
•••
Pandangan Raffa terlihat sangat serius. Lelaki dengan snelli yang membalut tubuh kekarnya itu, kini sedang memandang sebuah kertas berisikan data pasien yang dia tolong semalam.
"Setelah ini kami akan melakukan pemeriksaan rontgen untuk memeriksa apa ada luka dalam di tubuh Anda," kata Raffa pada pasien itu.
Pasien yang diajak bicara oleh Raffa itu, hanya sesekali mengangguk untuk menjawab ucapan Raffa. Seluruh tubuhnya masih sangat terasa ngilu. Kejadian semalam adalah mimpi buruk baginya.
"Hmmm, Dokter?" Raffa menoleh dan mendekat ke pasien tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Raffa.
"Saya dengar dari perawat tadi ... katanya Dokter, ya, yang menolong saya semalam?" tanya pasien itu.
"Iya, benar. Semalam saya kebetulan lewat saja," jawab Raffa.
Pasien itu memejamkan matanya dalam-dalam. Ingatannya kembali berputar ke kejadian semalam.
Saat itu sudah hampir tengah malam. Lelaki yang baru saja menyelesaikan shif kerjanya itu segera meninggalkan tempat kerjanya dalam kondisi kelelahan. Dia sudah sangat ingin sampai ke rumahnya saat itu. Namun nasib baik tidak sedang berpihak padanya. Pria yang mengendarai motor sendirian di gang dengan pencahayaan yang minim. Menjadi incaran kejahatan di tengah malam yang sepi.
Pria itu sudah menambah kecepatan laju motornya untuk menghindari para begal yang mulai mengikutinya dari belakang. Dia juga tidak berhenti berdoa'a agar diselamatkan dari tindak kejahatan itu. Tapi keempat begal itu bukanlah lawan yang seimbang untuk lelaki tersebut. Akhirnya, lelaki itu berakhir seperti sekarang ini. Setelah dia berusaha keras untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dan ternyata dia tidak mampu.
Dia tidak ingat bagaimana cara mereka berhasil membawa ponsel, dompet dan motor miliknya. Yang dia ingat. Hanya saat dia mencoba menghindari para begal itu dan dia justru menabrak trotoar, hingga membuatnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Ah, dia juga ingat. Tangannya sempat memegang leher salah seorang begal itu. Jika ingatannya tidak salah. Sepertinya begal itu seorang perempuan.
"Maaf, saya hampir lupa menanyakan nama Anda. Sejak kejadian semalam. Saya tidak menemukan identitas Anda. Mungkin ponsel dan dompet Anda sudah hilang dari kecelakaan itu."
"Barang-barang saya itu tidak hilang. Tapi dicuri," sergah pasien itu dan membuat Raffa agak kaget.
"Dan nama saya Fajar. Fajar Ardiansyah."
Raffa menuliskan nama pasien itu ke kertas data pasien yang berada di tangannya.
"Ngomong-ngomong, Dok. Ketika Dokter menemukan saya semalam. Apa saya sendirian di sana? Apa Dokter melihat begal-begal yang merampok motor, ponsel dan juga dompet saya?" tanya pasien itu– Fajar.
Raffa mencoba mengingat dengan jelas kejadian semalam. Dia mencoba mengingat berapa banyak orang yang dia temui di tempat kejadian.
"Ada orang lain selain Anda. Satu perempuan. Dan tiga laki-laki," ucap Raffa.
"Apa mereka semua pakai kaus hitam? Perempuan yang satu berambut panjang. Dan diantara tiga laki-laki itu ada yang memiliki tinggi badan yang hampir sama seperti Dokter. Apa ciri-ciri mereka seperti itu?" tanya Fajar dengan antusias.
Raffa mengernyitkan dahinya. Bukan karena dia bingung. Tapi dia merasa ada yang janggal dari kejadian ini. Dan semua yang diucapkan Fajar sama percis dengan ciri-ciri orang yang dia lihat semalam. Termasuk Alia.
"Benar. Mereka semua orang yang saya lihat semalam," jawab Raffa.
"Dok ... Mereka pelakunya. Mereka yang sudah membegal saya."
Raffa mematung di depan pasien itu. Dirinya belum benar-benar bisa mempercayai apa yang diucapkan Fajar. Bukan menuduh Fajar berbohong. Hanya saja dia benar-benar tidak sampai berpikir kalau orang-orang yang dia temukan semalam adalah para pelakunya. Dan Alia salah satunya.
Raffa memang merasa seperti ada yang tidak beres. Tapi bukan ini yang dia harapkan.
__ADS_1
Dia tidak menyangka. Perempuan yang baru beberapa saat lalu duduk di hadapannya dan menceritakan hal menyedihkan di depan Raffa. Ternyata adalah seorang kriminal.
•••
Alia diam. Perempuan itu tidak berani menegakkan kepalanya saat ditatap tanpa berkedip oleh orang di hadapannya. Orang yang menatap Alia dengan tatapan tajam itu hanya diam menunggu Alia memulai pembicaraan.
