
Hari ini kami akan berangkat untuk pergi ke Eshean. Kapal yang kami tumpangi cukup besar, karena masih banyak orang selain kami yang ingin pergi mengungsi ke Eshean. Tepat hari ini, sudah satu minggu semenjak peperangan antar kerajaan pecah.
Perjalanan ini mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Karena kami akan pergi ke benua yang berbeda. Tapi untungnya, kapal ini menyediakan fasilitas yang baik untuk penumpangnya. Jadi, kami tidak perlu khawatir akan suatu hal.
Pelabuhan Yordam terkenal di tiga benua besar yang ada saat ini. Tempat ini juga memiliki kualitas kapal yang sangat bagus. Banyak pedagang yang memiliki nama besar di Eshean datang ke pelabuhan ini. Orang-orang dari benua Eshean terkenal dengan kecerdasan mereka dalam hal berdagang.
"Selamat menikmati perjalanan anda"
......................
Saat sedang berada di atas kapal, aku melihat pemandangan yang sangat menenangkan. Laut yang sangat tenang dan langit yang biru. Aku merasa otak ku seperti sedang dibersihkan saat ini.
Aku mungkin bisa menghilangkan semua pikiran negatif ku. Saat kau mulai lebih sering melihat isi dunia ini, kau akan menyadari bahwa dunia ini sesungguhnya lebih indah dari apa yang kau pikirkan. Sama seperti cara mu melihat seseorang. Jika kau fokus pada keburukan seseorang, kau tidak akan pernah menyadari bahwa orang itu memiliki sisi yang baik. Tapi, semua itu tergantung dengan cara pikir masing-masing orang.
......................
Malam yang sangat indah, aku memandang ke arah langit-langit malam yang penuh dengan bintang. Tanpa aku sadari, aku meneteskan air mataku. Aku benar-benar sedih saat memikirkannya. Apakah aku bisa bertemu lagi dengan seseorang yang berharga bagiku. Semua hal itu terus mengganggu diriku.
Aku teringat dengan masa kecilku saat masih di rawat oleh Bu Maria. Aku selalu dimarahi olehnya, karena aku selalu saja pulang terlambat. Menghabiskan waktu sendirian adalah hal yang sangat aku sukai selama ini. Aku merasa lebih tenang dan bahagia saat itu.
Aku pernah berpikir bahwa diriku tidak terlalu membutuhkan seorang teman. Tidak ada yang mau mengajakku berbicara. Baik itu anak laki-laki atau anak perempuan. Aku terus menjalani hidup tanpa menyadari suatu hal penting.
Hingga Luke tiba-tiba muncul di hadapanku saat itu. Aku tidak pernah menyangka pertemuan itu adalah awal dari diriku yang baru. Berawal dari malam itu, saat dia datang untuk melihat nyanyian ku. Saat aku baru mulai menyadarinya, aku telah jatuh cinta kepadanya.
Hal itu membuatku sedikit sadar akan suatu hal. Memiliki seseorang yang bisa bersamamu setiap saat sangatlah menyenangkan. Aku sangat menyukai keberadaannya. Aku yakin dia saat ini sedang berjuang untuk orang-orang.
"Lagi pula... Dia itu Luke, kan?" Helen berbicara kepada dirinya sendiri.
......................
Seperti biasa, aku bersantai di pinggir kapal dengan menatap ke arah lautan yang luas. Anak-anak Elf itu sedang bermain-main dengan anak-anak dari ras manusia. Mereka bisa akrab dengan mudah karena jiwa seorang anak-anak yang pada umumnya masih polos. Aku berpikir memang seharusnya seperti itu.
__ADS_1
"Sendirian saja?" Ucap seorang gadis.
"Eh?... Siapa, ya?" Helen bertanya.
"Oh iya. Maafkan aku, namaku adalah Stella."
Namanya adalah Stella, seorang perempuan yang berasal dari desa Elwasch. Tampaknya kami memiliki tujuan yang sama, untuk pergi mengungsi ke Eshean. Kami saling bercerita tentang diri masing-masing.
