
Aku terbangun di pagi hari ini. Hari ini aku harus bertemu dengan wanita elf itu lagi.
Aku baru saja mengingatnya, Helen tidur bersama denganku tadi malam. Apakah dia belum bangun?
"Helen, ayo bangun, sudah pagi nih" Ucapku.
Aku mencoba membangunkan Helen dari tidurnya.
"Selamat pagi Luke...." Ujar Helen yang sedang mengisap matanya.
Tiba-tiba saja ada yang masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu sama sekali. Dia datang memeriksa keadaan kami, dan mendapati diriku dan Helen di kasur yang sama.
"Maaf mengganggu kesenangan kalian! Silahkan lanjutkan" Wanita elf itu meminta maaf dan pergi keluar.
"TUNGGU, INI HANYA KESALAHPAHAMAN!" Panik aku.
......................
Setelah bersiap-siap, aku pergi untuk menemuinya di jembatan yang berada di tengah-tengah tempat ini. Saat ini aku sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengannya. Helen tidak ingin ikut karena dia kelelahan setelah apa yang terjadi kemarin. Dalam perjalananku ke tempatnya berada, aku melihat banyak sekali elf yang menatapku dengan tatapan yang tidak mengenakkan. Setidaknya, mereka tidak lagi menodongkan senjata.
Ah, itu dia!
"Hei, apakah aku membuatmu menunggu lama?" Tanyaku.
"Tidak. jadi, apakah kalian menikmatinya?" Ucap si wanita elf.
"Sudah kubilang itu ha-"
"Hahaha, iya-iya, aku paham. Ayo kembali ke tujuan awal kita. Hari ini, aku akan membawamu keliling di desa ini. Untuk keamanannya tenang saja, aku sudah menjamin tidak akan ada yang menyerang."
"Ayo segera kita mulai!" Ucap dia.
Aku mengikutinya dari belakang selagi dia memandu jalan. Aku tidak pernah menyangka akan ada hari aku bertemu dengan seorang elf secara langsung, bahkan masuk ke tempat tinggal mereka. Kemampuan khusus yang dimiliki oleh para elf adalah memanah. Para elf adalah pemburu yang lihai, melawan mereka di hutan sama saja dengan percobaan bunuh diri.
Kami sampai di tempat untuk melatih kemampuan bertarung para elf di tempat ini.
"Ingin mencoba bagaimana rasanya memanah?" Si gadis elf bertanya padaku.
"Jika tidak keberatan, aku mau" Jawabku.
Dia mengambilkan panah dan busur untukku. Ini pertama kalinya aku akan memanah. Dia menyuruhku untuk mengarahkan tembakan ke arah target yang telah disiapkan dan aku pun melakukannya.
"Yah.. Meleset" Panah yang aku tembakkan meleset jauh dari target.
"Apakah kau belum pernah memanah sebelumnya?"
"Ya. Ini adalah pengalaman pertamaku" Ucapku.
"Ingin melakukannya sekali lagi? Aku akan mengajarimu dasar-dasarnya kali ini." Dia menawariku.
"Aku bersedia."
Dia mengajariku cara memanah yang benar.
"Kunci utama dalam memanah adalah kuda-kuda yang benar. Jika caramu berdiri saja sudah salah, tidak mungkin tembakan mu mengenai target. Setelah itu, perhatikan pergerakan lenganmu, jangan sampai salah."
"Baik!" Aku mengikuti instruksinya.
"Tahan posisi itu, bidik targetmu saat ini dengan benar. Setelah itu, lepaskan!"
Aku menembakkan panahku dan mengenai target yang ada. Walaupun tidak sempurna, tapi setidaknya aku mulai berkembang dalam hal ini.
"Wah, kau mungkin punya bakat dalam hal ini" Ujarnya.
"Terima kasih atas pujiannya"
"Kalau begitu, sekarang giliran ku"
Dia memakai panah yang sebelumnya kupakai. Lalu menembakkannya sempurna di tengah-tengah target. Wanita elf tersebut melakukannya berulang kali tanpa adanya kesalahan. Aku kagum padanya, dia melakukan hal itu dengan sangat mudah.
Setelah selesai latihan memanah, kami pergi untuk berkeliling lagi. Aku bertanya padanya "Apakah semua elf di sini tidak menyukai ras manusia?"
"Itu bukanlah hal yang perlu kau pertanyakan." Tegasnya.
