Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life

Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life
Chapter 5 : Pertanyaan


__ADS_3

Apakah kamu percaya bahwa semua orang yang akan kita temui di masa depan adalah sesuatu yang telah ditakdirkan?


......................


Dia gadis cantik yang ku lihat tadi siang kan? Aku hanya mengikuti suara yang indah itu. Aku tidak mengira bahwa pemilik suara itu adalah dia. Apa yang harus ku katakan saat ini? Hati ku benar-benar bimbang.


"Hai"


Dia tidak membalas dan hanya menatapku dengan kebingungan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Aku hanya bernyanyi" Jawab gadis itu.


Mengapa aku bertanya hal yang sudah jelas seperti itu!


"Bukankah ini sudah malam, mengapa masih di luar?" Tanyaku.


"Bukan urusanmu!"


Kami berdua terdiam untuk beberapa saat. Lalu, gadis itu bergerak dari tempatnya berada.


"Aku sudah selesai, kau pulang lah." Ucap gadis itu sambil berjalan dengan cepat.


Ya... sebaiknya aku juga pulang.


Aku berniat untuk pulang karena hari ini sudah sangat malam dan waktunya untuk semua orang tidur.


Apakah ini hanya perasaanku saja? Sepertinya tempat yang kami tuju sama.


"Hei! Kau itu penguntit ya?"


"Apa maksudmu?" Tanyaku.


"Jelas-jelas kau mengikuti ku dari tadi!"


"Ini sesuai arah tempat yang ku tinggali. Lagipula, untuk apa aku mengikuti mu?"


Kami pun tidak berbicara lagi dan melanjutkan perjalanan kami. Ya... Mungkin ini kebetulan yang cukup membuat diriku terkejut.


"Tuh kan! dasar penguntit. Tolong buka pintunya Bu! ada cowok jahat yang ngikutin Helen"


Bu Maria buru-buru keluar dari rumah.


"Di mana orang itu?" Tanya Bu Maria.


"Itu dia Bu!" Menunjuk ke arahku.


"Hmmm...? Rupanya kamu Luke" Bu Maria menarik nafas yang dalam.


"Ibu kenal dia?" Tanya gadis tersebut.


"Masuk aja dulu, nanti ibu ceritain."


Setelah masuk ke dalam rumah, Bu Maria langsung menjelaskan kepada gadis itu mengapa beliau bisa kenal denganku. Setelah ceritanya selesai, gadis itu lekas pergi ke kamarnya.


"Tolong maafkan Helen atas sikapnya itu ya"


"Iya Bu, tidak apa-apa kok. Maklum, dia mungkin terkejut mengetahui hal ini" Ucapku.


"Ngomong-ngomong bu, apakah dia adalah anak ibu?" Tanyaku.


"Sebenarnya, kami tidak memiliki hubungan darah. Dia adalah anak yang di buang oleh orang tua kandungnya. Aku bertemu dengannya saat masih berumur 6 tahun." Bu Maria menjelaskan.


"Memangnya, kemana orang tuanya pergi?" Tanyaku.


"Ada sebuah gosip bahwa orang tuanya pergi ke tempat yang sangat jauh menggunakan sebuah kapal. Kemungkinan besar orang tuanya pergi ke Eshean. Hanya itulah hal yang ku ketahui."

__ADS_1


Aku tidak bisa mengatakan apapun. Apa yang menjadi alasan bagi kedua orang tuanya untuk meninggalkan anak mereka?


"Walaupun aku tidak memiliki hubungan darah apapun dengan Helen, aku tetap akan menganggapnya sebagai anak ku. Aku sudah berjanji padanya untuk tidak meninggalkannya apapun yang terjadi."


"Ini sudah malam, tidurlah" Ucapnya.


Aku langsung pergi dan masuk ke kamarku.


......................


Pagi pun tiba, aku memikirkan apa yang harus kulakukan pada hari ini. Aku beranjak dari kasurku dan menuju ke bawah.


Tampaknya, semua orang masih tertidur. Entah mengapa aku ingin melakukan sesuatu yang menarik.


"Lebih baik aku berkeliling di desa ini, siapa tau ada hal yang menarik untuk dilakukan."


Setelah bersiap-siap, aku pergi untuk mengelilingi desa ini. Mungkin saja banyak hal menarik yang terlewatkan.


Desa ini memiliki keunikannya tersendiri. Banyak sekali pemusik di sekitar sini, tidak jarang juga kau akan menemukan pengamen yang memiliki kemampuan bernyanyi yang hebat.


Entah mengapa aku merasa orang-orang yang bisa memainkan alat musik gitar itu terlihat keren. Mungkin aku harus mencobanya jika ada kesempatan suatu hari nanti.


"Tolong!!! Dia mencuri dompetku" Seorang nenek meminta pertolongan.


Aku merespons hal itu secara langsung.


"Serahkan saja padaku."


Aku menggunakan kekuatan sihir yang sederhana untuk menghentikannya.


"Sihir Roh Api; Tingkat Bawah : Bola Api!"


Serangan yang kuberikan mengenai pencuri itu secara telak. Dengan itu, aku berhasil merebut kembali dompetnya. Sihir sederhana akan ampuh saat melawan orang yang tidak memiliki kemampuan khusus. Setelah itu, aku kembali untuk memberikan dompet itu kepada nenek tersebut.


