Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life

Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life
Chapter 17 : Amarah Menelan Akal Sehat.


__ADS_3

Di dunia ini, ada beberapa orang yang diberikan hak untuk berkuasa. Menggunakan kekuasaan dengan bijak ada hal yang baik, tapi ada beberapa orang yang menggunakan hal itu dengan semena-mena. Kekuasaan bisa membuat seseorang menjadi bertindak seenaknya saja. Pemiliknya bisa memandang orang-orang di sekitarnya sebagai makhluk yang lebih rendah dari dirinya. Saat mereka tidak bisa mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, mereka akan mengambilnya dengan paksa.


Seorang pemimpin yang memandang kecil rakyatnya, akan dipandang kecil juga oleh rakyatnya. Kekuasaan dapat membuat seseorang menjadi hormat, tapi tidak menjamin bahwa seseorang menjadi percaya kepadamu. Mengorbankan rakyat demi ambisi yang besar adalah hal yang keji.


......................


"Bagus sekali prajurit Luke, kau berkembang dengan sangat cepat."


Pertama-tama, aku akan menjelaskan situasi saat ini. Dua bulan telah berlalu sejak peperangan pecah. Aku bergabung sebagai prajurit Kerajaan Maligneit. Orang yang barusan adalah komandan divisi dua pasukan militer milik Kerajaan Maligneit, namanya adalah Lars Beekhof. Untuk alasan tertentu, aku harus segera masuk ke dalam pasukan divisi pertama.


Karena keadaan saat ini, banyak yang secara sukarela ikut berperang. Sebab, sebagian besar bahan pangan diberikan kepada pasukan militer. Aku terus menunjukkan performa yang bagus selama menjadi seorang prajurit. Alasanku ingin segera masuk ke divisi pertama adalah, karena divisi satu adalah pasukan yang bertarung secara langsung di area peperangan.


"Luke, kau selalu hebat seperti biasa"


Namanya adalah Aarst, dia adalah teman pertama ku sejak bergabung di pasukan militer ini. Seseorang yang memiliki senyum yang tulus dan sifat yang lembut. Mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Aarst bercerita kepadaku, dia ingin segera mengakhiri peperangan ini. Ada seorang wanita yang menunggunya pulang, wanita itu bernama Belka. Setelah peperangan ini berakhir, mereka bermimpi untuk membuat sebuah keluarga dan hidup dengan bahagia. Maka dari itu, aku menawarkan sesuatu kepadanya.


"Hei, Aarst. Lebih baik kau berhenti sekarang, kau tidak akan selamat." Ucapku.


Aarst sangat tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Sebenarnya aku tau itu kata-kata yang mengarah ke arah meremehkan seseorang, terutama bagi seorang laki-laki.


"Aku akan membuktikannya kepadamu, lihat saja nanti!" Ujar Aarst.


Maafkan aku, Aarst. Tapi, hanya itulah hal terbaik yang bisa aku tawarkan kepadamu.


Selamat dari sebuah peperangan dan kembali untuk bertemu dengan seseorang yang kita cintai. Itu adalah hal yang terhormat dan sangat indah untuk terjadi. Tapi, aku berpikir dengan cara yang berbeda saat ini.

__ADS_1


Saat kau tewas dalam sebuah peperangan, tapi berhasil membawa pulang sebuah kemenangan. Benar, kau akan menjadi seorang pahlawan dan akan terus di hormati karena telah mengorbankan nyawa dalam peperangan ini. Tapi, apakah orang yang telah menunggumu di rumah akan bahagia? Tidak. Mereka akan menangis di depan makam mu dengan rasa penyesalan karena tidak bersamamu saat itu.


......................


Jorgun dan Caris saat ini sedang melakukan pencarian terhadap Helen, para Elf, dan orang tuaku. Mereka melakukannya atas keinginan mereka sendiri. Aku merasa malu kepada mereka, karena belum melakukan apapun saat ini.


"Luke, Beruem, Aarst, dan Yores. Kalian akan mengikuti ujian sebelum memasuki pasukan divisi pertama" Ujar Lars.


Akhirnya hari ini tiba juga, hari di mana aku akan masuk ke dalam pasukan divisi pertama untuk memenuhi tujuanku. Ujian kali ini adalah memasuki reruntuhan bawah tanah yang telah disediakan oleh kemiliteran.


