ETHEREAL

ETHEREAL
6. Kunjungan Raffa.


__ADS_3



•••


Batang cabai yang sedang dicabuti oleh Alia terlihat tidak menarik dipandangan gadis itu. Lihat saja! Bukannya serius memisahkan cabai dengan batangnya. Alia justru hanya memelintir batang tersebut sambil melamun.


Mita yang baru saja masuk ke dalam dapur di Panti Asuhan Melati, tempat mereka tinggal pun tidak disadari oleh Alia. Bahkan saat Mita memanggilnya dan memandang Alia dengan jarak yang sangat dekat pun, Alia tetap tidak sadar.


“HAAALIA SWASTIKA PUTRIII!”


“Eh, *****. Bau banget mulut lo ******!” bentak Alia karena Mita memanggilnya dengan suara keras disertai hembusan napas yang kencang. Alhasil, aroma mulut yang keluar dari mulut Mita pun terhirup oleh Alia.


“Mantap nggak tuh, aroma bawang putih bercampur kencur yang habis gue makan barusan. Emang enak lo kebauan! Makanya jangan bengong!”


“Makan apaan lo pakai bawang putih sama kencur?” tanya Alia. Kini perempuan itu sudah seratus persen sadar. Dia sudah mulai mencabuti batang cabai dan memisahkannya. Ternyata hempasan tornado dari mulut Mita manjur untuk menyadarkannya.


“Makan seblak.” Mita menjawab seadaannya sambil membantu Alia mencabuti batang cabai.


“Oh.”


Hening. Keduanya kini sibuk masing-masing. Saat mereka sudah selesai mencabuti batang cabai, Alia membawanya ke wastafel dan membersihkannya. Sedangkan Mita tengah memakai apron, untuk bersiap menyiapkan makan siang.


“Eh Al, btw lo kan kemarin seharian nggak di sini, nih. Terus lo kemana? Di rumah sakit aja gitu? Terus lo tidur di sana, iya?” tanya Mita.


“Hmmm, ngak kok. Gue tidur di rumah sakit pas dua hari lalu. Kalo semalam gue tidur di ... tempat lain.” Suara Alia terdengar lebih rendah saat dia mengucapkan dua kata terakhir.


“Di mana? Lo nginep disuatu tempat? Hotel? Wisma?”


“Bu-bukan! Duit dari mana coba,” sangkal Alia sambil meletakan mangkuk plastik berisikan cabai ke dekat Mita.


“Lah, terus lo tidur di mana? Jangan-jangan lo tidur di emperan jalan ya?” kata Mita yang justru terdengar seperti menuduh Alia.


“Ish, nggak! Gue tidur di rumahnya dokter Raffa kok.”


“HA? ... siapa, tuh? Lo nggak jadi simpenan dokter kan, Al?”


Alia melempar cabai busuk ke arah Mita dengan kesal. “Nggak lah! Gue melarat-melarat begini masih ada harga dirinya kali. Lagian Dokter Raffa itu masih jomblo, tau!”


“Widih, bagus tuh, Al. Dia masih jomblo, lo jomblo. Kalian di kamar ngapain aja? Lo jangan-jangan enak-enakan ya?” tuduh Mita sambil mencolek-colek pipi Alia.


Bicara soal ‘enak-enakan' yang dimaksud Mita. Alia tidak mengerti apa ciuman pertamanya dengan Raffa kemarin malam bisa dibilang dalam kategori itu.


Eh, apaan sih lo, Al. Kenapa malah ngebayangin yang semalem, batin Alia. Perempuan itu menepuk-nepukan pipinya yang mulai memerah.


“Aih, tuh, kan! Pipi lo merah tuh! Fix banget ini mah lo ada apa-apa sama dokter itu.”


“Nggak ada, Mit. Gue pingsan kemarin. Terus dokter itu nolongin gue. Terus di bawa ke rumah dia. Udah. Nggak ngapa-ngapain lagi.” Ada sedikit kebohongan dari ucapan Alia barusan.


“Oke kali ini gue percaya sama lo.”


Alia menghembuskan napasnya lega. Bisa panjang urusan dengan Mita kalau ia jujur soal ciumannya dengan Raffa semalam.


•••


“Jangan minta disuapin mulu, ah! Aku juga mau makan tau,” dumel Mita pada seorang anak panti berumur lima tahun, bernama Ciko.


“Iya, iya. Aku minta suapin kakak yang lain aja. Yang lebih cantik dari Ka Mita,” balas Ciko sambil melengos meninggalkan Mita.


