
"Son, kamu hari ini nggak usah ikut beraksi, kamu di rumah saja temani Enyong!" perintah Pak Rohman saat Sony datang kerumahnya bersama beberapa pemuda, mereka hendak merampok di kota. "Bapake mau pergi ke desa Jampangan, mau menghadiri pesta pernikahan cucunya Lek Kusen."
"Lek Kusen yang kemarin kesini itu ya Bah? Oalah, jadi cewek gemoy itu udah mau nikah toh." tanya Sony, suaranya terdengar sendu. "Oh Jubaidah tegangnya lo ninggalin Abang!" lanjut Sony lirih.
Usut punya usut, Sony naksir sama cucunya Lek Kusen. Lek Kusen adalah adik dari almarhum emaknya Enyong.
"Ada apa Son? Kok muka kamu jadi kusut gitu!"
"Dia sedang patah hati Bapake!" Tiba-tiba terdengar suara Enyong dari belakang, mereka semua yang sedang berkumpul di ruang tamu menoleh kearah Enyong yang terlihat sedang berjalan dengan sebuah kayu sebagai alat untuk membantunya berjalan, karena kakinya yang terkena timah panas masih terasa sakit.
"Nyong, kenapa kamu keluar Nak," Pak Rohman langsung berjalan setengah berlari menghampiri anak gadisnya.
"Bosan di dalam kamar terus Bapake," jawab Enyong sambil berjalan pelan.
"Oh ... pantesan aja muka Sony berubah saat dengar Jubaidah mau kawin.
"Bohong Bah, Enyong ... jangan ngomong sembarangan deh!" Sony mendelik kearah Enyong.
"Ya sudah, kamu di rumah ditemani Sony ya, Bapake mau ke tempat Lek Kusen. Yang lainnya ndang beraksi sekarang, kerja cari duit yang banyak buat masa depan kalian sendiri, udah pada pingin kawin belum?"
"Hehehe, pingin 'lah Bah!" jawab mereka sambil cengengesan.
"Ya sudah sono sat set, lokasinya nanti dikasih tahu sama Paijo!"
"Siap." jawab mereka serempak. Mereka pun pergi meninggalkan rumah pimpinan mereka dengan sepeda motor mereka masing-masing.
"Son, nitip Enyong, jaga calon pemimpin pengganti Bapake yang bener ya Son! Kalau sampai dia kenapa-kenapa, siap-siap kepala kamu, aku potong." ancam Pak Rohman dengan suara tegas.
"Hah ... si ... siap Bah!" jawab Sony gugup sambil menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri, merasa ngeri sambil mengusap lehernya sendiri membayangkan kepalanya dipotong.
"Hahaha ... tenang saja Son, Bapake cuma bercanda, hahaha ...." Tawa Pak Rohman menggelegar memenuhi ruangan melihat ekspresi wajah Sony yang sudah seperti tikus kecemplung got.
__ADS_1
"Huh ... syukurlah, Abah bikin takut aja deh," ucap Sony sambil membuang napasnya dengan kasar. Ia merasa lega ternyata Pak Rohman hanya bercanda.
"Heit ... jangan senang dulu Son, pokoknya jika terjadi dengan anak semata wayang Bapake, kamu harus menerima hukuman dari Bapake!"
Glek ...
Sony kembali menelan ludah, wajahnya berubah pucat. "Ya sudah Bapake tinggal." lanjut Pak Rohman sambil berjalan keluar rumah.
"Nah lo ... mati deh lo!" bisik Enyong meledek Sony.
"Huh ... seneng ya, lihat temannya menderita!" gerutu Sony.
"Banget." Enyong terlihat cuek sambil mengangkat kepalanya, sombong.
"Mulut lo lama-lama gue ci**pok juga." ancam Sony sengaja menggoda.
"Hem ...." Enyong mendelik kearah Sony sambil menutup mulut dengan menggunakan telapak tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang tongkat kayu.
"Sony ... gue laporin ke Bapake, biar dipenggal kepala lo!" teriak Enyong mulai panik.
"Hahaha ... dasar bocah ingusan, cih ... lagian siapa juga yang mau sama mulut lo bau jengkol, huek."
"Awas lo ya Son!" Enyong mendorong tubuh Sony dengan sekuat tenaga, tetapi karena keadaannya yang belum pulih akibat tertembak beberapa hari yang lalu membuat tubuhnya oleng hampir jatuh. Sony langsung menahan tubuh Enyong dengan menggunakan tangannya agar tubuh Enyong tidak jatuh ke lantai. Sedetik mereka saling diam saja kedua mata mereka saling beradu dengan jarak yang begitu dekat. Tanpa sadar Sony memeluk tubuh Enyong dengan begitu erat.