Kami menjadi teman yang mengalami nasib yang sama, mungkin. Stella memiliki sikap yang sangat blak-blakan, dia bercerita tentang segala hal tanpa ragu. Ini adalah pertama kalinya aku memiliki seorang teman sepertinya. Seseorang yang tidak ragu untuk mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan.
"Aduh!" Seorang anak kecil terjatuh dan mengalami luka kecil di bagian tangannya.
Aku tidak bisa diam melihat hal itu. Aku mencoba untuk melakukan sihir penyembuhan yang telah aku pelajari selama berada di desa Elf. Sihir ini sangat berguna untuk menyembuhkan luka-luka tertentu. Tapi, tentu saja akan sangat terbatas. Karena aku tidak memiliki jumlah mana yang besar.
"Terima kasih kak! Yang tadi itu sangat hebat." Ucap anak itu.
"Eh?.. I-itu hanya sihir biasa..."
Hal-hal kecil bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga jika berada di tempat yang tepat. Mereka semua memujiku karena telah menyembuhkannya. Tidak ada orang yang bisa menggunakan sihir itu selain diriku di kapal ini.
Merasa berguna untuk orang lain adalah salah satu hal yang sangat membanggakan bagiku. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan hal seperti ini. Orang-orang tidak akan menilai kontribusi berdasarkan jumlah, tapi berdasarkan seberapa tulus niat mu.
Setelah kejadian itu, banyak orang-orang di kapal yang meminta bantuan ku. Tanpa aku sadari, aku mulai terbiasa dalam melakukan hal-hal seperti ini. Awalnya, sangat terasa lelah karena tubuhku tidak terlatih.
Hubungan ku dengan Stella juga semakin dekat. Aku baru mengingatnya, Stella berasal dari desa yang sama dengan Luke. Aku bertanya-tanya, apakah mereka saling mengenal atau tidak. Seharusnya mereka sudah saling mengenal satu sama lain, karena umur nya dengan Luke sama.
"Stella, apakah kau mengenal Luke?"
Stella terkejut saat mendengar aku mengatakan nama Luke. Dia tersenyum dan memandang ke arah lautan.
"Coba lihat laut itu." Ujar Stella.
__ADS_1
Apa hubungan Luke dengan laut?
"Sangat tenang dan nyaman. Bukankah Luke juga seperti itu?" Stella tersenyum.
Saat itu aku menyadarinya. Stella adalah seseorang yang dekat dengan Luke.
Lagi pula, mereka adalah teman satu desa, kan? Tapi kenapa aku merasa iri akan hal itu.
Kegiatan ini terus berlanjut setiap harinya. Perjalanan ini sudah berlalu hampir dua bulan lamanya. Ada kemungkinan besar bahwa minggu depan kami akan sampai di Eshean.
Aku terus memikirkan tentang hubungan apa yang ada antara Luke dan Stella. Kenapa dada ku terasa sangat sesak saat memikirkan hal itu. Entah kenapa dia terasa sangat dekat dengan Luke.
"Kamu sedang memikirkan apa, Helen? Ini sudah malam, loh." Tanya Stella.
"Tidak ada..."
Aku sangat ingin menanyakannya. Tapi, kenapa aku sangat ragu untuk mengatakannya? Tidak peduli, aku akan tetap melakukannya.
"Stella!" Seru Helen.
"Jangan memanggilku keras-keras begitu. Semua orang lagi tidur..."
"Em... Apakah kamu menyukai seseorang saat ini?" Tanya Helen.
Stella menunjukkan ekspresi terkejut, lalu secara perlahan ia tersenyum.
"Hahaha, apa coba kamu ini. Mau nanyain itu aja rupanya."
Untuk pertama kalinya, aku melihat mata Stella sangat bersinar. Dia terlihat sangat cantik di bawah langit malam.
"Entahlah... Mungkin aku telah menyukai orang itu sejak lama." Jawab Stella.
__ADS_1
Kenapa aku merasa kecewa mengetahui hal itu?... Apa yang sebenarnya terjadi kepada diriku. Apakah aku bisa mengatakannya? Sepertinya Stella juga memiliki perasaan kepada Luke.
...----------------...