Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life

Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life
Chapter 19 : Aku Tidak Akan Pernah Lupa.


__ADS_3

Setelah beberapa kali ikut serta dalam peperangan. Komandan divisi pertama mulai melirik diriku, dia mengatakan bahwa aku sangat berbakat dalam sebuah pertarungan. Dia mulai tertarik dan mengatakan akan memperkenalkan diriku kepada komandan utama.


Aku terus memperlihatkan performa yang membuatku memiliki kontribusi terbesar dalam peperangan ini. Hanya demi satu tujuan, untuk bertemu langsung dengan sang0 komandan utama.


......................


"Luke, besok kau akan bertemu dengan Tuan Lucca. Berbanggalah pada dirimu sendiri! Beliau adalah seseorang yang jarang sekali meluangkan waktu untuk orang lain." Ia mengucapkannya pada diriku yang sedang berbicara dengan Ria.


"Kau hebat, Luke!" Ujar Ria.


Ria memujiku tanpa henti, dia seperti seorang ibu yang bangga kepada anaknya. Aku tidak bisa melihatnya sebagai seorang prajurit saat ini, dia hanya seorang gadis pada umumnya.


"Luke, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Tapi, diam-diam saja, ya?"


Apa yang ingin dikatakannya?


Ada beberapa hal yang sangat mengejutkan di dunia ini. Tidak terkecuali, kata-kata yang kita ucapkan dapat memengaruhi kehidupan seseorang. Aku telah menyadarinya selama ini, aku tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, mungkin diam saja lebih baik, kan?


......................


"Selamat datang, Tuan." Seorang pelayan menyambut kedatanganku.


Hari ini aku akan bertemu dengan seseorang yang aku kejar-kejar selama ini. Seorang komandan pasukan utama, Lucca. Dia menungguku di ruangannya dan akan berbicara empat mata dengan diriku.


Aku menjadi mengingat setiap hal yang telah aku lalui untuk bisa mencapai tempat ini. Seorang rekan yang berharga, perjuangan untuk bertarung di medan perang, dan seorang prajurit wanita yang menyembunyikan sifat lembutnya dari orang lain.


"Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan anda, Tuan Lucca." Ucapku.


Aku duduk tepat di depan seorang komandan utama, seseorang yang memegang kendali penuh atas pasukan militer.


Dia menceritakan kepadaku tentang apa yang ia dengar dari komandan divisi pertama. Minum dan makan bersama seorang komandan, membahas hal-hal politik yang ada dalam kerajaan ini. Aku menggali banyak sekali informasi darinya.


Dia selalu membesarkan nama Verdal. Alasannya adalah, dia telah menghormatinya sejak Verdal baru berumur sepuluh tahun. Memiliki pemikiran layaknya seorang pemimpin yang tegas dan tidak takut kepada siapapun. Lucca yang pada saat itu menjabat menjadi pengawal Verdal pun kagum kepadanya.


Lucca tidak pernah melihat kelemahan seorang Verdal dalam hidupnya selama ini. Verdal selalu menyikapi sebuah masalah dengan sangat hebat. Pandai dalam hal mengatur strategi peperangan, seorang diktator yang kejam dan cerdas, serta seorang pemimpin yang ditakuti oleh rakyatnya. Lucca tidak mampu menahan rasa kagumnya.


Karena kepercayaan Lucca kepada Verdal, Verdal mengangkatnya menjadi seorang komandan utama. Verdal sangat yakin bahwa seseorang yang selalu mengaguminya tidak akan pernah berkhianat kepadanya. Lucca pun memakai pemikiran yang dimiliki oleh Verdal, saat ini Lucca sangat mempercayai ku.


Dia sangat mengapresiasi apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku merasa senang akan hal itu. Lagi pula, siapa orang yang tidak senang jika dirinya diberikan sebuah pujian. Ya, tapi itu sia-sia saja.


"Tuan Lucca. Bolehkah saya bertanya sesuatu?" Ucapku.


"Tentu saja! katakanlah."


Aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi.


"Benar, kepercayaan akan membuat hubungan antara bawahan dan pimpinan menjadi baik. Tapi, ada satu hal yang salah dari itu..."


"Memangnya, itu apa?" Tanya Lucca.

__ADS_1


Dengan cepat aku mengambil pedangku dan membunuhnya.


"Terkadang, orang yang paling ingin membunuhmu, adalah orang yang sangat kau percayai." Ujar ku.


