ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 8


__ADS_3


"Permaisuri Rui beruntung, bumerang kematian tidak mengenai inti batinnya." Yen membereskan sisa-sisa darah dan ramuan di atas meja. Di sampingnya, Yu Jie terbaring di ranjang giok es berusia seribu juta tahun, warisan leluhur Istana Es.


Setelah menyelesaikan urusan Penjaring Jiwa. Tak sedetikpun Wang Zheng pergi dari sisi Yu Jie. Bahkan ia dengan sabarnya menunggu Yen selesai mengobati sang istri.


Wang Zheng menyentuh pipi Yu Jie, dingin. "Kalau begitu, kenapa dia belum belum sadar juga?"


"Itu karena Permaisuri Rui menyalurkan sepertiga energinya ke belati perak."


Mendengar hal tersebut, Wang Zheng terkejut. Dengan keadaan inti batin Yu Jie yang hanya menyerap energi es. Sepertiga energi adalah jumlah yang besar.


"Itu akan melukai organ-organ vitalnya. Yu'er hanya dapat menyerap energi es. Akan memakan waktu lama untuk proses pemulihan dan mengembalikan energi yang terbuang."


Yen tersenyum ambigu. "Tuan sudah tahu jawabannya."


"Ramuan atau mantra macam apa yang dapat menutup kemampuan menyerap inti batin?"


"Tuan, aku bahkan tidak mengetahuinya. Terlalu rumit dan sepertinya tidak ada ramuan atau obat yang mampu mengembalikan kemampuan menyerap energi inti batin Permaisuri Rui."


"Tidak ada?" Wang Zheng meremas jubahnya, kuat. Seperti ada yang teriris di dalam hatinya. Semakin lama semakin menyakitkan dan penuh nanah.


Setelah selesai dengan semua ramuannya, Yen pergi keluar. "Saya permisi, Tuan."


"Hari ini, saat kau hampir tiada di pangkuanku, aku menyadari bahwa kau sangat mencintaiku. Dan bahwa cintamu adalah ketulusan yang nyata. Tidak ada sandiwara atau permainan licik atas nama kuasa, semua murni atas nama cinta."


Waktu lambat berlalu. Seakan sengaja menyiksa penikmat cinta dalam kubangan luka. Diam-diam merendam hati penuh darah dalam larutan cuka.


"Apakah semua ini karenaku?" tanya Wang Zheng, sendu. Ditatapnya mawar biru api yang diletakkan di atas meja dekat Dewi Es itu terbaring.


Memori saat Yu Jie membuktikan cintanya terus terngiang-ngiang. Menghilangkan kemampuan menyerap energi permata biru, mawar biru api yang beracun, dan sepertiga kekuatan es yang ia transfer ke belati perak. Semua itu membuat Wang Zheng merasa menjadi orang paling bersalah.


"Katakan, apa yang kau lakukan pada inti batinmu, Yu'er? Aku bahkan sedikitpun tidak bisa menyalurkan energi airku untukmu." Tangis Dewa Air tak tertahankan. Di depan wanita yang ia bilang benci tetapi hati sejujurnya mencintai, Wang Zheng tak berdaya.


***


"Pil pembeku salju, ya itulah yang melumpuhkan kekuatan menyerap energi Dewi Es."


Yen yang tak sengaja membuka buku kuno pemberian leluhurnya. Menemukan catatan sebuah pil yang mampu melumpuhkan kemampuan menyerap energi seorang dewa. Pil pembeku salju, terbuat dari darah Raja Langit dan hati Duyung Laut Utara yang langka. Di sana tertulis jelas, kehidupan peminumnya tidak akan mencapai 1.000 tahun, bahkan mungkin akan lebih singkat dari dugaan.


Yen menatap Ping, sengit. "Kenapa kau menutupinya? Kau tahu, pil ini sangat berbahaya."


Wanita dengan tanda lahir berbentuk bulan sabit di dahinya itu mengambil napas panjang. "Energi es saja tidak akan cukup memenuhi energi angin dan air yang tidak dapat diserapnya."


Ping berlutut dan dengan tangis berkata, "Jangan katakan ini pada siapapun. Nona tidak ingin ada yang mengetahuinya."


