
"Selamat, Luke! Kau adalah orang pertama yang berhasil lolos." Ujar Lars.
Hei, apakah kau pura-pura tidak tahu. Atau jangan-jangan, kau pun tidak menyadarinya? Yah sudahlah. Aku tidak ingin memikirkannya.
Aku berhasil lolos dari reruntuhan buatan itu dengan menggunakan kemampuan bertarung ku. Melawan Orc bagiku cukup menyulitkan. Terutama, dia bisa menggunakan senjata yang dibuat oleh manusia. Kesadaran ku hilang karena emosi sebelumnya, jadi aku tidak terlalu ingat bagaimana aku bisa mengalahkannya. Yang jelas, aku menghabisi Orc itu dengan cara yang paling kejam.
Lars mengatakan besok aku akan langsung pergi ke markas divisi pertama berada. Ada beberapa hal yang membuatku menyesal saat ini, salah satunya adalah aku terlambat menyelamatkan Aarst. Walau begitu, setidaknya aku bisa semakin dekat dengan tujuanku saat ini.
......................
Aarst pernah mengatakan kepadaku, jika suatu hari dia tewas dalam peperangan, dia ingin aku mengambil surat yang ia letakkan di bawah bantalnya. Dia mengatakan aku harus memberikan surat itu kepada Belka.
Aku hanya perlu mencari seseorang yang bernama Belka. Tidak terlalu sulit, aku menemukannya dengan cara bertanya kepada orang-orang di sekitar.
"Apakah anda yang bernama Belka?" Tanyaku.
"I-iya. Ada perlu apa, ya?" Ia kebingungan.
Aku memberikan surat itu dan mengatakan kalau itu dari Aarst. Setelah memberikan surat itu, aku pergi. Alasan utama bagiku untuk langsung pergi adalah, aku tidak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Walau sudah pergi jauh dari tempat Belka berada, aku masih bisa merasakan aura kesedihan yang mendalam. Aku ingin meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkan Aarst. Tapi, aku sama sekali tidak punya keberanian untuk melakukannya.
__ADS_1
......................
Akhirnya, aku sampai di markas divisi pertama. Ini adalah tempat yang menjadi tujuanku selama ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus menunjukkan performa terbaikku kepada komandan divisi pertama.
Baru hari pertama, aku harus langsung ikut berperang di baris terdepan. Hanya ada satu alasan kenapa aku diizinkan berada di garis terdepan, karena hanya akulah satu-satunya orang yang lolos dari reruntuhan maut yang diciptakan oleh mereka.
Membunuh, merampas dan menang. Itu adalah hal yang akan selalu terjadi dalam peperangan. Seseorang yang berkontribusi banyak akan mendapatkan penghargaan dari seseorang yang berada di atas komandan divisi pertama. Yaitu, seorang komandan perang utama kerajaan. Dia adalah targetku, sang komandan perang yang mengatur para komandan divisi.
......................
Saat malam hari, aku sedang bersantai dengan para prajurit lainnya. Ada seorang prajurit wanita yang menarik perhatianku. Dia merupakan salah satu dari prajurit terbaik yang ada di sini, performanya selalu memenuhi ekspektasi dari komandan.
Tapi, prajurit wanita itu selalu sendirian. Aku bisa memahami itu, lagipula hanya ialah satu-satunya wanita yang ada di tempat ini. Tidak ada yang berani untuk menggodanya, dia sangat di hormati. Aku mencoba untuk mengajaknya berbicara saat dia sedang sendirian.
"Kenapa kau bergabung dengan pasukan militer?" Tanya Ria.
"Aku?... Aku ingin menghentikan perang ini." Ucapku.
Dia mengatakan kalau dia mengerti dengan perasaanku. Karena dia juga membenci keadaan saat ini. Melihat banyak seseorang yang menderita membuat hatinya dirinya merasa gundah. Setelah menghabiskan waktu bersama, aku rasa kami sudah mulai berteman sejak saat itu.
Hari ini, aku bertemu lagi dengan Caris yang secara diam-diam menyusup ke dalam markas. Dia mengatakan bahwa orang tuaku telah ditemukan dan sedang berada di tempat yang aman saat ini. Aku sangat bersyukur akan hal ini, aku masih bisa bertemu dengan orang tuaku lagi. Mungkin setelah peperangan ini, aku akan menemui mereka.
__ADS_1
......................
Hari-hari dipenuhi dengan sebuah pertarungan. Aku semakin terbiasa untuk membunuh sesama manusia, rasanya aku sangat aneh saat ini. Tapi, demi kedamaian ini, aku akan memperjuangkannya. Hingga aku bisa di pandang oleh komandan utama kerajaan ini.
Aku meminta Caris untuk mencari informasi tentang komandan itu. Ia dipanggil sebagai Lucca Sang Pembuat Keputusan Mutlak. Setiap orang harus mematuhi perintahnya, yang melanggar harus menerima apapun hukuman yang diberikan olehnya. Walau dengan sifatnya yang seperti itu, dia sangat ahli dalam urusan strategi perang.
Selain itu, hubungan pertemanan ku dan Ria semakin dekat. Saling bercerita, bertukar pendapat dan berlatih bersama saat senggang. Aku akui dia sangat pandai dalam hal bertarung, sangat berbeda dengan para wanita pada umumnya.
Beberapa orang mulai menjauhiku karena bergaul dengan Ria. Tapi aku tidak terlalu memperdulikan hal itu, walaupun Ria sedikit mengkhawatirkan diriku. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak masalah dengan hal itu.
"Kau yakin tidak masalah?"
"Iya!" Jawabku dengan sebuah senyuman.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Ria tersipu malu. Aku baru menyadari bahwa dia juga bisa bersikap imut. Lagi pula, dia juga adalah seorang wanita.
Aku melakukan pertemuan dengan Caris beberapa kali, tapi aku merasakan sedikit keanehan. Akhir-akhir ini, seperti ada yang mendengar percakapan kami. Mungkin aku harus lebih berhati-hati terhadap hal itu. Jika rencana yang sudah sejauh ini hancur, aku tidak akan bisa mengulangnya lagi. Jika perlu, aku akan membunuh seseorang yang mendengar percakapan kami.
Tenang, Luke. Kau harus bersikap tenang apapun yang terjadi. Tujuanmu sudah dekat, kalau kau gagal, kau pasti akan sangat menyesalinya.
Aku akan berjuang untuk memenuhi tugasku. Untuk menghentikan peperangan ini dengan caraku sendiri. Maka dari itu, aku akan bertarung sampai akhir kali ini, demi kedamaian semua orang. Aku tidak perlu ragu untuk menghabisi siapapun yang memiliki niat menganggu rencana ku. Sedikit lagi, hingga aku mencapainya.
__ADS_1
Setiap malam, aku selalu memikirkan tentang Helen. Aku tidak bisa menghilangkan rasa khawatir ku kepadanya. Apakah dia bisa bertahan hidup, apakah dia mampu melindungi dirinya, apakah dia tinggal di tempat yang nyaman saat ini, dan lain-lain. Yang bisa kulakukan hanyalah percaya kepadanya saat ini.
...----------------...