Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life

Ephemeral : A Journey To Find The Meaning Of Life
Chapter 6 : Jangan Pergi


__ADS_3

Di mana aku? Tubuhku terasa aneh.... Apakah ini mimpi?


Apa yang bisa ku lihat hanyalah sebuah tempat yang gelap tanpa ada siapapun. Sepertinya aku mendengar suara seseorang. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu kepada ku.


"Jangan meninggalkan sesuatu begitu saja. Pada beberapa momen tertentu, kau harus tetap membawanya bersamamu."


Aku mencoba untuk menanyakan siapa dia. Tapi mengapa mulutku tidak bisa digerakkan?


......................


Pagi telah tiba, seperti biasa aku akan pergi keluar untuk berjalan-jalan. Sebelum pergi, aku memberi tahu kepada Bu Maria bahwa lusa aku akan pergi dari sini.


Hari ini terasa sedikit berbeda, mungkin karena biasanya aku selalu berjalan bersama Helen. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya sekarang, sulit sekali untuk memahami perasaan seorang wanita. Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatnya marah kepadaku. Haruskah aku menanyakan kesalahanku kepadanya? Tapi sepertinya itu hanya akan memperburuk keadaan. Bu Maria bilang Helen pergi sebelum aku bangun.


Aku ingin membeli sesuatu yang berguna sebelum pergi dari sini, mungkin sebuah kalung sihir. Desa ini hampir tidak memiliki toko yang menjual barang seperti itu, karena jarang sekali ada pengguna sihir di desa. Hanya satu toko yang menjual barang tersebut.


"Permisi, aku ingin beli kalung sihir"


"Ada beberapa jenis kalung sihir di sini. Kau ingin beli yang mana?" Tanya penjual tersebut.


Sepertinya aku butuh sebuah kalung yang meningkatkan daya serang sihirku.


"Yang ini pak" Ujarku sambil menunjuk ke arah sebuah kalung berwarna merah.


"Baiklah. Apakah hanya itu saja?"


"Aku beli yang itu juga" Menunjuk ke sebuah kalung biasa.


"Siap mas. Total harganya adalah 250 Euras."


Aku memberikan uangku kepada penjual dan mengambil kedua kalung yang ku beli itu.


"Terima kasih ya! Semoga perjalananmu aman"


Aku akan menjelaskan kepada kalian tentang macam-macam kalung sihir.


Pertama, kalung sihir merah. Sebuah kalung sihir yang meningkatkan daya serang sihir dari penggunanya. Ini adalah kalung sihir paling umum dan paling banyak digunakan oleh para penyihir, karena penggunaannya yang simpel dan sangat efektif dalam memberikan serangan dari kejauhan.


Kedua, kalung sihir hijau. Kalung ini biasanya digunakan para penyembuh, karena membantu dalam penggunaan sihir pemulihan. Keuntungan lain yang diberikan oleh kalung ini adalah mampu memulihkan luka dari penggunanya. Maka bisa kita simpulkan, kalung ini cocok untuk pertarungan jangka panjang.


Ketiga, kalung sihir kuning. Meningkatkan kemampuan fisik penggunanya saat digunakan. Tubuh menjadi ringan, daya tahan fisik yang meningkat, serta serangan fisik yang kuat. Biasa dipakai oleh para pembunuh bayaran.


Keempat, kalung sihir biru. Bagi para penyihir yang memiliki jumlah mana yang sedikit, benda ini adalah sesuatu yang sangat mereka butuhkan. Dalam keadaan tertentu, kalung ini bisa digunakan para penyihir ahli untuk melancarkan serangan yang memerlukan banyak mana.


Kalung sihir terbagi menjadi tingkat rendah, menengah, dan tinggi. Kalung yang ku beli sebelumnya adalah tingkat rendah, kalung tingkat menengah memiliki harga yang sangat mahal dan termasuk barang yang cukup langka. Sedangkan, kalung tingkat tinggi hanya ada lima di dunia ini.


......................


Aku pulang setelah berkeliling cukup lama tadi. Saat aku membuka pintu, aku mendapati Helen sedang berdiri di depanku dengan ekspresi wajah yang sedih. Saat aku bertanya "Kau kenapa?" Helen mengacuhkan diriku dan langsung pergi dengan menahan tangisannya. Aku pun mencoba bertanya kepada Bu Maria apa yang terjadi kepada dirinya. Beliau mengatakan, Helen terkejut mendengar kabar bahwa lusa aku akan pergi dari desa.


"Luke, kejarlah dia. Bicaralah kepadanya, dia sedang membutuhkan dirimu saat ini"


Tanpa menunggu lama, aku pergi mencari Helen ke tempat di mana kami bertemu. Aku yakin sekali dia akan memilih tempat itu. Apa yang alan kulakukan untuk memperbaiki keadaan saat ini.


Aku menemukannya sedang berdiri sambil memandang ke arah langit-langit malam. Ia tampak sedih dan gelisah.