"Termasuk Dewa Air?"


"Ya, itu yang terbaik."


Yen tersenyum remeh. "Tuan Rui sudah tahu mengenai ketidakmampuan permaisuri Rui menyerap energi selain energi es."


"Tidak, jangan bilang kau memberitahunya, Yen." Ping menarik kerah baju wanita bersurai kelabu itu. Dia menggeleng lemah, "Nona melakukan ini semua untuk tuan Rui, agar tuan mengetahui bahwa nona benar-benar mencintainya. Lagipula, pil pembeku salju mungkin saja tidak punya penawarnya, itu akan membuat tuan Rui merasa bersalah."


Bergeming, Yen menutup mata membayangkan semua yang telah menimpa Yu Jie. Bahkan itu masih terasa menyakitkan walau hanya dalam khayalan.


"Meski tuan Rui mengetahui keadaan inti batin permaisuri Rui. Namun dia tidak mengetahui ini disebabkan pil pembeku salju. Dia juga tidak tahu, jumlah energi es yang mampu diserap akan semakin berkurang setiap harinya. Aku akan bungkam dan menganggap kita tidak pernah membicarakannya," ucap Yen, kemudian meninggalkan Ping sendirian.


Tidak jauh dari tempat dua penghuni Kerajaan Langit berada. Ada Pangeran Es yang diam-diam menguping. Pria yang bertanggung jawab menghasilkan dan menyebarkan salju itu mengepalkan tangan, marah. "Nona, kenapa kau lakukan itu semua?"


***


"Di mana aku?" Yu Jie menatap sekeliling, tetapi ia tidak tahu tempat apa itu. Sebuah ruangan tanpa pintu atau jendela, setiap sudutnya terdapat bekuan es tajam yang siap menikam. Sangat dingin dan menakutkan.

__ADS_1


"Sekarang kau berada di bawah alam sadar, tepatnya di dalam inti batinmu sendiri."


"Siapa itu?" Waspada, Yu Jie perlahan menjauhi sesosok pria di balik cahaya terang yang muncul dari sebelah utara.


"Kau tidak mengenalku, Dewi Es?"


"Raja Langit?"


Pria dengan tatapan mata teduh dan penuh wibawa itu tersenyum hangat. "Kau masih akan terkurung di inti batinmu, selama kekurangan energi rohmu belum terpenuhi."


"Yang Mulia, karena kau bisa ke sini. Kau juga pasti bisa menyadarkanku, 'kan? Wang-Wang akan cemas jika melihat aku belum sadar juga."


"Kau memakan pil pembeku salju, bagaimana bisa aku membantumu?"


Wajah Yu Jie berubah pucat. "Yang Mulia, bagaimana kau mengetahuinya."


"Aku yang menciptakannya, bagaimana aku tidak mengetahuinya?" Menyeringai ambigu. "Tidak disangka, kau meminumnya tanpa rasa takut sedikitpun."


Raja Langit mengulurkan tangannya. Muncullah pil berwarna kuning keemasan berbentuk bulatan kecil. "Karena kau sudah berjasa menyingkirkan Penjaring Jiwa, maka aku akan memberikan penawar dari pil pembeku salju."


"Penawarnya?" Yu Jie mengambil pil itu.


"Pil pembeku salju hanya memiliki satu penawar. Satu-satunya kesempatanmu untuk mengembalikan kemampuan menyerap energimu seperti dulu. Lagipula, dengan keadaan yang sekarang, aku yakin Dewa Air tidak akan masalah jika orang yang dia cinta menyerap energi permata birunya."


Curiga, Yu Jie memberanikan diri bertanya, "Tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan tempat di mana para dewa berada. Katakan, apa harga yang harus kubayar untuk penawar pil pembeku salju?"


"Kau sangat pintar, Dewi Es." Raja Langit mengelus-elus kumisnya, pelan. "Kau dapat meminum pil itu, hanya jika kau mendapatkan kembali ingatan saat menjadi dewi dan menghapus ingatan ujian langitmu."


Deg! Tangan Yu Jie bergetar hingga tanpa sengaja menjatuhkan pil penawar itu. "Tidak, aku tidak mau."


