
Satu minggu telah berlalu sejak peristiwa terjadi penembakan pada kaki dan lengan Enyong yang dilakukan oleh polisi. Berkat ramuan tradisional yang mujarab buatan Pak Rohman sendiri, akhirnya keadaan Enyong sudah mulai membaik walaupun belum sembuh seratus persen. Namun, dasar si Enyong, kaki masih sedikit pincang belum sembuh betul, sudah keluyuran bersama Sony.
"Tumben ini malam tampak sepi banget ya Son, sunyi. Aneh, padahal baru jam 8 malam, kok nggak ada satu orang pun di luar. Memangnya pada kemana orang-orang yak?" Enyong yang baru pulang dari desa sebelah, bersama Sony dengan berboncengan motor merasa heran saat memasuki desanya yang tampak sepi tidak seperti biasanya.
"Entahlah, lagi pada bertapa kali, mengasah ilmu." jawab Sony asal.
"Memangnya ini malam apa Son?"
"Malam Rabu."
"Hem ...." Enyong memejamkan kedua matanya sebentar lalu ia membelalakkan kedua matanya. "Hah!"
"Ada apa Nyong?"
"Sepertinya ada yang menggunakan ilmu sirep Son, mereka terkena ilmu sirep, gue bisa merasakan aroma ilmu hitam di desa kita.
Ini sungguh mencurigakan, pantas dari tadi gue merasa ada yang nggak beres. Ayok son ngebut, kita harus cepat sampai rumah, kita harus lapor sama Bapake, gas pol Son!"
"Oke."
Mbrem ... Ngoeeeng ... ( bunyi motor)
Sony langsung mengikuti perintah Enyong menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.
Motor Sony melesat begitu cepat menerobos gelapnya malam hari di Desa terpencil daerah pegunungan yang terasa dingin. Hanya beberapa menit saja mereka akhirnya sampai di rumah Pak Rohmah atau Bapake Enyong. "Bapake!" teriak Enyong sambil loncat dari atas sepeda motor milik Sony saat motor yang ia tumpangi itu berhenti tepat di depan rumahnya. "Aduh." kesakitan.
"Ada apa Nyong?" cemas.
"Nggak apa-apa," ucap Enyong berbohong, kembali melanjutkan berjalan menuju rumahnya untuk menemui Bapake. Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja, padahal merasakan nyeri pada kakinya yang terkena timah panas satu minggu yang lalu. "Bapake!" Enyong terus memanggil sang bapak sambil berlari masuk ke dalam rumah yang berukuran lumayan besar milik Bapake Enyong diikuti oleh Sony di belakangnya. Mereka berdua memeriksa ruangan demi ruangan tetapi tidak menemukan keberadaan Pak Rohman.
"Kok aneh Nyong, masak iya jam segini Abah sudah bobok manis, ini sungguh mencurigakan. Coba lo periksa di kamar Abah Nyong!" perintah Sony. Enyong pun langsung berlari menuju kamar sang bapak.
Brak.
Ternyata benar, Enyong melihat sang bapak sedang berbaring di atas kasur setelah ia membuka pintu kamar. "Pak, bangun pak!" Enyong menggoyang-goyangkan tubuh Pak Rohman yang sedang tertidur pulas di atas kasur empuknya.
__ADS_1
"Sepertinya Bapake juga terkena ilmu sirep Son, tidurnya sudah seperti orang mati saja."
"Waduh, terus bagaimana dong?"
"Sayangnya gue nggak tahu bagaimana caranya ngilangin ilmu sirep," Enyong diam beberapa saat untuk memikirkan bagaimana cara menyadarkan Bapake yang terkena ilmu sirep. "Ambilkan air Son!"
"Hah ... buat apa?" Sony tampak bingung.
"Sudah buruan, jangan banyak tanya!"
"Oke-oke." Sony langsung berlari keluar kamar untuk mengambil air. Beberapa menit kemudian, Sony masuk kembali kedalam rumah sambil menyerahkan satu gayung berisi air.
"Ini Nyong," Sony langsung menyerahkan gayung yang berisi air itu kepada Enyong.
"Bapake ... bangun!" teriak Enyong sambil memercikkan air ke wajah Bapake. "Buju buneng, ini ilmu sirep model apa sih, susah sekali ngilanginnya." gerutu Enyong karena tidak berhasil membangunkan Pak Rohman.
"Oalah, jadi ini air buat bangunin Abah toh. Sini biar gue yang bangunin, kelamaan." Sony mengambil gayung dari tangan Enyong dan mengguyurkan air yang ada didalam gayung ke wajah Bapake hingga habis tanpa sisa membuat kasur empuk milik Pak Rohman basah kuyup. Namun, Pak Rohman masih belum bangun juga.
"Bagaimana ini Nyong? Bapak lo masih belum bangun."
"Hah ... oke!" Sony berlari untuk mengambil air lagi.
"Cepetan Son!" teriak Enyong tampak tidak sabar karena Sony belum juga nongol. "Alamak, banyak banget airnya Son?" Enyong menatap ember berukuran besar yang ada di tangan Sony. Tanpa menjawab Sony langsung menyiramkan air di dalam ember ke tubuh Pak Rohman.