Aku menyembunyikan jasad Lucca, lalu pergi dari istananya dengan diam-diam. Melaporkan ke Caris bahwa misi telah berhasil aku selesaikan. Walau menghabiskan waktu beberapa bulan, aku merasa puas dengan hasil ini.


Sebelum benar-benar pergi, aku mencoba untuk kembali ke markas. Untuk mengajak Ria mundur dari peperangan bersama-sama. Dia adalah temanku selama berada di markas ini, tidak aku mungkin aku akan mengabaikannya.


Saat sampai di markas, aku membangunkan Ria dengan pelan agar semua orang yang ada di sana tidak sadar. Ria bangun dengan perasaan kebingungan melihatku. Aku mencoba untuk mengajaknya langsung pergi dari markas.


Ria menolak dan menyuruhku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku menjelaskan apa saja yang terjadi sebelumnya. Ria sangat terkejut dan tidak percaya akan hal itu. Aku menyuruh Ria untuk percaya kepadaku.


"Kau gila. Kenapa harus melakukan itu?" Tanya Ria.


"Bukankah kita sama-sama menginginkan sebuah kedamaian?" Ujar ku.


"Bukan seperti itu caranya, bodoh.... Pergilah."


"Tunggu, dengarkan aku dulu!" Aku mencoba untuk menjelaskannya lagi.


"Menjauhlah!" Ria mendorongku.


Tiba-tiba ada seseorang yang mengatakan sesuatu dengan sangat keras.


"Berita penting! Ada berita penting, semuanya! Komandan Lucca telah tewas di istananya sendiri!"


Saat sedang pergi dari tempat itu, Caris mengatakan sesuatu kepadaku. Sesuatu yang membuat diriku tidak bisa berkata-kata.


"Luke. Kau yang sekarang, bukanlah dirimu yang sebenarnya."


Kata-katanya membuatku terpikirkan akan suatu hal. Apa yang sebenarnya aku lakukan selama ini. Membiarkan temanku sendiri terbunuh, bersikap dengan sangat dingin kepada orang-orang di sekitar, memaksa Caris untuk selalu bekerja. Bahkan, memaksa seseorang untuk menuruti semua kehendak ku yang egois ini.


Aku berhasil menghentikan perang. Karena saat Rastaig mendengar kabar ini, mereka akan langsung menyerang dengan kekuatan penuh untuk menghajar Maligneit yang sedang tertekan karena kehilangan sang komandan, Lucca.


Tapi, apa artinya semua itu setelah ini. Aku telah melupakan semuanya, bahkan diriku sendiri. Membunuh layaknya itu adalah hal yang biasa dilakukan seorang manusia. Semua masalah, aku selesaikan dengan cara membunuh. Aku benar-benar tidak mengenal diriku yang saat ini.


......................


Ini adalah cerita dari sudut pandang Ria.


Aku mendaftar dalam pasukan militer karena tidak ingin dianggap sebagai anak yang hanya menghabiskan bahan makanan orang tuaku. Mereka juga mengatakan kalau aku adalah gadis yang aneh. Sehingga, tidak akan ada pria yang mau datang untuk menikahiku.


Aku merasa senang saat berada di pasukan militer. Mereka selalu memujiku karena aku sangat kuat. Aku sangat dihormati sebagai seorang prajurit yang hebat. Tapi, mereka menjauhiku karena beberapa hal. Salah satunya adalah karena diriku yang sangat kuat dan aku adalah seorang wanita.


Pujian sangat sering aku dapatkan. Tapi kenapa, tidak ada yang mau berteman denganku. Saat itulah aku berpikir bahwa orang tuaku benar, aku adalah anak yang aneh.


Hingga hari itu tiba, seorang prajurit baru yang mendekatiku. Luke adalah seseorang yang mau menganggap diriku sebagai temannya. Bahkan dia selalu bersedia untuk menghabiskan waktu bersamaku.


Dia tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya. Tetap menemaniku agar aku tidak merasa kesepian.

__ADS_1


Lama-kelamaan, aku merasakan ada sesuatu yang aneh mulai tumbuh dari perasaanku. Aku sepertinya jatuh cinta kepada Luke. Benar, aku sangat mencintainya. Dia adalah seseorang yang sangat aku percayai.


Saat komandan divisi pertama mengatakan bahwa dia akan bertemu dengan sang komandan utama, aku merasa bangga kepadanya. Aku ingin mengatakan kalau aku sebenarnya suka kepadanya saat itu. Tapi, aku merasa seperti mau meledak dan tiba-tiba lari darinya.