Anak kecil itu kini menghampiri Alia yang baru saja duduk di kursi makan bersama dengan penghuni panti yang lain.


Ciko menarik-narik ujung kaus hitam milik Alia, sampai membuat perempuan dengan rambut panjang dikuncir kuda itu menoleh padanya.

__ADS_1


“Ada apa, Cik?” tanya Alia lembut.


Ciko menyodorkan piring berisikan nasi dan sayur cap cay ke hadapan Alia. “Suapin aku!”


Alia sedikit mencondongkan kepalanya ke arah Ciko. “Lho, emangnya kamu belum bisa makan sendiri? Malu tahu sama adik-adik yang lain. Tuh! Mereka aja bisa makan sendiri,” kata Alia.


Ciko menggeleng gemas. “Nggak mau! Aku kalau makan sendiri pasti nggak habis. Aku maunya disuapin. Buruan!”


Alia ingin menolak. Tapi saat melihat wajah menggemaskan anak laki-laki di hadapannya itu, membuat Alia tidak tega. Alia akhirnya mengalah dan menarik kursi di sebelahnya untuk diduduki Ciko.


“Aku suapin, tapi nanti nambah ya!”


“Oke!” jawab Ciko semangat.


Alia menatap wajah Ciko yang sangat bahagia saat menikmati makanan yang Alia suapkan ke mulutnya.


Melihat warna mata Ciko membuat Alia mengingat Raffa. Anak laki-laki ini memiliki warna mata yang sama dengan Raffa. Entah kenapa Alia jadi rindu pada pria itu. 


“Kak Alia ada cowok ganteng nyariin Kakak, tuh!” teriak Dey, anak panti berumur sepuluh tahun, yang baru saja masuk ke ruang makan.


“Suruh masuk aja Dey! Palingan juga Dio,” balas Mita sambil duduk di kursi makan di hadapan Opan.


Sebelum Dey keluar untuk memanggil tamu yang datang. Alia sempat mendengar anak perempuan itu menggumam dengan raut wajah yang bingung. “Kayaknya bukan bang Dio, deh! Mukanya lebih ganteng sih.” Itu yang Alia dengar dari mulut anak perempuan itu.


Alia penasaran. Siapa cowok yang lebih tampan dari Dio? Jefri? Tidak mungkin! Jefri memang tampan. Tapi tidak lebih tampan dari Dio.


Sampai akhirnya rasa penasaran Alia hilang. Saat sesosok pria muncul dari balik pintu, sambil digandeng tangannya oleh Dey.


“Assalamu'alaikum.”


Alia membelakak ketika Raffa berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah di bibirnya. Dan Raffa terlihat sangat tampan. Seperti biasanya.


“Lebih ganteng dari Dio ini mah,” gumam Mita dengan tatapan mata yang berbinar.


Entah sejak kapan Mita sudah bangkit dari kursinya dan mulai mendekati Raffa. “Hai kamu duduk di sini aja! Sebelah aku kosong. Sini! Sini!”


“Eh?” Raffa tidak bisa menolak tarikan tangan Mita. Lelaki itu hanya diam saja, bahkan cenderung menuruti Mita.


“Lho, ini ada tamu ya? Siapa? Temen kamu Mita?” Ibu Melati, pengurus panti asuhan itu, duduk di kursi makan di posisi tengah.


“Bukan, Bu! Bukannya tamu Ibu, ya?”


Melati menggeleng. “Bukan juga. Kamu siapa, Nak? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Melati dengan ramah.


“Nama saya Raffa. Dan saya kesini karena ada perlu dengan Ibu,” jawab Raffa. “Untuk memperjelas hubungan saya dengan anak asuh Ibu. Alia.”


Alia menatap Raffa kaget. Hatinya mulai berdebar ketika pembicaraan Raffa sudah menyangkut soal hubungan.


Semua yang duduk di meja makan itu, kini tampak mulai penasaran dengan Raffa dan Alia. Bahkan mereka sampai melupakan makan siang mereka dan memilih mendengarkan percakapan itu.


Raffa yang awalnya hanya memandang Alia. Kini mulai memandang keseliling. Semuanya memandang Raffa dengan raut wajah beragam. Ada yang memandangnya datar. Ada yang memandangnya penuh dengan tanda tanya. Dan ada pula yang memandangnya kagum. Apalagi kalau bukan kagum dengan ketampanan pria itu.