"Ah... Maaf, aku hanya tidak mengetahui apa yang menjadi alasannya" Aku merasa tidak enak.
"Huh.... Kalian para manusia selalu saja begitu, seolah-olah kalian tidak melakukan apapun kepada kami. Banyak para elf yang dijadikan para budak dan diperjualbelikan di ibukota. Kau pasti pernah mendengarnya, kan? Kalian juga menganggap kami adalah makhluk yang mengotori kesucian di dunia ini, padahal kalian adalah makhluk yang sangat serakah dan memiliki keinginan yang tidak terbatas, terkadang kalian saling membunuh demi mencapai keinginan itu. Aku selalu bertanya, apakah begitu yang disebut sebuah kesucian?"
Aku tidak mampu mengatakan apapun. Perasaan malu yang aku rasakan saat ini, aku menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang tidak menyadari kebusukan mereka sendiri. Kami tidak berbicara lagi setelah itu.
Saat kami sampai di tempat paling tinggi di desa ini, hari sudah mau malam. Sebelum pulang, kami membicarakan suatu hal.
__ADS_1
"Apakah menurutmu elf itu kotor?" Tanya gadis elf itu.
"Jika kau bertanya padaku, aku akan menjawab tidak. Lagipula, aku tidak pernah sadar bahwa manusia memperlakukan elf dengan buruk. Aku minta maaf atas hal itu"
"Kau tidak harus meminta maaf untuk hal itu." Ujar si gadis elf.
"Sebentar lagi sudah mau malam, aku akan pulang." Ucapku.
"Aku juga akan pulang."
......................
Saat sampai di rumah, Helen telah menunggu di depan pintu.
"Bagaimana hari ini, Luke?" Tanya Helen.
"Aku belajar memanah hari ini, itu sangat sulit sekali."
"Lain kali aku juga ingin mencobanya. Ayo masuk, aku telah menyiapkan makanan untukmu"
Banyak sekali makanan di atas meja. Bentuk dan aroma nya pun sangat menggoda. Aku tidak sabar untuk mencobanya...
Aku mencoba makanan tersebut. Dan benar saja, rasanya sesuai dengan tampilannya. Helen benar-benar pandai dalam urusan memasak.
"Ini benar-benar enak, kau hebat Helen!" Ucapku.
"Syukurlah, aku senang mendengarnya" Dia tersenyum mendengar itu.
"Kau pasti akan menjadi seorang istri yang baik"
"Eh?!..." Dia terkejut mendengar kata-kata yang ku ucapkan.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Tidak ada, ayo lanjut makan" Jawabnya.
Kami makan bersama sambil mengobrol tentang bagaimana kegiatan yang aku lakukan hari ini. Helen tidak memiliki kemampuan bertarung, tapi dia dapat membantu dalam beberapa hal. Banyak hal yang tidak bisa aku lakukan, dan Helen bisa melakukan hal-hal itu. Termasuk dalam urusan memasak, dia sangat ahli. Aku rasa jika dia ingin menjadi seorang koki, maka dia akan terkenal suatu hari nanti.
Malam ini aku memikirkan suatu hal. Apakah ada kemungkinan bahwa manusia dan elf itu bisa hidup bersama suatu hari nanti? Jika ada kemungkinan, aku ingin mencobanya. Walaupun saat ini aku rasa hanya akan sia-sia, banyak elf yang tidak menerima perlakuan manusia terhadap mereka. Tentu saja, siapa memangnya yang mau diperlakukan seperti alat. Yah... Daripada mikirin itu, mending aku tidur ajalah.
Aku tertidur.
......................
Helen dan si wanita elf tampak cukup akrab, apa mungkin karena mereka adalah sesama wanita? Setidaknya, tidak ada keributan yang terjadi.
Helen mengatakan padaku dia akan pergi berjalan-jalan bersama wanita elf tersebut. Dia mengatakan akan pulang sebelum malam. Aku mengizinkannya dan dia pun pergi.
Saat ini aku sedang berjalan sendirian di desa ini, tiba-tiba saja aku merasakan ada hawa membunuh dari seseorang. Rupanya itu adalah salah satu elf pria yang mengatakan sesuatu kepada wanita elf tersebut sebelum ia pergi. Aku rasa, dia benar-benar tidak menyukai keberadaan seorang manusia di desa ini.
