Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life

Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life
Chapter 7 : Keputusan


__ADS_3

Jika ada pertemuan, maka ada perpisahan. Itu adalah hal yang selalu terjadi dalam kehidupan, semua orang akan mengalami kejadian itu suatu hari atau mungkin saat ini. Beberapa mengatakan bahwa jika ingin berpisah, berikanlah kesan yang baik dan kita harus mengucapkan sebuah kalimat yang menyenangkan hati. Tapi kenyataannya, apa yang kita kenal sebagai "perpisahan" adalah suatu hal yang selalu menyakitkan. Semanis apapun kata-kata yang diucapkan oleh seseorang, perpisahan itu tetap menyakitkan. Bahkan sebuah momen yang indah bisa membuat keadaan menjadi lebih buruk.


Aku akan pergi dari Voiria hari ini. Sebelum pergi aku berpamitan dulu dengan Bu Maria dan Helen. Tetapi Helen tidak ada bersama Bu Maria, jadi aku titipkan salam saja. Tiba-tiba ia muncul dari lantai atas seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Tunggu Luke!" Helen memanggilku dari lantai atas.


Apakah dia sudah memutuskan keinginannya atau hanya ingin ngucapin selamat tinggal ke aku, ya? Mengapa di saat seperti ini aku berharap dia akan ikut denganku.


"Katakanlah keputusanmu, Helen." Ucapku


Helen menarik nafas dalam-dalam sebelum mengucapkannya.


Aku jadi mengingat waktu yang kami habiskan bersama. Hari-hari terasa sangat indah saat bersamanya, aku jadi ingin tinggal di sini lebih lama, haha! Tapi ya, mau bagaimana lagi, aku memiliki tujuan yang lebih penting. Aku harap dia menentukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri. Sekarang, katakanlah, Helen!


"Apakah kau akan pergi selamanya?" Helen bertanya kepadaku.


"Aku tidak tahu tentang itu."


"Apakah kau menyukai tempat ini?" Dia bertanya kepadaku untuk kedua kalinya.


"Bukan tempatnya, tapi orang-orang yang kutemui."


"Apakah kau menyukai waktu-waktu yang kita habiskan bersama?" Dan lagi.


"Tentu saja."


"Kalau begitu, bawalah aku bersamamu bodoh! Mengapa malah dirimu sendiri yang tidak menyadari keinginanmu yang sesungguhnya?"


Benar juga apa yang dikatakannya. Mengapa malah aku yang aneh. Aku tidak bisa berbohong, aku ingin memiliki seseorang untuk bisa diajak berbicara saat kesepian. Hahaha! Jangan-jangan, aku yang sebenarnya aneh selama ini.


"Hahaha, kau benar! Aku ingin mendengar dirimu mengatakan itu."


"Bodoh..." Ucap Helen yang menangis sambil tersenyum.


Helen turun ke bawah sambil membawa tas yang berisi barang bawaannya. Dia telah merencanakan hal ini sejak tadi.


"Hei bocah ingusan, kalian melupakanku ya?!" Bu Maria marah karena kami seperti tidak menghiraukan dirinya yang ada di sana sejak tadi.


"Mungkin ini adalah waktu yang tepat Helen"


Helen menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia menyetujui ucapan ku.


"Bu..." Ujar Helen kepada Bu Maria yang langsung meresponsnya.


"Maafkan aku karena tidak bisa menahan keinginan hatiku. Maafkan aku karena selalu menyusahkan dirimu selama ini. Maafkan aku karena membuatmu selalu khawatir padaku. Dan, maafkan aku karena telah membuatmu sedih." Helen meminta maaf berulang kali kepada Bu Maria yang hanya menatapnya tanpa reaksi apapun.


Aku membisikkan sesuatu kepada Helen. "Tidak Helen, bukan itu yang ingin Bu Maria dengar dari dirimu. Ada yang lebih penting dari permintaan maaf, siapapun harusnya paham akan hal itu"


Aku harap dia memahami apa yang kukatakan.


"Satu lagi Bu..." Helen mencoba mengatakan sesuatu.


"Terima kasih telah menjadi Ibuku. Aku bangga memiliki sosok Ibu seperti dirimu. Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya kepadamu, tapi kali ini aku akan mengatakannya. Aku menyayangimu dari lubuk hatiku. Walau kita tidak memiliki hubungan darah, aku tetap akan menganggap hanya kau orang tuaku yang sebenarnya."


