
•••
Jum'at, tengah malam, tepat pukul satu. Raffa Ardiantara, melajukan mobilnya dengan pelan agar dapat sampai ke rumahnya dengan selamat.
Jalanan sangat sepi malam itu. Walau sepi, Raffa tidak berani melajukan mobilnya dengan cepat. Kondisinya sedang amat kelelahan saat ini. Dia juga sangat mengantuk. Seharian penuh dia berada di rumah sakit karena harus mengurus beberapa pasien. Kalau sampai ngebut, Raffa khawatir kembali ke rumah sakit. Bukan untuk merawat pasien. Tapi untuk dirawat menjadi pasien. Amit-amit, dah. Batinnya.
Raffa butuh kopi dengan kafein yang tinggi. Rumahnya masih cukup jauh. Jadi, Raffa memutuskan untuk mencari mini market atau warung pinggir jalan hanya untuk mendapatkan secangkir kopi.
Raffa membelokan mobilnya menuju jalan yang tidak begitu besar. Jalan itu lebih sepi dari jalan raya yang Raffa lalui sebelumnya. Bahkan penerangan di jalan tersebut minim cahaya.
Mata Raffa menyipit saat pandangannya tertuju pada tepi jalan itu. Ada beberapa orang sedang berdiri sambil berkerumun dengan posisi melingkar.
"Ada apa itu, ya?" Merasa penasaran, Raffa akhirnya menepikan mobilnya dan segera menuju ke arah kerumunan tersebut.
"Maaf?" Orang-orang yang berkerumun itu menoleh ke arah Raffa. "Ini ada apa, ya?" tanya Raffa sopan.
Ada empat orang di tepi jalan itu. Tiga diantaranya laki-laki. Dan satunya perempuan. Mereka berempat diam tak menjawab Raffa. Mereka hanya saling melempar pandangan dengan mulut bungkam. Ketara sekali kalau ada yang tidak beres di sini.
"Woi! Woi! Orangnya masih hidup," pekik seorang perempuan.
Raffa sedikit memajukan langkah kakinya dan betapa terkejutnya dia. Ada seorang perempuan yang sedang berlutut di depan seorang pria yang tengah terkapar dengan luka yang parah di kepalanya.
__ADS_1
Raffa dengan sigap menghampiri pria yang terkulai di tanah tersebut dan segera memeriksa denyut nadinya. "Dia masih hidup dan harus segera dibawa ke rumah sakit."
"Saya ikut!" Raffa memandang gadis di hadapannya. Raut wajah gadis itu terlihat sangat khawatir. Berbeda sekali dengan tiga pria yang sedang berdiri di belakangnya. Mereka malah terlihat panik. Entahlah. Raffa tidak bisa membaca dengan jelas raut wajah mereka.
"Kamu bisa bantu saya?"
"B-bisa!"
"Tolong bukakan pintu mobil saya. Pintunya tidak saya kunci." Gadis itu menganggukan kepalanya dan segera berjalan ke mobil Raffa, dan kemudian membukanya.
Raffa mengangkat tubuh pria tersebut, dan melingkarkan sebelah tangan pria itu ke pundak Raffa.
Raffa menoleh ke arah keempat orang yang sedang berdiri gugup itu. "Ada yang bisa membantu saya?"
"Saya boleh ikut?" Gadis yang sedang berdiri di depan pintu mobil Raffa berseru dengan raut wajah yang masih kentara gelisah.
Raffa menganggukan kepalanya, "silahkan!" katanya sambil berjalan menuju pintu dekat kemudi mobil.
"Tunggu!" lelaki yang membantu Raffa tadi menahan tangan perempuan yang hendak masuk kedalam mobil Raffa. "Lo serius, Al? Harusnya kita nggak perlu ikut-ikutan. Udah kita balik aja, deh."
Perempuan itu melepaskan cekalan tangan pria tersebut. "Gue harus ikut, Yo! Barang berharga gue ada sama orang itu. Lo semua balik aja duluan! Gue bakal balik kalau urusan gue udah kelar. Lo tenang aja!"
"Tapi—"
__ADS_1
Perempuan itu tidak memperdulikan temannya itu dan memilih masuk ke dalam mobil Raffa.
"Ayo, Mas!" kata gadis itu sambil memangku kepala pria yang penuh dengan luka tersebut.
Raffa memberikan kain bersih panjang ke gadis tersebut. "Kamu tolong balut kepalanya yang berdarah itu!" perintah Raffa.
"Iya."
"Tolong selalu perhatikan korban! Beri tahu saya kalau terjadi sesuatu padanya."
"Baik!" Raffa melirik sekilas ke arah perempuan itu lewat spion mobilnya. Gadis itu terlihat acak-acakan. Lengan kaus berwarna hitam yang ia pakai, ia gulung sampai bahunya. Bahkan celana jeans panjang yang dia gunakan nampak bolong-bolong di bagian paha sampai lututnya. Penampilannya itu membuat Raffa berfikir yang tidak-tidak.
Mau apa perempuan ini keluar malam-malam?
Kok, bisa dia berada di tempat kecelakaan korban? Apa yang sedang dia lakukan sebelumnya?
Siapa ketiga orang tadi? Gaya pakaiannya hampir percis dengan perempuan ini. Apa temannya? Apa korban ini temannya juga?
Ah, Raffa pusing. Seharusnya dia istrirahat sekarang. Kenapa malah kembali ke rumah sakit, dan kenapa juga dia memikirkan perempuan dibelakangnya ini.
Semoga aja nggak ada yang aneh-aneh.
•••
__ADS_1