"Terima kasih ya nak, kamu penyelamatku."


......................


Aku menemukan sebuah kebun yang menanam buah yang tidak pernah kulihat. Mereka mengatakan nama buah itu adalah Quance. Aku izin untuk meminta satu buah saja dan mereka pun memberikannya padaku. Aku mencicipi buah tersebut.


Ini agak keras dan asam. Tapi ya, tidak terlalu buruk.


Setelah seharian aku berjalan, banyak sekali hal baru yang kutemukan. Karena membantu nenek itu tadi, aku dipanggil oleh kepala desa setempat. Dia memberikanku imbalan berupa uang yang lumayan banyak. Rupanya nenek itu adalah kakak dari Pak Kades.


Sepertinya aku sedang beruntung, haha.


Matahari mulai terbenam, ini sudah waktunya aku untuk pulang.


......................


Apakah dia akan bernyanyi lagi ya malam ini? Aku penasaran, apakah hal itu ia lakukan setiap hari saat malam.


Tidak lama setelah itu, terdengar sebuah suara nyanyian.


"Sepertinya itu dia"


Aku bergegas menuju ke tempat kami bertemu kemarin malam. Dan benar saja, dia ada di sana sedang menyanyikan sebuah lagu yang indah. Gadis itu menyadari kehadiranku dan langsung menghentikan nyanyiannya.


"Ada perlu apa datang kemari?" Tanya gadis itu.


"Aku tidak akan menganggu, lakukanlah apa yang ingin kau lakukan"


"Huh.... Dasar cowok aneh."


Apa coba, tiba-tiba bilang aku ini cowok aneh.


Dia melanjutkan nyanyiannya sampai selesai. Setelah itu dia langsung pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. Aku benar-benar tidak memahami apa yang sebenarnya dipikirkan oleh para wanita, itu adalah hal yang paling sulit untuk dipahami.

__ADS_1


Semenjak hari itu, aku selalu menemuinya setiap malam saat dia melakukan kebiasaannya. Dengan paras cantik serta suara nan indah, membuatku tidak pernah bosan.


Banyak hari-hari yang telah berlalu, tepat pada malam itu. Dia mulai memanggilku dan mengajak ku berbicara sungguhan untuk pertama kalinya.


"Hei, bisakah kau duduk di dekat ku?" Dia bertanya.


Aku langsung berjalan mendekatinya dan duduk dekat dengannya.


Ada apa denganku, jantungku serasa mau meledak. Situasi macam apa ini???


"Luke..."


"I-iya Helen"


"Apakah menurutmu suaraku bagus?"


"Tentu saja"


"Oh.... Hei Luke, menurutmu jika suatu hari nanti aku berhenti melakukan hal ini, apakah kau akan tetap melihatku?"


"Mengapa kau menanyakan hal seperti itu?"


Helen terdiam untuk beberapa saat.


"Haha, maaf aku menanyakan hal aneh seperti itu" Helen mencoba mengalihkan topik.


Aku bingung bagaimana cara untuk menjawab pertanyaan itu. Mengapa dia menanyakan seperti itu kepadaku?


"Ini sudah malam, ayo pulang Luke"


......................


Sejak hari itu, aku memikirkan apa maksud dari pertanyaan tersebut. Hari ke hari, aku semakin sering menghabiskan waktu bersamanya. Dia selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Suatu hari, Bu Maria ingin membicarakan sesuatu dengan diriku.


"Luke, aku mau menjelaskan hal tentang Helen. Bisakah kau mendengarkan ku?"


"Bisa Bu."


"Helen sejak kecil adalah seorang anak yang pendiam, bahkan ia tidak pernah memiliki teman sekalipun. Aku sedih melihatnya yang selalu sendirian itu, aku ingin ada seseorang yang mau menjadi temannya. Dan, akhirnya aku menemukanmu Luke, kau adalah seseorang yang menurutku paling cocok untuk berteman dengannya saat ini. Akhir-akhir ini dia lebih sering tersenyum, aku yakin kau lah yang membuatnya seperti itu. Luke, bisakah aku percaya kepadamu untuk menjaga Helen?"


"Saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Terima kasih ya Luke. Oh iya, akhir-akhir ini aku sering melihat kalian berdua menghabiskan waktu bersama. Banyak yang mengira bahwa kalian adalah sepasang kekasih, haha!"


Rumor selalu menyebar dengan cepat ya...


......................


Seperti biasa saat malam hari aku selalu menghabiskan waktu untuk mendengarnya bernyanyi. Hal ini sudah terasa tidak asing lagi bagiku.


"Apakah kau sudah selesai, Helen?"


"Iya, ayo pulang"


Aku berjalan di samping Helen saat pulang. Sejujurnya, aku ingin mengucapkan sesuatu kepadanya. Tidak lama, kami sampai di depan rumah.


Mungkin inilah saat yang tepat.


"Helen" Ucap diriku yang gugup.


"Ya?"


"Mungkin hal ini terlalu tiba-tiba dan akan terasa aneh. Tapi, aku ingin mengatakan bahwa kau adalah temanku yang berharga. Aku tidak tahu bagaimana diriku di matamu, tapi begitulah dirimu bagiku."


Helen tidak mengucapkan apapun dan langsung masuk ke dalam rumah.


Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah ya?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2