
Cerita dari sudut pandang Helen.
Aku dan beberapa anak-anak Elf berhasil selamat dari serangan bandit. Kekacauan yang ada di benua Eurean memberikan kesempatan bagi para bandit untuk merampas secara tiba-tiba. Dengan jumlah mereka yang banyak itu, mereka mampu mengalahkan sebuah desa dengan sangat mudah.
Kami terpaksa pergi dari tempat itu. Aku pernah mendengar kata-kata ini dari Bu Maria, "Cukup berjalan lurus saja ke arah Timur. Pasti kau akan menemukan sebuah pelabuhan". Jadi, aku memutuskan untuk percaya dengan hal itu. Karena tidak ada yang tahu sampai kapan peperangan ini akan terus berlanjut.
Banyak juga korban dari peperangan ini. Apakah kampung halaman ku baik-baik saja ya? Bu Maria...
"Kak, apakah kita akan baik-baik saja?"
"Tenang saja. Kakak akan melindungi kalian" Ujar Helen.
Tugasku saat ini adalah melindungi anak-anak ini. Menurutku, Eshean akan menjadi tempat yang sangat aman untuk saat ini. Tapi, apakah aku benar-benar bisa sampai di tempat itu, ya.
Aku pernah mendengar kata-kata ini dari Bu Maria. Semakin banyak kau memikirkan suatu hal, maka hal itu akan semakin jauh darimu. Aku selalu memikirkan suatu hal secara mendalam. Apakah aku bisa melindungi orang itu, aku selalu memikirkannya.
"Tolong aku..." Seseorang yang terlihat sekarat meminta bantuan.
Aku selalu ragu untuk menolong orang lain. Rasa takut akan kemungkinan jebakan, itulah yang saat ini aku pikirkan. Jika aku menolongnya, apakah kami akan tetap baik-baik saja.
"Aku mohon..."
Maafkan aku, aku tidak bisa. Aku bukanlah Luke yang bisa menolong siapapun dan hidup dengan mengikuti kata hatinya.
"Helen, bersikap waspada dalam berbagai situasi bukanlah hal yang buruk. Tapi, jika kau memang ingin melakukan suatu hal, lakukanlah." Helen teringat dengan kata-kata dari Luke.
__ADS_1
Hah... Dasar, Luke. Aku benar-benar tidak bisa melawanmu.
"Biar aku rawat lukamu" Ucap Helen.
Helen merawat luka dari prajurit yang sekarat tersebut. Dengan beberapa pengetahuan yang ia dapatkan dari desa Elf, dia mampu memberikan perawatan kepada prajurit itu dengan baik.
Perasaan menolong orang lain, ya... Tidak terlalu buruk. Kau benar Luke, aku mungkin menyukai hal ini.
Prajurit itu sangat berterima kasih kepadaku. Dia berharap untuk bisa membalas kebaikanku dengan suatu permintaan yang aku inginkan. Aku memintanya untuk mengantar kami ke pelabuhan yang bisa membawa kami pergi ke Eshean. Dia setuju untuk membawa kami.
Aku sadar dengan apa yang Luke maksudkan kepadaku. Menolong orang lain itu, seperti menanam sebuah apel lalu memakannya sendiri setelah panen. Jika kau berbuat baik kepada orang lain, kebaikan itu akan berbalik ke dirimu sendiri. Begitu pun sebaliknya, jika kau berbuat jahat, kau akan menerimanya kembali suatu hari nanti.
Bagaimana aku bisa-bisanya tidak mengetahui hal kecil seperti itu? Kau mengajariku banyak hal tentang kehidupan ini, Luke. Aku menerka-nerka, di mana kau berada saat ini. Apakah kau melakukan segala hal dengan baik? Tidak-tidak, kalau itu kau pasti akan berjalan dengan baik. Lagi pula, kau adalah seseorang yang aku kagumi. Jika kita bertemu lagi, aku akan berusaha untuk lebih agresif, haha!
......................