"Aku hanya akan memberikanmu satu kesempatan, Dewi Es. Hanya ada satu pil penawar, jika kau menolak, aku akan langsung memusnahkannya."


"Aku tidak membutuhkan pil penawar itu."


"Itu artinya setelah meminum pil pembeku salju, aku hanya dapat hidup selama 1.000 tahun." Tak ada ketakutan, tak terlihat kecemasan, Yu Jie justru tampak sangat tenang. Meski sejujurnya ia baru tahu bahwa efek pil itu akan semakin mendekatkan pada kematian.


"Kau yakin tidak membutuhkan pil penawarnya?"


Yu Jie menggeleng. Kemudian dengan kekuatannya menghancurkan pil penawar itu. "Aku tidak mau kalau harus menukarnya dengan menjadi Yu Jie yang dulu. Akan lebih baik hidup singkat dan menderita tetapi penuh cinta. Daripada hidup lama, mempunyai kekuatan luar biasa, tetapi harus menjadi orang jahat untuk yang dicintainya."


Raja Langit mengangguk-angguk, tersenyum lebar. "Kau sudah memutuskannya. Dewi Es, kau yakin tidak akan menyesal?"


"Tidak, aku tidak akan menyesal."


"Baiklah, aku terima keputusanmu."


"Terima kasih, Yang Mulia."


Raja Langit membuat beberapa gerakan rumit yang memunculkan cahaya biru keunguan. Lantas mengarahkannya ke Yu Jie. "Kau telah menolak pil penawar itu. Sebagai gantinya, kuberikan energi yang dulu pernah ibumu, Dewi Es Agung, berikan di hari ulang tahunku. Itu adalah energi permata es yang dia kumpulkan selama 500 tahun, setara dengan sepertiga energi yang kau transfer ke belati perak."


***


"Apa-apaan ini, Zhu?" tanya Ping, melihat pria itu membawa begitu banyak selimut salju.


"Aku meminta tetua es menyalurkan energi mereka ke selimut-selimut ini. Katakan, apakah ini sudah cukup?"


"Siapa yang meminta selimut salju ini, Zhu?"


Pangeran Es tertawa nyaring, sedetik kemudian air matanya tumpah membasahi wajah. "Selimut-selimut ini bisa mempertahankan suhu tubuh dan inti batin nona tetap dingin. Meski sedikit, ini tetap berguna dalam penyerapan energi es."


Tak mengerti, Ping menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa yang kau katakan, Zhu?"


"Kau lebih tahu segalanya, Ping. Kau tahu nona meminum pil pembeku salju. Kenapa kau membiarkannya, Ping?"

__ADS_1


Ping terperanjat mendengar Zhu mengucapkan pil pembeku salju. Cepat wanita itu mengibaskan tangannya, menutup semua pintu dan jendela. "Omong kosong! Kali ini kuanggap kau hanya mabuk dan tidak sadar akan ucapanmu."


"Omong kosong apa, Ping? Aku mendengar percakapan kau dengan tabib Yen." Zhu menatap tajam lawan bicaranya. "Kenapa kau biarkan, Ping? Dia adalah Dewi Es kita."


"Itu pilihan nona."


"Pantas saja dia selalu terlihat lemah. Kenapa, kenapa kau melakukan ini semua, nona?" teriak Zhu, seperti orang gila. Tak bisa mengendalikan diri, pria berwajah pucat itu membanting semua selimut yang dibawanya.


Ping tersenyum getir dan kemudian ikut menangis. "Lakukan yang kau mau, Zhu. Namun semua akan tetap sama. Keadaan nona akan tetap sama."


"Kenapa kau lakukan ini semua, hanya untuk orang yang membencimu, Nona?" tanyanya, menerawang jauh.


"Kenapa kau melakukan ini semua, hanya untuk Dewi Es yang bahkan tidak pernah membalas perasaanmu?" sindir Ping---yang tahu perasaan pria itu terhadap nonanya. "Karena cinta, bukan? Nona juga melakukan itu karena cinta dan tidak ada yang bisa mencegahnya. Jika kau mencintainya, berjanjilah untuk tidak memberitahukan ini pada siapapun."


