
Dor ... dor ...
Terdengar suara tembakan beberapa kali saat Juragan sedang berdebat dengan pemimpin para garong yang bernama Pak Rohman. Juragan kopi meminta Pak Rohman untuk melepaskan dirinya, istri dan pekerjanya yang bernama Yuliet, pemuda berbadan besar yang sudah membantu mengurus kebun kopi miliknya selama lima tahun lebih. Juragan kopi itu juga meminta uangnya kembali jika mereka para garong tidak mau di tangkap oleh para polisi itu untuk di masukkan ke dalam penjara. Penawaran dari juragan kopi malah ditertawakan oleh Pak Rohman dan para anak buahnya. Saat mendengar suara tawa itulah salah satu polisi yang di duga adalah pemimpinnya menembakkan timah panas ke atas untuk menghentikan tawa mereka yang terdengar seperti sedang mengejek.
"Angkat tangan kalian ke atas, jangan berani melawan kalau tidak ingin tertembak. Kami terpaksa menembak jika kalian tidak mau mendengarkan dan mengikuti perintah." teriak salah satu dari para polisi itu. Bukannya merasa takut, tetapi mereka para garong malah semakin mengencangkan tawanya membuat para polisi itu jadi semakin geram, mereka berlari hendak meringkus para garong, kedua tangan mereka menggenggam sebuah pistol yang diacungkan ke depan ke arah para sekelompok laki-laki berbaju serba hitam dan juga para pemuda tanggung yang terlihat masih ABG.
"Nyong! cepet lari, ajak teman-teman kamu menjauh dari sini!" teriak Pak Rohman memerintah anak semata wayangnya itu untuk meninggalkan tempat itu karena Pak Rohman mengkhawatirkan Enyong yang belum menguasai ilmu kekebalan tubuh.
Dor ... dor ... dor ...
Para polisi itu terpaksa menembakkan peluru ke arah Enyong dan teman-temannya yang hendak kabur dengan membawa tas milik juragan kopi yang berisi uang.
"Ah ...." tiba-tiba Enyong merasakan sakit di bagian lengan kirinya, terlihat darah segar keluar dari lengan kirinya bagian atas. Rupanya Enyong tertembak.
Dor ...
Polisi itu sekali lagi berhasil menembak kaki Enyong. Melihat itu, juragan kopi langsung berlari sekuat tenaga mengejar gadis remaja yang sepertinya sudah tidak sanggup untuk berjalan lagi.
"Hah ... dasar payah!" ejek Juragan kopi sambil menarik tas kecil miliknya yang ada di tangan Enyong.
__ADS_1
"Hai ... kepala plontos! Beraninya lo mengejek gue!" teriak Enyong mencoba mempertahankan tas itu.
Bug ... bug ...
Juragan kopi itu menendang beberapa kali tubuh Enyong yang saat ini sudah tergeletak di tanah karena kaki dan lengannya tertembak. "Bah ... Enyong Bah! teriak Sony saat melihat Enyong sedang di aniaya oleh juragan kopi.
"Bedebah orang itu, beraninya menyakiti anakku." gerutu Pak Rohman dengan penuh emosi melihat ke arah Enyong yang sedang di tendang laki-laki paruh baya berkepala botak.
"Kamu cepetan ke sana bantu Enyong Son!" teriak Pak Rohman memerintah Sony yang saat ini terlihat sedang bertarung melawan salah satu anggota polisi yang terlihat sangat menguasai ilmu bela diri.
Duag ...
Dor ... dor ...
Para polisi itu menembakkan peluru ke dada dan bagian tubuh para garong itu. Namun, mereka dibikin tercengang karena tubuh para garong itu tampak biasa saja, tidak ada yang terluka padahal mereka sudah sangat yakin kalau bidikan senjata mereka sudah tepat sasaran. "Ini sungguh aneh, mereka sama sekali tidak mempan terhadap senjata Pak, padahal kami yakin sudah membidiknya dengan benar!" kata salah satu anggota polisi kepada pimpinan mereka yang sedang berduel dengan Pak Rohman.
