ETHEREAL

ETHEREAL
BAB 14


__ADS_3

"Kau yakin ini dapat menyembuhkan Tuan Rui?" Zhu mendekat, melihat lebih jelas buku kuno yang ditulis dengan tinta perak dan segel kerajaan yang menandakan pembuatnya adalah keturunan Raja Langit.


"Tentu saja. Permata biru dapat menyembuhkan bahkan menghidupkan kembali inti batin yang rusak. Tapi ..."


"Tapi apa?" Wang Zheng datang dan menyela percakapan dua orang itu. Di belakangnya Yu Jie mengikuti sang suami dengan wajah cemas.


"Tuan Rui, Permaisuri Rui, maaf tidak mengetahui kedatangan kalian." Yen segera bangkit dan menyambut tamu tak diundang itu. Lantas memberi kode agar Zhu meninggalkan mereka.


Zhu mengangguk dan kemudian pergi. Saat melewati Wang Zheng, mata pria itu menajam. Tak mau kalah, penguasa air itu mencegat abdi istrinya dan berbisik, "Apa maumu?"


"Tuan tahu betul apa mau saya," balasnya, tak kalah dingin. Lantas menarik tangannya paksa.


Wang Zheng mengepalkan tangan. Kata-kata Zhu tempo hari kembali terngiang di kepala. "Tuan tahu, Tuanlah penyebab semua penderitaan nona Xia. Semua rela dia berikan, bahkan tidak peduli apakah itu akan membuatnya tiada. Ingatlah ini Tuan Rui, nyawa istrimu di tanganmu."


"Tuan Rui, silakan duduk." Menyadari suasana mulai memanas, Yen berusaha meredamnya. "Aku akan menyiapkan teh herbal. Bersantailah."


"Tidak perlu." Wang Zheng duduk bersila dan menuang sendiri teko berisi air putih di depannya.


"Biar aku saja yang menuangkannya." Meraih teko yang dipegang Wang Zheng. Namun pria itu justru tak menerima maksud baik Yu Jie. Sikapnya yang dingin, membuat wanita berwajah oval itu hanya bisa memanyukan bibir, kesal.


Yen menghampiri keduanya. Menyajikan beberapa camilan yang terbuat dari rempah-rempah herbal. Sangat cantik dengan beragam bentuk, salah satunya bunga krisan.


"Silakan."


"Terima kasih." Wang Zheng menepikan camilan itu ke arah Yu Jie. Lantas menatap lawan bicaranya, serius. "Aku dengar permata biru dapat menyembuhkan inti batin yang rusak."


"Ya, itu benar, Tuan."


"Roh Yu Jie juga terbentuk dari tiga energi. Di mana salah satunya energi air. Bisakah permata biru digunakan untuk menyembuhkan inti batinnya yang rusak karena pil pembeku salju dan embun kematian?"


Mendengar dua pil itu disebut, Yen mendadak gugup. "Tuan Rui, dari mana kau tahu tentang itu?"


"Aku tidak memintamu bertanya. Aku ingin kau menjawab pertanyaanku."


Bingung harus menjawab apa, beberapa saat keheningan menyelimuti ketiganya. Saat itu, Yen melihat Yu Jie yang memberikan sebuah isyarat lewat gerakan mata. Tak bisa terus menerus diam dan membuat kecurigaan, akhirnya tabib yang namanya dikenal di seluruh penjuru Langit itu berdehem memecah kebisuan.


"Belum ada buku yang menunjukkan ini bisa dilakukan. Namun, aku akan mencoba memeriksanya. Mungkin permata biru akan bisa memperbaiki inti batin Permaisuri Rui."


"Tidak!" Yu Jie yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik, akhirnya angkat bicara. "Permata biru itu untuk menyembuhkanmu. Bagaimana bisa itu untuk menyembuhkanku? Lalu kau, kau akan tiada, Wang-Wang."


"Lantas kau ingin aku memilih menyelamatkan hidupku. Dan harus hidup dalam rasa sakit kehilangan yang mengerikan?"


Pertanyaan itu sukses membuat Yu Jie kehabisan kata. Netra beriris zamrud itu tampak berkaca-kaca. Segera ia memalingkan muka sebelum hujan tumpah.


"Kau tidak ingin hidup dalam rasa kehilangan yang mengerikan. Apakah menurutmu aku juga mau? Hidup tanpamu itu sama dengan kematian." Suara Yu Jie berubah serak. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tetap tegar. Meski tanpa harus melakukannya, semua tahu bahwa ia hanyalah wanita lemah.