Tangisan Bu Maria pecah setelah mendengar apa yang Helen katakan. Mereka berpelukan seperti gambaran sebuah Ibu dan anak perempuannya.


Banyak hal-hal yang tidak bisa kita ubah di dunia ini, salah satunya hubungan antara orang tua dan anak. Beberapa keluarga memiliki hubungan yang buruk bahkan sampai saling membenci, apakah hal seperti itu pantas untuk kita sebut sebagai "keluarga"? Aku tidak memiliki jawaban tentang itu. Tapi, ada satu hal yang pasti bagiku, di manapun dirimu berada saat ini, jika ada sebuah tempat yang terdiri dari orang-orang yang membuatmu merasakan kasih sayang dan kenyamanan. Itulah hal yang pantas untuk di panggil sebagai "keluarga".


Setelah berpamitan dengan Bu Maria, kami pergi bersama dari desa ini.


Aku memikirkan suatu hal. Ucapan permintaan maaf adalah tanda penyesalan terhadap apa yang kita lakukan. Beberapa orang sering kali menganggap bahwa perkataan maaf itu cara paling ampuh untuk menyenangkan hati seseorang, jawabannya adalah tidak. Daripada mendengar perkataan "maaf", banyak orang yang lebih ingin mendengar ucapan "terima kasih".


......................


"Luke, terima kasih ya sudah memberikanku ini" Merujuk kepada kalung yang dipakainya.


"Sama-sama" Balasku.


"Kita akan ke mana setelah ini?" Dia bertanya.


"Aku belum memastikan hal itu. Mungkin sebuah tempat yang memiliki pelabuhan yang besar?"


"Pelabuhan ya... Mungkin akan menarik!" Helen bersemangat.

__ADS_1


Ini pertama kalinya aku melakukan perjalanan bersama seseorang. Memiliki seorang teman yang bisa diajak berbicara saat bertualang, ini membuatku tidak merasa kesepian lagi.


......................


"Hei Luke, ke sini!" Memanggilku yang sedang bersantai.


Aku menghampirinya untuk mengetahui mengapa dia memanggilku.


"Lihat apa yang kutemukan ini!" Dia menunjukkan sebuah jenis jamur yang beracun.


"Mau makan pakai ini?" Helen menawarkannya sambil tersenyum.


"Tidak. Aku belum mau mati" Membalas dengan tersenyum.


"Yah... Luke tidak asik!"


......................


Hari sudah sangat malam. Kami memutuskan untuk menetap di gua malam ini. Berbicara dan menghabiskan waktu bersama. Aku juga mulai menyadari bahwa Helen adalah seseorang yang sangat aktif. Dia selalu melakukan hal-hal yang aneh sejak tadi, kadang juga membuatku jengkel. Tapi, itulah yang membuat perjalanan ini menjadi lebih berwarna. Aku harap dia akan selalu seperti ini.


"Luke, lihat bintang-bintang itu!"


Aku duduk di sebelahnya sambil memandang bintang-bintang itu juga.


"Apakah kau selalu seperti ini sebelumnya?"


"Iya, aku selalu seperti ini sebelum bertemu denganmu. Tapi, ada hal yang berbeda kali ini. Aku tidak sendirian. Aku bersyukur ada kau di sini, Helen"


"Eh??? Coba ulangi lagi!"


"Huh... tidak mau!"


"Dasar payah!" Ujarnya.


"Biarin."


Kami menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya tertidur. Ini terasa lebih menyenangkan dari biasanya.


"Luke... Aku ingin bersamamu" Ucap Helen yang sepertinya sedang bermimpi.


Dia ini sangat aneh dan aktif. Aku tidak memahami isi kepalanya itu apa. Gadis ini juga kurang waspada terhadap keadaan sekitarnya. Padahal ada seorang laki-laki yang hanya berduaan denganmu saat ini, bisa-bisanya kau tertidur dengan pulas. Huh, dasar aneh. Yah... Tapi sepertinya, aku mungkin menyukaimu, Helen.


Saat menutup mata, aku langsung tertidur. Mungkin tubuhku lelah karena melayani kelakuan anehnya sejak tadi.


