
Pintu rumah kaca tertutup rapat. Begitupun dengan semua ventilasi yang ada. Tidak ada satupun celah bagi cahaya untuk masuk dan menyinari kegelapan. Di sudut kiri, tempat di mana dulu bunga krisan tumbuh suburnya, terdengar isak tangis tersendat yang menyayat kalbu.
Setali tiga uang dengan keadaan rumah kaca yang suram, begitulah juga penampakan Wang Zheng yang sekarang. Tanpa warna. Kacau.
Wang Zheng meringkuk, memeluk lututnya dengan wajah bersimbah air mata. Ia tak henti menciumi cincin di jari manisnya, pemberian Yu Jie. Sesekali tertawa getir mengingat kenangan manis yang pernah mereka ciptakan bersama. Kenangan yang pada akhirnya hanya akan diingat olehnya. Itupun jika kematian membiarkan ia hidup lebih lama. Jika tidak, maka kenangan itu akan ikut lenyap bersama kepergiannya.
Dua hari yang lalu, Yen bersama Zhu dan Ping membawa Yu Jie kembali ke Istana Es. Dan baru pagi tadi ia diam-diam mengamati kondisi terbaru sang istri. Seperti dugaan, wanita itu sudah sangat sehat dan ....
"Kau sudah melupakanku."
Ia sudah menyiapkan diri untuk menerima kenyataan pahit ini. Namun entah mengapa, mati-matian ia mencoba, rasa sakitnya justru semakin parah.
Wang Zheng menatap ke sudut kanan bagian depan rumah kaca. Di sana pernah tumbuh subur bermacam jenis mawar. Bukan tanpa alasan ia menanamnya. Apalagi kalau bukan untuk mengenang bagaimana Yu Jie dengan segala kenekatan memberikan mawar biru api sebagai bukti cinta.
Di sebelahnya, terdapat pohon bunga persik berukuran sedang. Beberapa waktu lalu sempat mekar dan menebarkan keharuman yang khas. Namun kini, itu semua sudah hilang. Menyisakan kepedihan yang teramat mendalam. Semakin pedih saat dikenang.
"Yu'er aku tidak menyesal karena telah memilih ini sebagai pilihan. Aku akan menyesal jika membiarkanmu menderita dan tiada."
Pintu berdecit pelan. Terdengar langkah kaki yang amat tenang. Mata Wang Zheng menyipit memandang ke arah datangnya cahaya. Tampak siluet seorang wanita berjalan mendekatimya.
Tep!
Semua ventilasi terbuka, membiarkan cahaya berlarian mengisi seluruh ruang rumah kaca. Sementara Wang Zheng masih tetap bergeming di posisinya. Lantas dengan suara parau bergumam, "Yu'er?"
"Aku dengar, Dewa Air yang terhormat telah menyelamatkanku dengan memberikan permata biru miliknya."
Yu Jie dengan gaun putih kebiruan yang menjadi hadiah pertama pernikahannya, mengarahkan telunjukknya ke sudut kanan ruang. Seketika satu persatu bunga yang layu kembali tumbuh dan mekar. Dengan satu jentikan pula, ketenangan dan keindahan rumah kaca itu kembali seperti semua.
"Awalnya, aku berniat mengucapkan terima kasih. Tidak menyangka akan menemukanmu di sini dalam keadaan sangat berantakan. Apa kau menyesal, Dewa Air?" Tatap Yu Jie pada Wang Zheng. Pria itu hanya mampu membalas dengan sendu.
"Keluarlah! Kau tidak diizinkan menginjakkan kaki di Istana Air." Akhirnya Wang Zheng angkat bicara. Ia bangkit dan pura-pura memasang wajah marah. Meski sejujurnya, tubuh itu sejak tadi meronta ingin mendekap wanitanya.
Yu Jie berjalan lebih dekat sambil bersedekap dada. Senyum itu terkembang, seakan memandang remeh lawan bicaranya. "Oh, ya?"
"Kau!" Tangan Wang Zheng bergetar hebat saat mencengkeram bahu Yu Jie.
"Kau apa?" Menarik kerah sang suami, hingga membuat pria itu jatuh dalam pelukannya. "Apa kau akan menyakitiku?"
Kali ini tubuh dan hatinya seia sekata. Bukannya melepaskan pelukan, Wang Zheng justru semakin mengeratkan. Aku merindukanmu, batinnya.
Aroma lavendel yang lembut, khas seorang Yu Jie. Wang Zheng menarik napas dalam. Sangat menenangkan. Sejenak semua beban seakan hilang. Namun semakin dihirup, semakin ia merasa pusing.
"Apa kau akan menyakitiku?" Lagi, tanya Yu Jie kedua kalinya. "Wang-Wang?"