__ADS_1


"Tuan Rui, meski belum dipastikan apakah permata biru dapat menyelamatkan Permaisuri Rui. Ini tetap saja pilihan besar. Hanya ada satu permata biru. Itu artinya hanya ada satu orang yang bisa selamat." Yen menelan saliva selepas bicara. Ia tahu ini pilihan sulit yang menyakitkan. Bahkan ia sendiri mungkin akan gila bila diperhadapkan pada situasi ini.


Yu Jie menatap dua orang itu dengan tatapan marah. Lantas memilih pergi tanpa sepatah kata. Terang saja Wang Zheng mengejar wanitanya itu dengan cemas. Khawatir bila sang istri akan melakukan tindakan gegabah yang akan menyakiti dirinya sendiri.


***


"Berhenti!" Wang Zheng mengibaskan jari menutup pintu keluar. Lantas menarik gadisnya dan dengan satu putaran keduanya telah berada di Istana Air, tepatnya ke Paviliun Man Yu.


"Jangan membujukku. Jika salah satu dari kita harus tiada, maka itu adalah aku!" Mendorong sang suami, kuat. Setelah berada cukup jauh dari Wang Zheng, Yu Jie duduk di ranjang bersprai biru muda itu.


"Kau tiada, aku pun akan tiada."


Yu Jie mengigit bawah bibirnya, gemetar. Seandainya saja pria keras kepala itu tak tahu mengenai pil pembeku salju, mungkin masalahnya tak akan serumit ini. Tak akan ada perdebatan tentang siapa yang harus lebih dulu menyapa kematian dan siapa yang tetap bertahan dalam bayang kehilangan. Namun nasi telah menjadi bubur. Semua fakta itu terungkap dan menghancurkan segala rencana.


Wang Zheng mendekat. Ia mendesah, pelan. Mengembuskan semua rasa sesak yang menumpuk di rongga hati. Saat ia ingin sekali melampiaskan amarah pada Yu Jie, tetapi tangannya justru bergerak memeluk wanita itu dari belakang.


"Jangan tinggalkan aku, Yu'er."


Yu Jie memegang tangan Wang Zheng yang basah oleh air mata. Lalu meletakkan telapak tangan itu di pipinya.


"Kita berdua sekarat dan hanya salah satu yang bisa selamat. Bukan kau atau aku, janji kita adalah akan hidup dan mati bersama. Mari kita lupakan tentang permata biru. Kenapa tidak kita habiskan waktu bersama, sebelum kematian datang membawa jiwa?" Wang Zheng meletakkan dagunya di bahu Yu Jie. Meresapi aroma lavendel yang menenangkan.


Yu Jie berbalik dan menggenggam tangan Wang Zheng. Tawa getir terlukis di bibir ranum itu. "Kau benar. Mari kita lupakan tentang permata biru dan mati bersama. Berjanjilah, kau tidak akan mengingkarinya."


"Tentu saja." Menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Yu Jie. Setelahnya mencium puncak kepala wanita itu, lama. "Aku janji. Jika salah satu dari kita tiada, maka yang lainnya juga akan ikut ke alam baka."


***


Zhu tersenyum lebar, meski begitu raut wajah duka jelas tergambar di sana. "Ya, aku yang mengatakannya."


"Siapa yang memberimu hak melakukan itu, hah? Kita sudah berjanji untuk menyembunyikannya dari tuan Rui."


"Tapi aku tidak bisa membiarkan nona tiada. Aku tidak bisa membiarkan nona terus menerus berkorban untuk dia. Aku tidak bisa, Ping."


Marah, Ping membalikkan meja. Angin bertiup kencang di sekitar mereka. "Kau pikir aku bisa? Aku juga tidak bisa membiarkan nona menderita. Namun itu pilihannya. Tidak bisakah kau menghormatinya?"


"Aku tidak peduli!" Ikut membanting benda-benda di sekelilingnya. Membuat suasana kian mencekam.


Ping mendekat. Lantas menunjuk pria itu, kesal. "Ya, bahkan kau tidak peduli jika itu akan menyakiti nona. Kau mengacaukan segalanya."


Zhu menepis tangan Ping. "Setidaknya, kekacauan ini membuatku tahu bahwa masih ada harapan menyelamatkan nona."


"Apa katamu?"


Ping yang sejak tadi ditelan kemarahan, berubah tenang. Ditariknya pria yang bertanggung jawab atas pembuatan es dan salju itu ke tempat yang lebih sepi. "Jelaskan maksud perkataanmu, Zhu!"

__ADS_1


"Permata biru dapat menyembuhkan inti batin yang rusak. Tuan Rui baru saja mendatangi Yen untuk memastikannya. Meski belum pasti, tetapi setidaknya masih ada harapan."


Mendengar permata biru disebutkan, binar harapan di mata Ping seketika sirna. "Tidak, tidak mungkin nona akan menerimanya. Dia akan lebih memilih tiada, daripada mengorbakan hidup Tuan Rui."