......................


Hari ini kami melanjutkan perjalanan kami lagi. Kami menemukan beberapa rumah di sebuah hutan, sepertinya ada yang tinggal di tempat ini.


Manusia... Kuping panjang?... Elf?!


Ini pertama kalinya aku melihat bangsa elf secara langsung. Mereka memiliki kuping yang lebih panjang daripada manusia. Elf dapat hidup hingga ratusan tahun dan tetap memiliki wajah yang awet muda. Kebanyakan elf tinggal di hutan yang jauh dari manusia. Aku rasa hal itu dilakukan karena suatu alasan.


Para elf itu menghentikan kami untuk mendekat ke tempat tinggal mereka. Mereka membawa panah mereka sebagai senjata.


"Tunggu! Kami bukan orang jahat" Aku mencoba untuk memberi tahu mereka.


"Ver! Waz pan ju dei hiàr?! (Manusia! Apa yang kamu lakukan di sini?!)" Salah satu elf mencoba untuk mengatakan sesuatu.


Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya ia katakan. Sepertinya benar, elf memiliki bahasa yang berbeda dari manusia. Apa yang harus kulakukan saat ini?


Seorang elf wanita muncul dan mengatakan sesuatu. "Stag! reme tecca o des. (Stop! biar aku yang mengurus hal ini.)"


Dia mendekat dan bertanya kepadaku. "Wahai manusia, apa tujuanmu datang kemari?"


"Kami kebetulan menemukan tempat ini saat sedang berjalan. Kami tidak memiliki maksud apapun." Aku meyakinkannya.


"Aku harap itu benar."


"Notte pan deir! (Tidak ada yang berbahaya!)" Ucap elf wanita itu kepada kawanannya.


Mereka bubar setelah mendengar itu. Ada salah satu elf yang melihat kami dengan sinis dan mengatakan sesuatu sebelum pergi. "Donne cré, Caris! (Jangan lengah, Caris!)"


"Sudah aman, ikutlah denganku" Ucap si wanita elf.

__ADS_1


Dia akan mengantarkan kami ke suatu tempat. Mungkin ke tempat pemimpin para elf di sini.


Kami masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Saat ini di depan kami ada seorang elf pria yang duduk, sepertinya dia adalah pemimpin mereka.


"Jadi, langsung saja ke intinya. Apa tujuanmu datang ke tempat ini?" Tanya elf pria tersebut.


"Kami hanya kebetulan lewat." Ucapku.


"Begini ya anak muda, seharusnya kamu tahu bahwa hubungan antara elf dan manusia itu sangat buruk."


"Saya tidak mengetahui hal itu, maafkan saya"


Pria elf itu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya. "Aku belum bisa mempercayai perkataan mu sepenuhnya."


"Saya paham akan hal tersebut. Tapi, bolehkah saya meminta satu hal?" Aku bertanya.


"Dirimu menginginkan apa?"


"Aku tahu ini permintaan yang sulit. Tapi, bolehkah kami menginap di tempat ini?"


"Aku akan mengizinkannya. Tapi dengan satu syarat, ikuti peraturan yang akan kuberikan untukmu. Dan, jangan pernah bertindak aneh."


"Saya mengerti! Terima kasih banyak atas kemurahan hati anda." Aku mengucapkan itu sambil menundukkan kepala.


Kami diantarkan ke sebuah rumah kecil yang hanya bisa menampung dua orang.


Tempat ini sedikit sempit. Tapi setidaknya, kami masih bisa tinggal di tempat ini dengan nyaman.


"Aku benar-benar takut, Luke!" Dia berlari memelukku dengan erat.


"Sudah tidak apa-apa kok, kamu bisa tenang sekarang."


Setelah keadaan mulai tenang, kami membereskan tempat itu bersama-sama dan meletakkan barang-barang bawaan kami. Walaupun tempat ini tidak begitu besar, masih ada dua kamar di dalamnya.


"Ini sudah malam, waktunya tidur" Ujarku.


Hujan deras dengan petir dan angin kencang terjadi malam ini. Kami tidur di kamar masing-masing. Aku merasakan banyak sekali elf yang tidak menyukai kedatangan kami di sini, aku harap besok tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Saat aku baru saja mau tidur, tiba-tiba pintu kamarku terbuka.