“Alia lo kenal sama dia?” bisik Opan yang duduk di sebelah Ciko.


Alia mengangguk sebagai jawaban.


“Mas? Namanya siapa?” tanya Opan pada Raffa.


“Nama saya Raffa Ardiantara.”


“Kerja atau kuliah?”


“Saya sudah kerja.”

__ADS_1


“Kerja di mana?” tanya Opan lagi.


“Di rumah sakit.”


“Sebagai apa? Satpam?” Alia hampir saja ingin memukul Opan jika saja tidak ada Raffa di hadapannya.


“Saya dokter. Kebetulan kita pernah ketemu sekali. Saya lihat kamu malam itu.”


“Oh ya? Malam kapan?” tanya Opan penasaran.


“Saat kalian berada di tempat kecelakaan di trotoar dekat tempat ini. Waktu itu tengah malam. Ingat?”


Opan menganggukan kepalanya. Dia baru ingat sekarang. Pria yang datang menggunakan mobil waktu itu, dan menolong korban begalan mereka, sama percis dengan Raffa.Opan tidak begitu ngeh dengan rupa Raffa. Karena saat itu sudah malam dan lampu jalan yang kurang terang. Sekarang ia mengingatnya, dan Opan mulai agak takut. Takut kalau Raffa mengetahui kejahatan mereka dan berniat untuk melaporkan pada Melati.


“Jadi? Dokter ini mau apa, ya, ke sini?” tanya Opan agak takut.


“Seperti yang saya ucapkan tadi. Saya ingin memperjelas hubungan saya dengan Alia.”


“Alia?” gumam Mita sambil menatap Alia.


“Saya ke sini karena saya perlu restu Ibu dan teman-teman semua untuk menyetujui niat baik saya pada Alia.”


Penyakit jantung Alia kambuh. Alia tidak bisa mengkontrol degupan jantungnya karena Raffa. Sendok digenggamanya sangat erat saking gugupnya Alia mendengar ucapan Raffa.


Alia tidak siap melihat reaksi Melati, Opan, Mita dan adik-adik panti yang lain.


“Restu apa, Nak Raffa?” tanya Melati.


Raffa menarik napasnya panjang-panjang sambil menatap gadis bernama Alia, yang duduk di hadapannya.


Jika Alia gugup, maka Raffa lebih gugup. Apa yang akan  Raffa ucapkan saat ini adalah pernyataan yang hanya dia ucapkan sekali seumur hidupnya. Dan Raffa tidak ingin gagal.


Lagi-lagi napas panjang dihirup kuat-kuat oleh Raffa. Dengan niat yang kuat, Raffa akhirnya mengatakan kalimat yang sedari tadi mengganjal di kerongkongannya.


“Alia.”


“Y-ya?”


“Saya pernah mengatakan ini sebelumnya padamu. Tapi saya akan mengucapkan ini sekali lagi,” ucap Raffa.


Alia diam dengan ekspresi wajah yang tegang.


“Menikahlah dengan saya, Alia!”


Semuanya terlihat diam untuk beberapa saat.


“HA? NIKAH?” Mita dan Opan spontan berteriak bersamaan. Ciko yang berada di samping Opan bahkan sampai terlonjak kaget.


“I-ini seriusan, Al?” tanya Mita pada Alia. Alia hanya menundukan kepalanya bingung.


Alia bingung bagaimana menghadapi pertanyaan yang mungkin ditanyakan Melati dan teman-temannya. Bagaimanapun apa yang Raffa lakukan ini terkesan sangat mendadak. Terlebih lagi mereka baru saja mengenal Raffa.


“Nak Raffa serius dengan lamarannya dengan Alia?” tanya ibu Melati.


“Saya serius!”


“Kamu sendiri bagaimana Alia? Kamu sudah siap untuk menikah atau belum? Semuanya kamu yang memutuskan. Ibu tidak bisa memaksa, melarang atau mengiyakan begitu saja. Kamu yang akan menjalaninya nanti. Gimana Alia?”


Alia menegakkan kepalanya dan memandang Melati. Dia bingung harus membuat keputusan apa. Bagaimanapun ini terkesan buru-buru.


Kalau memang Raffa menyukainya. Bagaimana dengan Alia? Ia belum mengerti soal cinta yang sering dibicarakan Mita padanya.


Sampai akhirnya Alia hanya mengedikan bahunya dan kembali menunduk, sebagai jawaban.

__ADS_1


•••


__ADS_2