Malamnya, aku mendengar percakapan Luke dengan seorang Elf wanita. Mereka seperti merencanakan sesuatu, tapi aku tidak terlalu mempedulikan hal itu. Walaupun sebenarnya... Aku sudah tahu sejak awal.


Luke tidak pernah sekalipun memihak kepada Kerajaan Maligneit. Aku bisa merasakan itu, tapi aku tidak bisa mengatakannya. Aku telah jatuh terlalu dalam kepadanya.


Malam tadi, dia tiba-tiba mengajakku untuk pergi dari markas. Aku terkejut mendengar apa yang telah ia lakukan. Aku sangat tidak percaya bahwa ia akan benar-benar melakukan itu. Aku ingin meminta maaf karena menolaknya dengan sangat kasar saat itu.


Tapi, sia-sia saja, kan? Lagi pula, kenapa di saat bertarung aku malah memikirkan hal-hal seperti itu. Luke juga tidak terlalu peduli kepadaku, kan?...


*Ada seorang prajurit yang mencoba untuk membunuh Ria saat itu.


Luke, apakah aku akan membiarkannya membunuhku saja? Haha, sayang sekali ya. Padahal, aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih lama lagi. Saat kau mengatakan bahwa ada seorang wanita yang telah kau sukai, aku menyerah saat itu juga.


Aku ingin menangis, aku bersikap manja, aku ingin dipeluk dan aku ingin berciuman seperti yang dilakukan oleh para gadis-gadis pada umumnya. Aku menginginkan semua itu, bahkan di saat-saat seperti ini.


Hei, Luke. Jika selanjutnya kita bertemu lagi, apakah aku bisa mengatakan hal itu kepadamu?... Terima kasih, kau sudah mau menghabiskan waktu bersamaku saat itu. Aku akan mencoba yang terbaik untuk bertahan saat ini.


Semoga saja nona Elf mengatakannya kepadamu, Luke. Bahwa aku...


......................


Kerajaan Maligneit mengalami kekalahan hanya dalam satu momen, yang memberikan para prajurit Rastaig kesempatan untuk masuk menerobos ke pertahanan pasukan Maligneit. Raja Rastaig memerintahkan untuk tidak menyakiti warga sipil dari Kerajaan Maligneit.


Raja Amfordia mengakui kebaikan hati dari Raja Rastaig. Mereka memutuskan untuk bersatu dan menciptakan sebuah kerajaan terbesar yang pernah ada di benua Eurean ini. Raja Verdal menjadi tahanan karena aksinya yang merugikan banyak orang. Kebanyakan, pasukan dari Kerajaan Maligneit telah tewas dalam penyerbuan itu.


Aku tidak merasa bangga atas aksi yang telah aku lakukan. Semuanya terasa sangat hampa saat ini. Caris datang untuk menjemput, demi melanjutkan pencarian Helen yang kelihatannya sudah tidak berada di benua Eurean lagi. Saat sedang bersiap-siap, Caris mengatakan sesuatu kepadaku.


"Luke, ada pesan yang ingin disampaikan darinya" Caris bermaksud mengarah ke Ria.


"Apa?" Tanyaku yang sedang mengemas barang-barang. Aku berhenti sejenak untuk mendengarkannya.


"Yang dia katakan adalah..."


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi yang jelas, aku menangis dengan sangat keras saat itu. Aku menangis sambil berteriak, seperti melampiaskan rasa sakit yang telah aku rasakan selama ini.


Aku ingin berterima kasih kepada Ria secara langsung karena telah mengingatkanku seperti apa rasanya kehangatan dari sebuah perasaan itu. Tidak ada lagi hal yang perlu aku sesali saat ini.


Setelah berpamitan dengan orang tuaku, aku melanjutkan perjalananku. Sekaligus mencari Helen yang menghilang karena kejadian itu. Eshean adalah tujuan kami selanjutnya.


Aku masih teringat kata-kata yang diucapkan Caris tadi. Sesuatu yang ingin dikatakan oleh Ria. Rasanya seperti langit yang mengatakannya kepadaku saat ini.


Luke, aku tidak akan pernah melupakanmu. Tidak akan pernah. Jadi, berkenan kah kau untuk selalu mengingatku? <--- Ria.


Ya, Ria. Aku tidak akan melupakannya, baik itu dirimu atau kenangan itu. Jika kita bertemu lagi, aku berjanji akan menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2