ETHEREAL

ETHEREAL
2. Obrolan di Kantin


__ADS_3


•••


Tanpa Alia duga, Raffa menarik tangan Alia dengan lembut dan menariknya untuk mengikutinya menuju kantin rumah sakit.


Alia heran. Kenapa dokter setampan Raffa bisa baik sekali padanya. Padahal Alia tidak pernah melakukan hal baik apa pun pada Raffa.


"Kamu tunggu sini! Biar saya yang pesan makanan buat kamu," kata Raffa saat keduanya sudah berada di kantin rumah sakit.


Alia hanya menganggukan kepalanya menuruti ucapan Raffa. Gadis itu duduk di kursi dengan perasaan tidak enak. Banyak sekali pasang mata yang memperhatikannya saat ini. Tatapan itu terlihat beragam. Ada yang terlihat sinis, bingung, bahkan ada yang terlihat seperti ingin membunuh Alia dengan tatapan tajamnya.


Alia menundukan kepalanya karena merasa risih dengan tatapan mengintimidasi dari semua pasang mata itu. Mungkin karena mereka merasa kesal saat melihat Alia bersama Raffa. Apa lagi tadi Raffa datang dengan menggandeng tangan Alia.


"Ini buat kamu. Habiskan!" Alia menatap piring yang baru saja Raffa letakkan di atas meja. Isi dari piring itu ternyata membuat air liur Alia mengumpul di kerongkongannya. Nasi beserta teman-temannya yaitu, tempe, sayur bayam, dan perkedel, makin membuat perut Alia berteriak untuk segera diisi.


"Jangan dilihatin doang dong, Alia! Nasinya, kan, nggak bisa masuk sendiri ke perut kamu kalau cuma dipandangi kayak gitu." Raffa terkekeh melihat bagaimana ekspresi wajah Alia yang tidak berkedip sama sekali.


"Maaf, Dok! Saya boleh makan?" tanya Alia, malu.


Raffa menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Boleh, dong. Dihabiskan, ya! Kalau nggak habis bukan cuma nasinya yang nangis. Saya juga nangis nanti," canda Raffa, membuat Alia tertawa pelan.


"Ya, udah saya makan, ya? Dokter juga makan, dong!" seru Alia sambil memasukan satu suapan nasi ke dalam mulutnya.


Raffa tanpa sadar memandangi Alia yang terlihat sangat lahap menyantap makanannya. Raffa tidak pernah melihat orang selapar ini. Tapi entah kenapa, Raffa senang melihatnya. Alia terlihat menggemaskan ketika mengunyah makanan yang memenuhi pipinya.


"Kamu nggak dicariin keluarga kamu? Dari semalam kamu belum pulang, kan. Kalau mereka khawatir bagaimana?"


Alia diam mendengar ucapan Raffa barusan.


Raffa bisa melihat dengan jelas perubahan wajah Alia yang menjadi terlihat muram. Ada perasaan tidak enak di hati Raffa.


"Maaf! Kamu pasti nggak nyaman dengan ucapan saya barusan," kata Raffa dengan intonasi suara yang rendah.


Alia menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Raffa. "Nggak pa-pa kok, Dok! Saya cuma ... ngebayangin sesuatu yang Dokter ucapkan tadi. Saya pengin tahu bagaimana rasanya dikhawatirkan oleh keluarga sendiri. Kadang saya suka membayangkan bagaimana wajah orang tua saya kalau saya nggak pulang ke rumah kayak sekarang ...." lirih Alia.


Alia menundukan kepalanya. Sedetik kemudian, perempuan itu mengangkat wajahnya, dan tersenyum. Ada perasaan aneh di hati Raffa. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Tapi kadang asik juga, sih. Saya nggak perlu merasa berdosa karena durhaka sama orang tua saya," kata Alia sambil terkekeh dan kemudian melanjutkan makannya.

__ADS_1


Raffa menjadi tidak enak pada Alia. Dia juga merasa malu pada Alia yang terlihat baik-baik saja walau hidupnya tak semanis hidup Raffa.


"Nanti kamu saya antar pulang. Kamu tinggal di mana?"


"Panti asuhan."


Raffa terdiam. Tidak menyangka dengan apa yang dia dengar. Raffa ingin sekali bertanya. Tapi dia takut menyakiti hati Alia.


"Ah, kenyang!" seru Alia sambil mengelap mulutnya yang basah setelah menengguk segelas air sampai habis.


"Sudah habis? Makanan saya belum habis, loh."


"Dokter bengong terus, sih. Nasinya tuh nggak bakal masuk sendiri ke perut Dokter, kalau Dokter kebanyakan bengong dari tadi," celetuk Alia.


"Iya, yah. Saya kebanyakan liatin kamu, sih."


Alia tersenyum kikuk mendengar ucapan Raffa barusan. Ini dokter lagi gombalin gue, ya? Batin Alia.


Mata Alia membelalak saat matanya melihat jam di tembok kantin sudah menunjukan pukul dua belas siang.


*****! Gue lupa mau ketemuan sama Jefri. Marah nggak ya dia sama gue? Batin Alia mulai gelisah.


"Lho, kamu mau kemana?" tanya Raffa saat melihat Alia yang terlihat buru-buru.