Deg! Wang Zheng melepaskan pelukan. Seolah menyadari ada sesuatu yang janggal. Yu Jie sudah kehilangan ingatannya saat menjadi manusia dan distorsi takdir terjadi, lantas bagaimana ia tahu panggilan itu? Kepalanya semakin pusing dan mulai kehilangan keseimbangan.
Samar, ia melihat senyuman dan tatapan penuh cinta milik Yu Jie, istrinya. Bahkan wanita itu mengatakan, "Kau sudah menyakitiku dengan mengingkari janji, Wang-Wang."
"Yu'er, kau---?" Sebelum sempat melanjutkan kata-katanya, Wang Zheng tak sadarkan diri dalam dekapan Yu Jie.
Yu Jie memapah tubuh Wang Zheng ke ranjang giok yang lupa Ping kembalikan ke Istana Es. "Wang-Wang, kenapa cinta begitu menyakitkan bahkan saat perasaanku telah terbalaskan?"
Sejenak, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain memandang wajah itu lekat-lekat. "Wang-Wang, aku mencintaimu. Kita berjanji sehidup semati. Apa janji itu terlihat seperti lelucon sampai kau ingkari?"
"Permaisuri Rui," panggil Yen, yang sejak tadi bersembunyi di luar. Menunggu sampai rencana Yu Jie berhasil dilakukan.
"Masuklah, Yen."
Wanita penyuka senja itu menyeka air mata, pilu. Lantas meniup serbuk perak di bahunya. Serbuk perak tidak akan bereksi terhadap keturunan Suku Es. Sebaliknya, untuk Suku Air, itu bisa membuat mereka tidak sadarkan diri selama berhari-hari.
Yu Jie mengulurkan tangan, dengan satu embusan permata biru dan pil berwarna merah muncul. Dua benda yang beberapa waktu lalu Dewa Air serahkan untuk menyelamatkan kekasihnya. "Kau mengingkari janjimu, Wang-Wang."
__ADS_1
"Permaisuri Rui?" Memegang bahu Yu Jie, lembut.
"Maka tidak masalah bukan, jika aku juga mengingkari janji?" Menyerahkan permata biru pada Yen. Lantas menatap wanita di depannya penuh iba. "Yen, buat dia melupakanku apapun caranya. Seperti dia berusaha membuatku lupa tentangnya dengan menggunakan pil merah ini."
"Permaisuri Rui, itu akan melukai tuan Rui."
"Melukai? Kau ingat yang dia katakan?" Yu Jie memejamkan mata, mengingat saat ia pura-pura tidak sadarkan diri saat Wang Zheng mencoba menyelamatkannya. "Lebih baik tidak mengingat apapun. Dengan begitu, jika aku tiada, tidak akan melukainya."
***
Takdir adalah misteri. Hari esok selalu penuh teka-teki. Bahagia atau berakhir dengan derai air mata, makhluk mana yang dapat memastikannya? Bahkan seorang dewa yang luar biasa, tetaplah seorang hamba Sang Pencipta.
"Ping, aku tidak mempunyai keturunan. Satu-satunya yang dapat kuandalkan adalah kau. Meski kau bukan keturunan Dewi Es, pimpinlah suku ini atas namaku."
"Apa maksud Nona?" Ping mendekat dan menyajikan teh salju kesukaan Yu Jie. Ia masih belum sadar, bahwa Dewi Es di depannya sudah menipu ia, Wang Zheng, dan Zhu dengan berpura-pura sehat dan ingatannya sudah pulih.
"Wang-Wang, jaga dia untukku."
Ping yang sedang memainkan mawar, tiba-tiba terdiam. "Tunggu, Nona kau baru saja mengatakan Wang-Wang?"
"Aku percayakan Suku Es dan Wang-Wang padamu."
"Nona?!" Memutar badan Yu Jie dengan mata memerah, seakan meminta penjelasan atas apa yang baru saja sang nona katakan. "Apa kau sedang bercanda? Ini tidak lucu, Nona."
Yu Jie tersenyum tenang, lalu duduk di kursi dengan tangan menopang dagu. "Hari di mana aku kembali dari dunia fana dengan keadaan terluka parah akibat reaksi pil embun kematian, aku mengetahui sebuah fakta."
"Fakta?"
"Yen menemukan bagian yang hilang dari buku kuno tentang permata biru. Di sana tertulis jelas bahwa kekuatan permata biru dalam menyembuhkan inti batin, hanya berlaku untuk Dewa Air. Sedangkan untuk makhluk lain, itu tidak akan berguna apa-apa."
Ping terduduk lemas. "Itu artinya, Nona tidak akan pernah bisa disembuhkan?"