"Helen.... Maukah kau berbicara denganku?"


Dia tidak merespons perkataan yang ku ucapkan. Aku pikir Helen membutuhkan waktu untuk menyendiri.


"Aku minta maaf tidak mengatakan tentang hal itu lebih awal. Karena aku tidak melihatmu sama sekali sejak pagi tadi. Jika kau membutuhkan waktu untuk menyendiri, aku tidak akan mengganggumu...."


Aku melangkahkan kakiku untuk pergi dari tempat tersebut.


"Tunggu Luke, aku tidak ingin kau pergi" Helen menghentikan niatku untuk pergi.

__ADS_1


"Kalau begitu, ceritakan kepadaku apa yang terjadi" Helen mengangguk dan menyetujui apa yang ku pinta.


"Aku terkejut saat mendengar kau akan pergi dari tempat ini. Hal itu membuatku sedih dan kesal, aku berpikir mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku. Kau adalah orang pertama yang mau menghabiskan waktu bersamaku selain Ibu. Dada ku terasa sangat sesak saat mendengar hal tersebut. Aku minta maaf jika sikapku sangat aneh akhir-akhir ini, aku hanya tidak memahami apa yang terjadi kepada diriku...."


Aku mencoba untuk memberikan respons seadanya.


"Maafkan aku juga, aku tidak memahami bagaimana perasaan dan cara pikir seorang wanita. Aku juga tidak mengatakan bahwa lusa aku akan pergi. Aku berpikir bahwa itu adalah hal yang sepele, tapi aku salah. Sebagai seorang teman, aku benar-benar payah"


"Tidak Luke, aku tidak bermaksud seperti itu.... Dan, aku merasa sakit saat kau mengatakan bahwa kita hanya teman" Ujarnya.


Aku bertanya-tanya apa yang dimaksud oleh Helen saat itu. Aku mencoba untuk bertanya tapi dia mengajakku pulang.


Kenapa jalannya cepat sekali?


Sesampainya di depan rumah dia menghadap ke arahku dan mengatakan sesuatu.


"Luke... Aku tidak ingin kau pergi" Setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi ke kamarnya.


.... Jujur saja, aku tidak bisa berjanji tentang hal itu.


......................


Saat bangun di pagi hari, aku mendengar suara dari lantai bawah. Sepertinya Bu Maria dan Helen sedang membicarakan suatu hal. Apa yang sedang terjadi?


"Helen, apakah kau sudah memikirkan hal ini dengan baik? Kau mengerti kan, itu bukanlah hal yang mudah."


"Aku mengerti Bu, tapi aku ingin mengikuti kata hatiku saat ini"


"Aku belum bisa mengizinkannya, kau bisa apa memangnya? Keberuntungan saja tidak cukup untuk bertahan hidup di luar sana!"


"Apakah aku harus terus menetap di desa yang membosankan ini? Bahkan aku tidak memiliki teman di sini Bu!"


Sepertinya aku mendengar sesuatu yang seharusnya tidak perlu ku ketahui. Tapi, aku ingin mengetahui apa yang menjadi tujuan Helen.


"Maaf, aku belum bisa mengizinkan hal itu. Kau nanti bukannya membantu, malah membebani dirinya. Pikirkanlah baik-baik lagi tentang hal itu, jika kau peduli padanya kau harus memikirkan yang terbaik untuknya." Bu Maria mencoba meyakinkan Helen.


"Menyerahlah, aku tidak akan memberimu jawabannya."


Helen dengan perasaan kesal berjalan keluar dari rumah. Bu Maria tampak bingung dan sedih saat ini.


"Bu, apa yang sebenarnya terjadi?" Aku bertanya kepada Bu Maria yang sedang murung.


"Akhirnya kau bangun juga, ada yang ingin aku sampaikan padamu."


Apakah hal tadi itu bersangkutan denganku?


"Luke, kau besok akan melanjutkan perjalananmu, kan?"


Aku hanya menganggukkan kepala.


"Aku tahu kau mendengar pembicaraan kami tadi. Topik yang kami bahas bersangkutan denganmu. Apakah menurutmu suatu hal yang mudah untuk melepaskan seseorang yang sudah kita anggap sebagai anak untuk pergi meninggalkan kita?"


"Menurutku, itu adalah hal yang sulit" Ucapku.


"Kau paham ya, dia sama sekali tidak memikirkan hal itu. Aku merasa sedih saat dia berkata ingin pergi. Tapi aku juga bahagia, karena akhirnya dia mengikuti kata hatinya. Helen belum pernah seperti itu sebelumnya, dia berubah semenjak adanya dirimu di sini."


Sepertinya aku tahu apa yang dimaksud oleh Bu M*a***ria. Tapi sebaiknya aku tidak terlalu ikut campur.


"Semua keputusan ada padamu, karena yang paling mengenal Helen adalah dirimu." Aku menyerahkan kendali kepada Bu Maria.


