ada di restoran itu. Sekali lagi Elyas menengok ke kanan ke kiri, namun, ia tetap tidak menemukan seseorang yang ia cari.


"Yas! Lha sih, lo napa di situ, woy!" teriak seseorang mengagetkan Elyas. Ia menoleh ke belakang, terlihat seorang pemuda sedang berlari kecil menghampirinya.


"Bram, tadi gue lihat Mas Halim bersama dua laki-laki misterius, dua laki-laki itu sepertinya bukan orang baik-baik. Gue takut terjadi sesuatu dengan Mas Halim." jelas Elyas setelah pemuda tadi berada di sampingnya. "Gue kehilangan mereka gara-gara perempuan itu!"


"Hayoo ... siapa tuh!" goda pemuda yang ternyata adalah teman Elyas saat masih kuliah bersama. Mereka sedang reunian di restoran itu.

__ADS_1


"Ah ... nggak penting, ayok kita gabung sama yang lain, kok lo baru datang sih Bram?"


"Eh ... tunggu dulu, gue masih penasaran siapa perempuan itu hayo!


__ADS_2