***


"Sudah sebulan, apa kau tidak bosan terus tidur, Yu'er?" Menyisir surai putih Yu Jie, pelan. Wang Zheng memakaikan jepit rambut dari bunga krisan putih, yang sejujurnya telah lama ingin ia berikan, hanya saja kebencian membuatnya tak punya keberanian. Dan ternyata itu sangat pas dan terlihat manis saat dikenakan.


Mata Wang Zheng berkaca-kaca menatap sekeliling. "Aku telah menghias kamarmu dengan banyak bunga krisan. Kau harus bangun untuk melihatnya."


Takdir tak berjalan sesuai keinginan. Saat ia menyadari bahwa rasa cinta lebih besar dari kebencian. Justru saat itu wanita yang dicinta terlelap dalam mimpi panjangnya---entah kapan akan terjaga.


Mendadak hati dipenuhi penyesalan. Makian dan umpatan yang ia katakan, seperti senjata makan tuan. Ia menyesal. Sungguh, jika ada kesempatan, Wang Zheng ingin mengulang waktu dan memperbaiki kesalahan.


"Hari itu kau bertanya, apakah dengan kau tiada akan membuatku bahagia. Namun kau lebih dulu menyimpulkan sebelum kuberi jawaban." Netra itu perlahan basah oleh serpihan luka berwujud cairan jernih tak berwarna. "Aku tidak akan bahagia tanpamu. Aku hanya akan seperti raga tanpa jiwa, jika kau tiada."


Wang Zheng mengecup puncak kepala Yu Jie, lama. Tercium aroma lavendel yang lembut. Seketika rasa rindu menguasai rongga dada. Membuatnya hanya dapat tersenyum luka. "Jika kau benar-benar ingin aku bahagia, maka bangunlah."


Tangan Yu Jie tampak bergerak. Tidak lama mulai mengerjap-ngerjapkan mata. Kemudian dengan lirih berkata, "Wang-Wang."


"Yu'er."


Yu Jie tersenyum simpul dengan mata terbuka setengah. "Wang-Wang."


"Ping," teriak Wang Zheng, "panggilkan Yen."


"Baik, Tuan."


Wang Zheng mengangkat kepala Yu Jie dan menempatkan di atas pangkuannya. Kemudian berulang-ulang mencium tangan istrinya dengan tangis yang tak ubahnya hujan. "Yu'er, apa yang kau rasakan?"


"Aku sangat lelah." Yu Jie kembali menutup matanya.


"Kalau begitu tidurlah." Memeluk erat istrinya. Dielus-elusnya puncak kepala Yu Jie dengan penuh kehangatan. "Aku akan menjagamu."


Yen datang bersama Ping. Wang Zheng memberi isyarat agar keduanya memelankan suara. Lantas membirkan tabib Kerajaan Langit memeriksa Yu Jie.


"Bagaimana?"


"Aneh, ada yang mentransfer paksa kekuatan es dalam jumlah besar. Sehingga organ-organ yang terluka dapat pulih dengan cepat."


Wang Zheng menaikkan alisnya. "Seberapa besar kekuatan es itu?"


"Ini adalah energi yang yang dihasilkan permata es selama 500 tahun."


"Tapi tidak ada seorangpun yang memasuki ruangan ini, selain aku. Kecuali ada yang mentransfer energi es ini melalui alam bawah sadar. Tapi siapa yang mampu melakukan ini?"


Yen tersenyum. "Tak penting siapa yang mentransfer energi itu. Yang penting sekarang adalah fokus pada pemulihan permaisuri Rui."


Sepakat, Wang Zheng menganggukan kepala. "Baiklah, lupakan saja."


"Karena dilakukan paksa, hanya luka dalam yang sembuh sepenuhnya. Sementara untuk luka luar akan memerlukan waktu lebih lama dan perawatan ekstra. Karena jika tidak hati-hati, lukanya mungkin tidak akan membahayakan nyawa tetapi membuat permaisuri Rui kesakitan luar biasa."


"Aku mengerti. Siapkan saja ramuan dan obat-obatan yang diperlukan."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


__ADS_2