Sekarang aku akan mencari Helen dan mencoba untuk berbicara dengannya. Aku tidak ingin pergi dengan rasa penyesalan. Setidaknya, aku akan melakukan yang terbaik saat ini.


......................


Tumben sekali dia tidak berada di tempat ini, di mana aku harus mencarinya? Mungkin aku harus menanyakannya pada warga sekitar.

__ADS_1


Saat aku mencoba untuk bertanya, mereka mengatakan dia pergi ke Sungai Ardal yang tidak jauh dari desa ini. Aku bergegas ke sana secepat mungkin.


Tunggu aku Helen.


......................


Akhirnya ketemu juga dia, lelah sekali aku berlari tanpa henti dari tadi.


Helen sedang duduk di dekat sungai sambil melempar batu-batu kecil ke dalam sungai.


"Kemari Luke, duduklah di sini"


"Aku paham situasi saat ini, kau serius ingin melakukannya? Kenapa kau terlihat ragu." Aku bertanya kepada Helen yang sedang bimbang.


"Aku benar-benar ingin ikut denganmu, Luke. Aku tidak ingin melihatmu pergi dari hidupku, aku tidak ingin ada orang yang berharga bagiku meninggalkanku lagi."


Helen pun menangis setelah mengucapkan hal itu, tentu saja kehilangan orang tua kandung saja sudah meninggalkan ingatan yang menyakitkan.


"Tapi di satu sisi, aku juga tidak ingin meninggalkan Ibu sendirian. Walaupun dia bukan orang tua kandung ku, aku tetap menyayanginya. Aku benar-benar egois, kan? Aku tidak ingin kehilanganmu dan Ibu, tapi aku tidak tahu pilihan mana yang paling benar."


"Setiap orang boleh memiliki keinginan, kau tidak salah Helen. Jangan terlalu bergantung pada seseorang, hidupmu adalah milikmu. Sebuah pilihan akan selalu ada dalam hidup ini. Bagiku, tidak ada pilihan yang salah, hanya alur ceritanya saja yang berbeda. Tentukan sendiri apa yang kau inginkan, Helen."


Dia menyenderkan kepalanya di bahuku. Sepertinya dia kelelahan memikirkan hal itu, sebelum tertidur dia mengatakan sesuatu.


"Jangan tinggalkan aku, oke?" Dia pun tertidur setelah itu.


"Haha, kau benar-benar tahu apa yang membuatku lemah, ya?"


Aku memandangi wajahnya yang sedang tertidur. Bahkan aku tidak ingat lagi bahwa dia benar-benar sangat cantik, aku hanya mengenal seorang wanita yang merasa sangat kesepian.


......................


Sebentar lagi sudah malam, aku membawanya untuk pulang dan beristirahat di rumahnya saja. Aku menggendongnya sepanjang jalan sampai ke rumah. Aku bawa dia kamarnya dan aku meletakkan tubuhnya secara perlahan ke kasur.


Syukurlah dia tidak terbangun... Oh iya, aku lupa memberikannya ini. Aku letakkan saja kalung dan kertas ini di atas meja, semoga saja dia mau menerimanya.


"Tidurlah yang nyenyak, jangan memikirkan terlalu banyak hal yang tidak berguna"


Aku meninggalkan kamarnya dan kembali ke kamarku.


"Akhirnya, keadaan mulai tenang. Aku bisa beristirahat dengan tenang"


Saat mencoba tidur, aku jadi teringat dengan momen-momen menyenangkan yang aku rasakan selama berada di tempat ini. Jujur saja, aku merasa berat untuk meninggalkan desa ini. Walaupun begitu, aku tetap harus melanjutkan perjalananku, banyak hal-hal baru yang menunggu di depan sana.


......................


Pagi ini aku bersiap-siap untuk berangkat dari tempat ini. Setelah selesai bersiap-siap, aku turun dari tangga untuk berpamitan dengan Bu Maria dan Helen. Tapi yang kulihat hanya ada Bu Maria.


Di mana Helen? Apakah dia belum bangun? Ya sudahlah, aku titipkan salam saja.


"Apakah kau sudah siap untuk pergi Luke?"


"Iya, Bu. Terima kasih telah memperbolehkan diriku untuk menginap di sini, aku belajar banyak hal baru semenjak berada di tempat ini."


"Syukurlah kalau begitu, hati-hati ya"


"Iya Bu, sampai salam ku kepada Helen."


Aku melangkahkan kakiku untuk pergi. Tetapi, ada sesuatu yang menghentikan diriku.


"Tunggu Luke!" Ucap Helen dari lantai atas.


Akhirnya dia keluar juga untuk mengucapkan salam perpisahan kepadaku.... Dia memakai kalung yang kuberikan. Aku senang melihatnya memakai barang pemberianku. Ini sedikit menyakitkan harus berpisah denganmu di sini, tapi aku harap kita dapat bertemu lagi suatu hari nanti. Nah, ayo katakanlah kepadaku, Helen!


"Luke, aku..."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2