"Ada perlu apa kau denganku?" Tanyaku.
"Kau tidak perlu tahu apa tujuanku, manusia yang keji." Jawab si pria elf tersebut.
"Apa yang aku lakukan sehingga kau menyebutku sebagai manusia yang keji?"
"Diam! Tunjukkan padaku, apa yang bisa dilakukan seorang manusia saat berada dalam keadaan seperti ini!" Dia langsung mencoba untuk menyerang tanpa memikirkan apapun.
Dia cepat, aku tidak boleh lengah. Saat ini aku tidak memiliki senjata sama sekali, aku harus berpikir.
Selagi menghindari serangan yang dilancarkannya, aku mencari sebuah senjata untuk melindungi diri. Dia memakai sebuah pedang yang lumayan panjang dan tampak sangat tajam.
Aku berpikir untuk mencoba mengambil pedang dari tangannya, tapi bagaimana caranya?
Aku mencoba mencari celah saat dia lengah. Gerakannya lincah dan cepat, tapi aku masih bisa melihat pergerakan yang ia lakukan. Aku menunggu momen tersebut secara perlahan.
Ini dia!
Aku melihat celah untuk mengambil pedangnya, pegangannya merenggang karena kelelahan. Saat dia tidak menyadarinya aku menghindari serangannya lalu memakai sihir pencahayaan yang menyilaukan.
"Akh! Mataku" Ucapnya.
"Kena kau!" Aku mendapatkan pedangnya saat dia tidak bisa melihat untuk sementara. Aku menyuruhnya untuk menyerah, tapi dia tetap saja mencoba untuk mengambil kembali pedang itu dariku.
Tiba-tiba datang seorang elf yang terlihat memiliki kharisma yang kuat dan tubuh yang tegap. Dia terlihat seperti seseorang yang memiliki pengalaman bertarung cukup banyak.
"Apa yang kau lakukan padanya, Gorris?!" Ucap pria elf gagah itu.
"Dia menodai tempat ini, seharusnya tidak ada manusia yang masuk ke dalam desa ini. Aku tidak akan pernah menerima keberadaan manusia di sekitar tempat ini!" Ucap pria elf yang menyerang ku.
Elf yang menyerang ku sebelumnya dimarahi oleh pria elf yang gagah tersebut.
__ADS_1
"Dasar kau ini... Maafkan atas apa yang dia lakukan padamu, dia hanya tidak terbiasa dengan hal ini. Perkenalkan, namaku adalah Jorgun, seorang ahli pedang. Dan anak ini adalah Gorris, murid ku yang tidak memiliki sopan santun."
"Apa?!" Gorris mencoba melawan tapi kepalanya di pukul oleh Jorgun hingga pingsan.
"Oh ya, perkenalkan aku adalah Luke, seorang petualang. Aku kebetulan lewat di tempat ini, mohon bantuannya mulai sekarang!"
"Ya, aku juga. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, ayo ikuti aku." Ajak Jorgun.
Kami sampai di tempat Jorgun melatih para elf, aku melihat banyak sekali elf yang sedang berlatih cara menggunakan pedang. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki yang kelihatan masih sangat muda.
"Ini adalah tempatku melatih mereka."
"Wah, sangat banyak sekali yang berlatih di sini. Tapi, bukannya kalian sudah memiliki kemampuan memanah yang baik, mengapa harus berlatih menggunakan pedang juga?" Tanyaku.
"Kau ini bodoh atau gimana sih? Jelas-jelas kemampuan bertarung jarak dekat itu sangat diperlukan. Jika hanya bisa menggunakan panah, kami akan langsung kalah dalam sebuah peperangan. Berpikirlah secara logis manusia bodoh!" Gorris menjelaskan alasannya kepadaku.
"Rupanya kau pintar juga ya" Ucapku.
"Apa? Jadi kau ingin bilang aku ini bodoh ya!!"
"Gorris!" Jorgun menatap Gorris dengan mata yang tajam. "Huh... Kurang lebih apa yang ia katakan itu benar. Pertarungan jarak dekat itu sangat penting dalam peperangan, kemampuan jarak jauh kami tidak akan selalu berguna. Aku melihat pertarungan kalian tadi, walaupun hanya sebentar, aku rasa kau memiliki bakat."
"Tidak juga, aku hanya menggunakan pedang untuk melindungi diriku saja selama ini. Aku tidak pernah melatihnya secara intens seperti ini."