"Saya ada urusan, Dok. Maaf saya ninggalin Dokter nggak pa-pa, kan, ya? Nanti kapan-kapan saya traktir Dokter, oke? Makasih buat makanannya Dokter Raffa. Saya permisi dulu," pamit Alia dan dengan cepat pergi meninggalkan Raffa yang tengah memandang kepergian Alia, tanpa berkedip.


Perempuan itu. Entah apa yang menarik dari dirinya. Sampai Raffa merasa penasaran padanya.


Memang benar. Soal hati. Tidak ada yang tahu.


•••


"Otak lo masih sehat kan, Al?"


Alia menoleh sinis. Memandang Jefri yang sedang duduk di atas motor matic milik pria yang sedang terkapar di rumah sakit saat ini.


"Baru kali ini kita ngembaliin barang hasil curian kita. Ini sih namanya sia-sia aja usaha kita semalam," celetuk Opan membuat Alia menghembuskan nafasnya panjang.


"Makanya itu, Pan. Gue rasa saraf otak nih anak ada yang putus. Kelakuannya jadi agak aneh begini," timpal Jefri seraya bangit dari jok motor.

__ADS_1


"Lo jangan begitu dong, Jef! Kita harus denger penjelasan Alia dulu!" sergah Mita.


Dio yang sedari tadi hanya diam memandang Alia, kini melangkah maju mendekat ke arah Alia dan kemudian menepuk pundak perempuan itu.


Alia mendongakkan kepalanya dan menatap manik hitam bola mata Dio. Lelaki yang memiliki mata tegas itu. Menatap mata Alia dalam. Ada kekhawatiran di mata Dio. Dan Alia merasakan itu.


"Gue takut ..." Alia kembali menundukan kepalanya dan jemarinya meremas kuat ujung kausnya. "Gue takut kalau sampai kita ditahan."


"Al?" panggil Dio dengan suara lembut. Pria itu memegang dagu Alia dan mengangkat wajah gadis itu agar menatap wajahnya.


"Dunia ini penuh dengan hal-hal yang menakutkan. Jadi wajar aja kalau lo takut dengan hal itu."


"Namanya juga maling, Al. Ya takutnya sama yang bau-bau kayak gitu. Takut polisi. Takut di penjara. Takut dikroyok massa. Gue bahkan takut kena azab karena dosa gue ini. Yah ... mau gimana lagi coba? Kita ini nggak seberuntung orang lain yang bisa hidup tanpa harus makan duit haram," sela Opan.


"Apaan sih lo ngomonginnya azab begitu!" bentak Mita sambil memukul lengan Opan dengan keras.


"Eh, gue bener dong? Kalau lo nggak mau takut masuk penjara. Ya lo harus jadi orang alim lah."


"Nggak juga, ah! Sotoy lo mah," sahut Mita.


"Apa sih yang lo cari di sini, Al? Lo dateng dan bantuin cowok itu. Sama aja kayak lo masuk ke go'a yang paling gelap." Kini giliran Jefri yang berbicara.


"Gue tau ini beresiko banget buat gue. Tapi gue nggak bisa kehilangan benda itu. Gue yakin banget kalau benda berharga gue itu ada sama cowok itu," jelas Alia.


"Kalung itu?" tanya Dio dan dibalas anggukan oleh Alia.


"Lo semua tau, kan? Kalung itu berharga banget buat gue. Itu satu-satunya harta yang gue punya. Lewat kalung itu gue merasa terkoneksi dengan orang tua gue. Walau gue nggak tau di mana mereka sekarang ..." lirih Alia dan lagi-lagi dia menundukan kepalanya.


Keempat teman Alia memandang ia dengan tatapan iba. Mereka tahu betul seberapa sayangnya Alia dengan kalung miliknya itu. Alia tidak pernah melepaskan kalung itu dari lehernya. Alia bahkan tidak pernah lupa untuk membersihkan kalungnya itu. Kalung milik Alia itu, sudah seperti separuh hidupnya. Kehilangan benda tersebut, rasanya seperti separuh jiwa Alia hilang entah kemana.


"Jef!" Mita memberi isyarat kepada Jefri untuk memberikan barang curian semalam.


Walaupun kepala Jefri mengangguk. Tapi sebenarnya, setengah hati Jefri seperti menyuruhnya untuk tidak melakukan apa yang Alia inginkan. Jika bukan karena Alia teman dekatnya, Jefri pasti sudah menolak dengan keras.


Jefri menarik tangan Alia dan meletakkan dompet,ponsel, dan juga kunci motor milik cowok semalam kegenggaman tangan Alia.


"Ini pertama dan terakhir ya, Al! Lain kali gue nggak bakal ngalah sama lo," kata Jefri dengan maksud bercanda.


Kemudian, Jefri memeluk Alia dan membisikkan sesuatu padanya. "Duit seratus ribu punya cowok itu udah gue pake. Sama bensin motor dia udah habis, Al. Lo yang ganti, ya?!"

__ADS_1


•••


__ADS_2