"Kok bisa?" pemuda yang sedang berduel dengan Pak Rohman menghentikan serangannya, ia mundur beberapa langkah menghampiri anak buahnya yang tadi melaporkan tentang keadaan yang dilihatnya.
"Hahaha ... apa kalian sudah menyerah!" teriak Pak Rohman sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
"Orang itu pasti pimpinannya, kita harus melumpuhkan orang itu baru kita bisa menangkap yang lainnya." bisik laki-laki yang tadi berduel dengan Pak Rohman kepada anak buahnya.
"Abah...! Enyong sekarat!" Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang menghentikan tawa Pak Rohman.
"Hah ... sial, bawa Enyong pergi cepetan!" balas Pak Rohman dengan suara keras. Pak Rohman akhirnya memerintah anak buahnya untuk mundur. Namun, para anggota polisi itu tidak mau tinggal diam. Mereka mengambil kesempatan itu untuk terus mengejar para garong yang sepertinya sudah tidak berniat melanjutkan pertarungannya di karenakan ada anggotanya yang sekarang.
"Sekarang aku sudah tahu kelemahannya, hem ... jadi gadis itu anak dari pemimpin mereka." gumam laki-laki yang tadi berduel dengan Pak Rohman sambil tersenyum tipis. "Kejar mereka, jangan biarkan mereka lolos!" perintahnya kepada para anggota polisi yang lain.
Terjadilah kejar-kejaran hingga sampai di sebuah jembatan panjang yang menghubungkan antara dua desa, di bawahnya terdapat aliran sungai yang tidak begitu deras. Tiba-tiba ....
Byur ...
Para garong itu loncat dari jembatan yang lumayan tinggi. "Hah ... kalian, turun cepat! Kepung mereka, kalian berlima hadang mereka dari arah barat, kamu, kamu dan kamu dari arah timur, lima orang hadang dari sana sisanya ikut denganku, kita hadang dari sebelah sana. Kita lihat saja, apakah mereka bisa kabur, heh." Laki-laki yang terlihat masih sangat muda tadi memerintah seluruh anak buahnya untuk mengepung kawanan garong yang tadi malah memilih menceburkan diri ke dalam sungai. "Cari mereka sampai ketemu!" perintahnya lagi.
Para polisi itu dengan hati-hati turun dari atas jembatan, mereka berjalan setengah berlari menuju ke tempat yang sudah di perintahkan oleh pimpinan mereka. Pimpinan mereka juga ikut turun, ia melompat dari bebatuan satu ke bebatuan yang lain untuk mengecek keadaan, di mana kira-kira keberadaan kawanan garong yang tadi nekat loncat dari atas jembatan. Cukup lama mereka mengitari sungai itu mencari keberadaan kawanan garong tadi.
"Aneh, ini benar-benar aneh, seharusnya mereka muncul di sini. Ini sudah hampir tiga puluh menit, tapi mereka belum muncul juga dari dalam air." gumam pemimpin para polisi itu.
"Pak Arif! Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda dari garong-garong tadi?" tanya pimpinan polisi itu kepada laki-laki paruh baya yang ternyata bernama Arif. Arif adalah teman lama dari juragan kopi, beliaulah yang tadi di telpon oleh juragan kopi untuk datang. Pak Arif langsung melaporkannya kepada pimpinan mereka yang baru di datangkan dari kota beberapa hari yang lalu setelah mendapat telpon dari teman lamanya.
__ADS_1
Begitu mendengar dari bawahannya tentang kasus pembegalan, pimpinan mereka yang masih sangat muda tetapi memiliki strategi kemiliteran yang cukup handal itu, langsung mengerahkan seluruh anggota polisi untuk pergi ke tempat kejadian.