"Kalau begitu, mau mencoba?" Jorgun mengajakku untuk mencoba pelatihannya.
Dia mengajariku teknik-teknik dasarnya. Aku tidak merasa kesulitan sama sekali, aku bisa mengikuti arahannya dengan baik.
"Sudah kuduga, kau memiliki bakat dalam hal ini. Apakah kau ingin berduel denganku?" Jorgun mengajakku.
"Oke... Tunggu, barusan apa?"
"Baiklah. Ayo kita mulai!" Jorgun bersemangat karena berpikir aku mau berduel dengannya.
Ini tidak bagus, aku tidak mendengarkannya dengan baik saat dia mengajakku, sial!!!
Nasi sudah menjadi bubur, aku terpaksa berduel dengan Jorgun. Tempat latihan dikosongkan untuk sementara.
"Kau siap, Luke?" Jorgun menanyakan diriku.
"Aku siap!" Aku bersiap dengan kuda-kuda yang nyaman bagiku.
Kuda-kuda Jorgun seperti tidak memiliki celah bagiku.
Ia akan bergerak, aku harus melihatnya dengan benar. Ke mana arah serangannya?
Jorgun tidak bergerak secepat Gorris, aku bisa melihat gerakannya dengan sangat baik. Aku merasa bisa melawannya, tapi kenapa aku tidak yakin? Dia maju dan memberikan serangannya kepadaku. Saat aku mencoba untuk menangkisnya, serangannya sangat berat sehingga membuat bahuku cukup sakit saat menahannya.
Aku harus membuat jarak. Jika tidak, aku pasti akan kalah!
Aku menjaga jarak dari Jorgun dan mencoba mencari kelemahannya. Tapi dia tidak memberiku waktu untuk berpikir sama sekali, aku hanya bisa mengikuti gerakan yang berasal dari instingku. Aku bisa melihatnya, tapi aku tidak bisa mengimbanginya, begitulah keadaan saat ini. Sampai di mana aku mencapai batas ku, aku kalah terhadap Jorgun.
"Kerja bagus, Luke! Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal seperti ini." Ucapnya.
Aku berdiri dan menjabat tangannya. Dia tersenyum dan mengatakan kepadaku bahwa ia akan berduel denganku lagi esok hari. Hari sudah malam, aku pulang ke rumah.
Aku harap Helen tidak menunggu lama.
Saat sampai di rumah aku melihat Helen dan wanita elf itu saling berbicara. Helen terlihat bersenang-senang dengannya, aku bersyukur mereka bisa menjadi teman yang akrab.
"Apakah kau sudah lama menunggu?"
"Tidak kok, Luke. Kami baru saja sampai" Ucap Helen.
Wanita elf itu izin untuk pulang kepada kami.
"Iya, hati-hati ya Caris!" Ucap Helen.
Setelah wanita itu pulang, kami masuk ke dalam rumah. Helen mengatakan kalau dia sudah membeli makanan tadi, jadi tidak perlu memasak lagi karena akan memakan banyak waktu baginya. Aku baru tahu nama wanita itu adalah Caris, aku bahkan tidak ingat untuk menanyakan namanya saat itu.
......................
Pagi tadi aku mendapat pesan dari kepala desa tempat ini. Dia menyuruhku untuk menemuinya siang ini, ada yang ingin dikatakannya kepadaku. Kira-kira apa yang sebenarnya ingin ia katakan, apakah sesuatu yang sangat penting?
Aku melihat Jorgun, Gorris dan juga Caris dipanggil ke tempatnya. Sepertinya ada suatu hal yang mendesak.
"Maaf mengganggu waktu kalian semua, tapi ada hal penting yang ingin aku beritahukan kepada kalian. Beberapa hari lalu, aku mendapat kabar bahwa ada yang menemukan pohon itu. Aku ingin kalian memastikan kebenarannya, besok kalian akan berangkat dari tempat ini. Apakah dirimu tidak keberatan dengan hal ini, Luke?"
"Tidak. Aku bersedia melakukannya"
Pohon? Mungkin pohon yang menghubungkan dua dunia itu. Aku penasaran apakah itu benar-benar nyata atau tidak, aku ingin memastikannya juga.
__ADS_1
Begitulah awal dari banyaknya masalah yang akan datang dalam misi ini...
...----------------...