"Aku mau memberitahukan hal ini pada Wang-Wang. Namun, itu bisa membuatnya cemas dan berpikir aku akan mengingkari janji dengan menggunakan permata biru untuk menyelamatkannya. Karena itu, aku putuskan untuk diam. Siapa menyangka, Wang-Wang memperlihatkan sikap aneh yang membuatku curiga." Semua memori itu seakan berlarian, memenuhi seluruh ruang ingatan. Yu Jie mengambil napas, dalam, terlihat beberapa kali menggigit bawah bibirnya.
"Bukankah sudah kukatakan, bahwa hidup tanpa orang yang kita cinta lebih menyakitkan dari kematian? Namun diam-diam kalian menyusun rencana di belakangnya. Dan kalian juga tidak menyangka, bukan? Bahwa aku dan Yen juga sudah menyiapkan rencana dengan pura-pura mengikuti alur cerita yang kalian buat."
Cepat, Ping menyeka air matanya setelah menyadari sesuatu hal. "Di mana Tuan Rui? Apakah dia sudah mengetahuinya?"
"Wang-Wang di rumah kaca."
"Rumah kaca?"
Yu Jie mengeluarkan pil warna merah yang diminta Wang Zheng pada Raja Langit. "Kalian bahkan berusaha membuatku melupakan segalanya dengan pil ini." Membuang itu jauh ke tengah kolam purnama.
"Lalu di mana permata biru, Nona?"
"Yen sedang menanamnya di inti batin, Wang-Wang."
"Apa?!" Kepala Ping berdenyut hebat. Permainan takdir dalam sekejap berputar 180 derajat. "Nona, kau akan tiada. Sedangkan tuan Rui akan selamat dengan permata biru."
"Sama seperti Wang-Wang yang memilih mengingkari janji agar aku tidak menderita. Maka aku melakukan hal yang sama agar dia tidak tiada."
***
"Tidak!"
Wang Zheng bangun dengan napas memburu. Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin. Dipandangnya sekeliling, ia masih di rumah kaca, tanpa satu orangpun di sana. Tiba-tiba pria itu teringat sesuatu dan dengan segera mengambil sesuatu di bawah lidahnya. Pil penghilang ingatan.
"Yu'er, aku tidak akan membiarkan kenanganmu terhapus dari hidupku." Melempar pil itu ke sembarang arah.
Selama tidak sadarkan diri, Wang Zheng sebenarnya masih bisa mendengar dan merasakan sekelilingnya. Termasuk saat Yen dan Yu Jie bercerita tentang permata biru dan cara agar pria itu dapat melupakan semua hal yang sudah terjadi. Namun beruntung, pil penghilang ingatan yang dimasukkan Yen dapat ditahan dengan kekuatan dalam. Sehingga pil itu tersimpan utuh di bawah lidah.
__ADS_1
Wang Zheng bangkit dari tempat tidur dan langsung berlari menuju pintu. Baru ia melangkahkan kaki beberapa langkah, pintu sudah terbuka. Di sana, tampak Yen dengan pakaian serba putih sedang membawa beberapa herbal.
Aneh, pikir Wang Zheng. Tidak biasanya Yen memakai selendang menutupi kepala, bahkan pakaiannya sangat polos, tanpa satupun perhiasan yang melekat dari ujung kaki hingga kepala. Di tatapnya langit yang sangat mendung dan salju turun dengan lebatnya. Satu hal yang ada di pikiran pria itu. Yu Jie.
"Di mana Yu'er?"
"Tuan Rui, kau baru sadar. Istirahatlah lebih dulu."
"Tidak!" Berlari keluar dan dengan mantra menghilang meninggalkan Yen.
Yen terdiam, tanpa sadarkan menjatuhkan ramuan herbal yang dibawa. Hujan luka memenuhi wajahnya. Ia terisak sambil memegang dada. Entah kenapa, sesak itu datang tiap membayangkan dua sejoli yang saling mencintai tetapi harus takluk di bawah garis takdir yang memisahkan.
***
Bukan musim dingin, tetapi Kerajaan Langit penuh dengan salju. Wang Zheng melihat Istana Air yang sunyi, sepi, seakan-akan tidak ada kehidupan. Bunga yang tumbuh berubah layu. Pohon-pohon berguguran menyisakan ranting yang kesepian. Dari kejauhan dapat ia lihat abadi Suku Air bersimpuh dengan memakai sutra warna putih, menghadap ke arah Paviliun Man Yu, kediaman Yu Jie.
Pelan, ia berjalan dengan langkah gemetar. Semua abadi berbalik menatapnya. Terlihat jelas sembilu terlukis di wajah mereka, menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Di mana Yu'er?"
Hening. Tidak ada yang berani menjawab.
"Kenapa kalian menggunakan pakaian berkabung, hah? Siapa yang menyuruh kalian?" teriak Wang Zheng dengan wajah memerah, menahan marah.