Salah satu tempat yang tidak akan terkena dampak oleh perang mungkin hanya pelabuhan ini. Karena pelabuhan ini sangat penting bagi benua ini. Kegiatan perdagangan, distribusi, dan produksi. Semuanya ada di tempat ini.
Setelah berjalan sangat jauh, aku memutuskan kami akan menginap di tempat ini untuk satu hari. Banyak para pendatang dan pedagang yang melakukan kegiatan mereka di sini. Jadi, tidak heran kalau ada banyak sekali tempat penginapan di tempat ini.
Saat aku mengingatnya, aku sadar bahwa dengan keuangan saat ini aku hanya bisa memesan satu kamar saja. Kami terpaksa harus berbagi satu kamar.
Tempat ini tidak memiliki pandangan yang buruk terhadap Elf. Mungkin, karena banyak pedagang yang datang dari luar benua adalah ras yang berbeda-beda. Terutama Eshean, benua yang memiliki toleransi antar ras yang sangat erat. Aku dengar, ras manusia dan non-manusia hidup berdampingan di benua itu.
Karena hari ini masih siang, aku ingin berkeliling di tempat ini untuk menghilangkan rasa penasaran ku. Seperti yang aku duga, banyak sekali pedagang di tempat ini. Pendatang yang memiliki bentuk wajah dan warna rambut yang berbeda dengan orang-orang di benua ini. Ini membuatku sedikit lebih tertarik dengan tempat ini.
__ADS_1
Jika saja kau ada bersamaku saat ini, Luke. Hal ini pasti akan jauh lebih menyenangkan...
......................
"Ayo kembali ke penginapan, semuanya" Titah Helen.
"Iya kak!"
Hari sudah hampir malam, kami pulang ke penginapan untuk beristirahat. Anak-anak tidur lebih cepat daripada kami, mereka tidak memiliki beban hidup yang terlalu berat. Ya, memang begitulah seharusnya anak-anak pada umumnya.
Aku selalu melihat ke arah langit-langit malam setiap harinya. Berharap aku dan Luke melihat ke arah langit yang sama. Aku sering teringat bagaimana cara aku dan Luke menghabiskan waktu bersama selama ini. Itu sangat menyenangkan, aku tidak mau melupakannya.
Luke, jika kau melihat ke arah yang sama denganku saat ini. Apakah kau bisa mendengar perasaan yang ingin aku sampaikan padamu? Kau tahu, aku ingin sekali mencurahkan isi hatiku kepadamu saat ini. Terjadi hal-hal yang tidak pernah aku alami dan lihat sebelumnya. Aku tidak pernah menyesal dengan keputusan yang aku buat hingga saat ini. Dan, itu semua adalah karena dirimu, Luke!
Ada satu hal yang selalu bisa mengingatkanku tentang Luke saat ini. Kalung yang diberikan oleh Luke adalah hadiah yang sangat berharga bagiku. Setiap aku melihat dan menyentuh kalung pemberiannya. Aku bisa merasakan dirinya dan mengingat tentangnya.
......................
Aku bukan tipe seseorang yang cuek dan dingin kepada orang lain. Aku hanya tidak tahu cara memulai sebuah percakapan dengan baik dan bagaimana cara menggunakan gestur serta ekspresi wajah yang tepat. Aku pikir, aku adalah orang yang tidak terlalu pandai dalam mengekspresikan perasaan ku.
Tapi, sejak bertemu denganmu, aku merasakan diriku berubah sedikit demi sedikit. Aku menjadi lebih berani untuk mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan. Sedih, marah, kesal, senang dan lain-lain. Aku mengatakannya padamu, aku menceritakannya kepadamu.
Kau sudah masuk ke dalam duniaku sejak hari itu. Sejujurnya, belum pernah ada seseorang yang ingin mengisi dunia kosong yang aku tinggali itu. Tapi kau masuk tanpa mengetuk pintu itu. Anehnya, aku tidak menolak dan malah membiarkan mu masuk lalu merubahnya menjadi lebih berwarna.
...----------------...
__ADS_1