Alia melirik ke arah tiga benda mati yang tergeletak di atas ranjang yang di duduki orang di hadapan Alia itu. Sebuah ponsel pintar, kunci motor, dan dompet kulit berwarna cokelat tua.
“Maaf .... ” Satu kata yang meluncur dari mulut Alia berhasil memecahkan keheningan di ruangan tersebut.
Orang di hadapan Alia itu tersenyum menyeringai. “Gampang banget, ya, minta maaf. Tinggal ngomong doang, tapi gue di sini yang menderita.” Mata Alia melirik ke orang itu dengan perasaan takut.
“Saya akan tanggung jawab,” kata Alia.
Orang itu menyeringai sambil berkata, “bagus banget lo mau tanggung jawab. Biayain biaya rumah sakit gue bisa?”
Alia mengangguk dengan rytme yang lamban. Entah bagaimana dia bisa membayar semua biaya perawatan orang ini, itu tidaklah penting. Mungkin Alia bisa mencuri atau merampok nanti.
“Kemana teman-teman lo yang lain? Ninggalin lo semua?” tanya orang itu dengan intonasi yang tajam.
“Mereka nggak ada urusan di sini,” jawab Alia dengan kepala yang masih menunduk.
Orang yang sedang bersandar di ranjang putih di kamar pasien itu, berdecak. “Ngelakuin kejahatannya bareng-bareng. Masa yang berkorban cuma satu orang. Kasian banget sih lo,” cibirnya dan membuat hati Alia terasa tertohok.
Alia menghembuskan nafasnya perlahan. Mencoba meredam emosinya yang sudah mulai mendidih. Kalau saja dia tidak berada di tempat yang 'anti keributan' ini, Alia pasti sudah menonjok dan memukul wajah orang yang wajahnya pun sudah penuh dengan luka lebam sekarang.
“Maaf Tuan yang saya tidak tahu nama Anda siapa. Tujuan saya ke sini bukan hanya untuk minta maaf dan mengembalikan barang milik Anda. Ada hal lain yang membuat saya berani menunjukan diri saya ke hadapan Anda.” Alia mulai merasa perkataanya barusan terdengar kelewat formal.
“Kenapa? Lo mau sujud di kaki gue supaya gue nggak ngelapor kalian ke polisi, hm?”
Raffa yang sedari tadi duduk di sofa, tak mau ikut campur untuk berargumen. Tugas dia di kamar inap yang di tempati Fajar itu hanya untuk sekedar mengawasi keduanya. Takut-takut kalau sampai terjadi baku hantam. Apalagi saat dia mengetahui kalau Alia bukan seperti wanita pada umumnya.
“Ini apa maksudnya?” tanya orang itu–Fajar, menatap telapak tangan Alia dengan bingung.
“Lo sempat narik kalung gue. Gue yakin kalung gue itu sama lo. Jadi kita tukeran sekarang! Gue balikin punya lo. Lo balikin punya gue.”
“Gue nggak ngerti! Kalung apa? Kalung yang mana yang lo maksud?”
“Please, jangan bercanda!” titah Alia. Suaranya terdengar lirih.
“Bercanda apanya? Gue justru ngerasa lo yang bercanda di sini. Lo bawa semua hasil rampokan lo yang lo ambil dari gue. Dan tiba-tiba sekarang lo balikin semuanya dengan harapan gue balikin kalung yang bahkan gue nggak tau ada dimana. Motif lo apa sebenarnya?! Atau jangan-jangan lo mau gue kasih pengampunan dan ngebiarin kalian bebas tanpa di kasus polisi,” tuduh Fajar pada Alia.
Fajar menarik nafasnya panjang. Rahangnya agak merasa sakit karena terlalu banyak bicara.
“Gue lebih baik di penjara dari pada kalung itu hilang.” Suara lirih Alia membuat kedua pria yang berada di ruangan itu, memandangnya tak percaya.
Fajar memandang tangan Alia yang perlahan turun. Beberapa saat kemudian, Fajar memandang Alia yang terlihat ingin menangis.
Fajar mendengus sebal. Dia tidak suka perasaan ini. Perasaan di mana dia merasakan kasihan pada orang lain. Dia paling tidak suka direpotkan orang lain. Terlebih lagi perempuan di depannya ini adalah seorang penjahat. Aneh rasanya, ketika dia harus menolong orang yang justru telah menjahatinya.
“Siapa nama lo?” tanya Fajar pada Alia.
Alia diam sejenak, kemudian menjawab, “Alia,” jawabnya singkat.
__ADS_1
Fajar mengangguk dan kemudian menyuruh Alia untuk mendekat ke arah samping ranjangnya. Fajar menatap Alia dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Cantik.
Satu kata yang terlintas di pikiran Fajar saat memperhatikan Alia secara intens. Menurut Fajar, cantiknya Alia beda. Pakaian dan perilakunya memang jauh dari kata anggun. Tapi perempuan itu terlihat sangat manis tanpa polesan makeup.
Sepasang mata Fajar menyipit. Pandangannya terpaku pada leher jenjang Alia yang terasa asing di matanya. Ada bekas luka goresan di leher Alia yang cukup panjang.