Zhu mengembuskan napas, lama. Sejujurnya ia sepemikiran dengan Ping. Dilihat dari watak Yu Jie, ia pasti lebih dulu mengutamakan keselamatan Wang Zheng.


***


Gembok emas terbuka. Yu Jie dan Wang Zheng saling tatap sebelum masuk ke dalam rumah kaca. Keduanya berpegangan tangan, saling menyakinkan.


"Kau yakin tidak akan menyesal, Yu'er?"


Yu Jie mengulum senyum dan kemudian bergelayut manja di lengan kekar prianya. "Harusnya aku yang bertanya demikian. Aku adalah si tukang sandiwara, wanita iblis yang licik dan pernah berusaha membuatmu tiada. Tidakkah kau menyesal menghabiskan hidup denganku?"


Gelak tawa keluar dari bibir merah muda Wang Zheng. Diusapnya surai putih itu, lembut. "Tukang sandiwara? Wanita iblis? Apa kau sedang menyindirku karena pernah mengataimu begitu?"


Yu Jie mengangguk. Kemudian menjauh sambil bersedekap dada. "Tentu saja. Kau tahu, waktu itu kau sangat jahat padaku. Bagaimana bisa wanita secantik dan semenawan Xia Yu Jie disebut wanita iblis. Dasar menyebalkan."


Rumah kaca diatur dengan suhu rendah dan sedikit cahaya. Saat pintu dibuka, angin masuk dan bertiup cukup kencang membawa hawa dingin. Membuat poni Yu Jie berantakan dan ia kesulitan melihat. Saat itu Wang Zheng langsung datang dan membenarkan. Bukan itu saja, pria itu menyuruh istrinya duduk dan kemudian ia mengepang rambut bagian atas yang tampak tak beraturan.


"Iblis cantik dan Dewa menyebalkan. Bukankah itu kisah yang menakjubkan?" bisik Wang Zheng, setelah selesai mengepang.


"Wang-Wang, kau masih bilang aku iblis?" Yu Jie memanyunkan bibir. Lantas memukul lengan sang suami, gemas.


"Kenapa memangnya? Iblis atau dewi, aku akan tetap mencintaimu."


"Baiklah, aku pegang kata-katamu." Menggamit dagu Wang Zheng, nakal. Kemudian berlari lebih dulu ke dalam.


Belum lama mereka sampai. Yen dan beberapa tabib Kerajaan Langit datang. Mereka semua terlihat sangat repot dengan tumpukan buku medis kuno dan ramuan herbal.


"Salam, Tuan Rui," hormat Yen. "Kami datang ke sini untuk memeriksa permata biru, apakah dapat digunakan untuk menyembuhkan permaisuri Rui. Agar tak terjadi kesalahan. Kami perlu menguji langsung permata biru milik Tuan."


"Tidak perlu." Yu Jie datang membawa beberapa kuntum krisan putih yang tumbuh subur di sekitar permata biru. "Kami sepakat menyegel permata biru dan tidak akan menggunakannya."


"Permaisuri Rui, maksudmu?" Yen sedikit ragu melanjutkan pertanyaannya.


Wang Zheng menarik tangan Yu Jie. Tanpa ketakutan, pria itu berkata, "Benar, kami memutuskan untuk tidak menggunakan permata biru. Kami akan menikmati waktu yang tersisa. Tanpa harus berselisih perihal siapa yang lebih dulu tiada."


Melihat kedua dewa itu tampak bahagia, Yen tersenyum lega. Meski keduanya akan tiada, setidaknya tidak ada yang akan terluka. "Baiklah. Aku hargai keputusan ini."


Pria beralis tebal itu memeluk Yu Jie di depan Yen, mesra. Membuat wanita yang ahli dalam pengobatan itu segera memalingkan muka. "Tuan Rui, Permaisuri Rui, aku permisi pergi."


"Yen, biar aku mengantarmu." Yu Jie langsung melepaskan pelukan dan merangkul Yen.


"Terima kasih, Permaisuri Rui."

__ADS_1


Tatapan Wang Zheng tak bergeming pada Yu Jie. Melihat gadis itu bercakap-cakap kecil dengan Yen, sesekali tertawa kencang. Tanpa sadar segaris lengkungan tipis kesumba itu terkembang lebar. Seakan-akan ada mantra yang menghipnotisnya saat melihat wanita itu bahagia.


"Meski kita saling berjanji sehidup semati. Namun tetap saja aku tak bisa berdusta, bahwa aku tidak rela kau tiada," gumam Wang Zheng, sambil memperhatikan permata biru yang tersimpan dalam kabut air setinggi tiga meter.


__ADS_2