Deg ... deg ...
Mereka sama-sama merasakan getaran aneh. Bahkan Sony sampai tidak mengedipkan mata terhipnotis oleh wajah dan kedua mata Enyong yang ternyata begitu memikat saat dilihat dari dekat. "Gila, kenapa nih bocah bisa secakep ini yak, pingin rasanya gue lu** mat habis bibirnya yang aduhai ... menggoda sekali dia, pingin gue cicipi mumpung Abah nggak ada di rumah. Kenapa gue baru sadar kalau ternyata dia begitu manis." Otak nakal Sony mulai menggodanya untuk melakukan perbuatan mesum.
"Ehem ...." Suara Enyong menyadarkan lamunan Sony.
"Eh ...." Sony melepas pelukannya secara tiba-tiba membuat Enyong akhirnya jatuh ke lantai.
__ADS_1
Dubrak ... klontang ...
"Duh, Sony ...! Lo gila ya, sakiiiit!" teriak Enyong yang saat ini sedang berada di atas lantai dengan posisi duduk, sedangkan tongkat kayunya menggelinding.
"Sorry Nyong." Sony yang tersadar dengan kesalahannya langsung menarik tangan Enyong agar kembali berdiri. di ambilnya tongkat kayu yang tergeletak di lantai agak jauh dari mereka saat ini, karena tadi menggelinding dan menyerahkannya kepada Enyong.
"Lo parah Son, huh ... baru tahu lo kalau wajah gue ternyata cantik, sampai bengong begitu! Awas hati-hati jangan terlalu dekat lihat wajah gue, nanti malah jatuh cinta." Enyong balik menggoda Sony sambil menerima tongkat kayunya kembali.
"Hahaha ... PD sekali lo, gue jatuh cinta sama bocah ingusan seperti lo, ngimpi. Atau ... jangan-jangan lo ya, yang mulai naksir sama gue!"
"Cih, gue naksir sama laki-laki bangkotan kayak lo, hi ...." Enyong bergidik sambil menodongkan tongkat kayu kearah Sony.
"Hahaha ...." Terdengar tawa mereka akhirnya saling menertawakan. Tidak terasa, Sony dan Enyong berbincang-bincang hingga sore hari.
***
Sementara di tempat lain terlihat para anak buah Pak Rohman sedang melakukan aksinya merampok disebuah perumahan elit yang kosong karena ditinggal oleh pemiliknya untuk berlibur. Saat mereka hendak pergi setelah berhasil menggasak isi rumah tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan sekelompok polisi yang ternyata sudah mengepung mereka dari luar rumah.
"Kutu kupret ... sialan, ternyata kita sudah dikepung Jo!" teriak salah seorang pemuda menghampiri Paijo.
"Kurang asem ternyata mereka, lagi-lagi polisi-polisi itu menggagalkan rencana kita, awas saja mereka. Oke jangan panik, kita keluar saja dari rumah ini." Paijo mencoba menenangkan teman-temannya yang sudah mulai panik.
"Lha terus, barang-barang ini?" tanya mereka sambil menunjukkan barang-barang yang ada di tangan mereka yang sudah berhasil mereka ambil.
"Huh ...." Paijo membuang napasnya kasar. Sebenarnya ia merasa berat, ingin membawa semua barang-barang berharga milik yang punya rumah, tetapi ia pun harus menyelamatkan diri dan juga kawan-kawannya agar tidak tertangkap polisi. "Dengan terpaksa tinggal saja, kita ambil lain waktu. Ayok pegang tangan gue. Tenang saja, mereka tidak akan melihat kita." Kata Paijo yang sudah menguasai ilmu menghilang. Mereka berjalan sambil berpegangan melewati para polisi yang sepertinya tidak menyadari keberadaan mereka karena mereka tidak terlihat oleh para polisi itu.
Brem ... ngoeeeng ...
Para polisi itu di kejutkan dengan suara motor yang tiba-tiba menyala dan melesat dengan kecepatan penuh. " Hah ... Pak, mereka kabur." teriak seorang anggota polisi nampak kaget saat melihat sekelompok laki-laki berpakaian serba hitam sudah pergi dengan sepeda motornya masing-masing.
"Di dalam nggak ada siapa-siapa Pak!" teriak seorang polisi lagi sambil berlari menghampiri atasannya.
__ADS_1
"Hah ... kok bisa? Sial! Mereka berhasil lolos lagi? Aneh, ini sungguh aneh, padahal dari tadi kita berdiri disini, tidak melihat siapapun keluar dari dalam rumah."