Aarst sangat antusias dengan ujian ini. Dia merasa bahagia bisa mengikuti ujian untuk masuk di pasukan divisi pertama. Tempat itu berada tidak terlalu jauh dari kerajaan. Setiap rintangan yang ada diciptakan sendiri oleh kerajaan ini yang disesuaikan dengan ide Raja baru itu.


Reruntuhan bawah tanah yang asli adalah hal yang langka di dunia ini. Bahkan keberadaannya bisa kita hitung dengan jari. Berisi rintangan dan hadiah yang menakjubkan di dalamnya.


......................


Aarst, Beruem dan Yores merasa ujian ini akan berhasil dengan mudah. Tapi, aku merasa ada hal yang aneh. Jika ini memang sebuah ujian, kenapa sangat mudah dan tidak ada rintangan yang menantang. Saat itulah, aku merasakan aura kehadiran yang sangat luar biasa. Aku merasa sesak dan sulit sekali bergerak.


"Semuanya, ayo kita kembali saja. Ada yang tidak benar!" Ucapku.


"Kau kenapa, Luke?" Tanya Aarst.


Aku mencoba untuk meyakinkan Aarst bahwa ada yang salah saat ini. Aku merasakan aura yang sangat berbahaya di depan sana. Aarst mencoba untuk menenangkan diriku.


"Kau takut ya, Luke? Hahaha!" Ujar Beruem.


Sialan! kau sama sekali tidak tahu apa yang ada di depan sana.

__ADS_1


"Hei, jangan begitu! Luke tidak pernah seperti ini sebelumnya. Jika bersikap seperti ini, pasti ada yang salah sebenarnya." Aarst membela.


Mereka tetap tidak percaya dengan apa yang aku katakan dan terus melanjutkan perjalanan mereka. Aarst juga mencoba untuk meyakinkanku tetap ikut dalam ujian ini. Dengan berat hati, aku menyetujuinya. Karena, aku sangat penasaran dengan apa yang membuatku sangat ketakutan.


Aku sedikit menyesal telah mengatakan hal yang jahat kepada Aarst saat itu, jadi aku meminta maaf kepadanya. Setelah semua yang terjadi, dia tetap membantu saat aku takut dengan aura itu.


"Aku paham dengan apa yang kau maksud, Luke. Tapi, aku lah yang menentukan hal ini. Aku akan berusaha yang terbaik agar bisa pulang dengan selamat." Ucap Aarst.


Kau benar Aarst, mungkin pemikiranku yang salah selama ini. Kami menemukan sebuah pintu besar di depan kami. Sepertinya itu adalah pintu untuk bertemu dengan penunggu utama reruntuhan buatan ini.


"Ayo selesaikan ini, Luke. Kita akan masuk ke divisi pertama bersama-sama setelah ini!" Seru Aarst.


"Ya!" Jawabku.


Begitulah hal yang terjadi sebelum aku melihatmu tewas di depan mataku. Monster yang berada di dalam reruntuhan ini adalah satu Orc yang berukuran besar yang mampu menggunakan sebuah pedang. Aarst tewas dengan cara tertusuk oleh pedang. Beruem dan Yores mencoba untuk melawan Orc tersebut. Namun, mereka dihabisi oleh Orc itu dalam sekejap mata.


Apakah ini yang kau sebut sebagai ujian? Ini seperti progres untuk mengurangi populasi manusia!


Aku paham sekarang, kenapa sama sekali tidak ada prajurit baru yang bertambah di pasukan divisi pertama. Tempat ini bukanlah ujian untuk masuk ke pasukan divisi pertama. Tapi tempat untuk mengurangi tingkat penduduk dengan cara membunuh, dengan alasan sumber daya yang sangat terbatas saat ini.


Pikiranku benar-benar kosong. Orc tersebut terus berjalan mendekatiku dan akan membunuhku jika tidak mencoba untuk menghindar. Diriku dipenuhi dengan amarah, seperti api yang akan membakar seluruh hutan yang ada.


"Oh, hahahaha! Aku paham sekarang. Jadi begitu cara pikirmu, Verdal."


Aku... Tidak peduli lagi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2