Luka di leher Alia itu, didapatkan saat dia berlari dari kejaran preman-preman pasar karena menjambret uang hasil palakan preman-preman itu. Karena kencangnya berlari. Audy sampai menabrak pohon dan lehernya mengenai ranting yang sudah patah. Untung saja perempuan itu tidak sampai tertangkap preman yang wajahnya amat sangat sangar, badannya bau, dan mesum.
Audy menyibakan rambut panjangnya ke depan dadanya karena merasa risih dengan tatapan Fajar. Padahal Fajar tidak melihat ke bagian ‘itu’. Tapi dalam hati Audy, dia malah menuduh yang macam-macam.
“Sorry,” kata Fajar. “Gue nggak lihat yang lain, kok. Tapi leher lo itu ingetin gue sama sesuatu,” sambungnya dan membuat Audy serta Raffa menatapnya bingung.
“Gue yakin kalau gue pernah lihat luka itu.” Fajar kemudian menatap telapak tangannya. “Dan tangan gue ini serasa pernah megang luka itu. Tapi gue nggak ingat kapan.”
“Semalam.” Fajar menatap Audy saat perempuan itu mengucapkan satu kata tadi. “Lo sempat narik leher gue pas lo jatuh dari motor. Tapi karena temen gue yang saat itu ngeboncengin gue motor, dia langsung ngelepasin tangan lo dari leher gue. Terus lo jatuh. Dan kalung gue lepas. Dan gue yakin itu terjadi saat lo megang leher gue.”
“Ah ... ” desah Fajar saat ingatannya mulai terekam jelas diingatannya. “Jadi, itu lo?”
Audy mengangguk. “Jadi di mana kalung gue? Pasti ada di lo, kan?”
“Nggak ada! Gue emang ngerasa megang sesuatu malam itu. Tapi gue nggak tau kalau itu kalung,” sanggah Fajar.
“Jangan bohong! Lo boleh penjarain gue, asalkan lo balikin kalung gue,” seru Audy merasa yakin dengan ucapannya. Dia sangat yakin kalau kalung miliknya itu ada pada Fajar.
“Kok sekarang kesannya kayak gue yang maling di sini, yah?!” Ucapan Fajar terdengar datar, namun terasa mengena ke hati Audy.
Raffa bangkit dari sofa dengan helaan nafas yang terhembus dari rongga hidungnya. Cowok itu mendekat ke arah Audy. Kemudian, menepuk pundak Audy dengan pelan namun mampu membuat perempuan itu menoleh ke arahnya.
Tatapan mata Raffa mengunci tatapan Audy. Entah mengapa tatapan Raffa terasa bersinar di matanya. Terasa menenangkan. Apalagi ditambah saat ujung bibir pria itu tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman manis.
“Audy, yang diucapkan Fajar itu benar. Tidak ada kalung atau benda apa pun. Saat dia baru sampai di sini pun saya dan perawat lain tidak menemukan apa-apa. Termasuk kalung itu.” Seketika tubuh Audy terasa terhempas dari gedung tertinggi menuju aspal yang panas.
Jika yang diucapkan Raffa beberapa detik lalu adalah benar. Itu berarti kalung berharga miliknya telah hilang.
“Kalau bukan sama gue, berarti jatuh, tuh.”
Raut wajah Audy langsung memucat. Jika yang diucapkan Fajar itu benar yang terjadi. Untuk apa dia di sini? Kalung yang dia punya, adalah peninggalan satu-satunya dari orang tua Audy sebelum mereka meninggalkan Audy di panti asuhan. Benda itu tidak boleh hilang. Orang tuanya sudah pergi meninggalkannya entah kemana. Audy tidak mau jika kalungnya itu juga meninggalkannya. Walau itu hanya sebuah benda.
“Kayaknya lo nggak bisa bayar biaya perawatan gue ya? Kalung lo udah hilang, tuh! Nanti lo bayarnya pakai apa? Padahal kalungnya bisa dijual buat nambah-nambah biaya pengobatan gue. Bener nggak gue?”
“Nggak! Gue nggak akan pernah jual kalung itu. ”
Fajar tertawa meremehkan. “Lo kan maling. Cari aja toko perhiasan di pasar! Terus lo rampok! Lo gasak semua perhisaan di sana. Nggak usah nangis cuma karena satu kalung doang!”
Tangan Audy mulai terkepal. Raut wajahnya mulai mengeras. Dia paling tidak suka saat seseorang mulai menganggap enteng sesuatu yang berharga untuk orang lain.
“Gue bakal butiin ke elo! Gue bisa bayar biaya pengobatan lo. Dan gue juga bisa temuin kalung itu,” ucap Audy tegas dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dengan ekspresi wajah yang mengeras.
“Hoi!” Fajar berteriak memanggil Audy yang sudah pergi dari ruangan itu. “Segitunya banget *****.”
Raffa sempat diam sejenak sampai akhirnya dia ikut keluar dari ruangan itu, berniat untuk menyusul Audy.
__ADS_1
“Dok!” Fajar lagi-lagi berteriak. Kali ini mencoba memanggil Raffa. “Oke siap gue ditinggal.”
•••