Siapa itu?


"Luke, bolehkah aku masuk?"


Syukurlah itu cuma Helen.


"Masuklah" Jawabku.


Dia masuk ke kamarku sambil membawa bantalnya. Aku menyadari bahwa dia sedang merasa ketakutan.


"Bolehkah aku tidur bersama denganmu, Luke? Aku takut sendirian"


"Boleh kok....."


Dia mendekat lalu naik ke atas kasurku. Dia mendekat denganku.


Tunggu. Tidur di kasur yang sama dengan seorang gadis cantik. Ini tidak benar!


"Helen, apakah kau tidak takut tidur di samping seorang pria seperti ini?" Tanyaku


"Jika itu orang lain, aku pasti takut. Hanya karena itu dirimu, Luke" Balasnya.


Dia sangat mempercayai ku. Sejak awal perjalanan, dia selalu tidur di dekatku tanpa merasa khawatir akan terjadi apa-apa kepadanya.


Helen tertidur sambil memeluk diriku. Dia seperti mengatakan kepadaku untuk jangan melepaskannya. Aku bisa mencium aroma rambutnya yang sangat wangi. Tangannya yang kecil melingkari tubuhku.


Kau bisa tertidur dengan nyenyak. Tapi bagaimana denganku? Tidur satu kasur dengan wanita cantik dan saling berpelukan. Sulit untuk berusaha tidak melakukan apapun.


Aku berusaha untuk tidur sebisa mungkin. Walaupun berada dalam momen yang aneh seperti ini, aku tetap mencobanya dan berhasil. Aku tertidur.


......................


Dahulu kala ada sebuah cerita tentang seorang elf dan seorang manusia yang berteman. Mereka adalah dua orang laki-laki yang bermimpi untuk membangun suatu kerajaan terbesar di dunia ini. Akhirnya, mereka pun bekerja sama untuk mencapai mimpi yang mereka dambakan tersebut. Berusaha tanpa henti, mengumpulkan anggota-anggota, mencari tempat yang tepat untuk lokasi kerajaan lalu membangunnya. Mereka berdagang sambil menawarkan kepada orang-orang untuk membantu mereka dan orang-orang yang mau membantunya akan diberikan suatu imbalan (Termasuk para elf yang di ajak). Proses pembangunan berjalan dengan sangat lancar, mereka semakin dekat dengan tujuannya. Setelah beberapa tahun, kerajaan sudah terbangun. Kerajaan yang sangat besar sekali. Para elf dan manusia hidup bersama di sana. Hari-hari berjalan dengan baik, mereka hidup dengan damai. Bahkan ada seorang manusia yang menikah dengan seorang elf dan menghasilkan keturunan "Half Elf" yang saat ini bisa kita jumpai di beberapa tempat.

__ADS_1


Kerajaan tersebut memiliki dua raja, satu dari manusia dan satu dari elf. Mereka membagi kekuasaan mereka agar terjadinya sebuah keseimbangan dalam kerajaan. Suatu hari, ada seorang pemuka agama yang datang ke kerajaan tersebut dan melakukan sebuah ceramah. Mereka mengatakan "Manusia adalah makhluk dengan derajat tertinggi di dunia ini. Kita selalu hidup bersama dengan bangsa kita sendiri. Bangsa selain kita adalah sesuatu yang menodai kebersihan dunia ini. Buang Mereka!". Banyak yang mempercayai perkataannya itu, termasuk raja dari manusia. Pada hari itu, hancur semua mimpi yang mereka bangun bersama. Peperangan antara manusia dan elf pun terjadi selama berbulan-bulan. Manusia menang dalam jumlah. Elf mundur dari peperangan karena banyak sekali prajurit mereka yang terluka dan tidak sanggup bertarung lagi. Kemenangan manusia ini menyebar ke seluruh benua Heuro (benua tempat Luke berada saat ini). Banyak elf yang pergi ke dalam hutan dan menciptakan rumah bagi mereka. Dan, aku pernah mendengar cerita tentang pohon yang bisa membawa kita ke tempat di mana kerajaan elf yang sesungguhnya berada. Di masa ini, sulit untuk menemukan seorang elf. Karena banyak dari mereka memilih untuk tinggal di tempat yang jauh dari jangkauan manusia.


...----------------...


__ADS_2