Angin bertiup kencang dan pintu terbuka dengan sendirinya. Wang Zheng berlari ke dalam kediaman. Nihil. Tidak ada cintanya di sana. Hanya ada gaun terakhir yang Yu Jie kenakan saat menemuinya di rumah kaca, serta taburan bunga krisan hitam mengelilingi sekitar gaun.
Wang Zheng memegang kepala. Beberapa kali menjambak rambutnya, kasar, diiringi isak tangis tak berdaya. Mengapa cinta menjadi seluka ini?
"Tuan, tenanglah." Shen datang dan coba memapah Dewa Air. Namun niat tersebut justru tak disambut baik. Wang Zheng malah menepis tangan pelayan yang ratusan tahun melayaninya dengan setia, lantas pergi dan menghilang.
***
Setali tiga uang dengan keadaan Istana Air. Aroma luka dan duka menguar ketika Dewa Air menjejakkan kaki di Istana Es. Suara isak tangis menggema, bahkan raungan tak terima juga terdengar dari sana, aula istana.
Kali ini, Wang Zheng tak bisa bohong bahwa ketakutan telah menyelinap ke dalam relung hatinya. Kematian, perpisahan, kesedihan, hanya itu yang terngiang. Tak ingin menduga, tetapi takdir sudah menyatakan dengan gamblangnya.
"Tuan Rui?" Zhu terkejut mendapati Wang Zheng di Istana Es. Menurut perkiraan, pengaruh serbuk perak harusnya hilang dalam 27 hari. Namun itu lebih cepat 10 hari dari yang seharusnya.
"Di mana Yu'er? " tanyanya dengan suara parau.
"Tuan, lebih baik kau pulang ke rumah kaca."
"Di mana Yu'er?" Kali ini suara Wang Zheng semakin pelan. "Di mana Yu'erku?"
"Tuan Rui, kenapa harus mempersulit dirimu sendiri? Pergilah dari sini!"
Bruk! Zhu terjatuh setelah Wang Zheng melepaskan satu pukulan telak ke perut pria tersebut. Dengan mata sembab menatap pelayan di depannya dan berkata, "Aku ingin bertemu istriku."
Wang Zheng meremas jubahnya saat di ambang pintu. Pelayan yang berjaga menunduk hormat dan membukakan pintu untuk sang tuan. Dari dalam, suara isak tangis dan raungan terdengar semakin keras. Tak perlu banyak menduga, ia tahu siapa pemiliknya. Ping. Ya, gadis itu tergugu bersimpuh di samping peti kristal.
Jika aku dapat mengendalikan takdir, maka akan kugariskan kisah kita sebagai kisah cinta yang bahagia. Andai aku diberikan satu kesempatan, maka akan kugoreskan kisah di tinta kehidupan 'aku dan kau abadi dalam cinta'. Namun aku sadar, bukan takdir namanya, jika kita yang menentukannya.
Tubuh Wang Zheng serasa membeku melihat siapa yang terbaring di peti kristal. Wanita bergaun sutra putih dengan mahkota kebesaran Dewi Es. Ya, itu cintanya. Yu Jie.
Tangannya bergetar menyentuh peti kristal tempat peristirahatan terakhir sang kekasih. Lantas meraung, tak terima dengan takdir yang tak pengertian. Takdir yang hanya bisa mempermainkan sepasang hati, tanpa peduli luka yang menganga karenanya. "Tidak! Yu'er jangan pergi!"
Kau bilang cinta, jika iya kenapa kau tingggalkan sekeping merah jambu penuh darah yang berteriak merintih atas luka yang menganga? Kau bilang kita akan selalu bersama, jika iya kenapa kau pergi untuk selamanya? Kenapa? Kenapa tak satupun ada jawabnya. Selain daripada melihat ragamu yang tak lagi bernyawa.
Ping menatap nanar suami nonanya. "Tuan, kau bilang akan menyelamatkan nona. Kau bilang dia akan selamat. Kau bohong, Tuan. Permata biru itu hanya bisa menyembuhkanmu, bukan nonaku!"
Hening. Hanya isak tangis tersendat yang menjadi jawaban. Wang Zheng tak punya banyak kata sebagai pembelaan. Ia hanya berpikir bagaimana menemai sang kekasih di alam kematian.
__ADS_1
"Yu'er, aku tidak bisa hidup tanpamu." Membuka peti kristal dan menyentuh wajah wanitanya yang sedingin salju. "Kumohon, jangan pergi."
Perlahan-lahan kurasakan hati yang membeku, seiring dengan kematianmu. Seakan di sana tak teraliri darah. Hidup, tapi tak bernyawa. Berdetak, tapi tak berjiwa. Tanpa diminta, seluruh raga tahu bahwa hari di mana kau tiada, adalah hari di mana kematian jiwaku yang sesungguhnya.