Byur ...
"Banjir! Hait ... hait ... ciyak ...." teriak Bapake langsung membuka matanya sambil kelabakan menggerakkan kedua tangannya seperti hendak berkelahi.
"Hahaha ...." Enyong tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Pak Rohman yang terlihat sangat lucu. Bahkan Enyong sampai berguling-guling di atas lantai dengan kedua kaki di gerak-gerak kan keatas. Lain halnya dengan Sony, ia berusaha tetap berdiri ditempat semula sambil menahan tawanya karena takut membuat ketua Garong yang terkenal kejam itu murka.
"Woy! Apa yang kalian berdua lakukan di dalam kamar Bapake, hah!" bentak Pak Rohman menoleh kearah Sony dengan penuh emosi, lalu berpindah menatap Enyong yang sedang berguling-guling di atas lantai.
"Maap Bapake, hahaha ...." Enyong berbicara sambil tertawa.
"Sony, Enyong!" teriak Pak Rohman dengan suara keras membuat Enyong yang sedang tertawa terbahak-bahak langsung diam seketika. "Kenapa Bapake basah kuyup begini, apa yang sudah kalian lakukan sama Bapake, hah! Kalian mau mati!" bentak Pak Rohman. Suaranya terdengar begitu keras hingga memenuhi ruangan.
__ADS_1
"Maap Bah, tadi Abah kata Enyong terkena ilmu sirep, kami terpaksa membangunkan Abah dengan menggunakan air agar Abah bangun." jelas Sony dengan suara pelan dan terdengar sedikit bergetar karena takut dengan tatapan tajam dari Pak Rohman.
"Hah ... apa maksud kamu!" bentak Pak Rohman langsung berdiri dan menghampiri Sony yang terlihat ketakutan. Pak Rohman mencengkeram erat kaos oblong yang dipakai Sony.
"E ... e ... i ...." Sony sudah tidak sanggup berkata-kata lagi, badannya bergetar karena Pak Rohman menatapnya dengan tatapan membunuh membuat Sony jadi sangat ketakutan.
"Sabar Bapake," Enyong yang saat ini masih duduk di atas lantai langsung bangun berjalan menghampiri dua laki-laki berbeda usia cukup jauh yang saat ini sedang berdiri di depannya.
"Bapake harus cepat bertindak, sepertinya ada yang menggunakan ilmu sirep untuk membuat seluruh warga desa tertidur."
"Bedebah! Pantas saja tadi bapake tiba-tiba ngantuk banget padahal masih sore." Pak Rohman melepas cengkeramannya lalu mendorong tubuh Sony dengan kasar.
"Kelar kalian dari kamar Bapake!" teriak Pak Rohman mengusir kedua pemuda yang ada di hadapannya.
Brag ...
Pak Rohman membanting pintu kamarnya setelah Enyong dan Sony keluar.
"Huh ... selamat-selamat." Sony mengusap dadanya sendiri.
"Hihihi ... badan lo aja yang gede, ternyata mental lo kayak kerupuk di depan Bapake, hehehe." bisik Enyong lirih mengejek Sony.
"Awas lo ya Nyong!" Sony mendelik kearah Enyong. Mereka pun berjalan dan duduk di sofa .
"Abah dimana yak?" tanya Sony sambil celingukan mencari keberadaan Pak Rohman.
"Sudah jangan berisik, Bapake lagi ngilangin ilmu sirep."
"Jadi ada yang berani main-main denganku. Oke, aku layani." Pak Rohman mengambil sesuatu di dalam laci, sebuah bungkusan dari kain putih yang tidak tahu apa isinya.
"Kok Bapak lo lama banget sih Nyong!" Sony terlihat gelisah, sesekali melirik kearah pintu yang ada di belakangnya. Sony jadi merasa cemas karena Pak Rohman dari tadi belum keluar dari dalam kamar. Sony terlihat begitu gelisah, memikirkan yang tidak-tidak, takut ketuanya itu mengalami sesuatu yang buruk didalam sana. Berbeda dengan Enyong yang terlihat santai, sambil memainkan ponselnya.
"Biasa aja kali Son, Bapake nggak kenapa-kenapa kok, bentar lagi juga Bapake keluar."
Ceklek.
__ADS_1
Terdengar pintu dibuka, kedua pemuda yang sedang duduk membelakangi pintu langsung menoleh kearah pintu. "Ternyata memang benar, ada yang mengirimkan ilmu sirep di desa kita, hah ... bedebah mereka, untung kalian tadi keluar, jadi tidak terkena ilmu itu. Son, kamu sekarang pergilah ke rumah Paijo, suruh dia mengumpulkan semua teman-temanya, kalian berjaga, jangan sampai tidur malam ini. Suruh para warga tetap tenang di dalam rumah masing-masing, pura-pura tidur tetapi jangan sampai tidur beneran, jangan ada keributan. Usahakan agar semua tampak sunyi seolah semua orang tengah tertidur pulas. Kamu juga Nyong, cepat ketempat Pak De Tulus, suruh dia dan anak buahnya siap siaga, sepertinya ada yang hendak bermaksud jahat dengan desa kita."